Receh.in — Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia meningkat menjadi 76,59 pada 2026, menandakan perbaikan kualitas hidup masyarakat secara nasional. Namun, capaian tersebut menyembunyikan kesenjangan besar antardaerah. IPM DKI Jakarta mencapai 85,88, sedangkan Papua Pegunungan hanya 55,25, terpaut 30,63 poin.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Kamis (5/11/2026) menunjukkan bahwa seluruh provinsi mengalami peningkatan IPM dibandingkan 2025. Namun, kemajuan tersebut belum cukup untuk mempersempit secara cepat perbedaan tingkat pembangunan manusia di Indonesia.
Jakarta telah masuk kategori pembangunan manusia sangat tinggi, bersama DI Yogyakarta, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, dan Bali. Sebaliknya, Papua Pegunungan masih menjadi satu-satunya provinsi dengan kategori IPM rendah.
Perbedaan tersebut mencerminkan tantangan pembangunan Indonesia yang tidak cukup diukur hanya dari pertumbuhan ekonomi. Kemampuan masyarakat mengakses pendidikan, kesehatan, dan standar hidup layak juga menentukan kualitas pembangunan.
IPM Indonesia Naik, Jakarta dan Papua Pegunungan Terpaut 30,63 Poin
BPS mencatat IPM Indonesia meningkat 0,69 poin, dari 75,90 pada 2025 menjadi 76,59 pada 2026.
Peningkatan tersebut melanjutkan tren kenaikan dalam lima tahun terakhir. Pada 2022, IPM nasional masih berada pada level 73,77.
Dalam metodologi BPS, IPM dibentuk oleh tiga dimensi utama, yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, serta standar hidup layak.
Ketiga dimensi tersebut direpresentasikan melalui umur harapan hidup, harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah, serta pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan.
| Tahun | IPM Indonesia |
|---|---|
| 2022 | 73,77 |
| 2023 | 74,39 |
| 2024 | 75,02 |
| 2025 | 75,90 |
| 2026 | 76,59 |
Perkembangan IPM Indonesia berdasarkan rilis BPS, 5 November 2026.
Meski angka nasional terus meningkat, distribusi pembangunan manusia masih sangat tidak merata.
Pada 2026, terdapat lima provinsi dengan IPM sangat tinggi atau minimal 80, sebanyak 30 provinsi berstatus tinggi, dua provinsi berstatus sedang, dan satu provinsi berstatus rendah.
Provinsi dengan IPM tertinggi adalah DKI Jakarta sebesar 85,88, diikuti DI Yogyakarta 83,43 dan Kepulauan Riau 81,12.
Sementara itu, Papua Pegunungan berada pada posisi terendah dengan IPM 55,25, disusul Papua Tengah 60,95 dan Papua Barat 69,30.
Selisih 30,63 poin antara Jakarta dan Papua Pegunungan memperlihatkan jurang besar dalam capaian pembangunan manusia. Namun, angka indeks tersebut tidak boleh ditafsirkan bahwa kualitas hidup Jakarta secara matematis 55% lebih baik daripada Papua Pegunungan, karena IPM merupakan indeks komposit, bukan ukuran kesejahteraan dengan skala rasio langsung.
Daftar IPM 38 Provinsi di Indonesia pada 2026
Data BPS memperlihatkan bahwa provinsi dengan IPM tertinggi tidak seluruhnya berada di Pulau Jawa. Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, dan Bali juga berhasil menembus kategori pembangunan manusia sangat tinggi.
