Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguji level psikologis 6.500 pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026. Setelah sempat dibuka menguat, IHSG berbalik turun dan pada sekitar pukul 10.00 WIB berada di level 6.509, melemah sekitar 17 poin atau 0,26%.
Pergerakan tersebut muncul setelah IHSG mencatat reli dalam sepekan terakhir. Pada perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026, indeks ditutup di sekitar 6.525,6, naik 24,1 poin atau 0,37%. Investor asing juga membukukan pembelian bersih sekitar Rp992,6 miliar di pasar reguler, dengan saham-saham perbankan menjadi tujuan utama aliran dana.
Artinya, koreksi pada awal perdagangan Senin belum otomatis mengubah tren menjadi negatif. Namun setelah kenaikan cepat, risiko profit taking memang membesar. Area 6.500 kini menjadi batas pertama yang menentukan apakah reli dapat berlanjut atau IHSG perlu menjalani koreksi yang lebih dalam.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana, seperti dikutip dari Ipotnews, memperkirakan IHSG bergerak di rentang 6.480-6.580. Jika resistance 6.580 dapat ditembus dengan volume yang meningkat dan pembelian asing berlanjut, ruang menuju 6.650 masih terbuka.
- IHSG berada di 6.509 sekitar pukul 10.00 WIB, hanya sekitar 9 poin di atas support psikologis 6.500. Jika level ini gagal dipertahankan, area 6.450-6.480 menjadi zona koreksi berikutnya yang patut diperhatikan.
- Resistance terdekat berada di 6.550-6.580. Breakout di atas 6.580 dengan volume dan foreign net buy yang kuat dapat membuka jalan menuju sekitar 6.650.
- BBRI, BUMI, BRMS, dan SRTG masuk radar perdagangan. Namun BUMI dan BRMS justru mengalami foreign net sell pada Jumat sehingga target teknikal tetap perlu dibaca bersama arus dana aktual.
IHSG Menguji 6.500, Apa yang Terjadi Jika Support Jebol?
Secara teknikal, posisi IHSG Senin pagi cukup menarik karena berada sangat dekat dengan support psikologis 6.500.
Dari posisi sekitar 6.509, jarak terhadap support tersebut hanya sekitar 9 poin atau 0,14%. Dengan kata lain, pasar praktis sedang menguji apakah area 6.500 cukup kuat untuk menahan tekanan jual setelah reli sebelumnya.
| Level IHSG | Posisi | Makna Teknikal |
|---|---|---|
| 6.450-6.480 | Support berikutnya | Zona koreksi jika 6.500 gagal bertahan |
| 6.500 | Support psikologis | Level penting perdagangan saat ini |
| 6.509 | Posisi sekitar 10.00 WIB | IHSG masih tipis di atas support |
| 6.550-6.580 | Resistance | Zona yang perlu ditembus untuk melanjutkan reli |
| 6.650 | Target lanjutan | Terbuka jika breakout 6.580 terkonfirmasi |
Hendra menilai investor sebaiknya tidak mengejar saham yang sudah naik terlalu tinggi setelah reli. Strategi yang lebih konservatif adalah menunggu koreksi dan melakukan akumulasi bertahap pada saham yang mempunyai fundamental serta likuiditas kuat.
Pesan tersebut relevan karena IHSG sudah bergerak cukup cepat. Semakin tinggi indeks bergerak tanpa konsolidasi, semakin besar kemungkinan sebagian pelaku pasar merealisasikan keuntungan.
Jika 6.500 mampu bertahan dan indeks kembali menembus 6.550, tekanan jual dapat dianggap mulai terserap. Resistance yang lebih penting kemudian berada di 6.580.
Dari posisi 6.509, pergerakan menuju 6.580 membutuhkan kenaikan sekitar 1,09%. Sementara target 6.650 berada sekitar 2,17% di atas posisi indeks Senin pagi.
Sebaliknya, penurunan dari 6.509 menuju 6.480 hanya sekitar 0,45%, sedangkan menuju 6.450 sekitar 0,91%.
Posisi IHSG 6.509 berada hanya sekitar 0,14% di atas support 6.500. Target 6.580 sekitar 1,09% lebih tinggi dan 6.650 sekitar 2,17% lebih tinggi. Karena itu, sesi hari ini lebih tepat dilihat sebagai pengujian support terlebih dahulu sebelum membicarakan kelanjutan reli.
Pandangan teknikal lain juga menunjukkan area yang tidak terlalu jauh. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana, seperti dikutip dari media, menempatkan support IHSG sekitar 6.482 dengan resistance sekitar 6.628.
Perbedaan level antar-analis adalah hal wajar dalam analisis teknikal. Namun keduanya menunjukkan pesan yang relatif sama: area 6.480-6.500 menjadi pertahanan bawah terdekat, sedangkan indeks perlu melewati 6.580-6.630 untuk mengonfirmasi kenaikan berikutnya.
