FlashNews

8/recent/ticker-posts

10 Reksa Dana Pasar Uang Terbaik di Bibit (Mei 2026): Return 4,6–5% Saat IHSG Anjlok 29% YTD

Daftar Isi [Tampilkan]

 


Di tengah koreksi tajam IHSG yang sudah memangkas hampir 30% nilai pasar saham sejak awal 2026, reksa dana pasar uang tetap mencetak return setahun 4,6–5,03% dengan drawdown maksimum hanya -0,06%.

Berikut 10 produk dengan kinerja terbaik yang dijual lewat aplikasi Bibit, plus analisis kenapa instrumen ini menjadi pelabuhan yang masuk akal sekarang.

 

Pasar yang Berdarah, Pasar Uang yang Tenang


Mei 2026 akan dikenang sebagai bulan yang berat untuk pasar modal Indonesia. IHSG terkoreksi hampir 30% sepanjang tahun, sempat menyentuh level terendah 5.966 — terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Rupiah melemah ke kisaran Rp17.000–17.800 per dolar AS. Bank Indonesia akhirnya menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin ke 5,25% dalam Rapat Dewan Gubernur 19–20 Mei 2026, kenaikan pertama dalam dua tahun terakhir.

Pemicunya kombinasi: konflik Iran–AS, blokade Selat Hormuz yang mengerek harga minyak di atas USD 100 per barel, plus efek rebalancing indeks MSCI yang memicu foreign outflow besar dari emerging markets.

Bagi investor yang portofolionya berisi saham, ini periode yang menyakitkan. Tapi bagi pemegang reksa dana pasar uang, periode yang sama nyaris tidak terasa apa-apa — dalam arti baik. Saat IHSG terkoreksi puluhan persen, instrumen ini bergerak datar di lintasannya: naik perlahan dan konsisten, tanpa goncangan.

Ini bukan kebetulan. Reksa dana pasar uang dirancang sebagai instrumen low risk yang menempatkan portofolionya pada deposito perbankan, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), surat berharga jangka pendek di bawah satu tahun, dan obligasi berkupon tetap dengan sisa tenor pendek. Tidak ada eksposur pada saham. Volatilitas harganya sangat rendah karena tidak ada mark-to-market signifikan terhadap nilai aktiva bersih.

 

Data Kinerja 10 Reksa Dana Pasar Uang Teratas di Bibit

Berikut daftar 10 reksa dana pasar uang dengan return setahun terbaik yang dijual lewat platform Bibit, diurutkan berdasarkan kinerja 1 tahun:

#

Produk Reksa Dana

1 Bulan

YTD

1 Tahun

3 Tahun

5 Tahun

Drawdown 1Y

AUM

1

Majoris Pasar Uang Indonesia

0,33%

1,83%

5,03%

15,65%

25,13%

0,00%

Rp 116,78 M

2

Avrist Ada Kas Mutiara

0,34%

1,73%

4,99%

16,29%

24,37%

-0,02%

Rp 305,73 M

3

Sucorinvest Money Market Fund

0,28%

1,66%

4,86%

15,36%

25,51%

0,00%

Rp 12,05 T

4

Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia

0,30%

1,76%

4,83%

15,71%

25,52%

0,00%

Rp 2,34 T

5

Bahana Likuid Plus

0,33%

1,76%

4,83%

15,81%

23,67%

0,00%

Rp 2,06 T

6

Trimegah Kas Syariah

0,32%

1,64%

4,72%

15,62%

24,17%

0,00%

Rp 2,25 T

7

Bahana Likuid Syariah Kelas G

0,30%

1,64%

4,67%

15,38%

22,44%

0,00%

Rp 1,45 T

8

TRIM Kas 2 Kelas A

0,31%

1,62%

4,65%

15,50%

24,46%

0,00%

Rp 11,92 T

9

BRI Seruni Pasar Uang III

0,22%

1,57%

4,65%

15,53%

23,19%

-0,01%

Rp 3,75 T

10

BRI Seruni Pasar Uang Syariah

0,21%

1,49%

4,60%

15,77%

23,62%

-0,06%

Rp 2,05 T

Sumber data: Aplikasi Bibit, posisi Mei 2026.

 

Lima Temuan Penting dari Data Ini

1. Spread return sangat tipis — bukti kompetisi yang sehat

Selisih antara produk terbaik (Majoris PUI di 5,03%) dengan produk terbawah dalam daftar ini (BRI Seruni Pasar Uang Syariah di 4,60%) hanya 0,43 poin persentase. Artinya, hampir semua manajer investasi dengan kapabilitas pasar uang yang kompeten mencetak kinerja yang relatif setara. Ini sinyal sehat: tidak ada satu produk yang jauh meninggalkan yang lain karena keberuntungan tertentu, dan tidak ada juga produk yang tertinggal jauh karena pengelolaan buruk.

Implikasinya untuk investor: jangan terobsesi mengejar selisih 0,1–0,3 poin persentase saja. Faktor lain seperti AUM, kemudahan transaksi, dan reputasi manajer investasi lebih relevan.

