Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
PT Indointernet Tbk (EDGE) punya perjalanan yang tidak biasa. Perusahaan yang berdiri pada 1994 sebagai salah satu pionir penyedia internet swasta Indonesia itu kini berubah menjadi kelompok infrastruktur digital dengan bisnis konektivitas, cloud, dan data center berkapasitas puluhan megawatt.

Namun pada 2026 cerita EDGE justru memasuki babak lain. Pemegang saham pengendalinya, Digital Edge (Hong Kong) Ltd, sedang membawa Indointernet keluar dari Bursa Efek Indonesia melalui skema go private dan delisting.

Digital Edge menawarkan membeli saham publik EDGE pada harga Rp11.500 per saham. Harga tersebut sekitar 140% di atas rata-rata harga tertinggi saham EDGE selama 90 hari sebelum rencana go private diumumkan dan lebih dari dua kali harga penutupan terakhir Rp4.790 sebelum perdagangan sahamnya disuspensi pada Februari 2026.

Di balik rencana tersebut, bisnis EDGE justru sedang memasuki periode investasi besar. EDGE2 terus diperluas, perusahaan membangun fasilitas data center baru, kontrak pengadaan membengkak hingga triliunan rupiah, dan utang meningkat untuk membiayai ekspansi.

Jadi profil EDGE pada 2026 tidak bisa lagi dibaca hanya sebagai saham data center. Pertanyaan terpentingnya sekarang justru: bagaimana bisnis Indointernet berkembang setelah Digital Edge mengambil alih hampir seluruh perusahaan dan sahamnya akhirnya keluar dari bursa?

Profil EDGE Keterangan
Nama PT Indointernet Tbk
Kode saham EDGE
Berdiri 1994
IPO 8 Februari 2021
Harga IPO Rp7.375 sebelum stock split
Stock split 1:5 pada 2023
Harga IPO disesuaikan stock split ±Rp1.475
Jumlah saham saat ini 2,020 miliar saham
Pemegang saham pengendali Digital Edge Group
Direktur Utama Donauly Elena Situmorang
Bisnis utama Data center, konektivitas dan cloud
Harga tender offer Rp11.500 per saham

Data berdasarkan Indointernet, KSEI, laporan keuangan dan keterbukaan informasi hingga Oktober 2026.

Dari ISP Pertama ke Infrastruktur Digital

Indointernet atau Indonet berdiri pada 1994 dan dikenal sebagai salah satu pionir penyedia jasa internet swasta di Indonesia.

Bisnisnya kemudian berkembang jauh melampaui akses internet. Perusahaan masuk ke konektivitas korporasi, IP transit, jaringan serat optik, cloud exchange, hingga data center.

Transformasi besar terjadi setelah EDGE masuk bursa pada Februari 2021.

Dalam IPO, Indointernet melepas 80,81 juta saham atau 20% dengan harga Rp7.375 per saham dan menghimpun sekitar Rp595,97 miliar. Sekitar 90% dana IPO ketika itu dialokasikan sebagai tambahan modal kepada PT Ekagrata Data Gemilang, anak usaha yang mengembangkan EDGE Data Center.

IPO EDGE Data
Tanggal listing 8 Februari 2021
Saham ditawarkan 80,81 juta saham
Porsi IPO 20%
Harga IPO Rp7.375
Dana dihimpun ±Rp595,97 miliar
Penggunaan terbesar Tambahan modal anak usaha data center

Pada tahun yang sama, perusahaan data center regional Digital Edge masuk sebagai investor strategis dan menjadi pemegang saham mayoritas. Digital Edge sendiri didukung Stonepeak Infrastructure Partners, investor infrastruktur berbasis di Amerika Serikat.

Hubungan itu kemudian semakin dalam.

Pada awal 2024, Digital Edge mengakuisisi tambahan sekitar 33% saham yang sebelumnya dimiliki para pendiri Indonet, termasuk Otto Toto Sugiri dan empat pendiri lainnya. Setelah transaksi tersebut, kendali perusahaan praktis terkonsentrasi di Digital Edge.

