PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan kinerja sepanjang 2025. Setelah sempat tertekan oleh beban utang dan tekanan arus kas, emiten konstruksi pelat merah ini perlahan membangun fondasi baru—lebih selektif, lebih efisien, dan lebih fokus pada bisnis inti.
Dari lonjakan kontrak baru hingga perbaikan margin, arah strategi WSKT kini terlihat semakin terukur. Namun, apakah ini cukup menjadi sinyal turnaround yang solid?
Kontrak Baru Melonjak, Strategi Lebih Selektif
WSKT mencatat Nilai Kontrak Baru (NKB) sebesar Rp12,52 triliun pada 2025, naik signifikan dibandingkan Rp9,55 triliun pada 2024.
Kenaikan ini bukan sekadar angka, melainkan hasil dari perubahan strategi bisnis:
- Fokus pada proyek pemerintah (irigasi, Sekolah Rakyat, RSUD)
- Selektif terhadap proyek dengan skema pembayaran bulanan (monthly payment)
- Menghindari proyek turnkey yang berisiko tinggi terhadap arus kas
Pendekatan ini penting. Selama ini, salah satu masalah utama kontraktor BUMN adalah mismatch cash flow akibat proyek turnkey—biaya keluar di awal, pembayaran datang belakangan.
Dengan strategi baru ini, WSKT mencoba mengunci risiko sejak awal proyek.
Pendapatan Masih Tertekan, Tapi Margin Mulai Pulih
Dari sisi operasional, WSKT membukukan:
|
Kinerja 2025 |
Nilai |
|
Pendapatan |
Rp8,85 triliun |
|
Beban Pokok |
Rp7,2 triliun |
|
Laba Bruto |
Rp1,58 triliun |
|
Gross Profit Margin |
18% |
Kontribusi pendapatan per segmen:
- Konektivitas: Rp3,3 triliun
- Sumber Daya Air: Rp1,4 triliun
- Gedung: Rp1,2 triliun
- Lainnya: Rp0,9 triliun
Yang menarik bukan hanya angka pendapatan, tetapi kualitas profitabilitas:
- Laba bruto naik 12% YoY
- Margin naik dari 13% → 18%
Artinya, meski pendapatan belum melonjak drastis, WSKT berhasil menghasilkan keuntungan lebih efisien dari setiap proyek.
Efisiensi & AI Jadi Kunci Perbaikan Kinerja
Perbaikan margin tidak datang secara kebetulan. WSKT mulai menerapkan efisiensi berbasis sistem:
- Implementasi lean organization
- Pemanfaatan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI)
- Penggunaan Waskita Intelligent Sensing System (WISENS)
Dampaknya cukup konkret:
- Proses inspeksi jalan tol bisa dipercepat hingga 40%
- Efisiensi biaya operasional meningkat
- Produktivitas proyek lebih terukur
Ini menjadi sinyal penting bahwa transformasi WSKT tidak hanya finansial, tetapi juga operasional.
Utang Turun & Divestasi Jadi Game Changer
Salah satu isu terbesar WSKT selama beberapa tahun terakhir adalah beban liabilitas yang tinggi. Pada 2025, mulai terlihat progres:
- Liabilitas turun Rp2,21 triliun
- Fokus pada divestasi aset non-inti
Aksi korporasi yang sudah dilakukan:
- Divestasi 94,7% PT Waskita Sangir Energi
- Pelepasan 35% PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT)
- Divestasi 20% PT Waskita Modern Realty
Strategi ini jelas:
➡️
Mengurangi utang
➡️
Mengembalikan fokus sebagai kontraktor murni
Di saat yang sama, WSKT juga menargetkan penyelesaian restrukturisasi utang besar:
- Total restrukturisasi: Rp31,65 triliun
- Melibatkan 22 kreditur perbankan
- Fokus pada penyelesaian MRA & KMKP
Analisis: Apakah WSKT Sudah di Jalur Turnaround?
Secara fundamental, ada tiga sinyal kuat yang mulai terlihat:
1. Perbaikan kualitas proyek
WSKT tidak lagi mengejar volume, tapi kualitas kontrak dan arus kas.
2. Profitabilitas mulai pulih
Margin naik signifikan menunjukkan efisiensi mulai bekerja.
3. Deleveraging berjalan
Penurunan utang dan divestasi aset menjadi fondasi penting untuk jangka
panjang.
Namun, tantangan masih besar:
- Pendapatan belum sepenuhnya pulih
- Restrukturisasi utang masih berlangsung
- Ketergantungan pada proyek pemerintah cukup tinggi
Kesimpulannya:
WSKT belum sepenuhnya pulih, tetapi arah perbaikannya sudah jelas. Jika
disiplin strategi ini konsisten dijalankan, peluang turnaround terbuka—meski
belum sepenuhnya aman untuk jangka pendek.
0 Komentar