Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Ada perubahan penting di balik laba PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) pada kuartal III/2026. Mesin profit perusahaan kini bukan hanya bisnis Gojek. GoPay justru menghasilkan EBITDA yang disesuaikan Rp550 miliar, jauh di atas Rp347 miliar dari seluruh bisnis On-Demand Services (ODS).

Perubahan ini terjadi ketika bisnis transportasi Gojek sedang mendapat tekanan dari pembatasan komisi 8% untuk layanan roda dua. EBITDA yang disesuaikan segmen Mobility anjlok 45,2% secara kuartalan menjadi Rp159 miliar meskipun GTV-nya justru tumbuh 6,9% menjadi Rp6,26 triliun.

Fintech bergerak ke arah sebaliknya. Pendapatan bersih GoPay pada kuartal III/2026 melonjak 49% secara tahunan menjadi Rp2,30 triliun dan EBITDA yang disesuaikan melesat 304% menjadi Rp550 miliar.

Hasilnya, GoTo membukukan laba periode berjalan Rp441 miliar pada kuartal III/2026 dan memperpanjang periode profit menjadi tiga kuartal berturut-turut. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk bahkan mencapai Rp557 miliar pada kuartal tersebut.

Kinerja GOTO 3Q26 Nilai Perubahan YoY
Pendapatan bersih Rp5,56 triliun +17%
Adjusted EBITDA Rp950 miliar +84%
Laba periode berjalan Rp441 miliar Dari rugi Rp255 miliar
Laba atribusi pemilik induk Rp557 miliar Dari rugi Rp196 miliar
Core GTV Rp193,89 triliun +89%

Berdasarkan laporan kinerja GoTo untuk tiga bulan yang berakhir 30 September 2026.

GoPay Kini Menghasilkan EBITDA Lebih Besar daripada Gojek

Angka paling menarik bukan laba bersih Rp441 miliar, melainkan perubahan komposisi profitabilitas di dalam GoTo.

Segmen Financial Technology atau GoPay menghasilkan EBITDA yang disesuaikan Rp550 miliar. Sementara seluruh ODS—yang mencakup Mobility dan Delivery—menghasilkan Rp347 miliar.

Dengan kata lain, EBITDA GoPay pada kuartal III sudah sekitar 58,5% lebih besar dibandingkan EBITDA ODS.

Segmen 3Q26 Pendapatan Bersih Adjusted EBITDA
Fintech / GoPay Rp2,295 triliun Rp550 miliar
ODS / Gojek Rp3,306 triliun Rp347 miliar
Mobility Rp757 miliar Rp159 miliar
Delivery Rp2,549 triliun Rp227 miliar

GoPay hanya menyumbang sekitar 41% pendapatan grup, tetapi menghasilkan sekitar 58% adjusted EBITDA GoTo pada kuartal III.

Margin EBITDA terhadap pendapatan bersih Fintech mencapai sekitar 24%. Sebagai perbandingan, margin EBITDA ODS sekitar 10,5%.

Ini mulai menunjukkan pergeseran ekonomi bisnis GoTo. Ekosistem Gojek tetap penting untuk memperoleh dan mempertahankan pengguna, tetapi monetisasi melalui pembayaran dan pinjaman mulai memberikan laba yang lebih besar.

Pinjaman GoPay Tumbuh 51% Menjadi Rp12 Triliun

Pertumbuhan GoPay bukan semata berasal dari semakin banyak orang menggunakan aplikasi pembayaran.

Jumlah pengguna yang bertransaksi bulanan atau Monthly Transacting Users mencapai 30,4 juta, meningkat 26% secara tahunan. Jumlah transaksi melonjak lebih cepat, yakni 86% menjadi 2,8 miliar transaksi.

Artinya, bukan hanya jumlah penggunanya bertambah. Frekuensi penggunaan per pengguna juga meningkat.