 

2. Drawdown nyaris nol — definisi instrumen stabil

Tujuh dari sepuluh produk mencatat drawdown setahun 0,00%, sementara tiga sisanya hanya mencatat -0,01% hingga -0,06%. Sebagai pembanding: IHSG sepanjang 2026 terkoreksi 29%, dan obligasi pemerintah jangka panjang juga tertekan oleh kenaikan BI Rate.

Inilah karakter unik reksa dana pasar uang. Nilai aktiva bersihnya bergerak naik nyaris seperti garis lurus. Bukan karena tidak ada risiko sama sekali, melainkan karena profil aset yang ditampungnya, deposito dan surat berharga jangka sangat pendek, tidak punya volatilitas harga signifikan.

 

3. Konsisten di horizon 3 tahun dan 5 tahun

Lihat kolom 3 tahun: semua produk berada di rentang 15,36–16,29%, atau sekitar 5% per tahun secara compounded. Konsistensi semacam ini mustahil dicapai oleh instrumen yang punya volatilitas tinggi. Reksa dana saham bisa kasih 30% di satu tahun, lalu -25% di tahun berikutnya. Pasar uang tidak begitu, kasih sekitar 4,5–5% setiap tahun, naik-turunnya kecil sekali.

Buat investor yang butuh kepastian, misalnya untuk dana darurat, dana DP rumah dalam 1–2 tahun, atau dana liburan akhir tahun, konsistensi seperti ini lebih berharga daripada return tinggi dengan deviasi besar.

 

4. Produk syariah kompetitif, tidak kalah dari konvensional

Empat dari sepuluh produk teratas adalah versi syariah: Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia (4,83%), Trimegah Kas Syariah (4,72%), Bahana Likuid Syariah Kelas G (4,67%), dan BRI Seruni Pasar Uang Syariah (4,60%). Return-nya hanya selisih beberapa puluh basis poin dari versi konvensional. Buat investor yang prinsipnya sesuai dengan akad syariah, sekarang bukan lagi soal "kompromi return demi prinsip," kompetisinya nyaris seimbang.

 

5. AUM raksasa di puncak daftar — bukti kepercayaan pasar

Dua produk dengan AUM terbesar dalam daftar adalah Sucorinvest Money Market Fund (Rp 12,05 triliun) dan TRIM Kas 2 Kelas A (Rp 11,92 triliun). Keduanya tetap mencetak return kompetitif meski mengelola dana raksasa. Ini menarik karena di banyak kelas aset, AUM yang terlalu besar sering membatasi fleksibilitas manajer investasi. Di pasar uang, hal itu kurang terasa karena instrumen yang diburu (deposito, SBI, surat berharga jangka pendek) cukup likuid untuk diserap dalam volume besar.

AUM besar juga berarti likuiditas yang lebih baik saat kamu mau menjual unit penyertaan. Penjualan tidak akan menggoyang harga karena dananya cukup dalam.

 

Reksa Dana Pasar Uang vs Deposito Bank: Adu Angka Praktis

Pertanyaan klasik: kenapa harus susah-susah masuk ke reksa dana pasar uang kalau bisa langsung deposito? Jawabannya ada di angka.

Per Mei 2026, suku bunga deposito bank besar (BRI, BNI, Mandiri) untuk tenor 1 bulan berkisar 3,25–3,35%, dan 3,50% untuk tenor 3 bulan. Bunga deposito tenor 6 bulan ke atas malah turun ke 3,00%. Plus, bunga deposito masih dipotong PPh final 20%. Net return riil yang kamu terima di kisaran 2,4–2,8% per tahun.

Reksa dana pasar uang dalam daftar ini memberikan 4,60–5,03% gross setahun. Pajaknya berbeda mekanisme — keuntungan reksa dana bukan objek pajak final, melainkan terkonsolidasi dalam SPT tahunan (untuk wajib pajak orang pribadi, capital gain dari reksa dana tidak dipotong pajak di sumber, namun perlu dilaporkan).

Lebih dari sekadar return, ada empat keunggulan praktis lain:

  • Likuiditas harian. Mau cairkan kapan saja, tanpa penalti, biasanya cair 1–3 hari kerja. Deposito kalau cair sebelum jatuh tempo kena pinalti yang sering menyapu habis bunganya.
  • Modal awal kecil. Mulai dari Rp10.000 di banyak produk. Deposito minimal Rp1 juta–Rp10 juta tergantung bank.
  • Tidak terikat tenor. Tidak ada konsep "deposito 6 bulan" atau "12 bulan". Uangmu bekerja terus, dan kamu bisa keluar kapan saja.
  • Otomatis compounding. Bunga tidak ditransfer ke rekening lain — langsung menumpuk di unit penyertaan, sehingga keuntungan berikutnya dihitung dari saldo yang sudah membesar.

Kelemahan: tidak ada jaminan LPS. Tapi reksa dana pasar uang berkualitas yang dikelola manajer investasi besar dengan underlying terdiversifikasi (banyak bank, banyak surat berharga) sangat jarang mengalami gagal bayar. Drawdown nyaris nol dalam daftar di atas adalah buktinya.

