Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Setelah IHSG jatuh 11,57% pada Jumat, 16 Oktober 2026, pertanyaan investor mulai bergeser. Bukan lagi sekadar seberapa dalam indeks bisa jatuh, tetapi apakah harga saham Indonesia sudah cukup murah untuk mulai dibeli.

Dari sisi valuasi, jawabannya mulai menarik. Sejumlah ukuran menunjukkan pasar saham Indonesia kini diperdagangkan jauh di bawah rata-rata historisnya. Namun murah tidak selalu berarti harga akan segera naik, terutama ketika arus dana asing masih bergerak keluar dan nasib Indonesia dalam indeks MSCI belum jelas.

Riset Indo Premier Sekuritas (IPOT) yang diterbitkan pada 6 Oktober 2026 memperkirakan IHSG diperdagangkan pada rasio price to earnings sekitar 10 kali, jauh di bawah rata-rata 10 tahun sebesar 16,7 kali. Rasio price to book value juga hanya sekitar 1,6 kali, dibandingkan rata-rata historis 2,2 kali.

Setelah pasar kembali jatuh pada 16 Oktober, data Stockbit menunjukkan PE IHSG sekitar 12,21 kali, juga jauh di bawah rata-rata 10 tahun versi data tersebut yang mencapai 21,71 kali.

Perbedaan angka PE itu tidak harus dibaca sebagai kontradiksi. Sumber, metodologi, cakupan saham, periode laba, dan cara menghitung rata-rata historis dapat berbeda. Pesan besarnya sama: valuasi pasar saat ini berada jauh di bawah rerata historis masing-masing basis data.

Bank, Unggas hingga Konsumer Ikut Diperdagangkan Murah

Diskon valuasi tidak hanya terlihat pada indeks secara keseluruhan.

Menurut IPOT, sektor perbankan saat ini diperdagangkan pada PBV sekitar 1,5 kali dan PE 8,1 kali. Rata-rata 10 tahunnya masing-masing mencapai 2,2 kali dan 14,3 kali.

Sektor perunggasan memiliki PE sekitar 8,8 kali, dibandingkan rata-rata lima tahun 19,3 kali. Sektor tembakau berada pada PE 9,1 kali, jauh di bawah rata-rata 10 tahun 19,5 kali. Sementara sektor barang konsumsi primer diperdagangkan pada PE sekitar 8,1 kali, dibandingkan rerata lima tahun 20,1 kali.

Sektor/Indeks Valuasi Saat Ini Rata-rata Historis
IHSG – PE sekitar 10x 16,7x / 10 tahun
IHSG – PBV 1,6x 2,2x / 10 tahun
Perbankan – PBV 1,5x 2,2x / 10 tahun
Perbankan – PE 8,1x 14,3x / 10 tahun
Perunggasan – PE 8,8x 19,3x / 5 tahun
Tembakau – PE 9,1x 19,5x / 10 tahun
Konsumer primer – PE 8,1x 20,1x / 5 tahun

Secara sederhana, pasar kini membayar harga yang jauh lebih rendah untuk setiap rupiah laba perusahaan dibandingkan periode normalnya.

Namun valuasi murah bisa bertahan lama apabila investor menilai risikonya juga meningkat. Dan saat ini, risiko terbesar datang dari perubahan persepsi terhadap pasar Indonesia setelah MSCI membuka konsultasi reklasifikasi dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Laba Masih Tumbuh, Jadi Masalahnya Bukan Semata Fundamental

Yang membuat situasinya menarik, penurunan harga saham tidak terjadi bersamaan dengan proyeksi keruntuhan laba perusahaan.

IPOT justru memperkirakan laba agregat emiten IHSG pada tahun buku 2026 tumbuh sekitar 11% secara tahunan, lebih tinggi dari konsensus sekitar 8%.

Pada 2027, laba agregat diproyeksikan masih tumbuh sekitar 10%, sedikit di atas konsensus 9%.

Sektor logam serta minyak dan gas diperkirakan menjadi pendorong utama. IPOT memproyeksikan laba sektor logam tumbuh sekitar 90% dan minyak-gas 71% sepanjang 2026.

Di sektor logam, pertumbuhan terutama diperkirakan datang dari Merdeka Battery Materials (MBMA) dan Vale Indonesia (INCO), dengan estimasi pertumbuhan laba masing-masing 533% dan 229%.

Sementara di sektor minyak dan gas, Medco Energi (MEDC) diperkirakan mencatat pertumbuhan laba sekitar 371%, sedangkan ESSA sekitar 158%.

Angka-angka itu merupakan proyeksi analis, bukan hasil yang sudah terealisasi. Namun setidaknya menunjukkan bahwa koreksi besar pasar tidak sepenuhnya mencerminkan pelemahan laba perusahaan.