GoPay 3Q26 Nilai YoY
Monthly Transacting Users 30,4 juta +26%
Jumlah transaksi 2,8 miliar +86%
Core GTV Rp186,95 triliun +96%
Total GTV Fintech Rp315,57 triliun +86%
Outstanding pinjaman Rp12,05 triliun +51%
Pendapatan bersih Rp2,30 triliun +49%
Adjusted EBITDA Rp550 miliar +304%

Pertumbuhan pinjaman menjadi salah satu sumber monetisasi penting. Outstanding pokok pinjaman mencapai Rp12,05 triliun, naik 51% dibandingkan Rp7,98 triliun setahun sebelumnya.

Pada sembilan bulan 2026, pendapatan dari bisnis pinjaman GoTo bahkan mencapai sekitar Rp4,25 triliun, tumbuh sekitar 59% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sinilah peluang sekaligus risikonya berada. Semakin besar portofolio pinjaman, semakin besar kontribusi pendapatan bunga dan layanan keuangan. Namun eksposur terhadap risiko kredit juga ikut membesar.

GoTo mengatakan telah memperketat pemberian kredit kepada kelompok pengguna berisiko tinggi sejak kuartal II/2026 untuk membatasi penurunan kualitas kredit.

GoRide Justru Tertekan Batas Komisi 8%

Kontras dengan GoPay, Mobility sedang menghadapi persoalan regulasi.

Pembatasan komisi menjadi 8% untuk transportasi roda dua berlaku sepanjang kuartal III/2026. Menurut GoTo, dampaknya terhadap adjusted EBITDA GoRide mencapai sekitar Rp150 miliar hanya dalam satu kuartal.

GoRide bahkan sempat menghasilkan adjusted EBITDA negatif pada Juli sebelum berangsur membaik mendekati titik impas menjelang akhir kuartal.

Yang menarik, permintaan sebenarnya tidak jatuh.

GTV Mobility naik 6,9% secara kuartalan menjadi Rp6,26 triliun. Jumlah pesanan selesai juga meningkat 10% secara tahunan.

Namun pendapatan Mobility turun 13,3% secara kuartalan menjadi Rp757 miliar dan EBITDA-nya anjlok 45,2% menjadi Rp159 miliar.

Jadi masalahnya bukan terutama volume transaksi. GoTo memperoleh porsi pendapatan lebih kecil dari transaksi yang masih bertumbuh.

Mobility 3Q26 Nilai Perubahan QoQ
GTV Rp6,26 triliun +6,9%
Pendapatan bersih Rp757 miliar -13,3%
Adjusted EBITDA Rp159 miliar -45,2%
Estimasi dampak batas komisi GoRide ±Rp150 miliar —

Situasi ini memperlihatkan bagaimana perubahan regulasi dapat mengubah ekonomi sebuah platform tanpa harus membuat jumlah transaksi turun.

GoTo sebelumnya memperkirakan dampak pembatasan komisi GoRide terhadap adjusted EBITDA sepanjang 2026 sekitar Rp300 miliar.

Target EBITDA Dinaikkan, Kuartal IV Tak Perlu Mengalahkan Kuartal III

Meski Mobility tertekan, kinerja Fintech membuat GoTo berani menaikkan target adjusted EBITDA 2026 dari Rp3,2 triliun–Rp3,4 triliun menjadi Rp3,5 triliun–Rp3,7 triliun.

Sampai September 2026, adjusted EBITDA kumulatif GoTo telah mencapai Rp2,867 triliun, naik 115% dibandingkan Rp1,336 triliun setahun sebelumnya.

Artinya, untuk mencapai target terbaru, GoTo membutuhkan adjusted EBITDA kuartal IV sebesar:

Target 2026 Kebutuhan Adjusted EBITDA 4Q26
Target bawah Rp3,5 triliun Rp633 miliar
Target atas Rp3,7 triliun Rp833 miliar
Realisasi 3Q26 Rp950 miliar

Perhitungan Receh.in dari adjusted EBITDA 9M26 Rp2,867 triliun dan panduan terbaru perseroan.

Ini menarik karena untuk mencapai bahkan batas atas target Rp3,7 triliun, GoTo tidak perlu mengulang EBITDA Rp950 miliar seperti pada kuartal III.

Jika kondisi bisnis tidak memburuk secara tajam, target baru tersebut terlihat relatif lebih mudah dicapai dibandingkan kesan yang muncul dari revisi panduan ke atas.

