Daftar IsiTampilkan

Receh.in — Pemerintah resmi membuka penawaran Sukuk Tabungan seri ST017 pada Jumat (6/11/2026), dengan imbal hasil minimal mencapai 7,05% per tahun. Instrumen investasi syariah ini tersedia dalam dua pilihan tenor, yakni dua dan empat tahun, serta dapat dibeli masyarakat mulai dari Rp1 juta.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menetapkan imbal hasil minimal ST017-T2 sebesar 6,95% per tahun dan ST017-T4 sebesar 7,05% per tahun.

Penawaran berlangsung mulai 6 November hingga 2 Desember 2026. ST017 menjadi salah satu alternatif investasi pendapatan tetap bagi investor yang menginginkan pembayaran imbalan bulanan dengan tingkat imbal hasil minimal yang telah ditetapkan pemerintah.

Namun, berbeda dari obligasi yang dapat diperjualbelikan di bursa atau pasar sekunder, ST017 tidak dapat diperdagangkan sebelum jatuh tempo. Investor hanya memiliki kesempatan mencairkan sebagian pokok melalui fasilitas early redemption dengan syarat tertentu.

Perbandingan ST017-T2 dan ST017-T4: Kupon, Tenor, dan Batas Pembelian

ST017 merupakan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ritel yang diterbitkan pemerintah menggunakan prinsip syariah.

Kedua seri menawarkan imbalan mengambang dengan batas minimal atau floating with floor. Dengan skema tersebut, tingkat imbalan dapat meningkat mengikuti kenaikan BI Rate, tetapi tidak akan turun di bawah tingkat imbalan minimal yang sudah ditetapkan.

Perbedaan utama kedua seri terletak pada tenor, tingkat imbalan, dan maksimum pemesanan.

KetentuanST017-T2ST017-T4
Tenor2 tahun4 tahun
Imbal hasil minimal bruto6,95%7,05%
Imbal hasil minimal neto setelah pajak6,255%6,345%
BI Rate acuan penetapan5,75%5,75%
Spread tetap120 basis poin130 basis poin
Minimum pembelianRp1 jutaRp1 juta
Maksimum pembelianRp5 miliarRp10 miliar
Jatuh tempo10 November 202810 November 2030
Pajak imbalan10% final10% final
Pembayaran imbalanBulananBulanan
Perdagangan pasar sekunderTidak tersediaTidak tersedia
Pencairan awalMaksimal 50%Maksimal 50%

Ketentuan ST017 berdasarkan pengumuman DJPPR dan informasi mitra distribusi, 5–6 November 2026. Imbal hasil setelah pajak dihitung dari batas minimal kupon dengan PPh final 10%.

Selisih imbal hasil antara kedua seri hanya 0,10 poin persentase atau 10 basis poin.

Dengan demikian, investor yang memilih ST017-T4 memperoleh tambahan tingkat imbalan minimal sebesar 0,10 poin persentase, tetapi harus mengikat dana dua tahun lebih lama daripada ST017-T2.

Perbedaan tersebut menjadi pertimbangan penting, terutama bagi investor yang mungkin membutuhkan kembali dana pokok sebelum jatuh tempo.

Simulasi Imbal Hasil ST017: Modal Rp100 Juta Dapat Berapa per Bulan?

Salah satu daya tarik ST017 adalah pembayaran imbalan secara bulanan.

Kupon minimal ST017-T2 sebesar 6,95% setara dengan imbalan bruto sekitar Rp579.167 per bulan untuk investasi Rp100 juta dalam perhitungan satu bulan normal.

Setelah dipotong pajak final 10%, investor memperoleh sekitar Rp521.250 per bulan.

Untuk ST017-T4 dengan imbal hasil minimal 7,05%, investasi Rp100 juta menghasilkan imbalan bersih sekitar Rp528.750 per bulan.

