Suku bunga acuan sedang naik, dan itu kabar baik bagi investor reksa dana pasar uang. Sejak Mei 2026, Bank Indonesia sudah tiga kali menaikkan BI-Rate hingga ke level 5,75 persen untuk menjaga rupiah yang tertekan melewati Rp18.000 per dolar AS. Sejumlah ekonom bahkan memperkirakan kenaikan lanjutan pada paruh kedua tahun ini.
- Seluruh produk di daftar ini bisa dibeli mulai Rp10.000, tanpa biaya pembelian maupun penjualan, dan berisiko rendah.
- Per Juli 2026, Majoris Pasar Uang Indonesia memimpin kinerja 1 tahun reksa dana pasar uang di Bibit dengan return 4,86%.
- Jika efisiensi biaya masuk hitungan, Avrist Ada Kas Mutiara (return 4,80%, expense ratio hanya 0,55%) bisa dibilang pilihan paling rasional untuk jangka panjang.
Bagi kamu yang parkir dana di reksa dana pasar uang, tren ini berarti satu hal: imbal hasil instrumen di dalamnya — deposito dan surat utang jangka pendek — ikut terkerek. Return 1 tahun yang saat ini berkisar 4,2–4,9 persen berpotensi lebih gurih ke depan.
Pertanyaannya, produk mana yang layak dipilih? Investor Receh menyisir data di platform Bibit per 19 Juli 2026, mengurutkan seluruh reksa dana pasar uang yang dijual di sana berdasarkan kinerja 1 tahun, lalu membedah halaman detail tiap produk — termasuk expense ratio, biaya yang sering luput dari perhatian padahal langsung menggerus imbal hasil. Berikut sepuluh yang teratas.
10 Reksa Dana Pasar Uang dengan Return 1 Tahun Tertinggi di Bibit
|
# |
Reksa Dana |
1 Tahun |
3 Tahun |
5 Tahun |
Expense Ratio |
AUM |
|
1 |
Majoris Pasar Uang Indonesia |
4,86% |
15,56% |
24,91% |
1,58% |
Rp189,87 M |
|
2 |
Avrist Ada Kas Mutiara |
4,80% |
16,23% |
24,56% |
0,55% |
Rp379,14 M |
|
3 |
Bahana Likuid Plus |
4,76% |
15,86% |
23,87% |
2,28% |
Rp1,77 T |
|
4 |
Bahana Likuid Syariah Kelas G |
4,61% |
15,48% |
22,76% |
1,70% |
Rp1,46 T |
|
5 |
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia |
4,54% |
15,51% |
25,50% |
0,68% |
Rp2,41 T |
|
6 |
Sucorinvest Money Market Fund |
4,46% |
15,30% |
25,17% |
1,19% |
Rp10,99 T |
|
7 |
Trimegah Kas Syariah |
4,45% |
15,50% |
24,25% |
0,72% |
Rp2,48 T |
|
8 |
TRIM Kas 2 Kelas A |
4,40% |
15,39% |
24,36% |
0,72% |
Rp10,05 T |
|
9 |
BRI Seruni Pasar Uang III |
4,36% |
15,39% |
22,99% |
0,48% |
Rp2,59 T |
|
10 |
Sucorinvest Sharia Money Market Fund |
4,28% |
14,81% |
24,12% |
1,74% |
Rp7,33 T |
Sumber: Bibit, data per 19 Juli 2026 (NAV per 17 Juli 2026). Return sudah bersih dari biaya pengelolaan. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.
Seluruh produk di daftar ini bisa dibeli mulai Rp10.000, tanpa biaya pembelian maupun penjualan, dan berisiko rendah. Yang membedakan justru ada di balik layar: expense ratio-nya terentang dari 0,48% sampai 2,28% per tahun — selisih hampir lima kali lipat. Karena angka return di Bibit sudah bersih dari biaya, tabel ini menyimpan dua cerita menarik yang akan kita bedah di bawah.
Ulasan Singkat Tiap Produk
1. Majoris Pasar Uang Indonesia — Return 1 Tahun 4,86%
Juara di periode 1 tahun sekaligus yang paling konsisten dalam 12 bulan terakhir, dengan drawdown 0,00% alias nilai unitnya nyaris tidak pernah turun. Diluncurkan April 2016 dengan Bank Mandiri sebagai kustodian. Dua catatan: AUM Rp189,87 miliar tergolong mungil — dana kelolaan kecil membuat manajer investasi lincah mengejar deposito berbunga tinggi, tapi lebih sensitif terhadap penarikan dana besar — dan expense ratio 1,58% bukan yang termurah. Artinya, imbal hasil kotor portofolionya sebenarnya sangat tinggi untuk bisa tetap memimpin setelah dipotong biaya.
