Receh.in — PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk. (MGLV) memperoleh total fasilitas pinjaman sebesar Rp10,75 triliun dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) untuk mendukung ekspansi bisnis data center melalui dua anak usahanya.
Fasilitas tersebut diberikan kepada PT Nextlier Askara Center (NAC) sebesar Rp4,12 triliun dan PT Nextier GenAi Center (NGC) sebesar Rp6,63 triliun.
Dana itu akan digunakan untuk pengembangan fasilitas data center di Jababeka, Cikarang, serta proyek BatangDC di Jawa Tengah. Jika target kapasitas tercapai, JababekaDC akan meningkat menjadi 42 MW, sedangkan BatangDC ditargetkan mencapai 60 MW.
Secara agregat, kedua proyek tersebut merepresentasikan kapasitas hingga 102 MW. Namun angka itu tetap perlu dibaca sebagai kapasitas yang direncanakan, bukan kapasitas operasional atau terkontrak saat ini.
- MGLV melalui NAC dan NGC memperoleh fasilitas pinjaman BNI total Rp10,75 triliun.
- JababekaDC ditargetkan naik dari 6 MW menjadi 42 MW, sedangkan BatangDC ditargetkan mencapai 60 MW.
- Selain utang bank, MGLV juga menyiapkan rights issue Rp2,54 triliun dan shareholder loan Rp4 triliun dari pengendali.
BNI Kucurkan Rp10,75 Triliun ke Dua Anak Usaha MGLV
Fasilitas kredit terbesar diberikan kepada NGC sebesar Rp6,63 triliun, sedangkan NAC memperoleh Rp4,12 triliun.
| Entitas | Fasilitas Pinjaman | Tujuan Utama | Tenor |
|---|---|---|---|
| PT Nextlier Askara Center (NAC) | Rp4,12 triliun | Akuisisi dan ekspansi JababekaDC | Maks. 6 tahun, dapat diperpanjang 2 kali |
| PT Nextier GenAi Center (NGC) | Rp6,63 triliun | Pembangunan BatangDC | Maks. 7 tahun, dapat diperpanjang 1 kali |
| Total | Rp10,75 triliun | Ekspansi data center | — |
Perseroan juga memberikan corporate guarantee kepada BNI untuk menjamin kewajiban pembayaran NAC dan NGC.
Artinya, walaupun pinjaman secara langsung berada di anak usaha, risiko kreditnya juga terhubung ke induk melalui jaminan perusahaan.
JababekaDC Naik 36 MW, BatangDC Ditargetkan 60 MW
Untuk NAC, pinjaman akan digunakan membiayai sebagian akuisisi fasilitas data center di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, termasuk biaya proyek dan belanja modal untuk penambahan kapasitas sebesar 36 MW.
Setelah ekspansi, kapasitas JababekaDC ditargetkan meningkat menjadi 42 MW.
Ini berarti kapasitas awal yang tersirat sekitar 6 MW sebelum tambahan 36 MW tersebut.
Sementara itu, fasilitas NGC akan digunakan untuk membiayai pembangunan BatangDC hingga kapasitas 60 MW, termasuk biaya fasilitas pinjaman dan bunga selama masa konstruksi.
| Proyek | Kapasitas Awal | Tambahan | Kapasitas Target |
|---|---|---|---|
| JababekaDC | ~6 MW | +36 MW | 42 MW |
| BatangDC | Dalam pembangunan | — | 60 MW |
| Total | — | — | 102 MW |
Bagi investor, angka MW seperti ini perlu dibaca hati-hati.
Dalam bisnis data center, kapasitas yang diumumkan belum tentu sama dengan kapasitas yang sudah commissioned, terisi pelanggan, atau menghasilkan pendapatan.
Bunga Mengambang dan Risiko Leverage
Fasilitas pinjaman menggunakan bunga Compounded IndONIA 90 hari + margin 1,9%.
Karena menggunakan acuan bunga mengambang, biaya dana dapat berubah mengikuti pergerakan suku bunga pasar.
Ini menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan karena proyek data center bersifat padat modal dan membutuhkan waktu konstruksi sebelum menghasilkan arus kas penuh.
Untuk BatangDC, biaya bunga selama masa konstruksi juga termasuk dalam penggunaan fasilitas.
Artinya, investor perlu memantau apakah pertumbuhan EBITDA dan arus kas setelah proyek beroperasi mampu mengimbangi kenaikan beban bunga dan utang.
Struktur Pendanaan MGLV Semakin Besar
Pinjaman BNI bukan satu-satunya sumber pendanaan yang disiapkan MGLV.
Perseroan juga merencanakan rights issue dengan target dana sekitar Rp2,54 triliun dan telah memperoleh shareholder loan sebesar Rp4 triliun dari pengendali, PT Nextier Datamate Center.
Jika seluruh sumber pendanaan tersebut dijumlahkan secara nominal, total potensi pendanaan mencapai sekitar Rp17,29 triliun.
Namun angka Rp17,29 triliun tidak boleh diperlakukan sebagai kas yang sudah tersedia seluruhnya.
Rights issue masih berupa rencana, sementara fasilitas kredit juga dapat ditarik bertahap sesuai kebutuhan proyek.
Struktur pendanaan seperti ini memberi fleksibilitas bagi perusahaan untuk mempercepat pembangunan, tetapi sekaligus meningkatkan kompleksitas risiko bagi investor.
- utang bank menambah leverage dan beban bunga;
- shareholder loan menambah kewajiban kepada pengendali;
- rights issue berpotensi menyebabkan dilusi jika pemegang saham tidak mengeksekusi haknya;
- dan seluruh skema baru menghasilkan nilai jika kapasitas data center benar-benar terserap pasar.
FAQ Pinjaman MGLV untuk Data Center
Berapa total pinjaman yang diperoleh MGLV dari BNI?
Untuk apa pinjaman Rp4,12 triliun kepada NAC?
Untuk apa pinjaman Rp6,63 triliun kepada NGC?
Berapa bunga pinjaman MGLV?
Berapa total kapasitas data center yang ditargetkan?
Apakah Rp10,75 triliun langsung seluruhnya menjadi utang?
Perhitungan Receh.in: Total fasilitas pinjaman Rp4,12 triliun + Rp6,63 triliun = Rp10,75 triliun. Total target kapasitas JababekaDC 42 MW + BatangDC 60 MW = 102 MW. Total nominal sumber pendanaan potensial Rp10,75 triliun + Rp4 triliun + Rp2,54 triliun = Rp17,29 triliun.
Catatan: Fasilitas pinjaman tidak identik dengan utang yang sudah ditarik penuh. Kapasitas 102 MW juga merupakan target proyek, bukan kapasitas yang sudah seluruhnya commissioned, terkontrak, atau menghasilkan pendapatan. Rights issue Rp2,54 triliun masih berupa rencana sebagaimana disebut dalam bahan.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham MGLV atau BBNI. Investor perlu mempertimbangkan leverage, biaya bunga, struktur pendanaan, utilisasi kapasitas, capex, EBITDA, free cash flow, ROIC, dan risiko eksekusi proyek sebelum mengambil keputusan investasi.

0 Komentar