Emiten kontraktor tambang PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) mencatatkan kinerja yang menantang sepanjang 2025. Pendapatan turun cukup dalam, diikuti pembukuan rugi bersih hingga triliunan rupiah.
Namun menariknya, di tengah tekanan tersebut, DOID justru berhasil mencetak arus kas bebas (free cash flow) positif—sebuah sinyal yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh investor.
Apakah ini tanda pemulihan, atau sekadar “napas sementara” di tengah tekanan bisnis?
Pendapatan Turun, DOID Berbalik Rugi
Sepanjang 2025, DOID membukukan:
- Pendapatan: US$1,48 miliar (turun 15,71% YoY)
- Rugi bersih: US$128 juta (~Rp1,89 triliun)
Penurunan ini terutama dipicu oleh:
- Turunnya volume pekerjaan tambang
- Sementara ASP relatif stabil berkat kontrak rise-and-fall
Namun, tekanan terbesar datang dari sisi non-operasional:
- Penyisihan piutang dari proyek Australia
- Penurunan nilai aset di Australia & AS
- Penurunan EBITDA
Artinya, bukan hanya bisnis inti yang tertekan, tetapi juga ada beban tambahan dari sisi aset dan keuangan.
Ada Sisi Positif: Arus Kas dan Efisiensi Membaik
Di balik rugi bersih, ada satu indikator penting yang justru membaik: arus kas.
- Free cash flow 2025: +US$8 juta
- Tahun 2024: -US$60 juta
- Q4 2025: +US$57 juta (tertinggi sepanjang tahun)
Perbaikan ini didorong oleh:
- Pengetatan biaya operasional
- Disiplin belanja modal
- Perbaikan manajemen kas
Ini penting karena dalam bisnis kontraktor tambang, cash flow sering lebih relevan daripada laba bersih jangka pendek.
Penopang Kinerja: Faktor Non-Operasional
Meski rugi, DOID mendapat beberapa “bantuan” dari faktor eksternal:
- Keuntungan investasi (29Metals): US$41 juta
- Keuntungan selisih kurs: US$36 juta
- Pembalikan pencadangan piutang (putusan pengadilan Australia)
Namun perlu dicatat:
- Faktor ini tidak selalu berulang
- Tidak mencerminkan kekuatan operasional utama
Kontrak Baru Jadi Kunci 2026
Kabar baiknya, DOID tidak tinggal diam. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, perusahaan berhasil mengamankan beberapa kontrak besar:
Kontrak utama:
- Blackwater Mine (Australia): ~A$740 juta hingga 2030
- Goonyella Riverside Mine: hingga 2027
- PT Adaro Indonesia (Tutupan Selatan): hingga 2030
Kontrak ini mencakup:
- 239 MBCM overburden removal
- 44 juta ton produksi batu bara
Ini memberikan:
- Visibilitas pendapatan jangka panjang
- Stabilitas operasional ke depan
Belanja Modal Tetap Terjaga
DOID juga tetap menjaga investasi:
- Capex 2025: US$179 juta (stabil YoY)
- Fokus pada:
- Pemeliharaan alat
- Pertumbuhan operasional
Disiplin capex ini penting untuk:
- Menjaga efisiensi
- Menghindari over-expansion
Layak Dilirik atau Harus Waspada?
Kondisi DOID saat ini berada di fase “transisi”—antara tekanan dan potensi pemulihan.
Poin positif:
- Arus kas mulai membaik
- Kontrak jangka panjang bertambah
- Efisiensi operasional meningkat
Risiko utama:
- Kinerja laba masih negatif
- Ketergantungan pada sektor batu bara
- Eksposur global (Australia & AS)
Kesimpulan
Kinerja DOID di 2025 memang terlihat lemah dari sisi laba, tetapi tidak sepenuhnya negatif jika melihat arus kas dan strategi ke depan. Dengan kontrak baru dan disiplin biaya yang lebih ketat, perusahaan memiliki peluang untuk rebound di 2026.
Bagi investor, DOID saat ini bukan saham “aman”, tetapi lebih cocok untuk yang siap menghadapi risiko dengan potensi turnaround. Kuncinya ada pada satu hal: apakah perbaikan operasional ini bisa benar-benar diterjemahkan menjadi laba yang konsisten ke depan?
0 Komentar