Siapa Pemilik EDGE Sekarang?

Pada akhir 2025, sebanyak 59,10% saham EDGE dimiliki Digital Edge (Hong Kong) Limited dan 33% lainnya dimiliki Digital Edge (HK) SPVI Limited.

Dengan demikian, dua entitas Digital Edge secara bersama-sama menguasai sekitar 92,10% Indointernet. Publik hanya memegang sekitar 7,90%.

Pemegang Saham Akhir 2025 Saham Porsi
Digital Edge (Hong Kong) Limited 1.193.969.000 59,10%
Digital Edge (HK) SPVI Limited 666.682.500 33,00%
Publik 159.598.500 7,90%
Total 2.020.250.000 100%

Struktur tersebut kembali berubah sepanjang 2026 karena Digital Edge mulai membeli saham publik lewat tender offer.

Sampai penyelesaian periode ketiga pada 2 Oktober 2026, Digital Edge telah membeli sekitar 7,714 juta saham pada harga Rp11.500 per saham. Dengan transaksi itu, kepemilikan langsung Digital Edge (Hong Kong) naik menjadi sekitar 59,48%, sedangkan gabungan dua entitas Digital Edge berada di kisaran 92,48%.

Artinya, free float EDGE menjadi semakin kecil ketika perusahaan justru sedang menuju delisting.

EDGE1, EDGE2 dan Taruhan Besar pada Data Center

Jantung pertumbuhan Indointernet sekarang berada pada data center yang dikembangkan melalui EDGE DC.

Fasilitas pertama, EDGE1, mempunyai kapasitas sekitar 6 MW. Tingkat hunian fasilitas tersebut naik dari sekitar 20% pada 2022 menjadi penuh pada akhir 2023 dan bertahan penuh pada 2024.

Perusahaan kemudian membangun EDGE2 di Jakarta dengan kapasitas jauh lebih besar, sekitar 23 MW.

EDGE2 dikembangkan secara bertahap. Fase pertama selesai pada kuartal II/2024 dan mulai beroperasi pada kuartal III/2024. Fase kedua mulai beroperasi sepanjang 2025, sedangkan fase ketiga pada akhir 2025 telah mencapai sekitar 65% penyelesaian dan ditargetkan rampung pada 2026.

Fasilitas Data Center Kapasitas/Status
EDGE1 ±6 MW; penuh sejak akhir 2023
EDGE2 ±23 MW; dikembangkan bertahap
EDGE2 Phase 1 Beroperasi sejak 2024
EDGE2 Phase 2 Beroperasi pada 2025
EDGE2 Phase 3 65% selesai per akhir 2025; target 2026
DGE Data Center baru Dalam pembangunan; target awal Q4/2026

Yang menarik, skala investasi data center EDGE meningkat sangat cepat.

Pada akhir 2025, nilai kontrak dan pesanan pengadaan untuk pengembangan data center mencapai sekitar Rp5,09 triliun. Pada akhir Maret 2026 nilainya sudah meningkat menjadi sekitar Rp7,84 triliun.

Ekspansi tersebut memberi gambaran bahwa Digital Edge tidak sedang membeli Indointernet hanya untuk bisnis ISP yang sudah matang. Nilai strategisnya berada pada kombinasi data center + jaringan serat optik + konektivitas cloud.

Data center sendiri mempunyai kebutuhan konektivitas sangat tinggi. Karena Indonet sudah memiliki jaringan dan pelanggan konektivitas, EDGE DC dapat menawarkan ekosistem yang lebih terintegrasi kepada hyperscaler, cloud provider maupun perusahaan digital.

Pendapatan Tumbuh Lagi pada 2026, tetapi Utang Ikut Melonjak

Transformasi tersebut membutuhkan modal besar.

Pada 2025, pendapatan EDGE turun 17,2% menjadi Rp842,1 miliar, sementara laba bersih jatuh 47,9% menjadi Rp120,9 miliar.

