Receh.in — Rebound besar pasar saham pada Selasa, 20 Oktober 2026, belum cukup menghapus kerusakan yang terjadi selama sebulan terakhir. Di Bibit, sejumlah reksa dana bahkan masih mencatat penurunan lebih dari 20% dalam periode satu bulan.
Yang paling dalam adalah BNP Paribas Solaris. Berdasarkan data Bibit per 20 Oktober 2026, reksa dana saham tersebut mencatat return satu bulan -22,17%. BRI Indeks Syariah menyusul dengan -20,62%, sementara Batavia Dana Saham turun 19,81%.
Skalanya cukup besar. Jika seseorang menempatkan Rp10 juta tepat pada titik awal periode pengukuran satu bulan dan return-nya mengikuti angka tersebut, nilainya secara matematis tinggal sekitar Rp7,78 juta pada BNP Paribas Solaris, Rp7,94 juta pada BRI Indeks Syariah, dan Rp8,02 juta pada Batavia Dana Saham.
Yang menarik, hampir seluruh penghuni daftar ini adalah reksa dana saham. Dari 20 produk dengan penurunan bulanan terbesar dalam data yang kami telusuri, 19 merupakan reksa dana saham. Satu-satunya produk campuran adalah Jarvis Balanced Fund.
20 Reksa Dana Paling Boncos Sebulan
| # | Reksa Dana | Jenis | 1 Bulan | YTD | 1 Tahun | AUM |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | BNP Paribas Solaris | Saham | -22,17% | -24,74% | -26,91% | Rp358,48 M |
| 2 | BRI Indeks Syariah | Saham | -20,62% | -45,20% | -43,60% | Rp101,34 M |
| 3 | Batavia Dana Saham | Saham | -19,81% | -26,66% | -22,73% | Rp1,12 T |
| 4 | Eastspring IDX ESG Leaders Plus Kelas A | Saham | -18,95% | -39,58% | -37,20% | Rp120,15 M |
| 5 | BNI-AM PEFINDO I-Grade Kelas R1 | Saham | -18,67% | -41,44% | -39,31% | Rp16,95 M |
| 6 | Batavia Index PEFINDO I-Grade | Saham | -18,37% | -33,47% | -30,93% | Rp194,46 M |
| 7 | Jarvis Balanced Fund | Campuran | -18,24% | -29,07% | -19,36% | Rp100,64 M |
| 8 | Grow Saham Indonesia | Saham | -17,82% | N/A | -13,18% | Rp15,68 M |
| 9 | BRI MSCI Indonesia ESG Screened Kelas A | Saham | -17,81% | -37,16% | -35,11% | Rp93,70 M |
| 10 | Schroder Dana Prestasi | Saham | -17,78% | -22,83% | -18,23% | Rp0,75 T |
| 11 | TRIM Kapital Plus | Saham | -17,77% | -26,52% | -23,62% | Rp0,57 T |
| 12 | Schroder Dana Istimewa | Saham | -17,43% | -29,32% | -21,98% | Rp267,40 M |
| 13 | Bahana Primavera 99 Kelas G | Saham | -17,40% | -29,79% | -21,63% | Rp1,45 T |
| 14 | TRIM Kapital | Saham | -17,18% | -28,66% | -27,47% | Rp337,37 M |
| 15 | Schroder Dana Prestasi Plus | Saham | -16,93% | -24,05% | -20,80% | Rp2,28 T |
| 16 | BNI-AM Dana Saham Inspiring Equity Fund | Saham | -16,69% | -28,73% | -24,15% | Rp1,02 T |
| 17 | Avrist IDX30 | Saham | -16,37% | -28,87% | -24,85% | Rp64,64 M |
| 18 | Manulife Saham Andalan | Saham | -16,35% | -28,72% | -21,99% | Rp0,92 T |
| 19 | Sucorinvest IDX30 | Saham | -16,32% | -28,84% | -24,97% | Rp30,36 M |
| 20 | TRAM Consumption Plus Kelas A | Saham | -16,29% | -26,93% | -20,11% | Rp101,08 M |
Data performa dan AUM: Bibit, posisi yang ditelusuri per 20 Oktober 2026. Return 1 bulan merupakan perubahan kinerja pada periode 1M yang ditampilkan Bibit, bukan return bulan kalender Oktober.
Rata-rata penurunan 20 produk di atas mencapai sekitar 17,95% hanya dalam sebulan. Bahkan produk yang berada di urutan ke-20 masih kehilangan 16,29%.
