Daftar IsiTampilkan


Pemegang saham besar PT Wahana Inti Makmur Tbk. (NASI), Hartarto Ciputra, kembali menambah kepemilikannya.
Kali ini, sebanyak 500.000 saham NASI dibeli pada harga Rp140 per saham dalam transaksi yang dilakukan pada 21 Agustus 2026.

Dengan harga tersebut, nilai transaksi terbaru mencapai sekitar Rp70 juta. Setelah pembelian, kepemilikan Hartarto meningkat dari 46.885.200 saham atau 5,81% menjadi 47.385.200 saham atau setara 5,87% dari saham perseroan.

Dalam keterbukaan informasi, tujuan pembelian dinyatakan sebagai investasi dengan status kepemilikan langsung. Hartarto juga bukan pemegang saham pengendali NASI.

Transaksi terbaru menarik karena bukan pembelian pertama sepanjang 2026. Data kepemilikan menunjukkan posisi Hartarto sempat berada di bawah 5% pada April, kemudian melewati ambang 5% setelah melakukan serangkaian transaksi. Meski sempat melakukan penjualan pada Juni, secara bersih jumlah saham yang dimilikinya sekarang tetap jauh lebih besar dibandingkan beberapa bulan lalu.

Ringkasan

  • Hartarto Ciputra membeli 500.000 saham NASI di Rp140 pada 21 Agustus 2026 dengan nilai transaksi sekitar Rp70 juta.
  • Kepemilikannya meningkat menjadi 47.385.200 saham atau 5,87%, dari sebelumnya 46.885.200 saham atau 5,81%.
  • Posisi Hartarto secara bersih telah meningkat sekitar 11,73 juta saham dibandingkan April 2026. Namun perjalanannya bukan akumulasi satu arah karena ia juga sempat menjual sebagian saham pada Juni.
500.000 Saham Dibeli
Rp140 Harga Pembelian
Rp70 Juta Nilai Transaksi*
5,87% Kepemilikan Setelah Transaksi

*Perhitungan Receh.in: 500.000 saham dikalikan harga transaksi Rp140 per saham.

Hartarto Ciputra Beli 500.000 Saham NASI, Nilainya Rp70 Juta

Berdasarkan keterbukaan kepemilikan saham, transaksi dilakukan pada 21 Agustus 2026 dengan rincian 500.000 saham pada harga Rp140.

Secara matematis, transaksi itu bernilai:

Perhitungan Receh.in:
500.000 saham × Rp140 = Rp70.000.000.

Pembelian tersebut menambah jumlah saham Hartarto sebesar sekitar 1,07% dibandingkan posisi yang dimilikinya sebelum transaksi.

Keterangan Sebelum Transaksi Setelah Transaksi Perubahan
Jumlah saham 46.885.200 47.385.200 +500.000
Porsi kepemilikan 5,81% 5,87% +0,06 poin persentase
Harga transaksi — Rp140 —
Nilai transaksi* — Rp70 juta —

Jika seluruh 47,39 juta saham milik Hartarto sekadar dinilai menggunakan harga transaksi terbaru Rp140, nilainya setara sekitar Rp6,63 miliar.

Namun angka tersebut bukan nilai modal yang dikeluarkan Hartarto untuk memperoleh seluruh kepemilikannya. Saham diperoleh pada waktu dan harga berbeda sehingga Rp6,63 miliar hanya menggambarkan nilai teoritis posisi pada harga Rp140, bukan biaya akuisisi historis.

Dengan jumlah saham beredar sekitar 807,4 juta lembar, harga Rp140 juga secara matematis setara dengan kapitalisasi pasar NASI sekitar Rp113 miliar.

Skala tersebut menempatkan NASI sebagai emiten berkapitalisasi relatif kecil. Pada saham dengan ukuran kapitalisasi dan likuiditas seperti ini, transaksi pemegang saham besar menjadi lebih relevan untuk dicermati, tetapi tetap tidak dapat dibaca sendirian sebagai sinyal bahwa harga akan naik.