Asing Mulai Beli Lagi, tetapi Belum Cukup Menyebut Tren Berbalik
Salah satu perubahan yang paling menarik menjelang perdagangan pekan ini datang dari investor asing.
Pada Jumat, investor asing membukukan pembelian bersih sekitar Rp992,6 miliar di pasar reguler. BBRI menjadi tujuan terbesar dengan net buy sekitar Rp628,5 miliar.
BBCA menyusul dengan sekitar Rp269 miliar, BMRI Rp140 miliar, serta BBNI sekitar Rp113 miliar. Pola tersebut menunjukkan bahwa ketika investor asing mulai kembali mengambil risiko di pasar Indonesia, saham perbankan berkapitalisasi besar kembali menjadi pintu masuk utama.
| Saham | Foreign Flow Jumat 21 Agustus | Catatan |
|---|---|---|
| BBRI | Net buy ~Rp628,5 M | Pembelian asing terbesar |
| BBCA | Net buy ~Rp269 M | Masuk kelompok bank yang dibeli asing |
| BMRI | Net buy ~Rp140 M | Masuk kelompok bank yang dibeli asing |
| BBNI | Net buy ~Rp113 M | Masuk kelompok bank yang dibeli asing |
| BUMI | Net sell ~Rp48,1 M | Berbeda arah dengan net buy indeks |
| BRMS | Net sell ~Rp30,3 M | Masih perlu konfirmasi flow |
Ini menjadi alasan BBRI terlihat lebih menarik dari perspektif aliran dana dibandingkan beberapa saham spekulatif yang ikut direkomendasikan.
Namun satu hari pembelian asing belum cukup untuk menyimpulkan investor global telah kembali secara permanen ke pasar Indonesia.
Hendra dalam bahan menyebut pembelian asing secara mingguan sekitar Rp548 miliar. Data publik lain dapat menunjukkan angka mingguan berbeda tergantung cakupan pasar reguler, seluruh pasar, serta waktu pengambilan data. Karena itu, indikator yang lebih penting bukan satu angka akumulasi, melainkan apakah foreign net buy berlangsung konsisten beberapa pekan berturut-turut.
Kondisi makro domestik setidaknya memberikan dukungan.
Bank Indonesia melaporkan kredit perbankan pada Juli 2026 tumbuh 13,58% secara tahunan, meningkat dari 12,67% pada Juni. Ketahanan perbankan juga masih terjaga dengan Capital Adequacy Ratio 23,70%, NPL bruto 2,09%, dan NPL neto 0,82% pada data terakhir.
Di sisi likuiditas ekonomi, M2 mencapai Rp10.371,1 triliun pada Juli 2026 atau tumbuh 8,3% YoY.
Ada sedikit perbedaan angka kredit yang perlu diperhatikan. Statistik M2 BI mencatat penyaluran kredit dengan definisi loans tertentu tumbuh 13,0%, sedangkan asesmen RDG Bank Indonesia mencatat kredit perbankan tumbuh 13,58%. Perbedaan tersebut berasal dari definisi statistik yang digunakan sehingga keduanya tidak seharusnya dipertentangkan secara langsung.
Saham bank besar mempunyai bobot besar dalam indeks. Ketika kredit tumbuh, kualitas aset terjaga, dan asing mulai melakukan net buy pada BBRI, BBCA, BMRI, serta BBNI secara bersamaan, sektor perbankan dapat memberi tenaga signifikan bagi IHSG. Tetapi pertumbuhan kredit saja belum menjamin harga saham naik karena investor juga memperhatikan NIM, biaya dana, kualitas kredit, dan valuasi.
Neraca Pembayaran Indonesia juga menunjukkan perbaikan dari kuartal sebelumnya. Bank Indonesia mencatat defisit NPI kuartal II/2026 sekitar US$0,9 miliar, jauh lebih kecil daripada defisit US$9,1 miliar pada kuartal I.
Meski demikian, transaksi berjalan justru mencatat defisit yang lebih tinggi akibat penurunan surplus perdagangan nonmigas dan membesarnya defisit migas. Perbaikan keseluruhan NPI lebih banyak ditopang surplus transaksi modal dan finansial dari investasi langsung serta investasi portofolio.
Karena itu, menyebut neraca pembayaran “membaik” perlu disertai konteks: tekanan eksternal mereda dibandingkan kuartal sebelumnya, tetapi bukan berarti seluruh komponennya menguat.
BBRI, BUMI, BRMS hingga SRTG Masuk Radar, Ini Levelnya
Dalam kondisi indeks yang berada dekat support, Hendra memilih kombinasi saham perbankan serta energi dan pertambangan.
BBRI menjadi pilihan yang relatif paling defensif dalam daftar dengan strategi trading buy menuju Rp3.420. Narasinya ditopang pertumbuhan kredit dan aliran dana asing yang menguat pada akhir pekan.
