Receh.in — Sektor pertambangan dan penggalian Indonesia kembali mencatat pertumbuhan positif pada kuartal III/2026 setelah mengalami kontraksi selama dua kuartal berturut-turut. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan sektor ini tumbuh 0,91% secara tahunan (year-on-year/YoY), terutama ditopang pemulihan pertambangan bijih logam.
Perbaikan tersebut terjadi setelah sektor pertambangan terkontraksi 2,14% pada kuartal I/2026 dan 1,64% pada kuartal II/2026. Meski telah kembali tumbuh, kinerjanya masih jauh di bawah pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,47%.
Data BPS yang dirilis Kamis (5/11/2026) menunjukkan bahwa pemulihan sektor pertambangan belum merata. Pertambangan bijih logam berhasil keluar dari kontraksi, sementara pertambangan batu bara dan minyak serta gas bumi masih mencatat pertumbuhan negatif.
Dengan pangsa 9,19% terhadap produk domestik bruto (PDB), pertambangan tetap menjadi salah satu sektor terbesar dalam perekonomian Indonesia. Namun, besarnya ukuran sektor tersebut belum diikuti laju pertumbuhan yang sebanding dengan industri pengolahan, perdagangan, maupun konstruksi.
Pertambangan Kembali Tumbuh Setelah Dua Kuartal Kontraksi
Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, pertumbuhan sektor pertambangan menunjukkan perbaikan bertahap.
Pada kuartal pertama, pertambangan dan penggalian mencatat kontraksi sebesar 2,14%. Kondisinya membaik pada kuartal kedua, ketika kontraksi menyempit menjadi 1,64%.
Pada kuartal ketiga, sektor ini akhirnya berbalik tumbuh 0,91%.
| Periode | Pertumbuhan Pertambangan (YoY) |
|---|---|
| Kuartal I/2026 | -2,14% |
| Kuartal II/2026 | -1,64% |
| Kuartal III/2026 | +0,91% |
Data BPS. Pertumbuhan dihitung secara tahunan dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya.
Perubahan dari kontraksi 1,64% menjadi pertumbuhan 0,91% menunjukkan perbaikan laju pertumbuhan sebesar 2,55 poin persentase dalam satu kuartal.
Namun, pertumbuhan positif 0,91% belum cukup untuk menunjukkan pemulihan yang kuat di seluruh industri pertambangan. Hasilnya masih berbeda antarjenis komoditas.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud menyampaikan bahwa pertambangan termasuk lima lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap pembentukan PDB Indonesia.
Porsi pertambangan sebesar 9,19% merupakan bagian sektor tersebut dalam struktur ekonomi nasional, bukan kontribusi sebesar 9,19 poin persentase terhadap pertumbuhan PDB.
Pertambangan Bijih Logam Berbalik Positif
Perubahan paling menonjol terjadi pada subsektor pertambangan bijih logam.
BPS mencatat pertambangan bijih logam tumbuh 2,96% secara tahunan pada kuartal III/2026, setelah mengalami kontraksi cukup dalam selama dua kuartal sebelumnya.
Pada kuartal I/2026, subsektor ini terkontraksi 12,22%. Kontraksi kemudian menyempit menjadi 9,42% pada kuartal kedua sebelum kembali tumbuh positif pada kuartal ketiga.
Perubahan tersebut membuat pertambangan bijih logam menjadi salah satu penopang pemulihan sektor pertambangan secara keseluruhan.
| Subsektor Pertambangan | Q1/2026 | Q2/2026 | Q3/2026 |
|---|---|---|---|
| Bijih logam | -12,22% | -9,42% | +2,96% |
| Pertambangan dan penggalian lainnya | +5,85% | +5,87% | +3,82% |
| Batu bara dan lignit | -1,16% | -1,41% | -0,38% |
| Minyak, gas, dan panas bumi | -3,11% | -2,15% | -1,35% |
| Total pertambangan dan penggalian | -2,14% | -1,64% | +0,91% |
Data BPS mengenai pertumbuhan tahunan subsektor pertambangan sepanjang tiga kuartal pertama 2026.
Pertambangan dan penggalian lainnya juga tumbuh positif sebesar 3,82% pada kuartal ketiga. Namun, laju tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan 5,87% pada kuartal kedua dan 5,85% pada kuartal pertama.
Dengan demikian, subsektor bijih logam menunjukkan perbaikan paling tajam, sedangkan pertambangan dan penggalian lainnya masih tumbuh, tetapi dengan kecepatan lebih rendah.