Masalahnya: Asing Masih Menjual

Di sinilah valuasi murah bertemu dengan risiko terbesar.

Pada Jumat, 16 Oktober 2026, investor asing membukukan net sell sekitar Rp3,34 triliun. Sepanjang tahun berjalan, penjualan bersih asing telah mencapai sekitar Rp88,19 triliun.

Tekanan itu berpotensi berlanjut jika ketidakpastian MSCI membuat investor institusi memilih mengurangi eksposur Indonesia sebelum keputusan final pada 2027.

Analis IPOT Ryan Winipta memperkirakan risiko arus keluar dana pasif dapat mencapai sekitar US$4 miliar apabila Indonesia benar-benar direklasifikasi, termasuk dari dana yang mengikuti indeks MSCI Standard Cap dan Small Cap.

Perlu dicatat, angka US$4 miliar tersebut merupakan estimasi analis IPOT, bukan angka resmi dari MSCI.

Arus keluar aktual bisa lebih kecil atau lebih besar. Besarnya akan bergantung pada keputusan akhir MSCI, jadwal implementasi, struktur indeks saat itu, serta respons dana aktif yang tidak selalu terikat mekanis pada indeks.

Murah belum tentu langsung rebound
Valuasi memberi gambaran seberapa mahal atau murah saham dibandingkan laba atau nilai bukunya. Tetapi harga tetap ditentukan oleh pembeli dan penjual. Jika investor asing terus mengurangi posisi, saham yang secara historis sudah murah masih bisa menjadi lebih murah lagi.

Jadi, Apakah Ini Sudah Saatnya Membeli?

Data valuasi memang mulai membuat pasar Indonesia terlihat menarik, terutama bagi investor yang berorientasi jangka panjang.

Tetapi kondisi sekarang berbeda dengan koreksi yang hanya disebabkan sentimen sesaat. Ada ketidakpastian struktural mengenai klasifikasi pasar, arus dana asing, kualitas free float, transparansi kepemilikan, serta bagaimana reformasi OJK dan BEI akan dinilai oleh MSCI.

Itulah sebabnya Jovent Muliadi dan Shierly Elizabeth dari IPOT menilai posisi investasi saham Indonesia mulai menarik, tetapi percakapan mereka dengan investor asing masih menunjukkan adanya beberapa hambatan sebelum investor global menjadi lebih positif terhadap Indonesia.

Dengan kata lain, valuasi memberikan alasan untuk mulai memperhatikan saham-saham yang jatuh. Namun arus dana menentukan seberapa cepat diskon tersebut dapat tertutup kembali.

Investor yang ingin memanfaatkan koreksi karena alasan valuasi perlu membedakan dua jenis saham: emiten yang harganya jatuh karena terseret sentimen pasar, dan emiten yang memang memiliki persoalan fundamental, likuiditas, atau struktur kepemilikan sendiri.

Pada kondisi seperti sekarang, seleksi saham menjadi lebih penting daripada sekadar membeli karena IHSG sudah turun banyak.

Catatan Recehin
Crash membuat saham Indonesia jauh lebih murah, sementara proyeksi laba agregat masih tumbuh. Kombinasi itu biasanya menarik bagi investor jangka panjang. Tetapi kali ini ada satu variabel besar yang belum selesai: aliran dana. Selama investor asing masih menjual dan nasib Indonesia di MSCI belum jelas, valuasi murah bisa bertahan lebih lama dari yang diharapkan. Jadi pertanyaannya bukan hanya “apakah sudah murah?”, melainkan “apakah tekanan jualnya sudah mulai selesai?”.
Sumber: Bisnis.com, riset Indo Premier Sekuritas (IPOT), data Stockbit, serta data perdagangan pasar saham Indonesia hingga 16 Oktober 2026.

Catatan valuasi: IPOT mencatat PE IHSG sekitar 10x dengan rata-rata historis 16,7x, sedangkan Stockbit mencatat PE 12,21x dengan rata-rata 10 tahun 21,71x. Perbedaan dapat berasal dari metodologi, cakupan saham, periode laba, dan basis data yang berbeda.

Catatan proyeksi: Estimasi pertumbuhan laba IHSG, MBMA, INCO, MEDC, dan ESSA merupakan proyeksi analis IPOT dan bukan kinerja yang telah terealisasi.

Catatan arus dana: Estimasi potensi outflow hingga US$4 miliar apabila Indonesia direklasifikasi merupakan pandangan analis IPOT Ryan Winipta, bukan proyeksi resmi MSCI.

Status MSCI: Indonesia masih berstatus Emerging Market. Usulan Standalone Market masih dalam tahap konsultasi dan belum menjadi keputusan final.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan analitis, bukan rekomendasi membeli, menjual, atau mempertahankan saham.