Receh.in — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melonjak 1,56% ke level 6.374 pada perdagangan Rabu, 23 September 2026, meski investor asing masih mencatatkan penjualan bersih di Bursa Efek Indonesia.
Di pasar reguler, investor asing membukukan net foreign sell Rp468,2 miliar. Jika seluruh pasar dihitung, termasuk transaksi negosiasi, penjualan bersih asing tercatat sekitar Rp461,3 miliar.
Situasi ini menunjukkan satu hal penting: IHSG tetap bisa naik meski asing net sell. Arus dana asing memang penting, tetapi bukan satu-satunya penentu arah indeks. Pembelian investor domestik, pergerakan saham berkapitalisasi besar, serta rotasi antarsektor juga dapat mengimbangi tekanan jual asing.
Di antara saham yang justru diborong asing, PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) memimpin dengan net buy Rp106,7 miliar. Sebaliknya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menjadi saham dengan net sell asing terbesar senilai Rp187,6 miliar.
- IHSG naik 1,56% ke 6.374 pada 23 September 2026 meski asing masih mencatat net sell.
- Net foreign sell mencapai Rp468,2 miliar di pasar reguler dan Rp461,3 miliar di seluruh pasar.
- MDKA menjadi saham dengan net buy asing terbesar, sedangkan BBRI mencatat net sell terbesar.
IHSG Naik Meski Asing Masih Net Sell
Berdasarkan data aplikasi IPOT, nilai pembelian investor asing di pasar reguler mencapai sekitar Rp3,79 triliun, sementara penjualan mencapai Rp4,26 triliun.
Secara neto, asing membukukan penjualan bersih Rp468,2 miliar.
Namun IHSG justru menguat 1,56% ke level 6.374.
Fenomena ini juga menunjukkan mengapa foreign flow sebaiknya dibaca sebagai salah satu indikator sentimen, bukan sebagai alat prediksi tunggal arah indeks.
| Pasar | Pembelian Asing | Penjualan Asing | Net Foreign Flow |
|---|---|---|---|
| Reguler | Rp3,79 triliun | Rp4,26 triliun | -Rp468,2 miliar |
| Negosiasi | Rp517,2 miliar | Rp510,3 miliar | +Rp6,9 miliar |
| Seluruh pasar | Rp4,31 triliun | Rp4,77 triliun | -Rp461,3 miliar |
Data tersebut juga memperlihatkan bahwa pembelian bersih di pasar negosiasi hanya sekitar Rp6,9 miliar sehingga belum cukup untuk menutup penjualan bersih asing di pasar reguler.
MDKA Paling Banyak Diborong Asing
Di tengah net sell pasar secara keseluruhan, investor asing tetap melakukan pembelian selektif pada sejumlah saham.
MDKA mencatat net foreign buy terbesar di pasar reguler sebesar Rp106,7 miliar.
Posisi berikutnya ditempati PT Timah Tbk. (TINS) dengan net buy Rp53,7 miliar dan PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) Rp42,2 miliar.
| Saham | Net Foreign Buy Pasar Reguler |
|---|---|
| MDKA | Rp106,7 miliar |
| TINS | Rp53,7 miliar |
| SINI | Rp42,2 miliar |
Jika dihitung untuk seluruh pasar, urutannya relatif sama. MDKA masih berada di posisi teratas dengan net buy Rp106,7 miliar, disusul TINS Rp53,7 miliar dan SINI sekitar Rp40,8 miliar.
Perbedaan angka SINI antara pasar reguler dan seluruh pasar menunjukkan adanya transaksi di pasar lain yang mengurangi sedikit nilai net buy akhirnya.
BBRI, BMRI, dan TLKM Jadi Sasaran Jual Asing
Di sisi lain, saham bank besar dan telekomunikasi menjadi sasaran penjualan asing paling besar.
