Receh.in — Transformasi PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) mulai terlihat lebih jelas pada semester I/2026. Pendapatan konsolidasi hanya tumbuh tipis 0,47% menjadi US$173,0 juta, tetapi komposisinya berubah signifikan: bisnis nonbatu bara kini menyumbang 66,5% pendapatan, lebih dari dua kali kontribusi batu bara sebesar 31,4%.
Perbaikan juga terlihat di bottom line. Rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menyusut sekitar 83% menjadi US$19,65 juta dari US$115,61 juta setahun sebelumnya. Penyusutan rugi terutama didukung oleh tidak berulangnya kerugian divestasi pada 2025, sementara bisnis pengelolaan limbah dan kendaraan listrik mulai memberikan kontribusi operasional yang lebih kuat.
Namun, TOBA belum bisa disebut sepenuhnya pulih. Perusahaan masih menanggung beban depresiasi dan amortisasi pascaakuisisi Cora Environment serta biaya pendanaan untuk ekspansi merger dan akuisisi. Dengan net debt to EBITDA masih 5,4 kali, perbaikan leverage tetap menjadi salah satu indikator terpenting yang perlu dicermati investor.
- Pendapatan TOBA semester I/2026 mencapai US$173,0 juta, dengan bisnis nonbatu bara menyumbang 66,5% total pendapatan.
- Segmen pengelolaan limbah menjadi mesin utama dengan pendapatan US$105,9 juta atau naik 77,8% YoY dan menyumbang 92% EBITDA.
- Rugi pemilik induk menyusut 83% menjadi US$19,65 juta, tetapi leverage masih tinggi dengan net debt to EBITDA 5,4x.
Bisnis Nonbatu Bara Kini Lebih Besar dari Batu Bara
TOBA membukukan pendapatan US$173,0 juta pada enam bulan pertama 2026, naik tipis 0,47% dari US$172,21 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka pertumbuhan topline memang terlihat datar. Namun, perubahan terpenting justru ada pada sumber pendapatan. Bisnis nonbatu bara, terutama pengelolaan limbah dan ekosistem kendaraan listrik, menyumbang sekitar 66,5% dari total pendapatan.
Kontribusi tersebut lebih dari dua kali porsi bisnis batu bara sebesar 31,4%. Dengan kata lain, transformasi portofolio TOBA mulai terlihat bukan hanya dari rencana, tetapi dari struktur pendapatan aktual.
Secara operasional, laba kotor konsolidasi meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$28,2 juta dari US$13,9 juta. Beban pokok pendapatan turun sekitar US$13,5 juta, sehingga gross margin naik dari sekitar 8,1% menjadi 16,3%.
Perhitungan sederhana menunjukkan gross margin TOBA membaik sekitar 8,2 poin persentase dalam setahun. Ini lebih penting daripada pertumbuhan revenue yang hanya tipis, karena menunjukkan kualitas pendapatan dan struktur biaya membaik.
EBITDA konsolidasi juga tumbuh sekitar 23,7% secara tahunan. Artinya, transisi bisnis bukan hanya mengubah bauran pendapatan, tetapi mulai terlihat pada profitabilitas operasional.
Pengelolaan Limbah Jadi Mesin Utama EBITDA
Segmen pengelolaan limbah menjadi kontributor terpenting dalam perubahan profil TOBA. Pendapatannya melonjak 77,8% menjadi US$105,9 juta dari US$59,6 juta.
Segmen ini menyumbang sekitar 61,2% terhadap pendapatan konsolidasi dan bahkan sekitar 92% terhadap EBITDA TOBA. Laba kotor pengelolaan limbah juga naik 91,9% menjadi US$17,6 juta dari US$9,2 juta.
| Indikator Pengelolaan Limbah | 1H25 | 1H26 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan | US$59,6 juta | US$105,9 juta | +77,8% |
| Laba kotor | US$9,2 juta | US$17,6 juta | +91,9% |
| Porsi pendapatan konsolidasi | — | 61,2% | Dominan |
| Porsi EBITDA TOBA | — | 92% | Sangat dominan |
Dari sisi operasional, Cora Environment di Singapura mengelola sekitar 752.000 ton limbah dengan tingkat ketersediaan pabrik 86%. Asia Medical Enviro Services menangani sekitar 2.100 ton dengan plant availability 90%, sementara ARAH Environmental di Indonesia mengelola sekitar 5.800 ton dengan tingkat ketersediaan 84%.
Data tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan limbah bukan lagi bisnis pelengkap. Segmen ini sudah menjadi sumber EBITDA utama TOBA dan menjadi fondasi finansial terpenting dalam transisi menuju bisnis berkelanjutan.
Bisnis Kendaraan Listrik Mulai Berbalik Positif
Ekosistem kendaraan listrik melalui Electrum juga mencatat perbaikan tajam. Pendapatan naik 184% menjadi US$9,1 juta pada semester I/2026.
