Emiten tambang tembaga dan emas PT Amman Mineral Internasional Tbk tengah berpacu dengan waktu menjelang berakhirnya masa relaksasi izin ekspor konsentrat tembaga pada April 2026.
Relaksasi tersebut diberikan pemerintah setelah fasilitas smelter perusahaan mengalami kondisi kahar (force majeure) pada Juli 2025 yang menyebabkan operasional pemurnian tembaga sempat dihentikan sementara.
Fokus Perbaikan Smelter
Vice President Corporate Communications PT Amman Mineral Internasional Tbk, Kartika Octaviana, menyampaikan bahwa perusahaan saat ini masih berupaya menyelesaikan berbagai kendala teknis pada fasilitas pemurnian.
Menurutnya, perbaikan tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan mandat hilirisasi mineral yang ditetapkan pemerintah.
“Kami terus berupaya menyelesaikan berbagai kendala teknis yang ada. Kita lihat sampai akhir April nanti, semoga semuanya lancar sesuai amanat pemerintah,” ujarnya di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Hingga kini, perusahaan belum memberikan sinyal terkait kemungkinan pengajuan perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat kepada pemerintah.
Manajemen menegaskan bahwa fokus utama perusahaan saat ini adalah memaksimalkan perbaikan dan peningkatan kapasitas smelter, bukan berspekulasi mengenai pengajuan izin ekspor baru.
Operasional Smelter Mulai Pulih
Meski sempat menghadapi gangguan teknis, fasilitas pemurnian tembaga AMMN dilaporkan mulai kembali beroperasi secara parsial sejak Januari 2026.
Perusahaan saat ini secara bertahap meningkatkan kapasitas produksi smelter sambil melakukan penyempurnaan operasional.
Kartika mengakui bahwa mengoperasikan fasilitas pemurnian tembaga dalam skala besar bukan hal yang mudah, terutama karena adanya elemen teknis baru seperti pengolahan sulfur yang perlu dikelola secara optimal.
“Ekspertis kami sebenarnya di tambang, bukan di smelter. Jadi kami sambil belajar juga dalam proses perbaikan ini agar ramp-up dapat berjalan sesuai ekspektasi,” ujarnya.
Manajemen berencana mengungkapkan lebih rinci realisasi produksi serta target operasional setelah masa relaksasi ekspor berakhir dalam laporan kinerja perusahaan yang dijadwalkan rilis pada akhir Maret 2026.
2026 Diproyeksikan Jadi Titik Balik Kinerja
Dalam laporan riset terbaru, analis dari Phintraco Sekuritas menilai kinerja AMMN pada 2025 masih berada dalam tekanan.
Pendapatan perusahaan diperkirakan hanya mencapai sekitar US$1,14 miliar pada 2025, atau turun sekitar 57% secara tahunan. Penurunan tersebut dipicu oleh rendahnya volume produksi pada tahap awal pengembangan Fase 8 di Tambang Batu Hijau.
Tambang Tambang Batu Hijau di Nusa Tenggara Barat merupakan aset utama AMMN yang saat ini memasuki fase eksplorasi baru setelah selesainya Fase 7 pada akhir 2024.
Meski demikian, terdapat indikasi perbaikan bertahap sepanjang 2025. Aktivitas produksi dan pengapalan mulai meningkat sejak kuartal pertama hingga kuartal ketiga tahun lalu.
Memasuki 2026, AMMN diperkirakan memasuki fase pemulihan yang lebih kuat seiring normalisasi produksi di Batu Hijau.
Jika fase produksi telah stabil, volume penjualan diproyeksikan meningkat sekaligus menurunkan biaya produksi per unit melalui efisiensi penyerapan biaya tetap.
“Tahun fiskal 2026 berpotensi menjadi titik balik bagi AMMN,” tulis analis Phintraco dalam riset yang dipublikasikan pada pertengahan Februari 2026.
Dengan kombinasi pemulihan produksi tambang dan optimalisasi smelter, kinerja AMMN berpotensi kembali membaik setelah melewati periode transisi yang menekan kinerja pada 2025.
0 Komentar