Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
September 2026 dibuka dengan kombinasi yang cukup manis bagi pasar saham Indonesia. Investor asing mencatat net buy Rp2,74 triliun pada perdagangan 1–4 September 2026, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sekitar 1,70% dari posisi akhir Agustus.

Masalahnya, sejarah September memberi alasan untuk tidak buru-buru membuka sampanye. Dalam 11 periode September sepanjang 2015–2025, IHSG tercatat turun sebanyak delapan kali dan hanya naik tiga kali. Rata-rata return bulan September dalam periode tersebut, berdasarkan perhitungan Receh.in, sekitar -1,21%.

Yang lebih menarik, data lima September terakhir menunjukkan bahwa arus dana asing ternyata bukan penentu arah IHSG yang sederhana. Pada 2022 dan 2024 asing mencatat net buy tetapi IHSG justru turun. Sebaliknya, pada September 2025 asing net sell Rp3,80 triliun tetapi indeks malah naik 2,94%.

Ringkasan
  • Investor asing mencatat net buy Rp2,74 triliun pada 1–4 September 2026, sementara IHSG naik 1,70% ke 6.636,48.
  • Dalam 11 September sepanjang 2015–2025, IHSG melemah 8 kali atau sekitar 73%, dengan return rata-rata sekitar -1,21%.
  • Dalam lima September terakhir, arah foreign flow dan IHSG hanya sama pada 2 dari 5 periode, sehingga net buy bukan jaminan indeks akan berakhir positif.

Asing Net Buy Rp2,74 Triliun, IHSG Langsung Menguat

Berdasarkan Weekly Statistics Bursa Efek Indonesia, investor asing membukukan pembelian saham senilai Rp21,88 triliun pada perdagangan 1–4 September 2026.

Pada periode yang sama, penjualan asing mencapai Rp19,14 triliun. Selisih keduanya menghasilkan pembelian bersih sekitar Rp2,74 triliun.

Rp21,88 T Pembelian asing 1–4 September
Rp19,14 T Penjualan asing
Rp2,74 T Net buy asing
+1,70% Kenaikan IHSG

Arus masuk tersebut menjadi pembalikan dari posisi 31 Agustus 2026, ketika investor asing masih membukukan net sell Rp434,25 miliar.

IHSG ikut bergerak positif. Dari 6.525,48 pada akhir Agustus, indeks naik menjadi 6.636,48 pada 4 September 2026.

Secara nominal, IHSG bertambah sekitar 111 poin dalam empat hari perdagangan pertama September.

Awal yang bagus, tetapi baru empat hari. Membandingkan kinerja 1–4 September 2026 dengan return satu bulan penuh pada tahun-tahun sebelumnya perlu dilakukan hati-hati. September Effect berbicara mengenai hasil bulanan, bukan siapa yang unggul pada lap pertama.

Foreign Buy Tidak Selalu Membuat IHSG Naik

Data September 2021–2025 memperlihatkan hubungan yang tidak konsisten antara arus investor asing dan kinerja indeks.

September Foreign Flow Nilai IHSG Arah Sama?
2021 Net Buy Rp4,34 T +4,06% Ya
2022 Net Buy Rp3,05 T -1,92% Tidak
2023 Net Sell Rp4,06 T -0,19% Ya
2024 Net Buy Rp21,92 T -1,86% Tidak
2025 Net Sell Rp3,80 T +2,94% Tidak
2026* Net Buy Rp2,74 T +1,70% Belum final

*2026 baru mencakup periode 1–4 September, sehingga belum dapat dibandingkan langsung dengan data bulanan penuh tahun sebelumnya.

Dari lima September penuh sepanjang 2021–2025, foreign flow dan IHSG bergerak searah hanya pada dua periode: 2021 dan 2023.

Pada tiga periode lainnya justru berlawanan.

Contoh paling ekstrem adalah September 2024. Investor asing membukukan net buy sangat besar, mencapai Rp21,92 triliun, tetapi IHSG tetap turun 1,86%.

Setahun kemudian terjadi kebalikannya. Asing menjual bersih Rp3,80 triliun pada September 2025, tetapi IHSG justru naik 2,94%.

Kenapa bisa begitu? Karena IHSG mencerminkan seluruh aktivitas pasar, bukan hanya investor asing. Investor domestik, pergerakan saham berkapitalisasi besar, corporate action, sektoral, laba emiten, hingga faktor makro dapat menutupi atau bahkan melawan efek foreign flow.

Jadi, kalimat “asing beli, IHSG pasti naik” terlalu sederhana. Foreign flow penting karena dapat memengaruhi likuiditas dan saham berkapitalisasi besar, tetapi tidak memiliki tombol remote control untuk IHSG.

Seberapa Nyata September Effect di IHSG?

Data 2015–2025 memang memberikan dasar statistik sederhana bagi istilah September Effect.

Dari 11 bulan September dalam periode tersebut, IHSG melemah sebanyak delapan kali dan hanya menguat tiga kali.

Tahun Kinerja IHSG September
2015 -6,34%
2016 -0,40%
2017 +0,63%
2018 -0,70%
2019 -2,52%
2020 -7,04%
2021 +4,06%
2022 -1,92%
2023 -0,19%
2024 -1,86%
2025 +2,94%
8 kali September berakhir turun
3 kali September berakhir naik
-1,21% Return rata-rata*
-0,70% Median return*

*Perhitungan Receh.in berdasarkan return September 2015–2025 dalam bahan.

