Daftar IsiTampilkan

Receh.in — PT Barito Pacific Tbk (BRPT) membukukan pendapatan US$8,69 miliar atau sekitar Rp155,35 triliun sepanjang sembilan bulan 2026. Angka tersebut melonjak 56,3% secara tahunan, tetapi laba bersih konsolidasian justru turun 66,1% menjadi US$616 juta.

Kontras itu menjadi angka paling penting dalam laporan BRPT kali ini. Lonjakan pendapatan memang menunjukkan skala bisnis grup Prajogo Pangestu semakin besar setelah konsolidasi aset Chandra Asri di Singapura. Namun pembanding laba 2025 sangat tinggi karena terdapat keuntungan nonberulang dari bargain purchase akuisisi Aster.

Bahkan jika dilihat dari laba yang benar-benar dapat diatribusikan kepada pemegang saham BRPT, nilainya hanya US$229 juta hingga September 2026, turun 60,7% dibandingkan US$582 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Jadi, cerita BRPT 2026 bukan “pendapatan naik lalu laba ikut naik”. Justru perusahaan sedang memasuki fase ketika pertumbuhan perlu dibuktikan melalui kinerja operasional setelah efek keuntungan akuntansi besar dari akuisisi Aster hilang dari basis perbandingan.

Kinerja BRPT 9M26 9M25 Perubahan
Pendapatan US$8,694 miliar US$5,564 miliar +56,3%
EBITDA US$1,405 miliar US$2,168 miliar* -35,2%
Laba bersih setelah pajak US$616 juta US$1,819 miliar -66,1%
Laba atribusi pemilik BRPT US$229 juta US$582 juta -60,7%
Net debt to equity 0,77x — Stabil dari akhir 2025

*Rilis 9M26 BRPT menggunakan angka pembanding EBITDA US$2,168 miliar. Rilis 9M25 sebelumnya mencantumkan US$2,219 miliar. Artikel menggunakan angka perubahan yang dilaporkan perusahaan dalam publikasi terbaru.

Petrokimia Menyumbang 94% Pendapatan BRPT

Pertumbuhan pendapatan BRPT terutama datang dari bisnis petrokimia dan energi-kimia yang dikendalikan melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).

Segmen tersebut menghasilkan pendapatan US$8,189 miliar, naik sekitar 60,5% dibandingkan US$5,102 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Artinya, sekitar 94,2% pendapatan BRPT sekarang berasal dari segmen petrokimia.

Segmen BRPT 9M26 Pendapatan Kontribusi
Petrokimia US$8,189 miliar 94,2%
Energi US$501 juta 5,8%
Lainnya US$4 juta <0,1%
Total US$8,694 miliar 100%

BRPT menjelaskan kenaikan ini terutama ditopang kinerja kilang yang kuat serta kontribusi yang lebih besar dari bisnis infrastruktur Chandra Asri.

Akuisisi Aster di Singapura yang mulai terkonsolidasi sejak 2025 telah mengubah skala Chandra Asri. Bisnis grup tidak lagi hanya bergantung pada kompleks petrokimia di Indonesia, tetapi kini mencakup kilang, bahan bakar ritel, kimia, dan infrastruktur regional.

Itulah sebabnya pendapatan BRPT melonjak jauh lebih cepat dibandingkan periode sebelum konsolidasi Aster.

Namun konsentrasi tersebut juga menunjukkan bahwa meskipun BRPT disebut sebagai grup yang terdiversifikasi, secara topline ketergantungannya terhadap Chandra Asri masih sangat besar.

Kenapa Pendapatan Naik tetapi Laba Turun?

Jawabannya ada pada basis perbandingan 2025.

Pada tahun lalu, BRPT membukukan keuntungan besar dari bargain purchase accounting terkait akuisisi Aster. Dalam laporan tahunan 2025, keuntungan pembelian dengan diskon tersebut mencapai sekitar US$1,868 miliar.

