Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 melebar menjadi Rp319 triliun hingga akhir September, setara 1,24% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Meski membesar dibandingkan posisi Agustus 2026, defisit tersebut masih berada jauh di bawah batas yang dirancang pemerintah untuk setahun penuh sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68% PDB.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan hingga September 2026 pendapatan negara mencapai Rp2.341,5 triliun, sementara belanja negara sudah mencapai Rp2.660,5 triliun.

Dengan demikian, pemerintah baru menggunakan sekitar 46,3% dari ruang defisit APBN 2026. Namun tiga bulan terakhir tahun ini akan menjadi periode krusial karena realisasi belanja pemerintah biasanya meningkat menjelang penutupan tahun anggaran.

Ringkasan
  • Defisit APBN hingga September 2026 mencapai Rp319 triliun atau 1,24% PDB.
  • Pendapatan negara mencapai Rp2.341,5 triliun, sedangkan belanja Rp2.660,5 triliun.
  • Defisit masih jauh di bawah target setahun penuh Rp689,1 triliun atau 2,68% PDB, tetapi belanja diperkirakan meningkat pada kuartal IV.
Rp319 T Defisit hingga September 2026
1,24% PDB Rasio defisit sementara
Rp2.341,5 T Pendapatan negara
Rp2.660,5 T Belanja negara

Defisit APBN Melebar Rp78,9 Triliun dalam Sebulan

Posisi fiskal September menunjukkan defisit yang lebih lebar dibandingkan bulan sebelumnya.

Pada akhir Agustus 2026, Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93% PDB. Sebulan kemudian, angkanya bertambah menjadi Rp319 triliun atau 1,24% PDB.

Dengan demikian, defisit bertambah sekitar Rp78,9 triliun hanya dalam satu bulan.

Indikator Agustus 2026 September 2026 Perubahan
Pendapatan negara Rp2.055,6 triliun Rp2.341,5 triliun +Rp285,9 triliun
Belanja negara ±Rp2.295 triliun Rp2.660,5 triliun +±Rp365,5 triliun
Defisit Rp240,1 triliun Rp319 triliun +Rp78,9 triliun
Defisit/PDB 0,93% 1,24% +0,31 ppt

Perubahan ini terjadi karena kenaikan belanja selama September lebih besar dibandingkan tambahan pendapatan negara.

Pendapatan bertambah sekitar Rp285,9 triliun dari posisi Agustus, sedangkan belanja meningkat sekitar Rp365,5 triliun.

Defisit melebar belum tentu berarti fiskal memburuk
APBN Indonesia memang dirancang defisit. Karena itu, yang lebih penting bukan sekadar apakah defisit membesar, melainkan seberapa cepat peningkatannya, untuk apa belanja digunakan, bagaimana pendapatan bergerak, dan apakah rasio defisit tetap berada dalam desain fiskal pemerintah.

Pendapatan Baru 74,2%, Belanja Sudah 69,2%

Hingga sembilan bulan pertama 2026, pendapatan negara telah terealisasi sebesar 74,2% dari target Rp3.153,6 triliun.

Artinya, pemerintah masih perlu mengumpulkan sekitar Rp812,1 triliun pendapatan pada tiga bulan terakhir tahun ini apabila ingin mencapai target APBN secara penuh.

Sementara itu, realisasi belanja sebesar Rp2.660,5 triliun baru mencapai 69,2% dari pagu Rp3.842,7 triliun.

Dengan demikian, masih terdapat sekitar Rp1.182,2 triliun ruang belanja hingga akhir tahun.

Komponen APBN 2026 Realisasi Sep 2026 Target APBN Sisa
Pendapatan negara Rp2.341,5 T Rp3.153,6 T Rp812,1 T
Belanja negara Rp2.660,5 T Rp3.842,7 T Rp1.182,2 T
Defisit Rp319 T Rp689,1 T Rp370,1 T

Dari angka tersebut terlihat bahwa belanja berpotensi mengalami akselerasi cukup besar pada Oktober–Desember.

Suahasil juga mengindikasikan percepatan belanja terutama akan terlihat pada November dan Desember. Pola ini lazim terjadi karena kementerian/lembaga dan program pemerintah mengejar penyelesaian kegiatan menjelang akhir tahun anggaran.

Defisit Lebih Rendah 14% Dibanding September 2025

Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kondisi fiskal justru terlihat lebih baik.

Pada September 2025, defisit APBN tercatat sekitar Rp371,5 triliun. Dengan posisi September 2026 sebesar Rp319 triliun, defisit berkurang sekitar Rp52,5 triliun atau 14,1% secara tahunan.