Berikut daftar lengkap IPM 38 provinsi berdasarkan capaian 2026, diurutkan dari yang tertinggi hingga terendah.
| Peringkat | Provinsi | IPM 2026 | Kenaikan dari 2025 |
|---|---|---|---|
| 1 | DKI Jakarta | 85,88 | 0,83 |
| 2 | DI Yogyakarta | 83,43 | 0,95 |
| 3 | Kepulauan Riau | 81,12 | 0,59 |
| 4 | Kalimantan Timur | 80,09 | 0,70 |
| 5 | Bali | 80,03 | 0,66 |
| 6 | Sumatera Barat | 77,97 | 0,70 |
| 7 | Banten | 77,95 | 0,70 |
| 8 | Sumatera Utara | 77,05 | 0,58 |
| 9 | Sulawesi Utara | 76,99 | 0,67 |
| 10 | Riau | 76,91 | 0,60 |
| 11 | Aceh | 76,87 | 0,64 |
| 12 | Jawa Timur | 76,84 | 0,71 |
| 13 | Kalimantan Selatan | 76,79 | 0,69 |
| 14 | Sulawesi Selatan | 76,66 | 0,74 |
| 15 | Jawa Barat | 76,62 | 0,72 |
| 16 | Bengkulu | 76,41 | 0,73 |
| 17 | Kepulauan Bangka Belitung | 76,00 | 0,74 |
| 18 | Jambi | 75,87 | 0,74 |
| 19 | Kalimantan Tengah | 75,45 | 0,59 |
| 20 | Jawa Tengah | 75,31 | 0,54 |
| 21 | Sumatera Selatan | 75,28 | 0,52 |
| 22 | Papua | 75,27 | 0,58 |
| 23 | Sulawesi Tenggara | 75,19 | 0,94 |
| 24 | Maluku | 74,91 | 0,82 |
| 25 | Kalimantan Utara | 74,81 | 0,77 |
| 26 | Lampung | 74,74 | 0,76 |
| 27 | Nusa Tenggara Barat | 74,73 | 0,76 |
| 28 | Sulawesi Tengah | 73,69 | 0,87 |
| 29 | Gorontalo | 73,47 | 0,85 |
| 30 | Maluku Utara | 73,21 | 0,69 |
| 31 | Kalimantan Barat | 72,95 | 0,86 |
| 32 | Sulawesi Barat | 71,96 | 0,80 |
| 33 | Papua Barat Daya | 71,28 | 0,73 |
| 34 | Nusa Tenggara Timur | 70,54 | 0,65 |
| 35 | Papua Selatan | 70,11 | 0,57 |
| 36 | Papua Barat | 69,30 | 0,82 |
| 37 | Papua Tengah | 60,95 | 0,31 |
| 38 | Papua Pegunungan | 55,25 | 0,34 |
BPS, Indeks Pembangunan Manusia 2026. Nilai perubahan menunjukkan selisih poin IPM dibandingkan 2025. IPM nasional sebesar 76,59.
Tabel tersebut menunjukkan bahwa ketimpangan pembangunan manusia tidak semata-mata mengikuti pembagian wilayah barat dan timur Indonesia.
Misalnya, Maluku Utara mencatat IPM 73,21 meskipun wilayah ini memiliki aktivitas pertambangan dan industri pengolahan mineral yang berkembang. Sebaliknya, DI Yogyakarta berada di peringkat kedua nasional dengan IPM 83,43.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa besarnya aktivitas ekonomi suatu wilayah tidak selalu berbanding lurus dengan capaian pembangunan manusianya.
IPM mencerminkan berbagai hasil pembangunan yang terakumulasi dari waktu ke waktu, bukan hanya kinerja perekonomian dalam satu tahun.
Pendidikan Menjadi Kunci, tetapi Kemajuannya Berjalan Lambat
Salah satu tantangan utama pembangunan manusia Indonesia terlihat dari indikator pendidikan.
BPS mencatat rata-rata lama sekolah penduduk berusia 25 tahun ke atas pada 2026 mencapai 9,16 tahun, meningkat dari 9,07 tahun pada 2025.
Angka tersebut menunjukkan bahwa rata-rata pendidikan formal penduduk dewasa Indonesia berada pada kisaran sembilan tahun.
Sementara itu, harapan lama sekolah mencapai 13,34 tahun, meningkat tipis dibandingkan 13,30 tahun pada tahun sebelumnya.