2. Avrist Ada Kas Mutiara — 4,80%
Inilah produk paling efisien di daftar ini. Expense ratio-nya hanya 0,55% — termurah kedua di daftar ini, hanya kalah tipis dari BRI Seruni III — dan return 3 tahunnya justru tertinggi: 16,23%. Kombinasi biaya rendah dan kinerja konsisten sejak era suku bunga tinggi 2023–2024 membuatnya sulit dicari tandingannya. Beroperasi sejak April 2017 dengan Standard Chartered sebagai bank kustodian. Kekurangannya sama dengan sang juara: AUM Rp379 miliar masih tergolong kecil.
3. Bahana Likuid Plus — 4,76%
Kebalikan dari Avrist: expense ratio 2,28% adalah yang termahal di daftar ini, tetapi return bersihnya tetap menempel ketat di posisi tiga. Matematikanya menarik — untuk memberi investor 4,76% setelah biaya 2,28%, portofolio Bahana TCW ini harus menghasilkan imbal hasil kotor sekitar 7% setahun, jauh di atas rata-rata bunga deposito. Kemampuan negosiasi bunga sebesar itu mengesankan, tapi biaya tinggi tetap jadi risiko: begitu keunggulan imbal hasil kotornya menipis, return bersih produk ini yang paling dulu tergerus. AUM Rp1,77 triliun, kustodian BCA.
4. Bahana Likuid Syariah Kelas G — 4,61%
Reksa dana syariah dengan return 1 tahun tertinggi di Bibit. Portofolionya berisi deposito syariah dan sukuk jangka pendek, dengan expense ratio 1,70% dan bank penampung Bank Jago. Produk termuda di daftar ini — baru diluncurkan Maret 2020 — tetapi langsung menempati papan atas. Untuk investor yang mencari produk sesuai prinsip syariah tanpa mengorbankan imbal hasil, ini kandidat terkuat saat ini.
5. Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia — 4,54%
Saudara syariah dari sang juara, dan dalam beberapa hal justru lebih menarik: return 5 tahunnya tertinggi di daftar (25,50%), expense ratio-nya jauh lebih murah (0,68% vs 1,58% versi konvensionalnya), dan AUM Rp2,41 triliun jauh lebih besar. Bagi yang ragu memilih antara dua produk Majoris, angka-angka ini bicara cukup jelas. Kustodian BNI, beroperasi sejak Januari 2018.
6. Sucorinvest Money Market Fund — 4,46%
Salah satu nama paling populer di kategori ini dengan AUM jumbo Rp10,99 triliun dan expense ratio moderat 1,19%. Return 1 tahunnya memang bukan yang teratas, tetapi produk yang berdiri sejak 2014 ini punya rekam jejak 10 tahun mencapai 73,91% — tertinggi di daftar, dan sinyal konsistensi lintas siklus suku bunga. Cocok untuk yang memprioritaskan skala dan sejarah panjang. Kustodian HSBC Indonesia.
7. Trimegah Kas Syariah — 4,45%
Alternatif syariah dari Trimegah AM yang diam-diam sangat efisien: expense ratio 0,72%, termasuk yang termurah di daftar ini. Kinerja 3 tahunnya solid (15,50%), drawdown nol, dan pergerakan NAV-nya termasuk yang paling mulus di kelasnya. Beroperasi sejak akhir 2016 dengan Bank Mandiri sebagai kustodian.
8. TRIM Kas 2 Kelas A — 4,40%
Veteran daftar ini: beroperasi sejak April 2008, paling tua di antara sepuluh besar, dan sudah melewati krisis global 2008, taper tantrum 2013, hingga pandemi. Kombinasinya lengkap — AUM Rp10,05 triliun (salah satu terbesar di Bibit), expense ratio kompetitif 0,72%, dan return 10 tahun 61,91%. Buat yang menimbang keandalan lintas siklus dengan biaya wajar, produk berkustodian DBS Indonesia ini pilihan yang sangat masuk akal.
9. BRI Seruni Pasar Uang III — 4,36%
Inilah produk termurah di seluruh daftar: expense ratio hanya 0,48%. Menariknya, biaya super rendah itu tidak serta-merta melontarkannya ke puncak — return bersihnya tetap di posisi sembilan, yang berarti imbal hasil kotor portofolionya memang moderat. Pelajaran penting: biaya murah memperbesar porsi return yang kamu terima, tapi tidak menciptakan return itu sendiri. Dikelola BRI Manajemen Investasi sejak 2010 dengan kustodian CIMB Niaga, kinerjanya stabil di semua periode meski return 10 tahunnya (54,71%) paling rendah di antara produk yang punya data 10 tahun.
10. Sucorinvest Sharia Money Market Fund — 4,28%
Versi syariah dari Sucorinvest MMF dengan AUM Rp7,33 triliun — reksa dana pasar uang syariah terbesar di daftar ini. Return 1 tahunnya paling rendah di antara sepuluh besar, dan dengan expense ratio 1,74% (termahal kedua setelah Bahana Likuid Plus), produk yang berdiri sejak 2018 ini kalah efisien dibanding sesama syariah seperti Majoris Syariah dan Trimegah Kas Syariah. Daya tariknya ada di skala dan nama besar Sucorinvest, bukan di angka.