Return rata-ratanya sekitar -1,21%, sedangkan median berada di kisaran -0,70%.

Median penting karena menunjukkan bahwa kelemahan September bukan hanya akibat satu kejadian ekstrem seperti kejatuhan 7,04% pada 2020. Bahkan setelah data diurutkan, observasi tengahnya masih berada di wilayah negatif.

Meski demikian, 11 observasi tetap merupakan sampel yang terbatas. Data tersebut cukup untuk menunjukkan pola historis, tetapi tidak cukup untuk membuat kesimpulan bahwa September secara mekanis harus selalu merah.

Buktinya, September 2021 justru menghasilkan kenaikan 4,06%, dan September 2025 naik 2,94%.

Apa yang Perlu Dipantau Sepanjang September 2026?

Foreign buy Rp2,74 triliun memberikan bantalan positif pada awal bulan, tetapi investor sebaiknya memantau apakah arus tersebut berkelanjutan.

Net buy besar dalam beberapa hari dapat kehilangan makna jika berubah menjadi net sell pada pekan berikutnya. Sebaliknya, pembelian asing yang lebih kecil tetapi konsisten selama beberapa pekan dapat memberikan sinyal positioning yang lebih kuat.

Indikator Kenapa Penting
Foreign flow mingguan Menguji apakah net buy berkelanjutan
Foreign flow saham big caps Lebih relevan terhadap pergerakan IHSG
Market breadth Membedakan reli luas dan reli beberapa saham
Nilai transaksi Menguji kualitas likuiditas
Rupiah dan yield global Mempengaruhi daya tarik aset Indonesia
Laba dan valuasi emiten Menentukan apakah reli punya fondasi fundamental

Investor juga perlu membedakan foreign flow seluruh pasar dengan transaksi pada saham tertentu. Net buy pasar secara agregat tidak berarti semua saham sedang diakumulasi asing.

Begitu pula dengan September Effect. Statistik musiman bisa menjadi konteks, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan tunggal untuk membeli atau menjual.

Jika seluruh investor menjual hanya karena kalender menunjukkan September, analisis fundamental bisa digantikan aplikasi tanggal. Pasar, untungnya atau sialnya, belum sesederhana itu.

Intinya: September 2026 dimulai lebih kuat daripada reputasi bulannya. Asing masuk Rp2,74 triliun dan IHSG naik 1,70%. Tetapi sejarah memperlihatkan bahwa foreign buy tidak otomatis menghasilkan IHSG positif dan September Effect juga bukan hukum alam. Data 2015–2025 memang menunjukkan bias negatif dengan rata-rata return sekitar -1,21%, tetapi arah pasar 2026 tetap akan ditentukan oleh kombinasi arus dana, fundamental, valuasi, likuiditas, dan kondisi makro. Kalender boleh memberi peringatan; keputusan investasi tetap butuh kalkulator.

FAQ September Effect dan Foreign Flow IHSG

Berapa net buy asing pada pekan pertama September 2026?
Investor asing mencatat pembelian Rp21,88 triliun dan penjualan Rp19,14 triliun pada 1–4 September 2026, sehingga menghasilkan net buy sekitar Rp2,74 triliun.
Berapa kenaikan IHSG pada awal September 2026?
IHSG naik dari 6.525,48 pada akhir Agustus menjadi 6.636,48 pada 4 September 2026 atau sekitar 1,70%.
Seberapa sering IHSG turun pada bulan September?
Dalam data 2015–2025, IHSG turun pada delapan dari sebelas periode September atau sekitar 73%, dan naik pada tiga periode atau sekitar 27%.
Berapa rata-rata return IHSG pada September?
Berdasarkan perhitungan Receh.in atas data 2015–2025 dalam bahan, rata-rata return September sekitar -1,21%, sedangkan median sekitar -0,70%.
Apakah foreign net buy selalu membuat IHSG naik?
Tidak. Pada September 2022 dan 2024 investor asing mencatat net buy tetapi IHSG turun. Sebaliknya, pada September 2025 asing mencatat net sell tetapi IHSG naik 2,94%.
Apakah September Effect berarti investor harus menjual saham?
Tidak. September Effect merupakan pola historis, bukan kepastian. Keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan valuasi, fundamental emiten, arus dana, kondisi makro, likuiditas, dan profil risiko investor.
Sumber: Weekly Statistics Bursa Efek Indonesia serta data historis IHSG dan arus investor asing September 2015–2026 sebagaimana terdapat dalam bahan yang diterima Receh.in.

Perhitungan Receh.in: Net buy asing Rp2,74 triliun diperoleh dari pembelian Rp21,88 triliun dikurangi penjualan Rp19,14 triliun. IHSG naik sekitar 1,70% dari 6.525,48 menjadi 6.636,48. Dari 11 return September 2015–2025, rata-rata sekitar -1,21% dan median sekitar -0,70%. Dalam September 2021–2025, arah foreign flow dan IHSG sama pada dua dari lima periode dan berlawanan pada tiga periode.

Catatan: Data 2026 hanya mencakup perdagangan 1–4 September sehingga belum dapat dibandingkan secara penuh dengan return bulanan September tahun sebelumnya. Pola September Effect bersifat historis dan tidak dianggap sebagai hubungan sebab-akibat atau prediksi pasti.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Data historis tidak menjamin hasil di masa depan. Investor perlu mempertimbangkan fundamental, valuasi, kondisi makro, foreign flow, serta profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.