PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. (ROTI), produsen Sari Roti, mulai menggeser strategi bisnisnya ke arah yang lebih efisien dan bernilai tambah. Emiten ini berencana merambah industri pakan ternak dengan memanfaatkan limbah roti sebagai bahan baku utama.
Langkah ini terlihat sederhana, tetapi sebenarnya mencerminkan perubahan arah bisnis: dari sekadar produsen makanan, menjadi pemain yang mulai mengoptimalkan ekonomi sirkular (circular economy).
Di tengah tekanan kinerja dan kompetisi industri roti, strategi ini patut dicermati investor.
Masuk Bisnis Pakan Ternak, Ubah Limbah Jadi Produk Baru
ROTI berencana menambah kegiatan usaha baru melalui KBLI 10801 (industri ransum makanan hewan). Nantinya, roti yang tidak terjual akan diolah menjadi:
- Tepung pakan ternak
- Produk ransum berbasis limbah roti
- Diproduksi secara mandiri di fasilitas khusus
Strategi ini punya dua tujuan utama:
- Mengurangi waste (limbah produksi)
- Menciptakan sumber pendapatan baru
Menariknya, langkah ini tidak akan mengganggu bisnis utama yang tetap fokus pada produksi dan distribusi roti.
Kenapa Bisnis Ini Menarik? Potensi Industri Pakan Ternak
Industri pakan ternak di Indonesia masih punya prospek yang kuat, didorong oleh:
- Pertumbuhan populasi unggas
- Kebutuhan pakan nasional yang terus meningkat
- Ketergantungan tinggi pada bahan baku impor
Beberapa bahan baku utama pakan seperti:
- Jagung
- Gandum
- Soybean meal
masih sangat bergantung pada impor. Di sinilah peluang muncul.
👉 Tepung dari limbah roti bisa menjadi alternatif bahan baku yang lebih murah dan lokal.
Artinya, ROTI tidak hanya masuk bisnis baru, tetapi juga masuk ke sektor yang memiliki gap supply-demand.
Kontribusi Masih Kecil, Tapi Strategis
Berdasarkan proyeksi awal:
- Kontribusi pendapatan: ±1,1% dari total revenue
Sekilas terlihat kecil. Namun, secara strategis ini penting karena:
1. Monetisasi limbah
Produk yang sebelumnya tidak menghasilkan kini bisa jadi sumber pendapatan.
2. Perbaikan margin jangka panjang
Jika limbah bisa diolah, biaya write-off bisa ditekan.
3. Diversifikasi bisnis
ROTI tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasar roti yang kompetitif.
Risiko & Tantangan Eksekusi
Meski menarik, ada beberapa hal yang perlu dicermati:
1. Skala bisnis masih awal
Kontribusi 1,1% menunjukkan ini masih fase pilot project.
2. Kompetisi industri pakan cukup ketat
Pemain besar sudah mapan dengan skala ekonomi kuat.
3. Eksekusi operasional
Butuh:
- Fasilitas produksi baru
- SDM kompeten
- Perizinan industri
ROTI menargetkan izin dari Kementerian Perindustrian selesai pada 2026 sebelum operasional dimulai.
Analisis: Strategi Efisiensi atau Sinyal Tekanan Bisnis?
Langkah ROTI ini bisa dibaca dari dua sudut pandang:
Sisi positif:
- Inovasi berbasis efisiensi
- Pemanfaatan limbah jadi nilai tambah
- Masuk ke sektor dengan demand tinggi
Sisi konservatif:
- Kontribusi masih kecil
- Bisa jadi respons atas tekanan margin di bisnis inti
- Diversifikasi belum tentu langsung berdampak signifikan
Kesimpulan analitik:
Ekspansi ke pakan ternak bukan game changer dalam jangka pendek, tetapi
merupakan langkah strategis yang cerdas untuk memperbaiki efisiensi dan membuka
potensi bisnis baru.
Jika berhasil diskalakan, model ini bisa menjadi engine margin baru bagi ROTI. Namun dalam jangka dekat, dampaknya masih terbatas dan lebih bersifat eksperimental.
0 Komentar