Bukan Pembelian Pertama, Kepemilikan Sempat di Bawah 5%

Riwayat transaksi sepanjang beberapa bulan terakhir menunjukkan Hartarto cukup aktif memperdagangkan sekaligus menambah posisi NASI.

Pada periode 21 April hingga 8 Mei 2026, Hartarto tercatat membeli sekitar 7,92 juta saham pada rentang harga Rp146-Rp169. Setelah transaksi tersebut, kepemilikannya naik dari 35,65 juta saham atau 4,42% menjadi 43,58 juta saham atau 5,40%.

Dengan demikian, pada periode itulah posisinya melewati batas kepemilikan 5%.

Pada 11 Mei, dia kembali membeli 1,85 juta saham pada harga Rp145 sehingga kepemilikannya naik menjadi sekitar 45,43 juta saham atau 5,63%.

Pergerakannya kemudian tidak selalu berupa pembelian. Data Juni menunjukkan Hartarto sempat mencatat penjualan bersih sehingga posisi turun menjadi sekitar 44,23 juta saham atau 5,48%.

Setelah itu pembelian kembali berlangsung.

Pada periode 24 Juni-3 Juli, Hartarto membeli sekitar 844.800 saham di kisaran Rp108-Rp109. Lalu pada 14-16 Juli, dia melakukan tiga transaksi pembelian dengan total sekitar 1,81 juta saham di harga Rp117-Rp121.

Posisinya kemudian mencapai 46.885.200 saham atau 5,81%, sebelum kembali bertambah melalui pembelian terbaru 500.000 saham di Rp140.

Periode Aksi Jumlah Harga Posisi Setelah Transaksi
21 Apr–8 Mei Beli ~7,92 juta Rp146–Rp169 5,40%
11 Mei Beli 1,85 juta Rp145 5,63%
Juni Net jual ~1,20 juta Rp108–Rp125 5,48%
24 Jun–3 Jul Beli 844.800 Rp108–Rp109 5,58%
14–16 Jul Beli 1.812.100 Rp117–Rp121 5,81%
21 Agustus Beli 500.000 Rp140 5,87%

Dari posisi 35.652.900 saham pada periode sebelum akumulasi akhir April menjadi 47.385.200 saham sekarang, jumlah kepemilikan secara bersih bertambah sekitar 11.732.300 saham atau 32,9%.

Porsi kepemilikannya pun meningkat dari sekitar 4,42% menjadi 5,87%, atau bertambah sekitar 1,45 poin persentase.

Yang menarik:
Pembelian terbaru dilakukan pada Rp140, lebih tinggi daripada rentang pembelian Hartarto pada awal Juli sekitar Rp108-Rp109 maupun pertengahan Juli Rp117-Rp121. Artinya, penambahan terakhir dilakukan meski harga transaksi sudah lebih tinggi dibandingkan sejumlah pembelian sebelumnya. Namun keterbukaan hanya menyebut tujuan transaksi sebagai investasi; tidak ada penjelasan mengenai target harga atau alasan fundamental pembelian.

Karena itu, tidak tepat menyimpulkan pembelian tersebut otomatis berarti Hartarto menilai saham NASI akan menuju harga tertentu.

Yang dapat dikatakan berdasarkan datanya hanyalah bahwa seorang pemegang lebih dari 5% memilih kembali menambah posisi dan mempertahankan status kepemilikan langsung untuk tujuan investasi.

Bisnis NASI Masih Kecil, Kinerja Kuartal I Justru Tertekan

Di balik transaksi pemegang saham besar tersebut, investor tetap perlu melihat apa sebenarnya bisnis NASI.

PT Wahana Inti Makmur Tbk. bergerak sebagai produsen dan pemasok beras. Perusahaan membeli bahan baku beras untuk kemudian diolah guna meningkatkan kualitas sebelum dipasarkan sebagai produk akhir.

