Receh.in — PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) bersama mitranya mengunci tiga kesepakatan penjualan gas domestik dari Blok Sakakemang, South Sumatra, dan Senoro-Toili, memperkuat kepastian pasar bagi portofolio gas yang kini menjadi tulang punggung produksi perseroan.
Kesepakatan terbesar dari sisi kepastian jangka waktu datang dari Sakakemang. Medco E&P Sakakemang B.V. bersama mitra menandatangani Perjanjian Jual Beli Gas atau PJBG dengan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) untuk volume 89 TBTU selama 2027–2037.
South Sumatra menambah volume kontrak dengan PGN sebesar 6,8 TBTU sehingga total PJBG menjadi 16,5 TBTU.
Sementara dari Senoro-Toili, para pemegang participating interest menandatangani PJBG dengan PT Panca Amara Utama (PAU) dengan total volume diperkirakan 205,59 BSCF.
| Blok | Pembeli | Kesepakatan | Porsi MEDC* |
|---|---|---|---|
| Sakakemang | PGN | 89 TBTU, 2027–2037 | 45% |
| South Sumatra | PGN | Tambah 6,8 TBTU menjadi 16,5 TBTU | 65% |
| Senoro-Toili | Panca Amara Utama | 205,59 BSCF | 30% |
*Working interest berdasarkan data portofolio Medco. Volume kontrak merupakan volume bruto PJBG dan tidak identik dengan volume ekonomi bersih yang menjadi hak MEDC setelah memperhitungkan mitra dan bagian pemerintah.
Sakakemang 89 TBTU Setara Sekitar 21 MMSCFD
Jika 89 TBTU dirata-ratakan sepanjang periode 2027–2037, kontrak Sakakemang setara sekitar 22,2 BBTU per hari.
Dengan menggunakan konversi energi gas sekitar 1,037 BBTU per MMSCF, volumenya ekuivalen dengan sekitar 21 MMSCFD secara bruto.
Angka tersebut tidak terlalu besar jika dibandingkan keseluruhan portofolio produksi Medco, tetapi signifikansinya terletak pada hal lain: Sakakemang adalah proyek pengembangan yang belum berproduksi.
Medco menargetkan gas pertama Sakakemang pada kuartal III/2027. Artinya, perusahaan sudah mengamankan pembeli sebelum proyek masuk fase produksi.
Dalam bisnis hulu gas, kepastian pembeli menjadi penting karena lapangan gas tidak hanya membutuhkan cadangan dan fasilitas produksi, tetapi juga pasar, jaringan pipa, dan kontrak jangka panjang agar investasi dapat dimonetisasi.
Sakakemang sendiri dimiliki Medco sebesar 45%, Petronas Carigali Sakakemang 45%, dan MOECO Sakakemang 10%, dengan Medco sebagai operator.
Pengembangannya juga dirancang terkoneksi dengan infrastruktur Blok Corridor milik Medco, sehingga perusahaan dapat memanfaatkan jaringan yang sudah tersedia tanpa membangun seluruh rantai distribusi dari nol.
Jangan Double Count dengan Kesepakatan 159 TBTU pada Mei
Ada satu detail yang perlu diperhatikan investor.
Pada Mei 2026, Medco sudah mengumumkan kerangka komersialisasi gas Sakakemang dengan PGN dan Pertamina Patra Niaga.
Ketika itu total volume yang disebut mencapai 159 TBTU untuk periode 2027–2037, dengan estimasi nilai penjualan sekitar US$1,296 miliar.
Kesepakatan terbaru sekarang menyebut 89 TBTU khusus kepada PGN dengan periode yang sama.
| Sakakemang | Mei 2026 | Oktober 2026 |
|---|---|---|
| Bentuk | Kerangka PJBG | PJBG |
| Pembeli | PGN + Pertamina Patra Niaga | PGN |
| Volume | 159 TBTU | 89 TBTU |
| Periode | 2027–2037 | 2027–2037 |
| Estimasi nilai | US$1,296 miliar | Tidak diumumkan |
Karena pembeli dan periodenya saling beririsan, volume 89 TBTU tidak aman untuk dianggap sebagai tambahan baru di atas 159 TBTU.
Lebih masuk akal membacanya sebagai bagian dari proses mengubah kerangka komersialisasi menjadi kontrak penjualan yang lebih konkret.
Jika menggunakan estimasi nilai kerangka Mei, nilai rata-rata implisitnya sekitar US$8,15 per MMBTU. Secara ilustratif, 89 TBTU pada harga ekuivalen tersebut bernilai sekitar US$725 juta.
Namun angka itu bukan nilai kontrak terbaru yang diumumkan perusahaan. Harga jual aktual PJBG PGN tidak dipublikasikan dan dapat menggunakan formula yang berbeda.
Kontrak PAU Mengamankan Kelanjutan Pasar Senoro
Kesepakatan Senoro-Toili juga menarik karena bukan pasar yang benar-benar baru bagi Medco.
PAU merupakan konsumen lama gas Senoro untuk pabrik amonia di Banggai, Sulawesi Tengah.