Ini juga bukan sekadar cerita produk kecil. Di dalam daftar terdapat Schroder Dana Prestasi Plus dengan AUM Rp2,28 triliun, Bahana Primavera 99 Kelas G Rp1,45 triliun, Batavia Dana Saham sekitar Rp1,12 triliun, dan BNI-AM Dana Saham Inspiring Equity Fund sekitar Rp1,02 triliun. Jika seluruh AUM 20 produk dijumlahkan, nilainya mendekati Rp9,9 triliun.
Kenapa Ada yang Naik 9% Sehari tapi Masih Boncos 18% Sebulan?
Kolom return harian pada 20 Oktober terlihat ganjil jika hanya membaca daftar kerugian bulanan. BRI MSCI Indonesia ESG Screened, misalnya, melonjak 9,53% dalam sehari. BNI-AM PEFINDO I-Grade naik 8,97%, Sucorinvest IDX30 8,88%, Batavia Index PEFINDO I-Grade 8,77%, dan Eastspring IDX ESG Leaders Plus 8,52%.
Tetapi kenaikan satu hari yang besar tidak otomatis mengembalikan kerugian sebelumnya.
Jika nilai investasi turun 20%, misalnya, dibutuhkan kenaikan 25% dari titik terendah untuk kembali ke modal awal. Itu karena persentase kenaikan dihitung dari basis yang sudah lebih kecil.
Fenomena tersebut terlihat jelas pada pasar saham pekan ini. IHSG jatuh ke bawah 5.000 pada 19 Oktober, lalu mengalami rebound tajam sehari berikutnya. Banyak reksa dana saham ikut memantul, tetapi ketika periode yang dilihat diperpanjang menjadi satu bulan, kerugiannya tetap dua digit.
Dengan demikian, return harian hijau besar pada tabel ini tidak bertentangan dengan return bulanan yang merah pekat. Keduanya menangkap dua fase berbeda dari gejolak pasar yang sama.
BNP Paribas Solaris Paling Dalam, tetapi BRI Indeks Syariah Lebih Berat dalam Jangka Panjang
BNP Paribas Solaris menjadi yang paling buruk untuk periode satu bulan dengan koreksi 22,17%. Data Bibit menunjukkan portofolio produk ini sekitar 84,86% ditempatkan pada saham pada data terakhir, dengan sejumlah kepemilikan besar antara lain AKRA, TPIA, CPIN, INKP, ISAT, JPFA, HEAL, dan TKIM.
Namun jika horizon diperpanjang, BRI Indeks Syariah justru menunjukkan tekanan yang lebih berat. Produk ini turun 45,20% secara year-to-date, 43,60% dalam satu tahun, dan 53,30% dalam 10 tahun berdasarkan angka yang ditampilkan Bibit pada snapshot tersebut.
BRI Indeks Syariah memiliki eksposur saham hampir penuh. Daftar efek terbesarnya antara lain ADRO, ANTM, BRMS, BUMI, INDF, INKP, MDKA, TLKM, TPIA, dan UNTR.
Batavia Dana Saham berada di posisi ketiga untuk kinerja sebulan, turun 19,81%. Yang membuatnya menonjol adalah ukurannya: AUM sekitar Rp1,12 triliun. Jadi koreksi tajam kali ini tidak hanya menyerang reksa dana indeks kecil atau produk yang baru diluncurkan.
Ada pola lain yang terlihat di kelompok teratas. Produk berbasis indeks juga banyak masuk daftar: BRI Indeks Syariah, Eastspring IDX ESG Leaders Plus, BNI-AM PEFINDO I-Grade, Batavia Index PEFINDO I-Grade, BRI MSCI Indonesia ESG Screened, Avrist IDX30, dan Sucorinvest IDX30.
Reksa dana indeks pada dasarnya memiliki ruang yang lebih terbatas untuk menjauh dari indeks acuannya. Ketika saham-saham konstituen indeks mengalami koreksi besar secara serempak, kinerjanya pun akan ikut terseret.
Konteks pasar: IHSG turun 3,64% menjadi 4.996,60 pada 19 Oktober 2026, kemudian rebound 5,65% menjadi 5.278,88 pada 20 Oktober 2026.
Metodologi: Peringkat diurutkan berdasarkan return 1M terendah dari data Bibit yang ditelusuri per 20 Oktober 2026. Angka rata-rata -17,95% merupakan rata-rata sederhana dari 20 produk dalam tabel, bukan indeks atau return tertimbang AUM.
Catatan: Nilai AUM dapat berubah dari hari ke hari karena perubahan NAB maupun arus masuk dan keluar investor. Return historis juga dapat berubah mengikuti tanggal pengukuran.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi membeli, menjual, atau mempertahankan reksa dana tertentu. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil investasi di masa depan.

0 Komentar