RECEH.IN DATA LABS

Simulasi Imbalan ST017 per Bulan

Estimasi pendapatan bersih setelah PPh final 10%, berdasarkan kupon minimal

Modal Rp10 jutaRp52.125 – Rp52.875
Modal Rp25 jutaRp130.313 – Rp132.188
Modal Rp50 jutaRp260.625 – Rp264.375
Modal Rp100 jutaRp521.250 – Rp528.750
Rp0Rp250 ribuRp530 ribu
Rentang menunjukkan ST017-T2 hingga ST017-T4. Panjang batang menggunakan imbalan ST017-T4 sebagai acuan. Simulasi bulan normal; pembayaran imbalan pertama dapat berbeda.

Untuk melihat selisih kedua seri secara lebih terperinci, berikut perhitungan imbalan bersih pada beberapa tingkat modal.

Modal InvestasiST017-T2 per BulanST017-T4 per Bulan
Rp1 jutaRp5.213Rp5.288
Rp10 jutaRp52.125Rp52.875
Rp25 jutaRp130.313Rp132.188
Rp50 jutaRp260.625Rp264.375
Rp100 jutaRp521.250Rp528.750
Rp500 jutaRp2.606.250Rp2.643.750
Rp1 miliarRp5.212.500Rp5.287.500

Simulasi berdasarkan kupon minimal tahunan, dibagi 12 bulan, setelah PPh final 10%. Nilai dibulatkan ke rupiah terdekat. Imbalan aktual dapat berubah jika BI Rate meningkat dan ketentuan penyesuaian kupon berlaku.

Dengan modal Rp100 juta, selisih imbalan bersih antara ST017-T2 dan ST017-T4 hanya Rp7.500 per bulan pada tingkat kupon minimal.

Dalam setahun, selisihnya sekitar Rp90.000.

Karena itu, memilih tenor empat tahun semata-mata untuk memperoleh kupon tambahan 0,10 poin persentase perlu dipertimbangkan terhadap kebutuhan likuiditas dan jangka waktu investasi.

Kupon ST017 Bisa Naik jika BI Rate Naik

ST017 tidak menggunakan sistem kupon tetap sepanjang masa investasi.

Instrumen ini menerapkan skema floating with floor, yakni kupon mengambang yang mengikuti perubahan suku bunga acuan Bank Indonesia, tetapi memiliki batas minimal.

Pada saat penetapan imbal hasil, BI Rate berada pada level 5,75%.

ST017-T2 memperoleh tambahan spread tetap 120 basis poin sehingga menghasilkan kupon minimal 6,95%. Sementara itu, ST017-T4 memiliki spread 130 basis poin sehingga menghasilkan kupon minimal 7,05%.

Apabila BI Rate meningkat pada periode penyesuaian berikutnya, kupon ST017 berpotensi ikut naik sesuai formula masing-masing seri.

Misalnya, jika BI Rate naik menjadi 6,00%, kupon ST017-T2 berdasarkan formula akan menjadi 7,20%, sedangkan ST017-T4 menjadi 7,30%.

Sebaliknya, apabila BI Rate turun menjadi 5,00%, formula dasarnya menghasilkan 6,20% untuk ST017-T2 dan 6,30% untuk ST017-T4. Namun, karena keduanya memiliki batas minimal, kupon yang berlaku tetap tidak lebih rendah daripada 6,95% dan 7,05%.

Dengan demikian, instrumen ini memberikan perlindungan terhadap penurunan kupon di bawah batas awal sekaligus peluang peningkatan imbal hasil ketika suku bunga acuan naik.

Namun, kenaikan kupon tidak terjadi setiap kali BI Rate berubah. Penyesuaian dilakukan pada periode yang ditentukan dalam ketentuan penerbitan, sehingga investor perlu memperhatikan tanggal efektif penyesuaiannya.

Kupon ST017 Tertinggi Sejak 2019, tetapi Bukan Tanpa Kekurangan

Tingkat imbal hasil awal ST017 menjadi salah satu yang paling tinggi dalam penerbitan Sukuk Tabungan beberapa tahun terakhir.