Dalam fact book Medco sebelumnya, kontrak lama Senoro-Toili dengan PAU mencakup total 275.750 BBTU dengan Daily Contract Quantity sekitar 69 BBTUD dan berakhir pada 3 Desember 2027.
Kesepakatan baru sekarang mencakup sekitar 205,59 BSCF.
Perusahaan belum mengungkap periode kontrak maupun Daily Contract Quantity dari PJBG terbaru tersebut. Karena itu, belum tepat menghitung berapa MMSCFD yang akan mengalir ke PAU dari volume 205,59 BSCF tersebut.
Namun secara strategis, kontrak baru memberi indikasi bahwa pasar gas Senoro untuk industri amonia akan berlanjut setelah kontrak eksisting mendekati jatuh tempo pada akhir 2027.
Hal tersebut relevan karena Senoro baru saja mendapat tambahan produksi melalui proyek Senoro Phase 2A yang telah beroperasi penuh sejak Juni 2026.
Medco memegang participating interest 30% di Senoro-Toili, sedangkan Pertamina Hulu Energi Tomori Sulawesi menguasai 50% dan Tomori E&P Limited 20%.
Kontrak wilayah kerja tersebut juga telah diperpanjang hingga 2047, memberikan ruang monetisasi cadangan dalam jangka lebih panjang.
Gas Sudah Menjadi 72% Produksi MEDC
Tiga kontrak ini menjadi lebih relevan jika dilihat dari perubahan profil bisnis Medco.
Pada semester I/2026, produksi migas MEDC mencapai sekitar 170.000 barel setara minyak per hari, dengan gas menyumbang sekitar 72% dari total produksi.
Artinya, secara kasar produksi gas perseroan setara lebih dari 120.000 boepd.
Pertumbuhan produksi tahun ini ditopang tambahan participating interest di Corridor, produksi South Natuna Sea Block B, Oman, serta kontribusi penuh Senoro Phase 2A.
Sakakemang kemudian menjadi salah satu sumber pertumbuhan berikutnya mulai 2027.
| Indikator MEDC H1/2026 | Realisasi |
|---|---|
| Produksi migas | 170 mboepd |
| Porsi gas | ±72% |
| Pendapatan | US$1,415 miliar |
| EBITDA | US$805 juta |
| Laba bersih | US$275 juta |
| Biaya kas produksi | US$8,4/boe |
Dengan struktur tersebut, penambahan PJBG bukan sekadar pengumuman penjualan komoditas. Kontrak jangka panjang membantu mengurangi risiko bahwa tambahan produksi gas tidak memiliki pasar ketika lapangan mulai berproduksi.
Di sisi lain, jangan menyamakan volume kontrak bruto dengan tambahan pendapatan MEDC.
Ketiga aset menggunakan skema kerja sama hulu dengan mitra dan pemerintah. Sakakemang bahkan secara eksplisit menyebut 89 TBTU termasuk gas bagian negara.
Selain itu, participating interest Medco hanya 45% di Sakakemang dan 30% di Senoro-Toili.
Jadi yang paling penting bagi pemegang saham bukan menjumlahkan semua TBTU dan BSCF menjadi angka raksasa, melainkan melihat apakah kontrak-kontrak tersebut memperpanjang visibility produksi, memperbaiki utilisasi aset, dan memberi kepastian monetisasi cadangan.
Catatan Sakakemang: Volume 89 TBTU berlaku untuk periode 2027–2037 dan termasuk porsi gas bagian negara. Perhitungan sekitar 21 MMSCFD merupakan rata-rata ekuivalen energi selama 11 tahun, bukan Daily Contract Quantity resmi yang diumumkan Medco.
Catatan kerangka 159 TBTU: Pada Mei 2026 Medco mengumumkan kerangka PJBG Sakakemang dengan PGN dan Pertamina Patra Niaga senilai estimasi US$1,296 miliar untuk total 159 TBTU pada periode yang sama. Artikel tidak menganggap 89 TBTU Oktober sebagai volume tambahan di luar 159 TBTU tanpa konfirmasi perusahaan.
Catatan nilai kontrak: Ilustrasi sekitar US$725 juta untuk 89 TBTU dihitung menggunakan nilai rata-rata implisit kerangka Mei sekitar US$8,15/MMBTU. Angka tersebut bukan nilai PJBG terbaru dan bukan guidance pendapatan MEDC.
Catatan Senoro: Fact Book Medco sebelumnya mencatat kontrak PAU eksisting sebesar 275.750 BBTU dengan DCQ 69 BBTUD hingga 3 Desember 2027. Pengumuman 28 Oktober 2026 tidak menyebut jangka waktu maupun DCQ kontrak baru 205,59 BSCF.
Catatan participating interest: MEDC memiliki 45% Sakakemang, 65% South Sumatra, dan 30% Senoro-Toili berdasarkan laporan perseroan. Working interest tidak sama dengan bagian pendapatan bersih karena terdapat government take dan mekanisme PSC.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan analitis, bukan rekomendasi membeli, menjual, atau mempertahankan saham MEDC maupun PGAS.
0 Komentar