Bargain purchase terjadi ketika nilai wajar aset bersih perusahaan yang diakuisisi lebih tinggi daripada harga yang dibayarkan. Selisihnya dapat diakui sebagai keuntungan akuntansi pada laporan laba rugi.

Keuntungan semacam itu tidak berulang setiap tahun.

Akibatnya, laba bersih 9M25 mencapai US$1,819 miliar dan EBITDA pada periode tersebut juga terdongkrak sangat tinggi. Ketika efek tersebut tidak muncul lagi pada 2026, laba dan EBITDA terlihat turun tajam meskipun pendapatan operasional justru naik.

9M25 vs 9M26 Apa yang Terjadi?
Pendapatan Naik 56,3%
EBITDA Turun 35,2%
Laba setelah pajak Turun 66,1%
Penyebab basis tinggi 2025 Bargain purchase gain akuisisi Aster

Karena itu, membandingkan laba bersih BRPT secara mentah antara 2025 dan 2026 dapat menyesatkan.

Angka yang lebih relevan untuk menilai kualitas operasional 2026 justru berasal dari margin kilang, integrasi bisnis bahan bakar ritel, efisiensi energi terbarukan, dan kemampuan Chandra Asri menghasilkan arus kas setelah ekspansi besar.

Utang Naik US$719 Juta dalam Sembilan Bulan

Pertumbuhan skala BRPT juga diikuti neraca yang semakin besar.

Total aset naik 12,8% dari US$17,35 miliar pada akhir 2025 menjadi US$19,58 miliar per September 2026.

Total utang bertambah dari US$7,69 miliar menjadi US$8,41 miliar, atau naik sekitar US$719 juta.

Net debt meningkat sekitar US$431 juta menjadi US$5,11 miliar.

Neraca BRPT 9M26 Akhir 2025
Total aset US$19,578 miliar US$17,353 miliar
Total liabilitas US$12,948 miliar US$11,308 miliar
Total ekuitas US$6,630 miliar US$6,046 miliar
Total utang US$8,406 miliar US$7,687 miliar
Net debt US$5,111 miliar US$4,680 miliar
Net debt/equity 0,77x 0,77x

Meski utang nominal bertambah, ekuitas juga tumbuh sehingga rasio net debt terhadap equity tetap 0,77 kali.

Ini penting karena BRPT masih berada dalam fase investasi besar. Chandra Asri sedang membangun proyek CA-EDC, sementara BREN terus menambah kapasitas panas bumi.

Jadi, investor sebaiknya tidak hanya melihat apakah utang naik atau turun, tetapi apakah investasi baru tersebut nantinya menghasilkan EBITDA tambahan yang cukup untuk menjaga leverage tetap terkendali.

CA-EDC US$800 Juta Masuk Tahap Akhir Konstruksi

Salah satu proyek terbesar yang akan mengubah profil bisnis grup adalah fasilitas Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) milik Chandra Asri.

Per September 2026, konstruksinya telah mencapai sekitar 80%. Nilai investasinya lebih dari US$800 juta dan operasi ditargetkan dimulai pada 2027.

Fasilitas tersebut dirancang mempunyai kapasitas sampai 827.000 ton soda kaustik cair dan 500.000 ton EDC per tahun.

Menurut Chandra Asri, produksi soda kaustik berpotensi menggantikan impor hingga sekitar US$293 juta per tahun. Sementara EDC diarahkan ke ekspor dengan potensi devisa sekitar US$300 juta per tahun.

Proyek ini menarik karena memperbesar bisnis kimia BRPT bukan hanya melalui akuisisi, tetapi lewat pembangunan kapasitas baru secara organik.

Jika commissioning berjalan sesuai jadwal pada 2027, pasar kemudian bisa mulai mengukur apakah investasi lebih dari US$800 juta tersebut mampu menghasilkan return yang sepadan.

BREN Tinggal Sekitar 64 MW Lagi Menuju 1 GW

Sisi lain portofolio BRPT datang dari energi terbarukan melalui PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).