Yang lebih penting, laba kotor berbalik positif menjadi sekitar US$0,4 juta dari rugi kotor US$0,5 juta setahun sebelumnya. EBITDA segmen kendaraan listrik juga sudah berbalik positif menjadi sekitar US$0,5 juta.
| Indikator EV | 1H25 | 1H26 |
|---|---|---|
| Pendapatan | ±US$3,2 juta | US$9,1 juta |
| Laba kotor | -US$0,5 juta | +US$0,4 juta |
| EBITDA | Negatif | +US$0,5 juta |
Skala operasional Electrum juga terus membesar. Ekosistemnya mencakup hampir 14.000 motor listrik dan sekitar 550 Battery Swapping Station. Volume penukaran baterai sudah melampaui 1,7 juta kali per bulan, dengan lebih dari 2.500 unit dalam skema rent-to-own dan jarak tempuh kumulatif lebih dari 135 juta kilometer.
Angka tersebut menunjukkan bisnis EV sudah mulai melewati fase eksperimen awal dan memasuki fase monetisasi. Namun, kontribusinya terhadap total pendapatan masih jauh lebih kecil daripada bisnis limbah.
Dengan pendapatan US$9,1 juta terhadap total US$173,0 juta, porsi bisnis EV secara indikatif baru sekitar 5,3% dari pendapatan konsolidasi. Jadi, meskipun pertumbuhan 184% terlihat tinggi, basisnya masih relatif kecil.
Rugi Susut Tajam, tetapi Leverage Masih Jadi Tantangan
Bottom line TOBA membaik signifikan. Rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun dari US$115,61 juta menjadi US$19,65 juta, atau menyusut sekitar 83%.
Namun, penurunan rugi tersebut perlu dibaca dengan konteks. Salah satu faktor penting adalah tidak berulangnya kerugian divestasi yang terjadi pada 2025. Dengan demikian, perbaikan bottom line bukan seluruhnya berasal dari pertumbuhan operasional organik.
Kerugian yang masih tersisa juga terdiri atas dua karakter berbeda. Pertama, beban nonkas berupa depresiasi dan amortisasi terkait akuisisi Cora Environment. Kedua, biaya berbasis kas berupa beban pendanaan untuk merger dan akuisisi yang digunakan TOBA dalam membangun bisnis infrastruktur berkelanjutan dan kendaraan listrik.
Di sisi neraca, kas TOBA mencapai sekitar US$94,7 juta pada akhir Juni 2026. Utang bank jangka pendek turun 30,9% secara tahunan, sementara total liabilitas jangka pendek turun 13,5%.
TOBA juga melakukan refinancing obligasi rupiah melalui PUB II dan PUB III. Langkah ini mengalihkan sekitar US$27,5 juta kewajiban dari jatuh tempo jangka pendek sehingga profil maturitas utang menjadi lebih panjang.
Meski membaik dari 5,6 kali pada akhir 2025, rasio net debt terhadap EBITDA sebesar 5,4 kali masih tergolong tinggi. Artinya, transformasi bisnis TOBA juga memiliki harga berupa penggunaan leverage untuk membiayai ekspansi dan akuisisi.
Karena itu, bagi investor, tahap berikutnya bukan hanya melihat apakah nonbatu bara terus tumbuh. Yang lebih penting adalah apakah EBITDA baru tersebut mampu tumbuh lebih cepat daripada utang dan beban pendanaan.
Di sisi energi terbarukan, kontribusinya masih kecil. PLTM 6 MW yang sudah beroperasi penuh memberikan kontribusi sekitar US$110.300 melalui bagian laba entitas asosiasi, bukan sebagai pendapatan konsolidasi.
TOBA juga mengembangkan PLTS Terapung 46 MWp yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV/2026. Jika proyek tersebut mulai memberikan kontribusi, portofolio nonbatu bara TOBA akan semakin terdiversifikasi. Namun, dampak finansialnya tetap perlu menunggu realisasi operasi.
FAQ Kinerja TOBA Semester I 2026
Berapa pendapatan TOBA semester I 2026?
Bisnis apa yang paling besar menyumbang pendapatan TOBA?
Berapa rugi TOBA semester I 2026?
Bagaimana kinerja bisnis pengelolaan limbah TOBA?
Apakah bisnis kendaraan listrik TOBA sudah untung?
Berapa net debt to EBITDA TOBA?
Apa yang perlu diperhatikan investor TOBA?
Perhitungan Receh.in: Gross margin dihitung dari laba kotor dibagi pendapatan. Porsi indikatif bisnis kendaraan listrik dihitung dari pendapatan segmen US$9,1 juta dibandingkan pendapatan konsolidasi US$173,0 juta.
Catatan: Penyusutan rugi semester I/2026 dipengaruhi oleh tidak berulangnya kerugian divestasi pada 2025. Kontribusi PLTM dicatat melalui bagian laba entitas asosiasi, bukan sebagai pendapatan konsolidasi. Perbaikan leverage tidak otomatis berarti risiko pendanaan telah hilang.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham TOBA. Investor perlu mempertimbangkan leverage, arus kas, biaya pendanaan, risiko integrasi akuisisi, eksekusi proyek, perkembangan bisnis baru, serta valuasi sebelum mengambil keputusan investasi.

0 Komentar