Receh.in — Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,47% pada kuartal III/2026, tetapi kecepatan pertumbuhan antardaerah berbeda cukup tajam. Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 6,08%, sementara Kalimantan hanya tumbuh 3,96%. Di tengah perbedaan tersebut, Pulau Jawa tetap mendominasi dengan menguasai 56,05% perekonomian nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Kamis (5/11/2026) memperlihatkan bahwa seluruh kelompok wilayah utama Indonesia tumbuh positif. Namun, hanya Jawa, Bali–Nusa Tenggara, dan Sulawesi yang mencatat pertumbuhan lebih tinggi daripada angka nasional.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak berlangsung dengan kecepatan yang sama di seluruh Indonesia. Struktur industri, investasi, kegiatan pertambangan, konsumsi, dan perdagangan masing-masing wilayah turut menentukan arah pertumbuhannya.
Ada persoalan lain yang lebih mendasar. Wilayah dengan pertumbuhan tercepat belum tentu memberikan pengaruh paling besar terhadap perekonomian nasional, karena kontribusinya juga bergantung pada ukuran ekonomi wilayah tersebut.
Daftar Pertumbuhan Ekonomi Enam Wilayah Indonesia
BPS mencatat Bali dan Nusa Tenggara sebagai kawasan dengan pertumbuhan ekonomi paling tinggi pada kuartal III/2026, yakni 6,08% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Posisi berikutnya ditempati Jawa sebesar 5,84% dan Sulawesi sebesar 5,68%.
Ketiga kawasan tersebut tumbuh lebih cepat dibandingkan ekonomi nasional sebesar 5,47%.
Sementara itu, pertumbuhan Sumatra mencapai 4,95%, Maluku dan Papua 4,42%, serta Kalimantan 3,96%.
| Wilayah | Pertumbuhan Q3/2025 | Pertumbuhan Q3/2026 | Pangsa PDB Q3/2026 |
|---|---|---|---|
| Bali dan Nusa Tenggara | 4,72% | 6,08% | 2,82% |
| Jawa | 5,17% | 5,84% | 56,05% |
| Sulawesi | 5,84% | 5,68% | 7,49% |
| Sumatra | 4,90% | 4,95% | 22,55% |
| Maluku dan Papua | 3,11% | 4,42% | 2,84% |
| Kalimantan | 4,68% | 3,96% | 8,25% |
| Indonesia | 5,04% | 5,47% | 100% |
BPS, pertumbuhan ekonomi menurut wilayah kuartal III/2026. Pertumbuhan dihitung secara tahunan; pangsa PDB berdasarkan harga berlaku.
Bali dan Nusa Tenggara mengalami akselerasi pertumbuhan sebesar 1,36 poin persentase dibandingkan kuartal III/2025.
Maluku dan Papua juga mencatat percepatan cukup besar, dari 3,11% menjadi 4,42%.
Sebaliknya, Kalimantan melambat 0,72 poin persentase, sedangkan pertumbuhan Sulawesi sedikit menurun dari 5,84% menjadi 5,68%.
Namun, angka pertumbuhan yang tinggi tidak otomatis berarti wilayah tersebut mengalami peningkatan nilai ekonomi paling besar secara nominal.
Bali dan Nusa Tenggara hanya membentuk 2,82% PDB Indonesia. Sebaliknya, Jawa menguasai lebih dari separuh perekonomian nasional.
Jawa Masih Menjadi Pusat Ekonomi Indonesia
Kendati Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan paling tinggi, Jawa tetap menjadi wilayah dengan pengaruh ekonomi terbesar.
Pangsa Jawa terhadap PDB nasional mencapai 56,05% pada kuartal III/2026, jauh melampaui wilayah lainnya.
Dengan PDB Indonesia atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.741 triliun, nilai ekonomi Jawa secara nominal setara sekitar Rp3.778 triliun pada kuartal tersebut.
Perhitungan ini merupakan perkiraan berdasarkan pangsa PDB Jawa yang diumumkan BPS, bukan angka tersendiri yang dirilis untuk nilai PDB Jawa.
Sumatra menempati posisi kedua dengan pangsa 22,55%, diikuti Kalimantan 8,25%, Sulawesi 7,49%, Maluku–Papua 2,84%, serta Bali–Nusa Tenggara 2,82%.
Dengan demikian, gabungan Jawa dan Sumatra membentuk 78,60% ekonomi Indonesia.
Dominasi tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih sangat terkonsentrasi di dua kawasan bagian barat Indonesia.
Di Jawa, BPS mengidentifikasi industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi sebagai lapangan usaha utama yang menopang pertumbuhan.
Dari sisi provinsi, DKI Jakarta menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi wilayah Jawa dengan kontribusi 1,63 poin persentase, disusul Jawa Timur sebesar 1,49 poin dan Jawa Barat 1,35 poin.
Ketiganya secara bersama-sama menyumbang 4,47 poin persentase dari pertumbuhan ekonomi Jawa sebesar 5,84%.
Besarnya kontribusi tersebut memperlihatkan dominasi tiga pusat ekonomi terbesar Pulau Jawa dalam membentuk pertumbuhan kawasan.
Bali dan Nusa Tenggara Melaju, Kalimantan Melambat
Bali dan Nusa Tenggara menjadi wilayah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada kuartal III/2026.
