Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Sucorinvest Maxi Fund Kelas A merupakan reksa dana saham yang dikelola secara aktif oleh PT Sucorinvest Asset Management dengan tujuan memperoleh pertumbuhan modal dan keuntungan optimal dalam jangka panjang dari pasar saham Indonesia.

Berbeda dengan reksa dana indeks yang berusaha mengikuti komposisi suatu indeks, Sucorinvest Maxi Fund memberikan ruang jauh lebih besar kepada manajer investasi untuk menentukan saham mana yang dibeli, dipertahankan, dikurangi, atau dikeluarkan dari portofolio.

Karakter tersebut terlihat dari isi portofolio terbaru. Per 30 September 2026, sepuluh efek terbesar fund ini mencakup empat bank BUMN—BMRI, BBNI, BBRI dan BBTN—serta BUMI, INKP, ICBP, INDF, JSMR dan TINS.

Berdasarkan snapshot halaman Bibit yang diakses 29 Oktober 2026, Sucorinvest Maxi Fund Kelas A mempunyai dana kelolaan sekitar Rp1,21 triliun dengan NAB per unit sekitar Rp2.404,55.

Sucorinvest Maxi Fund Kelas A Data
Jenis Reksa Dana Saham
Manajer Investasi PT Sucorinvest Asset Management
AUM* ±Rp1,21 triliun
NAB/unit* ±Rp2.404,55
Alokasi saham 94,25%
Pasar uang 5,75%
Expense ratio* 4,95%
Minimum pembelian di Bibit Rp100.000
Minimum penjualan Rp100.000
Bank Kustodian PT Bank HSBC Indonesia
Profil risiko Tinggi

*Snapshot halaman produk Bibit yang diakses pada 29 Oktober 2026. NAB, AUM dan return dapat berubah setiap Hari Bursa.

Bagaimana Strategi Investasi Sucorinvest Maxi Fund?

Prospektus menetapkan sedikitnya 80% dan maksimal 100% Nilai Aktiva Bersih ditempatkan pada efek bersifat ekuitas yang ditawarkan kepada publik atau diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Sisanya, maksimal 20%, dapat ditempatkan pada instrumen pasar uang dalam negeri dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun dan deposito.

Komposisi aktual September menunjukkan sekitar 94,25% berada pada saham dan 5,75% pada instrumen pasar uang.

Dengan alokasi saham setinggi itu, pergerakan NAB sangat dipengaruhi naik-turunnya harga saham di Bursa Efek Indonesia.

Namun tidak seperti reksa dana indeks, Maxi Fund tidak mempunyai kewajiban mereplikasi komposisi IHSG, LQ45 atau indeks tertentu.

Fund manager dapat membangun posisi berdasarkan pandangan investasi dan analisisnya sendiri sepanjang tetap memenuhi pembatasan prospektus.

Ini membuat kemampuan memilih saham dan melakukan rotasi portofolio menjadi salah satu faktor utama penentu kinerja.

Reksa Dana Indeks Sucorinvest Maxi Fund
Berusaha mengikuti indeks tertentu Dikelola aktif
Komposisi mengikuti konstituen indeks Fund manager memilih saham
Target utama meminimalkan tracking error Target utama pertumbuhan modal jangka panjang
Rotasi terutama mengikuti rebalancing indeks Rotasi berdasarkan keputusan investasi

Artinya, investor Maxi Fund pada dasarnya mempercayakan keputusan alokasi saham kepada tim investasi Sucor AM.

Isi Portofolio: Bank BUMN hingga Saham Komoditas

Per 30 September 2026, Bibit menampilkan sepuluh saham berikut sebagai efek terbesar dalam portofolio:

Kode Emiten
BMRIBank Mandiri (Persero) Tbk.
BBNIBank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
BBRIBank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
BBTNBank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
BUMIBumi Resources Tbk.
INKPIndah Kiat Pulp & Paper Tbk.
ICBPIndofood CBP Sukses Makmur Tbk.
INDFIndofood Sukses Makmur Tbk.
JSMRJasa Marga (Persero) Tbk.
TINSTimah Tbk.

Daftar tersebut menarik karena memperlihatkan fund manager tidak hanya bertumpu pada saham-saham defensif.

Empat bank BUMN berada dalam sepuluh besar, tetapi ada pula eksposur terhadap batu bara melalui BUMI, pulp dan kertas melalui INKP, serta komoditas timah melalui TINS.