Selisih antara harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah mencerminkan perbedaan antara prospek pendidikan generasi yang memasuki usia sekolah dan pendidikan yang telah ditempuh penduduk dewasa.
Selain pendidikan, umur harapan hidup saat lahir meningkat menjadi 74,68 tahun dari 74,47 tahun pada 2025.
Pengeluaran riil per kapita per tahun yang disesuaikan juga meningkat menjadi Rp13,37 juta, naik Rp566.000 dibandingkan tahun sebelumnya.
| Indikator Pembentuk IPM | 2025 | 2026 |
|---|---|---|
| Umur harapan hidup | 74,47 tahun | 74,68 tahun |
| Harapan lama sekolah | 13,30 tahun | 13,34 tahun |
| Rata-rata lama sekolah | 9,07 tahun | 9,16 tahun |
| Pengeluaran riil per kapita disesuaikan | Rp12,80 juta | Rp13,37 juta |
| IPM nasional | 75,90 | 76,59 |
Data BPS. Pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan merupakan indikator standar hidup dalam perhitungan IPM, bukan rata-rata gaji atau pendapatan masyarakat.
Ketiga dimensi pembentuk IPM tersebut mengalami perbaikan. Namun peningkatan rata-rata lama sekolah sebesar 0,09 tahun dalam satu tahun menunjukkan bahwa memperbaiki capaian pendidikan penduduk dewasa membutuhkan proses panjang.
Yogyakarta Tumbuh Paling Cepat, Papua Tengah Paling Lambat
Dari sisi perubahan tahunan, DI Yogyakarta menjadi provinsi dengan kenaikan IPM tertinggi sebesar 0,95 poin.
Peningkatan tersebut terutama didorong dimensi pendidikan. Rata-rata lama sekolah DIY naik 0,26 tahun, sedangkan harapan lama sekolah meningkat 0,20 tahun.
BPS mencatat sejumlah program pendidikan daerah yang mendukung perluasan akses sekolah dan pendidikan tinggi, antara lain Sleman Pintar, Satu Keluarga Miskin Satu Sarjana, Jaminan Pendidikan Daerah, dan Gunungkidul Cerdas.
Provinsi dengan peningkatan IPM tertinggi berikutnya adalah Sulawesi Tenggara sebesar 0,94 poin dan Sulawesi Tengah sebesar 0,87 poin.
Di sisi lain, Papua Tengah mencatat kenaikan IPM paling rendah, hanya 0,31 poin. Papua Pegunungan juga meningkat relatif terbatas sebesar 0,34 poin.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa daerah dengan capaian IPM rendah tidak otomatis mengalami pertumbuhan indeks yang lebih cepat.
Untuk mengurangi kesenjangan, wilayah dengan IPM tertinggal justru membutuhkan peningkatan capaian pembangunan manusia yang konsisten dan cukup besar dibandingkan wilayah yang sudah maju.
Perkembangan positif lainnya terlihat di Bali dan Kalimantan Timur yang naik dari kategori pembangunan manusia tinggi menjadi sangat tinggi. Nusa Tenggara Timur dan Papua Selatan juga berhasil berpindah dari kategori sedang menjadi tinggi.
Perubahan kategori tersebut menunjukkan adanya kemajuan di beberapa wilayah yang sebelumnya tertinggal. Namun, kesenjangan absolut dengan provinsi teratas masih besar.
Data IPM 2026 memberikan gambaran bahwa Indonesia terus mengalami peningkatan kualitas pembangunan manusia, tetapi kecepatan perbaikannya berbeda antardaerah.
Tantangan pembangunan berikutnya bukan hanya menaikkan IPM nasional, melainkan mempercepat peningkatan pendidikan, kesehatan, dan standar hidup di wilayah yang masih tertinggal agar jarak dengan daerah ber-IPM tinggi tidak terus bertahan.



0 Komentar