Namun EBITDA justru naik sekitar 10,1% menjadi Rp469,3 miliar.

Perbaikan pendapatan mulai terlihat pada semester I/2026.

Pendapatan mencapai Rp491,8 miliar, naik 31,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bruto naik 37% dan EBITDA melonjak 43,4% menjadi Rp285,9 miliar.

Tetapi perusahaan justru membukukan rugi bersih sekitar Rp5,7 miliar.

Kinerja EDGE 6M26 6M25 Perubahan
Pendapatan Rp491,8 miliar Rp375,1 miliar +31,1%
Laba bruto Rp237,2 miliar Rp173,1 miliar +37,0%
EBITDA Rp285,9 miliar Rp199,4 miliar +43,4%
Laba/rugi bersih -Rp5,7 miliar Rp54,5 miliar Berbalik rugi
Total aset Rp10,99 triliun Rp5,46 triliun akhir 2025 Naik tajam
Utang bank ±Rp6,09 triliun ±Rp3,63 triliun akhir 2025 Naik

Angka tersebut menggambarkan fase yang sedang dialami EDGE dengan cukup jelas.

Bisnis operasional berkembang. EBITDA meningkat cepat. Tetapi pembangunan data center membutuhkan utang dan belanja modal besar sehingga beban bunga dan pembiayaan ikut meningkat.

Per September–Oktober 2026, perusahaan dan anak usahanya bahkan mengumumkan sejumlah fasilitas pembiayaan baru, termasuk fasilitas kredit sekitar US$530,2 juta, pinjaman afiliasi US$50 juta, serta tambahan fasilitas bank Rp1,7 triliun.

Dengan kata lain, EDGE sedang melakukan apa yang lazim terjadi pada bisnis data center: membangun kapasitas terlebih dahulu menggunakan modal sangat besar, lalu berharap utilisasi dan kontrak pelanggan menghasilkan arus kas dalam jangka panjang.

Kenapa EDGE Justru Mau Delisting?

Bagian paling menarik dari profil EDGE pada 2026 justru bukan pertumbuhan data center, melainkan keputusan keluar dari bursa.

Pada 9 Februari 2026, Indointernet mengajukan permohonan pembatalan pencatatan dan suspensi perdagangan kepada BEI. Pemegang saham independen kemudian menyetujui rencana perubahan status dari perusahaan terbuka menjadi perusahaan tertutup dalam RUPS pada 22 April 2026.

Digital Edge menawarkan membeli seluruh saham masyarakat yang menjadi objek tender sebanyak maksimal 159,60 juta saham pada harga Rp11.500 per saham.

Nilai tender secara teoritis mencapai sekitar Rp1,84 triliun apabila seluruh pemegang saham publik menjual sahamnya.

Go Private EDGE Data
Harga terakhir sebelum suspensi Rp4.790
Harga tender offer Rp11.500
Premium terhadap Rp4.790 ±140%
Saham publik awal 159,60 juta saham
Porsi publik awal 7,90%
Saham dibeli sampai Periode III 7,714 juta saham
Nilai pembelian sampai Periode III ±Rp88,7 miliar

Menariknya, sampai tiga periode tender selesai, hanya sekitar 4,84% dari saham yang menjadi objek tender yang telah dijual oleh pemegang saham publik.

Jadi sebagian besar saham publik masih belum masuk tender pada awal Oktober.

Perlu dicatat pula bahwa Rp11.500 tidak dapat dibandingkan begitu saja dengan harga IPO Rp7.375 karena EDGE melakukan stock split 1:5 pada 2023.

Setelah menyesuaikan stock split, harga IPO setara sekitar Rp1.475 per saham dalam basis jumlah saham sekarang. Dengan demikian, harga tender Rp11.500 secara matematis sekitar 7,8 kali harga IPO yang telah disesuaikan.

Indointernet menjelaskan go private antara lain akan membuat proses pengambilan keputusan dan pengelolaan perusahaan lebih sederhana. Likuiditas perdagangan saham EDGE yang rendah juga menjadi salah satu pertimbangannya.