ICBP dan INDF memberikan eksposur terhadap consumer staples, sedangkan JSMR berasal dari sektor infrastruktur.

Namun daftar efek terbesar yang dipublikasikan tidak menampilkan bobot masing-masing saham. Karena itu, keberadaan empat bank BUMN dalam daftar tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa mayoritas portofolio ditempatkan di sektor perbankan.

Untuk mengukur konsentrasi secara tepat, investor membutuhkan persentase bobot tiap efek atau komposisi sektoral yang lebih lengkap.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah perubahan portofolio dari waktu ke waktu. Karena strategi aktif, daftar saham besar hari ini dapat berbeda cukup signifikan pada periode berikutnya.

Kinerja: 2026 Turun, Jangka Panjang Masih Positif

Kinerja Maxi Fund pada 2026 menunjukkan karakter klasik reksa dana saham aktif: return dapat berubah sangat cepat mengikuti kondisi pasar dan keberhasilan positioning portofolionya.

Snapshot terbaru Bibit mencatat return YTD masih minus 11,65%.

Namun jika horizon diperpanjang, kinerjanya masih positif untuk periode satu tahun hingga sepuluh tahun.

Periode Return*
1 bulan -7,00%
3 bulan -5,53%
YTD 2026 -11,65%
1 tahun +7,53%
3 tahun +37,20%
5 tahun +44,48%
10 tahun +142,44%

*Snapshot halaman Bibit yang diakses 29 Oktober 2026. Return beberapa tahun ditampilkan sebagai return kumulatif sebagaimana disajikan platform, bukan return per tahun.

Perbedaan antara return YTD minus 11,65% dan return satu tahun plus 7,53% menunjukkan efek titik awal pengukuran.

Artinya, NAB pada akhir Oktober masih lebih tinggi dibandingkan sekitar satu tahun sebelumnya, tetapi sudah turun cukup besar dibandingkan posisi akhir 2025.

Hal tersebut tidak terlalu mengejutkan jika melihat riwayat kinerja sebelumnya.

Pada awal Januari 2026, data Bareksa mencatat Maxi Fund sempat menjadi salah satu reksa dana saham dengan kinerja satu tahun tertinggi, sekitar 68%. Setelah reli yang sangat kuat, koreksi berikutnya juga dapat terlihat besar.

Data historis yang lebih rinci juga menunjukkan Maxi Fund pernah mengalami drawdown sekitar 28% dalam periode satu tahun terakhir.

Jadi return yang tinggi dan volatilitas yang tinggi datang sebagai satu paket.

Investor tidak seharusnya menggunakan angka return 10 tahun sebesar 142,44% sebagai asumsi bahwa produk akan memberikan return serupa pada dekade berikutnya.

Expense Ratio 4,95%, Apa Artinya?

Salah satu angka yang perlu diperhatikan dari Maxi Fund adalah expense ratio 4,95% yang ditampilkan Bibit.

Expense ratio bukan biaya tambahan yang kemudian ditagihkan secara terpisah kepada investor.

Biaya operasional reksa dana telah diperhitungkan dalam perhitungan NAB. Karena itu, return yang terlihat oleh investor pada dasarnya sudah setelah biaya yang dibebankan di tingkat reksa dana.

Dokumen keuangan juga mencatat rasio biaya operasional historis sekitar 5,17% untuk 2025. Angka tersebut tidak harus sama persis dengan expense ratio Bibit karena metodologi, periode dan komponen perhitungannya dapat berbeda.

Investor juga perlu membedakan expense ratio dari biaya transaksi pembelian dan penjualan unit.

Jenis Biaya Bibit Maksimum Prospektus
Pembelian Tidak ditampilkan/nihil pada halaman produk Maks. 2%
Penjualan kembali Tidak ditampilkan/nihil pada halaman produk Maks. 1%
Switching 0,5% Maks. 0,5%
Expense ratio 4,95% Sudah tercermin dalam NAB

Tarif pada agen penjual dapat lebih rendah daripada batas maksimum prospektus.

Karena itu, angka biaya pembelian di Bibit tidak otomatis sama apabila investor membeli produk yang sama melalui bank atau platform lain.

Expense ratio menjadi penting terutama untuk investasi jangka panjang karena biaya yang dibebankan setiap tahun ikut memengaruhi pertumbuhan nilai investasi.

Siapa Sucorinvest Asset Management dan Cocok untuk Siapa?

PT Sucorinvest Asset Management didirikan pada 1997 dan memperoleh izin sebagai manajer investasi pada 1999.