Rp371,5 T Defisit September 2025
Rp319 T Defisit September 2026
-Rp52,5 T Selisih secara tahunan
-14,1% Perubahan YoY

Perbaikan tersebut juga terlihat dari keseimbangan primer. Hingga September 2026, keseimbangan primer mencatat surplus Rp125,5 triliun.

Posisi ini jauh lebih baik dibandingkan desain APBN setahun penuh yang memperkirakan keseimbangan primer akan mengalami defisit Rp89,7 triliun.

Apa itu keseimbangan primer?
Keseimbangan primer menunjukkan selisih pendapatan negara dengan belanja negara setelah pembayaran bunga utang dikeluarkan dari perhitungan. Surplus primer berarti penerimaan negara masih lebih besar dibandingkan belanja nonbunga. Karena itu, indikator ini kerap digunakan untuk membaca kesehatan dasar posisi fiskal.

Apakah Defisit Rp319 Triliun Masih Aman?

Secara rasio, defisit 1,24% PDB masih relatif jauh dari desain APBN 2026 sebesar 2,68% PDB.

Secara nominal, realisasi defisit Rp319 triliun juga baru sekitar 46,3% dari target Rp689,1 triliun.

Namun ruang yang besar bukan berarti seluruhnya harus digunakan. Arah defisit hingga Desember akan bergantung pada kombinasi antara percepatan belanja dan kemampuan pemerintah mempertahankan penerimaan pajak, bea cukai, serta penerimaan negara bukan pajak.

Dari sisi pasar keuangan, investor biasanya mencermati perkembangan defisit karena berkaitan dengan kebutuhan pembiayaan pemerintah melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).

Semakin besar kebutuhan pembiayaan, semakin besar pula potensi suplai obligasi pemerintah ke pasar. Namun dampaknya terhadap yield SBN tidak otomatis negatif karena juga bergantung pada permintaan investor, likuiditas domestik, kebijakan Bank Indonesia, nilai tukar rupiah, serta pergerakan suku bunga global.

Catatan Recehin
Defisit Rp319 triliun belum menjadi lampu merah bagi APBN. Rasio 1,24% PDB masih kurang dari separuh desain 2,68% PDB dan bahkan lebih rendah dibandingkan September tahun lalu. Yang justru perlu dipantau adalah tiga bulan terakhir 2026: pemerintah masih memiliki ruang belanja lebih dari Rp1.100 triliun, sementara target pendapatan tersisa sekitar Rp812 triliun. Jika belanja meningkat jauh lebih cepat daripada penerimaan, defisit bisa melebar signifikan menjelang Desember. Bagi investor obligasi, dinamika ini penting karena akan menentukan kebutuhan pembiayaan dan suplai SBN pemerintah.

FAQ Defisit APBN September 2026

Berapa defisit APBN per September 2026?
Defisit APBN hingga akhir September 2026 mencapai Rp319 triliun atau setara 1,24% terhadap PDB.
Berapa pendapatan negara hingga September 2026?
Pendapatan negara mencapai Rp2.341,5 triliun atau sekitar 74,2% dari target APBN 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun.
Berapa belanja negara hingga September 2026?
Belanja negara telah mencapai Rp2.660,5 triliun atau sekitar 69,2% dari target setahun sebesar Rp3.842,7 triliun.
Berapa target defisit APBN 2026?
Pemerintah menetapkan defisit APBN 2026 sebesar Rp689,1 triliun atau sekitar 2,68% terhadap PDB.
Apakah defisit APBN 2026 lebih besar dari tahun lalu?
Tidak jika dibandingkan posisi September. Defisit September 2026 sebesar Rp319 triliun lebih rendah sekitar 14,1% dibandingkan September 2025 yang sekitar Rp371,5 triliun.
Apa arti defisit APBN bagi investor?
Defisit memengaruhi kebutuhan pembiayaan pemerintah, termasuk penerbitan SBN. Namun pergerakan yield obligasi juga ditentukan oleh permintaan investor, kebijakan moneter, inflasi, rupiah, dan kondisi pasar global.
Sumber: Kementerian Keuangan, APBN KiTa, paparan Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam Investor Daily Summit 2026 pada 8 Oktober 2026, serta laporan Bisnis.com dan media ekonomi nasional.

Catatan: Perhitungan sisa target pendapatan, belanja, ruang defisit, dan perubahan bulanan merupakan hasil perhitungan Receh.in berdasarkan angka realisasi APBN yang diumumkan pemerintah.