Receh.in — PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) menyiapkan lompatan besar dalam bisnis emas. Tambang Emas Pani di Gorontalo ditargetkan mampu menghasilkan 500.000–700.000 ons emas per tahun setelah dua fasilitas pengolahan Carbon-in-Leach atau CIL beroperasi penuh.
Skala tersebut jauh melampaui produksi emas MDKA saat ini. Sepanjang kuartal III/2026, Pani menghasilkan 26.331 ons, sementara Tambang Emas Tujuh Bukit menghasilkan 23.811 ons. Total produksi emas grup pada kuartal tersebut mencapai 50.142 ons.
Jika Pani pada akhirnya mencapai produksi 500.000–700.000 ons per tahun, tambang ini berpotensi mengubah profil MDKA secara fundamental: dari grup pertambangan terdiversifikasi dengan bisnis emas, tembaga dan nikel menjadi perusahaan dengan salah satu operasi emas terbesar di Indonesia.
Namun target tersebut bukan kapasitas yang akan tersedia dalam waktu dekat. MDKA masih harus menyelesaikan pembangunan CIL Tahap 1, mengoperasikannya secara stabil, kemudian mengeksekusi CIL Tahap 2 dengan skala serupa.
| Pengembangan Pani | Kapasitas / Target |
|---|---|
| Heap leach | Operasional sejak 2026 |
| CIL Tahap 1 | 12 juta ton bijih/tahun |
| Surge capacity CIL 1 | ±14,4 juta ton/tahun |
| Target produksi setelah Tahap 1 | ±250.000–350.000 oz/tahun |
| CIL Tahap 2 | Direncanakan skala serupa |
| Target produksi dua CIL | ±500.000–700.000 oz/tahun |
Target produksi jangka panjang bergantung pada pembangunan, commissioning, recovery, kadar bijih, throughput, serta performa operasional aktual.
Pani Berubah dari Proyek Menjadi Produsen Emas
Pani kini sudah melewati fase proyek semata.
Penambangan dimulai pada Oktober 2025 dan produksi emas perdana terealisasi pada kuartal I/2026 melalui fasilitas heap leach.
Pada kuartal III/2026, produksi Pani mencapai 26.331 ons, naik 69% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Kenaikan tersebut berasal dari peningkatan throughput fasilitas heap leach. Namun fasilitas ini baru merupakan tahap awal dari desain pengembangan Pani.
MDKA kemudian mempercepat pembangunan fasilitas CIL yang mempunyai tingkat pemrosesan dan recovery berbeda dibandingkan heap leach.
Secara sederhana, heap leach cocok digunakan untuk memproses bijih tertentu dengan biaya relatif rendah, tetapi recovery emasnya biasanya lebih rendah. CIL menggunakan proses penghancuran, penggilingan dan pelindian dalam tangki sehingga dapat memperoleh emas dari material yang lebih kompleks dan meningkatkan recovery.
Karena itu, penambahan CIL bukan sekadar menambah kapasitas tonase. Fasilitas ini dapat meningkatkan jumlah emas yang berhasil diekstraksi dari bijih yang ditambang.
12 Juta Ton per Tahun untuk CIL Pertama
Desain CIL Tahap 1 ditetapkan pada kapasitas terpasang 12 juta ton bijih per tahun.
MDKA juga menyediakan kapasitas cadangan sekitar 20%, sehingga fasilitas secara teknis mempunyai surge capacity hingga sekitar 14,4 juta ton per tahun.
Desain rekayasa dasar telah selesai dan desain rinci terus berjalan. Peralatan utama dengan waktu pengadaan panjang juga sudah diamankan, sementara kontraktor konstruksi mulai dimobilisasi.
Sisa pekerjaan landasan fasilitas CIL ditargetkan selesai pada akhir Desember 2026.
Pada rencana pengembangan sebelumnya, Pani memang sudah diarahkan menjadi operasi emas berskala sangat besar. Studi kelayakan 2024 menempatkan kapasitas pengolahan ultimate sekitar 19 juta ton per tahun dengan potensi produksi puncak sekitar 500.000 ons.
Strategi terbaru menjadi lebih agresif dengan rencana dua fasilitas CIL. Apabila keduanya terealisasi, manajemen membidik produksi 500.000–700.000 ons per tahun.
Seberapa Besar 700.000 Ons Emas?
Skalanya lebih mudah dipahami jika dibandingkan dengan produksi MDKA sekarang.
Total produksi emas MDKA pada Q3/2026 sebesar 50.142 ons. Jika angka itu disetahunkan secara sederhana, produksinya setara sekitar 200.000 ons per tahun.
Target Pani sebesar 500.000–700.000 ons berarti kapasitas satu tambang tersebut saja secara teoritis dapat mencapai sekitar 2,5–3,5 kali annualized production emas MDKA berdasarkan Q3/2026.
| Produksi Emas | Volume |
|---|---|
| Pani Q3/2026 | 26.331 oz |
| Tujuh Bukit Q3/2026 | 23.811 oz |
| Total MDKA Q3/2026 | 50.142 oz |
| Annualized sederhana dari Q3 | ±200.568 oz/tahun |
| Target Pani setelah CIL 1 | 250.000–350.000 oz/tahun |
| Target Pani setelah dua CIL | 500.000–700.000 oz/tahun |
Annualized Q3 hanya ilustrasi matematis dan bukan proyeksi produksi resmi MDKA.
