Receh.in – Harga saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) mencatatkan penguatan signifikan dalam sepekan terakhir, mencerminkan antusiasme investor terhadap strategi ekspansi agresif yang tengah dijalankan perusahaan telekomunikasi tersebut. Pada penutupan sesi I perdagangan Selasa (11/11/2025), saham INET naik 9,50% ke level Rp438 per saham, memperpanjang reli sepekan yang telah mencapai lebih dari 51%. Secara year-to-date (YtD), harga saham INET bahkan telah melonjak 637,93%, menjadikannya salah satu saham berkinerja terbaik di Bursa Efek Indonesia tahun ini.
Kenaikan fantastis ini tidak terlepas dari langkah ekspansi beruntun yang dilakukan perseroan, termasuk serangkaian akuisisi strategis dan rencana rights issue jumbo untuk memperkuat struktur permodalan. Arah ekspansi yang konsisten menjadikan INET kini bukan sekadar penyedia layanan internet, tetapi juga calon pemain besar di industri infrastruktur digital nasional.
Akuisisi THC Perkuat Langkah Ekspansi Jaringan Fiber
Terbaru, INET menandatangani termsheet akuisisi 60% saham PT Trans Hybrid Communication (THC), perusahaan yang memiliki jaringan backbone fiber optik strategis di Kalimantan Barat. Melalui aksi ini, INET ingin memperluas penetrasi layanan internet berbasis Fiber to the Home (FTTH) di wilayah yang masih minim infrastruktur digital. Akuisisi THC akan membuka peluang besar bagi perusahaan untuk menekan biaya penggunaan jaringan, mempercepat proses penggelaran kabel fiber, dan meningkatkan efisiensi operasional dalam ekspansi layanan broadband.
THC akan menjadi bagian penting dalam strategi INET menghubungkan jaringan antarpulau dengan efisiensi biaya tinggi. Jaringan backbone milik THC memungkinkan INET menggelar layanan FTTH di daerah-daerah strategis dengan lebih cepat, terutama di luar Jawa, yang selama ini menjadi fokus penetrasi perusahaan.
Selain itu, INET juga memperkuat kapasitas bisnisnya melalui akuisisi PT Personel Alih Daya Tbk. (PADA), yang ditargetkan rampung pada akhir 2025. Akuisisi ini diharapkan mendukung ketersediaan tenaga kerja dan layanan managed service bagi proyek ekspansi besar-besaran di sektor jaringan dan konektivitas digital.
Rights Issue Rp3,2 Triliun, Dorong Ekspansi Broadband Nasional
Sebagai bagian dari strategi jangka menengah, INET menyiapkan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I senilai maksimal Rp3,2 triliun. Perseroan akan menerbitkan hingga 12,8 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham, dengan rasio 3:4 bagi pemegang saham eksisting. Aksi ini didukung penuh oleh pemegang saham pengendali PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN) yang berkomitmen menyerap seluruh haknya sekaligus menjadi pembeli siaga bagi sisa saham yang tidak terserap pasar.
Dana hasil rights issue akan digunakan untuk mempercepat ekspansi jaringan FTTH berkecepatan tinggi berbasis teknologi Wi-Fi 7, dengan porsi terbesar mencapai Rp2,8 triliun dialokasikan untuk anak usaha PT Garuda Prima Internetindo (GPI), guna menambah dua juta pelanggan baru di Bali dan Lombok. Selain itu, Rp213,44 miliar akan dialokasikan untuk PT Pusat Fiber Indonesia (PFI) guna melunasi biaya sewa kabel bawah laut, serta Rp135 miliar untuk PT Internet Anak Bangsa (IAB) sebagai modal kerja pengembangan jaringan di Pulau Jawa.
Langkah agresif ini menegaskan komitmen INET untuk memperluas jangkauan internet berkecepatan tinggi di seluruh Indonesia. Dengan mengintegrasikan aset-aset strategis dari berbagai entitas yang diakuisisi, perusahaan berambisi membangun ekosistem konektivitas terpadu yang mencakup layanan ISP, IP Transit, dan kontrak jaringan B2B.
Dampak Positif Ekspansi terhadap Kinerja Keuangan
Ekspansi agresif yang dilakukan INET mulai menunjukkan hasil pada kinerja keuangannya. Dalam semester I/2025, perusahaan mencatat pendapatan Rp45,01 miliar, naik 196,9% year-on-year (YoY), dengan laba bersih Rp7,77 miliar, melonjak 666,65% YoY. Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Jonathan Guyadi dan Jason Sebastian, memperkirakan akuisisi Bali Internet (Flynet) yang dilakukan pada September 2025 akan memberikan dorongan signifikan terhadap pendapatan 2026, yang diproyeksikan melonjak menjadi Rp1,1 triliun atau naik 811,7% YoY.
Peningkatan kapasitas bisnis di berbagai lini — mulai dari jaringan kabel bawah laut, kontrak FTTH, hingga layanan node internet — diperkirakan akan meningkatkan margin EBITDA INET menjadi 51% pada 2026 dan 53,6% pada 2027, dari estimasi 34,3% tahun ini. Proyeksi laba bersih juga melonjak drastis, masing-masing mencapai Rp239 miliar pada 2026 dan Rp714 miliar pada 2027, menunjukkan potensi pertumbuhan eksponensial di tengah ekspansi besar-besaran.
Konsistensi ekspansi strategis, sinergi akuisisi, dan keberhasilan dalam mendanai pertumbuhan melalui rights issue membuat INET kini dipandang sebagai emiten telekomunikasi baru dengan potensi transformasi besar. Di tengah kompetisi ketat industri broadband Indonesia, Sinergi Inti Andalan Prima tampil sebagai simbol perusahaan yang berani mengambil risiko besar demi mengamankan masa depan konektivitas digital nasional.

0 Komentar