Foreign net buy sekitar Rp628,5 miliar pada Jumat menjadi data penting. Dalam sepekan, BBRI juga tercatat memperoleh pembelian asing sekitar Rp745 miliar dalam data yang dikutip sejumlah publikasi.
BUMI diproyeksikan dapat bergerak menuju Rp230. Katalisnya berasal dari sektor energi serta perbaikan operasional, tetapi investor perlu menyadari bahwa pada Jumat saham tersebut justru mencatat foreign net sell sekitar Rp48,1 miliar.
Karena itu, target Rp230 merupakan skenario teknikal, bukan konfirmasi bahwa investor asing sedang mengakumulasi BUMI.
BRMS dipilih dengan strategi speculative buy dan target Rp750. Harga emas yang masih berada pada level tinggi menjadi salah satu katalis utama bisnis emas BRMS.
Namun sifat rekomendasinya memang lebih spekulatif. BRMS juga mengalami net sell asing sekitar Rp30,3 miliar pada Jumat. Investor yang ingin mengikuti momentum perlu mencermati volume dan kemampuan harga mempertahankan support masing-masing.
SRTG menjadi alternatif spekulatif dengan target Rp2.200. Karakter saham Saratoga berbeda dari tiga saham sebelumnya karena nilainya banyak dipengaruhi valuasi portofolio investasinya.
| Saham | Strategi dalam Bahan | Target | Faktor yang Perlu Dipantau |
|---|---|---|---|
| BBRI | Trading Buy | Rp3.420 | Foreign flow, kredit, NIM dan kualitas aset |
| BUMI | Trading Buy | Rp230 | Harga batu bara, volume, RKAB dan foreign flow |
| BRMS | Speculative Buy | Rp750 | Harga emas, produksi dan volume transaksi |
| SRTG | Speculative Buy | Rp2.200 | NAV portofolio dan sentimen pasar |
Daftar tersebut sebaiknya tidak diperlakukan sama rata. BBRI merupakan bank besar dengan likuiditas tinggi dan foreign flow yang sedang positif. BUMI dan BRMS membawa sensitivitas lebih tinggi terhadap komoditas dan pergerakan investor jangka pendek. Sementara SRTG mempunyai karakter holding investasi yang membuat perubahan nilai portofolio menjadi variabel penting.
Ada pula katalis lain yang bisa membuat pasar lebih volatil dalam beberapa pekan mendatang.
Review indeks MSCI dan FTSE akan efektif pada September 2026. Perubahan tersebut dapat memicu penyesuaian posisi oleh investor institusi dan dana pasif, terutama pada saham yang mengalami penghapusan atau penurunan klasifikasi.
Investor juga masih mencermati harga emas dan minyak serta perkembangan kebijakan moneter global. Semua faktor itu dapat mengubah arus dana asing dengan cukup cepat.
IHSG pada Senin pagi sedang berada di titik yang cukup menentukan. Level 6.500 merupakan support psikologis dan indeks hanya berada sekitar 0,14% di atasnya pada pukul 10.00 WIB. Selama 6.480-6.500 bertahan, peluang menguji kembali 6.550-6.580 masih terbuka. Breakout 6.580 dengan volume dan foreign net buy yang berlanjut dapat membuka ruang menuju 6.650. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan 6.500 meningkatkan risiko koreksi ke 6.450-6.480. Perbankan menjadi sektor penting karena asing mulai kembali membeli BBRI, BBCA, BMRI dan BBNI, sementara pertumbuhan kredit tetap kuat. BBRI, BUMI, BRMS dan SRTG masuk radar perdagangan, tetapi investor sebaiknya tidak mengejar kenaikan dan tetap membedakan saham dengan dukungan foreign flow nyata dari saham yang hanya membawa momentum teknikal atau komoditas.
Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
Berapa IHSG hari ini 24 Agustus 2026?
Berapa support IHSG hari ini?
Berapa resistance IHSG?
Saham apa yang direkomendasikan untuk perdagangan hari ini?
Apakah investor asing sudah kembali membeli saham Indonesia?
Bagaimana pertumbuhan kredit Indonesia saat ini?
Perhitungan Receh.in: Dari posisi IHSG 6.509, support 6.500 berada sekitar 0,14% lebih rendah, resistance 6.580 sekitar 1,09% lebih tinggi, dan target 6.650 sekitar 2,17% lebih tinggi. Angka dibulatkan.
Catatan: Data IHSG 24 Agustus merupakan posisi intraday sekitar pukul 10.00 WIB dan dapat berubah selama perdagangan. Data foreign flow mingguan dapat berbeda antar-sumber bergantung pada cakupan pasar reguler versus seluruh pasar dan waktu pengambilan data. Data kredit BI 13,58% dan 13,0% juga menggunakan cakupan statistik berbeda.
Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Target harga dan level teknikal dapat berubah mengikuti pergerakan pasar.
.jpg)
0 Komentar