Perseroan juga memasok kebutuhan beras untuk segmen hotel, restoran, dan kafe, serta menawarkan produk private label bagi pelanggan yang ingin menggunakan merek sendiri.

Dengan demikian, NASI pada dasarnya merupakan emiten sektor barang konsumen primer yang berkaitan langsung dengan salah satu komoditas pangan utama Indonesia.

Namun kinerja keuangannya masih perlu dicermati.

Pada kuartal I/2026, pendapatan NASI tercatat sekitar Rp8,7 miliar, turun 57,4% dibandingkan sekitar Rp20,4 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba kotor turun menjadi sekitar Rp2,2 miliar dari Rp3,2 miliar. Di bagian akhir laporan laba rugi, perseroan membukukan rugi bersih sekitar Rp644,7 juta, berbalik dari laba tipis sekitar Rp25,4 juta pada kuartal I/2025.

Kinerja NASI Q1 2025 Q1 2026 Perubahan
Pendapatan ~Rp20,4 M Rp8,7 M -57,4%
Laba kotor ~Rp3,2 M Rp2,2 M -31,3%
Laba/rugi bersih Laba ~Rp25,4 Jt Rugi Rp644,7 Jt Berbalik rugi
Margin bersih ~0,1% -7,4% Memburuk

Posisi neraca per akhir Maret masih menunjukkan total aset sekitar Rp67,2 miliar dan ekuitas Rp55,8 miliar. Utang berbunga jangka pendek sekitar Rp11,3 miliar dengan utang jangka panjang yang relatif kecil.

Dengan demikian, transaksi Hartarto terjadi ketika fundamental perusahaan belum menunjukkan ekspansi laba yang kuat pada laporan kuartal pertama.

Ini justru membuat perkembangan berikutnya lebih penting. Investor perlu memeriksa apakah pelemahan penjualan pada awal 2026 hanya bersifat temporer atau bertahan sampai semester pertama.

Perusahaan belum menyediakan laporan semester I/2026 yang dapat diverifikasi melalui sumber resmi yang ditelusuri untuk artikel ini. Karena itu, artikel tidak mengasumsikan adanya pemulihan kinerja setelah Maret.

Transaksi pemegang saham besar ≠ fundamental otomatis membaik.
Pembelian Hartarto merupakan data yang menarik karena menunjukkan peningkatan eksposur pribadi pada NASI. Namun investor tetap perlu menunggu laporan berikutnya untuk melihat perkembangan penjualan, margin, laba bersih, arus kas, dan persediaan. Aksi pemegang saham dan kinerja perusahaan adalah dua informasi berbeda.

Struktur kepemilikan NASI juga relatif terkonsentrasi. Berdasarkan data terakhir yang tersedia, Direktur Utama Piero Mustafa menguasai sekitar 42,24% saham, sedangkan PT Modis Cipta Kreasi sekitar 26,76%.

Jika dua kepemilikan tersebut digabungkan, porsinya mencapai sekitar 69%. Hartarto dengan posisi 5,87% menjadi salah satu pemegang saham individu besar di luar kelompok tersebut.

Konsentrasi kepemilikan seperti ini memiliki dua sisi. Pemegang saham utama mempunyai eksposur ekonomi besar terhadap perusahaan, tetapi saham yang benar-benar aktif beredar di publik juga menjadi lebih terbatas. Pada emiten berkapitalisasi kecil, kondisi ini dapat membuat pergerakan harga relatif sensitif terhadap perubahan permintaan dan penawaran.

Karena itu, investor yang tertarik mengikuti NASI setelah transaksi Hartarto sebaiknya memperhatikan bukan hanya harga, tetapi juga likuiditas transaksi, bid-offer, nilai perdagangan harian, serta perkembangan fundamental.