Per Agustus 2026, perusahaan mengelola aset sekitar Rp48,8 triliun, melayani lebih dari 900.000 investor dan bekerja sama dengan puluhan Agen Penjual Efek Reksa Dana.

Sucorinvest Maxi Fund sendiri merupakan salah satu produk saham yang telah beroperasi lebih dari satu dekade.

Bibit mencatat tanggal peluncuran produk pada 1 Oktober 2014, sedangkan prospektus mencatat produk memperoleh pernyataan efektif pada 11 Juli 2014 dan mulai ditawarkan pada 18 Juli 2014.

Perbedaan tanggal semacam ini dapat muncul karena platform menggunakan tanggal pencatatan atau seri produk yang berbeda. Untuk tujuan legal, investor sebaiknya merujuk pada prospektus terbaru.

Dengan karakter hampir seluruh portofolio ditempatkan di saham dan fluktuasi yang dapat mencapai puluhan persen, Maxi Fund paling relevan untuk investor dengan profil risiko tinggi dan horizon investasi panjang.

Produk ini lebih cocok untuk investor yang memahami bahwa NAB dapat turun tajam dalam satu periode, tetapi tetap ingin memberikan mandat kepada fund manager untuk mencari peluang saham tanpa harus memilih dan melakukan rebalancing sendiri.

Produk ini kurang tepat untuk dana darurat, kebutuhan dalam waktu dekat, atau investor yang membutuhkan kestabilan nilai investasi.

Investor yang sudah memiliki saham seperti BMRI, BBRI, BBNI, BBTN, BUMI atau INDF secara langsung juga perlu memperhatikan kemungkinan duplikasi eksposur di dalam portofolio keseluruhannya.

Catatan Recehin
Sucorinvest Maxi Fund adalah contoh bahwa reksa dana saham aktif sebaiknya tidak dinilai hanya dari siapa yang memberikan return tertinggi satu tahun terakhir. Pada awal 2026 fund ini datang dari periode kinerja yang sangat kuat, tetapi YTD Oktober return-nya sudah minus 11,65%. Meski begitu, return satu tahun masih positif 7,53% dan return kumulatif 10 tahun mencapai 142,44%. Hal yang lebih penting adalah memahami mesinnya: hampir 95% aset berada di saham, pilihan portofolio sepenuhnya aktif, dan empat bank BUMN serta saham seperti BUMI, INKP dan TINS muncul dalam daftar efek terbesar terbaru. Investor juga perlu mencermati expense ratio 4,95%. Jadi daya tarik Maxi Fund bukan karena menjanjikan pasar selalu naik, melainkan karena investor memberikan mandat kepada Sucor AM untuk melakukan pemilihan dan rotasi saham. Konsekuensinya, keberhasilan maupun kesalahan keputusan fund manager akan lebih terasa pada NAB.
Sumber: PT Sucorinvest Asset Management; Bibit; prospektus Reksa Dana Sucorinvest Maxi Fund; Bareksa; laporan keuangan produk; serta penelusuran dan olahan Receh.in.

Catatan data terbaru: NAB Rp2.404,55, AUM Rp1,21 triliun, expense ratio 4,95%, alokasi aset dan return mengacu pada snapshot halaman Bibit yang diakses pada 29 Oktober 2026. Data dapat berubah setiap Hari Bursa.

Catatan portofolio: Daftar sepuluh efek terbesar merupakan data per 30 September 2026. Bobot masing-masing efek tidak tersedia pada halaman yang digunakan sehingga artikel tidak menyimpulkan besaran konsentrasi tiap saham.

Catatan biaya: Biaya pembelian dan penjualan aktual dapat berbeda menurut agen penjual. Prospektus menetapkan batas maksimum subscription fee 2%, redemption fee 1% dan switching fee 0,5%.

Catatan expense ratio: Expense ratio 4,95% yang ditampilkan Bibit berbeda konsep dan periode dengan rasio biaya operasional historis 5,17% dalam laporan 2025. Biaya di tingkat reksa dana telah tercermin dalam NAB.

Catatan return: Return historis bukan proyeksi return masa depan. Angka 3, 5 dan 10 tahun pada tabel merupakan return kumulatif yang ditampilkan Bibit dan bukan CAGR.

Disclaimer: Reksa dana mengandung risiko dan nilai investasi dapat naik maupun turun. Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi membeli, menjual atau mempertahankan unit Sucorinvest Maxi Fund Kelas A.