 

Cara Memilih Reksa Dana Pasar Uang: Lima Kriteria Praktis

Karena selisih return antar produk sangat tipis, faktor pembedanya lebih ke kualitas pengelolaan. Pertimbangkan lima kriteria berikut:

AUM (Aset Under Management) yang sehat

AUM minimal Rp 1 triliun memberikan kenyamanan likuiditas. Produk di bawah angka itu masih layak, tapi kamu perlu lebih jeli mengecek konsistensi historisnya. Dari daftar di atas, semua produk kecuali Majoris Pasar Uang Indonesia dan Avrist Ada Kas Mutiara berada di atas Rp 1 triliun.

Konsistensi kinerja jangka panjang

Lihat return 3 tahun dan 5 tahun, bukan hanya 1 tahun. Produk yang konsisten di antara 15–16% (untuk 3 tahun) dan 23–26% (untuk 5 tahun) menunjukkan pengelolaan yang stabil. Hindari produk yang punya satu tahun spektakuler tapi tertinggal di periode lain — itu sering tanda chasing yield yang riskan.

Drawdown minimal

Ini metrik penurunan terdalam dari titik puncak dalam periode tertentu. Reksa dana pasar uang yang berkualitas seharusnya punya drawdown sangat dekat dengan 0%. Kalau ada produk yang mencatat drawdown -0,5% atau lebih dalam periode normal, itu sinyal bahwa pengelolanya mengambil risiko yang lebih besar daripada yang seharusnya untuk kelas aset ini.

Manajer investasi yang kredibel

Nama-nama seperti Sucorinvest, Bahana, Trimegah, Majoris, BRI MI, dan Avrist sudah punya jejak panjang di industri. Untuk reksa dana pasar uang, kredibilitas manajer investasi lebih penting daripada inovasi produk — yang dibutuhkan adalah disiplin dan manajemen risiko, bukan kreativitas.

Biaya pengelolaan

Periksa expense ratio di prospektus. Biaya pengelolaan dan biaya bank kustodian seharusnya berada di bawah 1% per tahun. Lebih dari itu, return bersihmu akan tergerus signifikan.

 

Strategi Pakai Reksa Dana Pasar Uang Saat Pasar Bergejolak

Ada tiga skenario praktis di mana instrumen ini bersinar terang di tengah pasar 2026 yang labil:

1. Dana darurat yang produktif

Idealnya dana darurat setara 3–12 bulan pengeluaran. Kalau ditaruh di tabungan biasa, return-nya nyaris nol setelah inflasi. Di reksa dana pasar uang, dana darurat tetap likuid (bisa dicairkan dalam 1–3 hari kerja) tapi tetap memberikan 4,6–5% per tahun. Inflasi Indonesia di kisaran 2,5–3% — artinya dana daruratmu setidaknya tetap tumbuh secara riil, tidak tergerus harga.

2. Parking sementara sambil menunggu peluang

Investor yang siap masuk lagi ke saham saat IHSG benar-benar memberikan sinyal bottom (atau ke SBN saat yield naik dan kemudian turun) butuh tempat parkir yang aman, likuid, dan tetap produktif. Pasar uang ideal untuk peran ini. Saat sinyal muncul, kamu bisa switch ke kelas aset lain dalam hitungan hari kerja tanpa terkena penalti.

3. Stabilisator portofolio

Bahkan untuk investor agresif, alokasi 10–20% di pasar uang membantu menstabilkan kurva ekuitas portofolio. Di tahun seperti 2026 ini, alokasi tersebut akan menyelamatkan banyak peace of mind. Saat kamu lihat porsi sahammu turun 25%, melihat pasar uang masih hijau 4–5% mengurangi tekanan psikologis untuk panic selling.

 

Cara Membeli Reksa Dana Pasar Uang di Bibit

Pembelian sangat sederhana lewat aplikasi Bibit:

  1. Buka aplikasi Bibit, masuk ke menu "Reksa Dana".
  2. Filter kategori "Pasar Uang".
  3. Pilih produk dari daftar di atas, atau urutkan berdasarkan return 1 tahun untuk melihat ranking terbaru.
  4. Ketuk produk, baca prospektus singkat dan fund fact sheet.
  5. Ketuk "Beli", masukkan nominal (minimum bervariasi per produk, banyak yang mulai dari Rp 10.000–Rp 100.000).
  6. Pilih metode pembayaran (GoPay, ShopeePay, virtual account, RDN Jago, dan lain-lain).
  7. Konfirmasi. Unit penyertaan akan masuk ke portofoliomu dalam 1–2 hari kerja.

Buat yang belum punya akun Bibit, kamu bisa mendaftar dan mendapat saldo cashback Rp25.000 dengan menggunakan kode referral RECEHIN saat registrasi. Detail caranya bisa kamu baca di artikel khusus tentang KodeReferral Bibit RECEHIN.

Posting Komentar

0 Komentar