Intinya:
Hartarto Ciputra kembali menambah saham NASI sebanyak 500.000 lembar di harga Rp140 dengan nilai Rp70 juta, membawa kepemilikannya menjadi 47,39 juta saham atau 5,87%. Transaksi terbaru memperpanjang tren peningkatan posisi secara bersih: dibandingkan sekitar 35,65 juta saham sebelum rangkaian transaksi akhir April, kepemilikannya sudah bertambah sekitar 11,73 juta saham atau 32,9%. Namun akumulasi tersebut tidak berlangsung lurus karena Hartarto juga sempat menjual sebagian saham pada Juni. Bagi investor, transaksi ini menarik sebagai sinyal bahwa pemegang saham besar masih bersedia menambah eksposur, bahkan di harga yang lebih tinggi daripada pembelian awal Juli. Tetapi keputusan investasi sebaiknya tidak berhenti pada aksi pemegang saham. NASI membukukan penurunan pendapatan 57,4% dan rugi Rp644,7 juta pada kuartal I/2026. Karena itu, katalis yang lebih menentukan selanjutnya adalah apakah bisnis beras NASI mampu mengembalikan pertumbuhan penjualan dan laba.

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Siapa Hartarto Ciputra di saham NASI?
Hartarto Ciputra merupakan pemegang saham individu dengan kepemilikan lebih dari 5% di PT Wahana Inti Makmur Tbk. Setelah transaksi 21 Agustus 2026, kepemilikannya mencapai 47.385.200 saham atau 5,87%.
Berapa saham NASI yang dibeli Hartarto Ciputra?
Pada 21 Agustus 2026, Hartarto membeli 500.000 saham NASI pada harga Rp140 per saham.
Berapa nilai pembelian saham NASI tersebut?
Berdasarkan jumlah dan harga transaksi, nilainya sekitar Rp70 juta.
Berapa kepemilikan Hartarto Ciputra setelah transaksi?
Kepemilikannya meningkat dari 46.885.200 saham atau 5,81% menjadi 47.385.200 saham atau sekitar 5,87%.
Apa bisnis PT Wahana Inti Makmur Tbk.?
NASI bergerak sebagai produsen dan pemasok beras, termasuk produk beras bermerek, kebutuhan Horeka, dan private label bagi pelanggan.
Bagaimana kinerja NASI pada 2026?
Pada kuartal I/2026, pendapatan tercatat sekitar Rp8,7 miliar atau turun 57,4% YoY dan perseroan membukukan rugi bersih sekitar Rp644,7 juta. Laporan semester I/2026 belum digunakan karena belum ditemukan dalam sumber resmi yang dapat diverifikasi untuk artikel ini.
Sumber: Keterbukaan kepemilikan saham PT Wahana Inti Makmur Tbk. kepada OJK/BEI; PT Wahana Inti Makmur Tbk.; data registrasi pemegang efek; serta data laporan keuangan kuartal I/2026.

Perhitungan Receh.in: Pembelian 500.000 saham di Rp140 bernilai sekitar Rp70 juta. Kepemilikan terbaru 47.385.200 saham secara teoritis bernilai sekitar Rp6,63 miliar jika seluruhnya dinilai di Rp140. Dibandingkan posisi 35.652.900 saham sebelum rangkaian transaksi akhir April, jumlah saham bertambah secara bersih sekitar 11.732.300 lembar atau 32,9%.

Catatan: Nilai teoritis kepemilikan bukan biaya akuisisi Hartarto karena saham diperoleh pada waktu dan harga berbeda. Riwayat transaksi juga menunjukkan pembelian dan penjualan, sehingga peningkatan posisi secara bersih tidak berarti seluruh transaksi sepanjang periode merupakan aksi beli.

Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham NASI. Transaksi pemegang saham besar tidak menjamin harga saham akan naik dan harus dibaca bersama fundamental, valuasi, serta likuiditas saham.