Pada 26 Oktober 2026, BREN menyelesaikan retrofit Unit 3 PLTP Darajat yang meningkatkan kapasitas unit tersebut dari 122 MW menjadi 130,55 MW.

Tambahan 8,55 MW membuat total kapasitas panas bumi BREN naik menjadi 935,55 MW.

Artinya, perusahaan masih memerlukan tambahan sekitar 64,45 MW untuk menyentuh kapasitas panas bumi 1 GW.

Kapasitas Panas Bumi BREN MW
Kapasitas setelah retrofit Darajat 3 935,55
Target akhir 2026 >1.000
Jarak menuju 1 GW 64,45

Bagi BRPT, karakter bisnis BREN berbeda dengan petrokimia. Pendapatan pembangkit panas bumi cenderung lebih stabil dan berbasis kontrak jangka panjang, sehingga berfungsi sebagai penyeimbang terhadap bisnis kimia dan kilang yang lebih sensitif terhadap siklus komoditas dan margin industri.

Namun dari sisi skala pendapatan, perannya masih jauh lebih kecil. Segmen energi hanya menyumbang sekitar 5,8% pendapatan konsolidasi BRPT pada sembilan bulan 2026.

Catatan Recehin
Headline “pendapatan BRPT naik 56%” hanya menceritakan setengah kisah. Setengah lainnya justru lebih menarik: laba setelah pajak turun 66% dan laba yang benar-benar menjadi bagian pemegang saham BRPT turun 61% menjadi US$229 juta. Ini bukan berarti bisnis memburuk dengan skala yang sama. Tahun lalu ada keuntungan besar dari bargain purchase Aster yang membuat basis laba menjadi tidak normal. Karena itu 2026 sebenarnya menjadi tahun pertama yang lebih berguna untuk melihat bagaimana aset baru tersebut bekerja setelah efek akuntansi akuisisinya mereda. Ada tiga angka yang layak dipantau berikutnya: margin operasional Chandra Asri setelah integrasi Aster, utang bersih BRPT yang kini mencapai US$5,11 miliar, dan tambahan EBITDA yang nantinya datang dari CA-EDC serta ekspansi panas bumi BREN. BRPT sekarang memang jauh lebih besar. Pertanyaan berikutnya bukan lagi seberapa besar pendapatannya, tetapi seberapa besar keuntungan berulang yang dapat dihasilkan dari aset senilai hampir US$20 miliar tersebut.
Sumber: PT Barito Pacific Tbk, laporan kinerja konsolidasian tidak diaudit 9M26 dan 9M25; Laporan Tahunan BRPT 2025; PT Chandra Asri Pacific Tbk; PT Barito Renewables Energy Tbk; serta perhitungan dan olahan Receh.in.

Catatan laba: US$616 juta merupakan laba bersih setelah pajak konsolidasian BRPT, bukan seluruhnya laba yang menjadi hak pemegang saham induk. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik PT Barito Pacific Tbk tercatat US$229 juta pada 9M26.

Catatan perbandingan 2025: Laba dan EBITDA 9M25 dipengaruhi keuntungan nonberulang dari bargain purchase accounting terkait akuisisi Aster. Karena itu, penurunan YoY pada 2026 tidak dapat dibaca sebagai penurunan murni kinerja operasional dengan basis yang sepenuhnya sebanding.

Catatan pendapatan: Kontribusi 94,2% segmen petrokimia dihitung Receh.in dengan membagi pendapatan segmen US$8,189 miliar terhadap pendapatan konsolidasi US$8,694 miliar.

Catatan kapasitas BREN: Kapasitas panas bumi 935,55 MW merupakan kapasitas setelah retrofit Darajat Unit 3. Barito Renewables juga memiliki aset tenaga angin, sehingga kapasitas energi terbarukan konsolidasian perusahaan lebih besar dari angka panas bumi tersebut.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham BRPT, TPIA maupun BREN. Kinerja perusahaan dipengaruhi harga komoditas, margin industri, suku bunga, leverage, realisasi proyek dan faktor pasar lainnya.