Per 29 Oktober 2026, KSEI masih mencatat EDGE sebagai efek berstatus aktif dengan 2,020 miliar saham, sehingga proses delisting belum dapat dianggap selesai hanya karena tender offer telah berjalan.

Catatan Recehin
EDGE punya cerita yang hampir berkebalikan dengan banyak emiten teknologi. Perusahaan masuk bursa pada 2021 untuk membiayai ekspansi data center. Digital Edge kemudian masuk sebagai pemegang saham mayoritas, mengambil alih saham para pendiri, membangun EDGE2, dan memperbesar investasi sampai nilai kontrak pengadaan data center mencapai triliunan rupiah. Sekarang, ketika bisnis data centernya justru menjadi semakin besar, pengendalinya memilih membawa EDGE keluar dari bursa. Secara bisnis logikanya cukup mudah dipahami. Data center adalah proyek jangka panjang, sangat padat modal, membutuhkan utang besar dan tidak selalu menghasilkan laba akuntansi secara mulus setiap kuartal. Menjalankan strategi seperti itu sebagai perusahaan privat dapat memberi pengendali fleksibilitas lebih besar. Tetapi dari perspektif investor publik, ceritanya berbeda. Tender Rp11.500 memberi premium sangat besar dibandingkan harga terakhir sebelum suspensi Rp4.790. Namun sampai tiga periode tender, hanya sekitar 7,7 juta dari 159,6 juta saham yang ditawarkan publik yang diserap. Jadi profil EDGE hari ini bukan lagi terutama soal mencari valuasi saham data center. Pertanyaan paling relevan justru apakah investor publik akan mengambil harga keluar Rp11.500, atau tetap menjadi pemegang saham sebuah perusahaan yang pada akhirnya dapat berstatus tertutup dan tidak lagi diperdagangkan di bursa. Sementara untuk bisnisnya sendiri, indikator yang paling penting adalah utilisasi EDGE2, kapasitas baru yang benar-benar beroperasi, EBITDA yang dihasilkan, serta kemampuan arus kas menanggung utang yang naik cepat untuk membiayai ekspansi.
Sumber: PT Indointernet Tbk/Indonet, laporan keuangan 2025 dan semester I/2026, keterbukaan informasi serta situs resmi perseroan; PT Kustodian Sentral Efek Indonesia; Digital Edge; DLA Piper; keterbukaan tender offer; serta perhitungan Receh.in.

Catatan kepemilikan: Per akhir 2025, Digital Edge (Hong Kong) Limited memiliki 59,10% dan Digital Edge (HK) SPVI Limited 33%, sehingga gabungan kepemilikan Digital Edge mencapai 92,10%. Porsi tersebut meningkat setelah pembelian saham publik melalui tender offer pada 2026.

Catatan harga IPO: EDGE IPO pada Rp7.375 per saham sebelum stock split 1:5 tahun 2023. Dalam basis jumlah saham setelah stock split, harga tersebut ekuivalen sekitar Rp1.475 per saham.

Catatan tender offer: Harga penawaran Rp11.500 per saham merupakan harga yang digunakan Digital Edge dalam proses go private. Sampai penyelesaian periode ketiga pada 2 Oktober 2026, sekitar 7,714 juta saham telah dibeli.

Catatan delisting: Rencana go private telah disetujui pemegang saham independen, tetapi per 29 Oktober 2026 KSEI masih mencatat saham EDGE berstatus aktif. Karena itu artikel tidak menyebut proses delisting sudah selesai.

Catatan data center: Kapasitas dan jadwal proyek dapat berubah mengikuti penyelesaian konstruksi, pemasangan daya dan komitmen pelanggan.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi untuk menerima atau menolak tender offer maupun membeli atau menjual saham EDGE. Pemegang saham perlu mempertimbangkan konsekuensi menjadi pemegang saham perusahaan tertutup apabila tidak mengikuti proses tender.