BPS mencatat pertambangan, industri pengolahan, dan perdagangan sebagai lapangan usaha utama yang menopang pertumbuhan kawasan tersebut.
Dari sisi provinsi, Bali memberikan kontribusi pertumbuhan sebesar 2,79 poin persentase, Nusa Tenggara Barat 2,27 poin, dan Nusa Tenggara Timur 1,02 poin.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kawasan tidak hanya berasal dari satu provinsi.
Perlu diperhatikan bahwa pertumbuhan Bali–Nusa Tenggara tidak dapat langsung disimpulkan sepenuhnya berasal dari pariwisata. BPS justru menempatkan pertambangan, industri pengolahan, dan perdagangan sebagai penggerak utama kawasan.
Di sisi lain, Kalimantan mencatat pertumbuhan paling rendah di antara enam wilayah, yakni 3,96%.
Angka tersebut melambat dari 4,68% pada kuartal III/2025, ketika perekonomian wilayah ini masih tumbuh lebih cepat.
Meski demikian, Kalimantan tetap menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi penting dengan kontribusi 8,25% terhadap PDB nasional.
Menurut BPS, industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian menjadi sumber pertumbuhan utama kawasan Kalimantan.
Kalimantan Timur memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan kawasan, yakni 1,78 poin persentase, diikuti Kalimantan Barat 0,79 poin dan Kalimantan Selatan 0,74 poin.
Perlambatan ekonomi Kalimantan perlu dibaca bersama perubahan kegiatan produksi dan permintaan pada sektor-sektor utamanya. Namun, data pertumbuhan wilayah saja belum cukup untuk menentukan satu komoditas atau kebijakan sebagai penyebab utama perlambatan.
Maluku dan Papua Tumbuh 4,42%, tetapi Papua Tengah Menahan Pertumbuhan
Wilayah Maluku dan Papua mencatat pertumbuhan ekonomi 4,42% pada kuartal III/2026, meningkat dari 3,11% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kawasan tersebut ditopang industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan.
Namun, kontribusi masing-masing provinsi memperlihatkan perbedaan yang sangat mencolok.
Maluku Utara menjadi penyumbang utama pertumbuhan kawasan dengan kontribusi sebesar 3,41 poin persentase.
Sementara itu, Papua Tengah memberikan kontribusi negatif sebesar 0,86 poin persentase, sehingga menahan pertumbuhan kawasan secara keseluruhan.
| Provinsi | Kontribusi terhadap Pertumbuhan Maluku–Papua |
|---|---|
| Maluku Utara | +3,41 poin |
| Maluku | +0,50 poin |
| Papua Barat | +0,45 poin |
| Papua | +0,44 poin |
| Papua Selatan | +0,21 poin |
| Papua Barat Daya | +0,18 poin |
| Papua Pegunungan | +0,09 poin |
| Papua Tengah | -0,86 poin |
Data BPS kuartal III/2026. Angka menunjukkan sumbangan masing-masing provinsi terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah Maluku dan Papua, bukan tingkat pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut.
Kontribusi Maluku Utara yang sangat besar memperlihatkan konsentrasi sumber pertumbuhan kawasan pada satu provinsi.
Artinya, pertumbuhan agregat Maluku–Papua sebesar 4,42% belum menggambarkan kondisi yang seragam di seluruh provinsi.
Perbedaan ini penting karena wilayah yang secara geografis berada dalam satu kelompok dapat memiliki struktur produksi, tingkat industrialisasi, dan kondisi investasi yang sangat berbeda.
Dalam jangka panjang, ketergantungan terhadap beberapa pusat pertumbuhan dapat meningkatkan kerentanan apabila terjadi perlambatan aktivitas produksi di wilayah yang paling dominan.
Pertumbuhan Tinggi Belum Berarti Ketimpangan Wilayah Berkurang
Peta pertumbuhan ekonomi kuartal III/2026 memperlihatkan dua kenyataan yang berlangsung bersamaan.
Pertama, sejumlah wilayah di luar Jawa berhasil tumbuh lebih cepat daripada perekonomian nasional, seperti Bali dan Nusa Tenggara serta Sulawesi.
Kedua, konsentrasi ekonomi Indonesia masih sangat tinggi di Jawa dan Sumatra.
Untuk mengurangi ketimpangan wilayah, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di luar Jawa perlu berlangsung secara konsisten dalam jangka panjang.
Pertumbuhan tersebut juga perlu memperbesar kapasitas produksi, pendapatan penduduk, dan kesempatan kerja di daerah, bukan hanya meningkatkan output beberapa proyek atau kegiatan industri tertentu.
Karena itu, keberhasilan pembangunan daerah tidak cukup dinilai dari pertumbuhan PDB satu kuartal. Indikator lain yang perlu diperhatikan adalah produktivitas, penyerapan tenaga kerja, investasi berkelanjutan, kemiskinan, dan pembangunan manusia.
Data BPS menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia memang tumbuh positif di seluruh wilayah. Namun, dengan Jawa dan Sumatra masih menguasai hampir empat perlima PDB nasional, pemerataan pusat-pusat kegiatan ekonomi tetap menjadi tantangan struktural yang belum selesai.



0 Komentar