BNI Sekuritas sendiri menaikkan estimasi adjusted EBITDA 2026 sekitar 9% menjadi Rp3,7 triliun, tepat di batas atas panduan baru perusahaan.

Laba Atribusi 9 Bulan Sudah Rp1,16 Triliun

Ada dua angka laba GoTo yang perlu dibedakan.

Pada kuartal III/2026, laba periode berjalan termasuk kepentingan nonpengendali tercatat Rp441 miliar. Namun laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp557 miliar.

Secara kumulatif sembilan bulan, laba periode berjalan tercatat Rp864 miliar, sedangkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham induk mencapai Rp1,16 triliun.

Jenis Laba 3Q26 9M26
Laba periode berjalan Rp441 miliar Rp864 miliar
Laba atribusi pemilik induk Rp557 miliar Rp1,16 triliun

Angka Rp1,16 triliun menjadi tonggak penting karena pada sembilan bulan 2025 GoTo masih mencatat rugi atribusi sekitar Rp776 miliar.

Pendapatan bersih sembilan bulan 2026 juga mencapai Rp16,55 triliun, naik 24% secara tahunan, sementara adjusted EBITDA lebih dari dua kali lipat menjadi Rp2,87 triliun.

Catatan Recehin
Cerita GOTO pada 2026 mulai berubah. Dulu pertanyaannya sederhana: kapan GoTo bisa untung? Sekarang perusahaan sudah mencetak laba tiga kuartal berturut-turut. Pertanyaan berikutnya adalah dari mana laba itu datang. Jawabannya semakin jelas: GoPay. Pada kuartal III, Fintech hanya menghasilkan sekitar 41% pendapatan grup tetapi menyumbang sekitar 58% adjusted EBITDA. EBITDA Rp550 miliar bahkan sudah melampaui seluruh ODS Gojek yang menghasilkan Rp347 miliar. Sementara itu, Mobility menunjukkan sisi lain model platform. Transaksinya tumbuh, tetapi pendapatan dan laba turun karena batas komisi 8%. GoTo tidak kehilangan pengguna; perusahaan kehilangan sebagian economics dari setiap transaksi. Ini membuat tesis GOTO semakin bergeser. Investor tidak lagi hanya menilai seberapa banyak perjalanan Gojek atau pesanan GoFood. Yang semakin menentukan adalah seberapa efektif puluhan juta pengguna ekosistem itu dikonversi menjadi transaksi pembayaran dan kredit melalui GoPay—tanpa membuat risiko pinjaman ikut melonjak.
Sumber: PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, laporan kinerja kuartal III/2026 dan laporan keuangan sembilan bulan 2026; Phintraco Sekuritas; BNI Sekuritas; serta perhitungan dan olahan Receh.in.

Catatan laba: GoTo melaporkan laba periode berjalan Rp441 miliar pada 3Q26 dan Rp864 miliar pada 9M26. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk masing-masing Rp557 miliar dan Rp1,16 triliun. Perbedaan berasal dari perlakuan kepentingan nonpengendali.

Catatan Fintech: Perhitungan kontribusi sekitar 58% diperoleh dengan membandingkan adjusted EBITDA Fintech Rp550 miliar terhadap adjusted EBITDA grup Rp950 miliar. Segmen tidak dijumlahkan secara sederhana karena terdapat biaya korporasi dan eliminasi.

Catatan target: Kebutuhan adjusted EBITDA 4Q26 sebesar Rp633 miliar–Rp833 miliar dihitung dari target setahun Rp3,5 triliun–Rp3,7 triliun dikurangi realisasi 9M26 Rp2,867 triliun.

Catatan pinjaman: Pertumbuhan outstanding pinjaman dapat meningkatkan pendapatan sekaligus menambah eksposur risiko kredit. GoTo menyatakan telah memperketat underwriting untuk kelompok berisiko tinggi sejak kuartal II/2026.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham GOTO. Adjusted EBITDA merupakan ukuran non-PSAK dan perlu dibaca bersama laporan keuangan serta indikator arus kas, kualitas kredit, dan risiko regulasi.