Pemulihan bijih logam menjadi penting karena subsektor ini berkaitan dengan kegiatan produksi mineral yang memasok industri pengolahan logam.
Namun, pertumbuhan pertambangan bijih logam tidak dapat langsung disamakan dengan kenaikan produksi seluruh komoditas mineral. Kinerja masing-masing komoditas, termasuk nikel, tembaga, dan bauksit, memerlukan data produksi yang lebih terperinci.
Batu Bara dan Migas Masih Mengalami Kontraksi
Berbeda dari bijih logam, dua subsektor pertambangan lainnya masih mencatat pertumbuhan negatif.
Subsektor pertambangan batu bara dan lignit terkontraksi 0,38% secara tahunan pada kuartal III/2026.
Meski masih negatif, kontraksi tersebut lebih kecil dibandingkan kuartal kedua yang mencapai 1,41% dan kuartal pertama sebesar 1,16%.
Perbaikan serupa terjadi pada pertambangan minyak, gas, dan panas bumi.
Subsektor tersebut mencatat kontraksi 1,35% pada kuartal III/2026, lebih baik dibandingkan kontraksi 2,15% pada kuartal kedua dan 3,11% pada kuartal pertama.
Dengan demikian, kedua subsektor menunjukkan pemulihan dari sisi laju pertumbuhan, meskipun aktivitas ekonomi riilnya masih berada di bawah periode yang sama tahun sebelumnya.
Perlu dibedakan pula antara pertumbuhan sektor pertambangan dalam PDB dan perkembangan harga komoditas.
Pertumbuhan PDB yang dihitung berdasarkan harga konstan terutama mencerminkan perubahan volume nilai tambah riil. Karena itu, kenaikan harga batu bara, minyak, atau logam tidak otomatis berarti pertumbuhan produksi pertambangan akan meningkat.
Sebaliknya, perusahaan pertambangan dapat memperoleh pendapatan lebih tinggi akibat kenaikan harga jual meskipun volume produksinya relatif stagnan.
Hilirisasi Logam Tumbuh Lebih Cepat daripada Pertambangan
Perbedaan menarik terlihat ketika kinerja pertambangan dibandingkan dengan industri pengolahan logam.
Pada kuartal III/2026, subsektor industri logam dasar tumbuh 9,94%, jauh lebih cepat daripada pertambangan bijih logam yang tumbuh 2,96%.
BPS menjelaskan penguatan industri logam dasar didukung peningkatan ekspor produk logam olahan, termasuk katoda tembaga, nickel matte, aluminium, serta produk besi dan baja.
Perbedaan laju pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pengolahan logam dan kegiatan penambangan bahan bakunya tidak selalu bergerak searah.
Produksi industri pengolahan dapat meningkat karena pemanfaatan kapasitas fasilitas yang sudah tersedia, perubahan persediaan bahan baku, peningkatan efisiensi, atau penggunaan input dari berbagai sumber.
Karena itu, pertumbuhan industri logam dasar yang tinggi tidak dengan sendirinya membuktikan peningkatan produksi tambang dalam besaran yang sama.
| Lapangan Usaha / Subsektor | Pertumbuhan Q3/2026 |
|---|---|
| Industri logam dasar | 9,94% |
| Industri pengolahan secara keseluruhan | 5,87% |
| Pertambangan bijih logam | 2,96% |
| Pertambangan dan penggalian | 0,91% |
Perbandingan pertumbuhan tahunan berdasarkan klasifikasi lapangan usaha BPS pada kuartal III/2026.
Bagi investor saham pertambangan, data ini memberikan gambaran bahwa pemulihan sektor belum berlangsung merata.
Emiten batu bara, mineral, dan migas memiliki sumber pendapatan, struktur biaya, serta sensitivitas harga komoditas yang berbeda. Karena itu, pertumbuhan PDB pertambangan sebesar 0,91% tidak dapat langsung digunakan untuk memperkirakan pertumbuhan laba seluruh emiten sektor tersebut.
Indikator yang perlu diperhatikan mencakup volume produksi dan penjualan, harga jual rata-rata, biaya produksi, serta perkembangan permintaan dari industri pengolahan maupun pasar ekspor.
Data kuartal III/2026 menunjukkan pertambangan Indonesia mulai keluar dari fase kontraksi, tetapi pemulihannya masih ditopang sebagian subsektor. Keberlanjutan pertumbuhan akan sangat bergantung pada kemampuan industri bijih logam mempertahankan produksi dan keberhasilan batu bara serta migas kembali mencatat pertumbuhan positif.

0 Komentar