Perbandingan tersebut menunjukkan mengapa Pani mempunyai nilai strategis yang besar terhadap MDKA.
Jika ramp-up berhasil, kontribusi emas terhadap pendapatan, EBITDA, dan arus kas grup dapat meningkat signifikan.
Pani Juga Punya Basis Cadangan Besar
Ekspansi berkapasitas besar membutuhkan cadangan yang mampu menopang operasi dalam waktu panjang.
Dokumen resmi Merdeka menyebut Pani memiliki sekitar 4,8 juta ons cadangan bijih emas dari sumber daya mineral lebih dari 7 juta ons.
Skala tersebut menempatkan Pani sebagai salah satu deposit emas primer terbesar di Indonesia.
Dalam studi kelayakan terdahulu, proyek ini memang dirancang sebagai tambang terbuka dengan umur operasi multidekade.
Ini penting karena pembangunan CIL berskala besar membutuhkan belanja modal tinggi. Secara ekonomi, investasi tersebut baru masuk akal jika cadangan dan sumber daya mencukupi untuk mendukung utilisasi fasilitas dalam jangka panjang.
Eksplorasi tambahan juga dapat memperpanjang umur tambang atau meningkatkan profil produksi apabila sumber daya baru berhasil dikonversi menjadi cadangan ekonomis.
Emas Tumbuh, tetapi Nikel dan Tembaga Tetap Besar
Pani tidak berdiri sendiri dalam portofolio MDKA.
Pada bisnis nikel di Sulawesi, produksi bijih saprolit mencapai 3,3 juta wet metric tonnes pada Q3/2026, naik 68% secara tahunan.
Produksi limonit meningkat 62% menjadi 9 juta wmt.
Untuk produk olahan, produksi NPI mencapai 20.553 ton kandungan nikel, sedangkan high-grade nickel matte mencapai 9.436 ton.
Di sisi lain, Proyek Tembaga Tujuh Bukit juga menjadi aset jangka panjang yang sangat besar.
MDKA tengah mengoptimalkan rencana pengembangan setelah studi kelayakan, termasuk integrasi operasi bawah tanah dengan potensi tambang terbuka.
Artinya, MDKA tetap merupakan grup pertambangan multiproduk. Tetapi Pani mempunyai karakter berbeda karena sudah mulai menghasilkan emas dan pengembangan kapasitas berikutnya lebih dekat menuju tahap komersial dibandingkan proyek tembaga raksasa yang masih membutuhkan pengembangan lanjutan.
Risikonya: Capex dan Eksekusi
Target produksi besar tidak otomatis berarti laba besar akan muncul dengan mulus.
CIL merupakan fasilitas pengolahan yang membutuhkan investasi besar. Selain konstruksi, perusahaan harus memastikan pasokan bijih, kadar emas, recovery, konsumsi energi, reagen, ketersediaan air dan reliability fasilitas berjalan sesuai desain.
Commissioning juga menjadi tahapan kritis. Pabrik yang secara desain mampu memproses 12 juta ton per tahun belum tentu langsung mencapai nameplate capacity sejak hari pertama.
Biasanya terdapat fase ramp-up sampai throughput dan recovery stabil.
Karena itu, investor perlu membedakan tiga hal: kapasitas terpasang, produksi target, dan produksi aktual.
MDKA juga harus menjaga disiplin alokasi modal karena secara bersamaan grup mengembangkan aset emas, nikel, tembaga dan infrastruktur pendukung.
Catatan produksi: Produksi Pani Q3/2026 sebesar 26.331 ons dan produksi Tujuh Bukit 23.811 ons, sehingga total produksi emas MDKA periode tersebut mencapai 50.142 ons.
Catatan CIL: CIL Tahap 1 dirancang berkapasitas 12 Mtpa dengan surge capacity sekitar 14,4 Mtpa. Rencana dua fasilitas CIL dan target produksi 500.000–700.000 ons merupakan sasaran pengembangan terbaru perseroan dan masih bergantung pada realisasi konstruksi serta commissioning.
Catatan cadangan: Dokumen Merdeka menyebut Pani memiliki sekitar 4,8 juta ons Ore Reserves dari Mineral Resource lebih dari 7 juta ons emas.
Catatan annualized: Produksi sekitar 200.568 ons merupakan hasil mengalikan produksi Q3/2026 sebanyak 50.142 ons dengan empat dan bukan panduan produksi resmi.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham MDKA maupun EMAS. Investor perlu mempertimbangkan harga emas, capex, leverage, risiko konstruksi, recovery, kadar bijih, commissioning, serta risiko bisnis nikel dan tembaga.
0 Komentar