Menurut data historis yang dihimpun Bareksa, kupon minimal ST017 sebesar 6,95%–7,05% merupakan tingkat awal tertinggi sejak penerbitan ST005 pada Agustus 2019 yang menawarkan imbal hasil 7,40%.

Dibandingkan ST016 yang diterbitkan pada Mei 2026, kupon minimal awal ST017 lebih tinggi masing-masing 0,90 poin persentase untuk tenor dua tahun dan 0,80 poin persentase untuk tenor empat tahun.

Namun, perbandingan tersebut berlaku terhadap kupon awal kedua seri. Karena ST016 juga menggunakan mekanisme kupon mengambang, tingkat imbalan yang berjalan dapat berbeda dari batas minimal ketika pertama kali ditawarkan.

Di sisi lain, investor perlu memperhatikan keterbatasan likuiditas ST017.

Instrumen ini tidak dapat diperjualbelikan di pasar sekunder. Artinya, investor tidak bisa menjual kepemilikannya sewaktu-waktu seperti obligasi yang dapat diperdagangkan.

Pemerintah memang menyediakan fasilitas early redemption atau pencairan sebagian pokok sebelum jatuh tempo.

Namun, jumlah yang dapat dicairkan dibatasi maksimal 50% dari setiap transaksi pembelian, dengan persyaratan kepemilikan minimum dan periode pengajuan tertentu.

Karena itu, ST017 lebih sesuai untuk dana yang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat daripada dana darurat yang harus tersedia kapan saja.

Pembayaran pokok dan imbalan ST017 merupakan kewajiban pemerintah berdasarkan ketentuan penerbitan SBSN. Meski demikian, investor tetap menghadapi risiko likuiditas dan risiko penurunan daya beli apabila inflasi melampaui imbalan bersih yang diterima.

Cara Membeli ST017 dan Jadwal Penawaran

Pemerintah membuka penawaran ST017 mulai Jumat, 6 November 2026 hingga Rabu, 2 Desember 2026.

Penetapan hasil penjualan dijadwalkan pada 7 Desember 2026, sedangkan setelmen atau penerbitan pada 9 Desember 2026.

Investor ritel dapat membeli ST017 melalui mitra distribusi resmi yang ditunjuk pemerintah, baik bank, perusahaan sekuritas, maupun platform investasi digital.

Beberapa mitra distribusi yang melayani penjualan SBN ritel antara lain BCA (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), BRI (BBRI), BNI (BBNI), Bank Danamon (BDMN), Bank Permata (BNLI), Bareksa, Bibit, Ajaib Sekuritas, dan tanamduit.

Proses pembelian secara umum dilakukan melalui registrasi akun SBN, pemesanan seri dan nominal investasi, penerimaan kode pembayaran, serta penyelesaian pembayaran sebelum batas waktu yang ditetapkan.

Setelah pembayaran berhasil dan setelmen dilaksanakan, kepemilikan ST017 akan dicatat melalui sistem penatausahaan surat berharga negara.

Pada awal masa penawaran, data yang dikutip dari platform Bibit sekitar pukul 09.37 WIB menunjukkan penjualan ST017-T2 mencapai Rp40 miliar dan ST017-T4 sekitar Rp60 miliar.

Dengan demikian, total pemesanan kedua seri telah mencapai sekitar Rp100 miliar pada periode awal pembukaan. Angka tersebut bersifat sementara dan dapat berubah seiring berlangsungnya masa penawaran.

Bagi investor, tingkat imbal hasil minimal 6,95%–7,05% memberikan peluang memperoleh pendapatan bulanan dengan perlindungan batas minimal kupon. Namun, keputusan memilih ST017-T2 atau ST017-T4 tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan penggunaan dana dan kemampuan menahan investasi hingga jatuh tempo.