Ketidakpastian geopolitik global dan tekanan inflasi kembali menempatkan emas sebagai salah satu aset lindung nilai utama. PT Hartadinata Abadi Tbk mencatat adanya peningkatan minat masyarakat terhadap logam mulia, baik sebagai instrumen investasi maupun sarana menabung jangka panjang di tengah gejolak pasar keuangan.
Direktur Investor Relations perusahaan dengan kode saham HRTA, Thendra Crisnanda, mengatakan emas tetap menjadi pilihan stabil ketika berbagai instrumen ekonomi menghadapi tekanan.
“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, seperti konflik geopolitik maupun tekanan inflasi, masyarakat cenderung melihat emas sebagai sarana menabung nilai yang relatif stabil. Kami melihat minat terhadap kepemilikan emas tetap kuat, baik dari masyarakat maupun institusi,” ujar Thendra dalam keterangan resmi, Selasa (10/3/2026).
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada awal Maret turut mendorong lonjakan harga emas global.
Sepanjang Februari 2026, harga rata-rata emas dunia tercatat mencapai sekitar US$5.015 per ounce, atau setara dengan Rp2,71 juta per gram, naik sekitar 17% secara tahunan.
Sementara itu di pasar domestik, harga HRTA Gold per 10 Maret 2026 pukul 08.40 WIB tercatat menyentuh Rp2.893.000 per gram. Kenaikan harga ini juga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang dinilai berada dalam kondisi undervalued.
Faktor Musiman Dorong Permintaan
Selain faktor global, peningkatan permintaan emas di Indonesia juga didorong oleh momentum musiman. Perayaan Tahun Baru Imlek yang berdekatan dengan Ramadan dan Idulfitri biasanya mendorong kenaikan pembelian emas.
Tradisi masyarakat membeli emas sebagai hadiah maupun simpanan keluarga menjelang hari besar keagamaan turut meningkatkan volume transaksi logam mulia.
“Menjelang Ramadan dan Idulfitri biasanya terjadi peningkatan aktivitas pembelian emas. Selain sebagai hadiah, masyarakat juga semakin melihat emas sebagai salah satu cara menabung untuk menjaga nilai aset dalam jangka panjang,” jelas Thendra.
Dukungan Regulasi Perkuat Ekosistem Emas
Dari sisi kebijakan, pemerintah juga mulai memperkuat ekosistem industri emas nasional. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain:
- Penurunan tarif PPh 22 transaksi emas batangan ritel menjadi 0,25%
- Penerapan bea ekspor produk emas sebesar 7,5–12,5% untuk menjaga pasokan domestik
- Penambahan cadangan emas nasional oleh Bank Indonesia
Data terbaru menunjukkan cadangan emas Indonesia mencapai sekitar 85 ton pada akhir 2025.
Proyeksi Harga Emas Masih Positif
Prospek harga emas juga didukung oleh pandangan sejumlah lembaga keuangan global. Goldman Sachs memproyeksikan harga emas dapat mencapai sekitar US$5.400 per ounce pada 2026.
Sementara itu, JPMorgan Chase bahkan memprediksi harga emas berpotensi mencapai US$6.000 per ounce dalam jangka panjang.
Proyeksi tersebut didorong oleh kekhawatiran terhadap penurunan nilai mata uang global serta meningkatnya permintaan emas dari bank sentral berbagai negara.
Dengan kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter global, serta momentum permintaan domestik menjelang Ramadan, emas diperkirakan akan tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang diminati masyarakat sebagai safe haven dalam jangka panjang.

0 Komentar