BBRI mencatat net foreign sell Rp187,6 miliar. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) berada di posisi kedua dengan Rp128,7 miliar, disusul PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) Rp124,6 miliar.
| Saham | Net Foreign Sell |
|---|---|
| BBRI | Rp187,6 miliar |
| BMRI | Rp128,7 miliar |
| TLKM | Rp124,6 miliar |
Menariknya, tekanan jual asing pada tiga saham besar tersebut tidak mencegah IHSG naik lebih dari 1,5%.
Ini kembali menegaskan bahwa pengaruh foreign flow terhadap indeks bergantung pada banyak faktor, termasuk kenaikan saham lain yang memiliki bobot besar dan agresivitas pembelian investor domestik.
Investor juga sebaiknya tidak menyamakan net sell dengan penurunan fundamental. Investor asing dapat melakukan rebalancing, profit taking, perubahan alokasi sektoral, atau penyesuaian portofolio tanpa perubahan material pada bisnis emiten.
Pasar Negosiasi Beri Gambaran Berbeda
Berbeda dengan pasar reguler, investor asing mencatat pembelian bersih sekitar Rp6,9 miliar di pasar negosiasi.
Nilai pembelian mencapai Rp517,2 miliar, sedikit lebih tinggi daripada penjualan Rp510,3 miliar.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) menjadi saham dengan net buy asing terbesar di pasar negosiasi, yakni Rp18,4 miliar.
| Saham | Net Foreign Flow Pasar Negosiasi |
|---|---|
| PGEO | +Rp18,4 miliar |
| NSSS | +Rp5,7 miliar |
| MKPI | +Rp2,6 miliar |
| AKRA | -Rp9,2 miliar |
| EMTK | -Rp6,4 miliar |
| UNVR | -Rp3,2 miliar |
Namun transaksi di pasar negosiasi perlu dibaca berbeda dengan pasar reguler.
Pasar negosiasi sering digunakan untuk transaksi blok atau perpindahan kepemilikan pada harga dan volume yang disepakati para pihak. Karena itu, net buy atau net sell di pasar ini tidak selalu mencerminkan tekanan permintaan dan penawaran yang sama dengan pasar reguler.
Bagi investor, data harian foreign flow lebih bermanfaat jika dilihat sebagai tren beberapa hari atau minggu, bukan hanya satu sesi perdagangan.
Jika saham terus mengalami net buy bersamaan dengan perbaikan fundamental, kenaikan laba, dan valuasi yang masih masuk akal, sinyalnya tentu berbeda dibanding net buy satu hari saat harga sedang sangat volatile.
FAQ Foreign Flow IHSG 23 September 2026
Berapa net foreign sell pada 23 September 2026?
Kenapa IHSG naik meski asing net sell?
Saham apa yang paling banyak dibeli asing?
Saham apa yang paling banyak dijual asing?
Berapa net foreign buy di pasar negosiasi?
Apakah net foreign buy berarti saham pasti naik?
Perhitungan Receh.in: Data bahan menyebut pembelian asing pasar reguler Rp3,79 triliun dan penjualan Rp4,26 triliun dengan net sell Rp468,2 miliar. Angka total yang ditampilkan telah mengalami pembulatan, sehingga selisih sederhana dari angka Rp3,79 triliun dan Rp4,26 triliun tidak persis sama dengan angka net flow rinci. Hal yang sama berlaku pada data all trade Rp4,31 triliun versus Rp4,77 triliun.
Catatan: Foreign flow harian tidak dapat digunakan sendiri untuk menyimpulkan adanya akumulasi jangka panjang, perubahan fundamental, atau arah harga berikutnya. Transaksi pasar negosiasi juga tidak selalu mencerminkan tekanan harga yang sama dengan transaksi pasar reguler.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham MDKA, TINS, SINI, BBRI, BMRI, TLKM, PGEO, atau saham lainnya. Investor perlu mempertimbangkan fundamental, valuasi, likuiditas, tren foreign flow, dan risiko pasar sebelum mengambil keputusan.

0 Komentar