Pelajaran dari Expense Ratio: Biaya Murah Bukan Segalanya, Tapi...
Data biaya tujuh produk di atas membongkar mitos bahwa produk terbaik pasti yang termurah — atau sebaliknya. Faktanya lebih bernuansa:
Avrist Ada Kas Mutiara membuktikan efisiensi menang dalam jangka panjang. Dengan biaya hanya 0,55%, hampir seluruh imbal hasil kotor portofolionya mengalir ke investor. Tidak heran return 3 tahunnya paling tinggi — keunggulan biaya rendah bersifat kumulatif dan pasti, sementara keunggulan imbal hasil kotor harus diperjuangkan ulang setiap tahun.
Bahana Likuid Plus membuktikan manajer hebat bisa menutupi biaya mahal — untuk sekarang. Return bersih 4,76% setelah biaya 2,28% berarti kinerja kotornya luar biasa. Tapi investor perlu jujur pada diri sendiri: kamu bertaruh keunggulan itu bertahan.
BRI Seruni III membuktikan biaya murah saja tidak cukup. Dengan expense ratio terendah di daftar (0,48%), return bersihnya tetap hanya di posisi sembilan. Biaya rendah memperbesar porsi yang sampai ke kantongmu, tapi tetap butuh portofolio yang menghasilkan. Yang ideal adalah kombinasi keduanya — dan di situlah Avrist unggul.
Produk syariah ternyata murah-murah. Majoris Syariah (0,68%) dan Trimegah Kas Syariah (0,72%) termasuk tiga termurah. Ditambah kinerja yang bersaing, argumen "syariah pasti kalah cuan" makin tidak relevan.
Aturan praktisnya: di antara dua produk dengan return historis mirip, pilih yang expense ratio-nya lebih rendah — itu satu-satunya komponen return yang bisa kamu pastikan sejak awal.
Kenapa Sekarang Momentum Reksa Dana Pasar Uang?
Ada tiga alasan angka-angka di atas berpotensi membaik dalam beberapa bulan ke depan:
Pertama, siklus suku bunga sedang naik. BI menaikkan BI-Rate dari 5,00% ke 5,75% hanya dalam dua bulan (Mei–Juni 2026) demi menstabilkan rupiah. Karena mayoritas isi portofolio reksa dana pasar uang adalah deposito dan surat utang bertenor di bawah setahun, kenaikan bunga acuan relatif cepat diteruskan ke imbal hasil produk — berbeda dengan reksa dana obligasi yang justru tertekan saat bunga naik.
Kedua, pasar masih memperkirakan kenaikan lanjutan. Sejumlah lembaga memproyeksikan BI-Rate bisa mencapai 6,25–6,50% hingga akhir 2026 selama tekanan terhadap rupiah berlanjut. Selama skenario itu berjalan, return berjalan (running yield) reksa dana pasar uang ikut terangkat.
Ketiga, volatilitas pasar saham dan obligasi masih tinggi. Di tengah ketidakpastian global dan pelemahan rupiah, reksa dana pasar uang berfungsi sebagai tempat parkir dana yang likuid — bisa dicairkan kapan saja tanpa penalti, tanpa pajak atas imbal hasil di sisi investor, dan tanpa gejolak harga berarti.
Cara Memilih: Jangan Cuma Lihat Return 1 Tahun
Urutan di atas berdasarkan return 1 tahun, tetapi angka itu sebaiknya bukan satu-satunya pertimbangan:
- Konsistensi lintas periode. Bandingkan return 1, 3, dan 5 tahun. Produk yang selalu ada di papan atas lebih meyakinkan daripada yang melesat setahun lalu tenggelam.
- Expense ratio. Seperti dibedah di atas, selisih biaya antarproduk bisa mencapai empat kali lipat, dan biaya rendah adalah satu-satunya keunggulan yang pasti berulang tiap tahun.
- Ukuran dana kelolaan (AUM). AUM besar berarti likuiditas pencairan lebih terjamin dan posisi tawar manajer investasi lebih kuat saat negosiasi bunga deposito. AUM kecil bisa menghasilkan return tinggi, tapi lebih rentan terhadap penarikan dana jumbo.
- Drawdown. Untuk kategori pasar uang, idealnya mendekati nol. Drawdown negatif (seperti -0,02% pada beberapa produk di atas) masih sangat kecil, tetapi patut dipantau.
- Kesesuaian prinsip. Empat produk syariah di daftar ini — dengan biaya yang justru termasuk termurah — membuktikan kamu tidak perlu berkompromi soal return untuk berinvestasi sesuai syariah.
Per Juli 2026, Majoris Pasar Uang Indonesia memimpin kinerja 1 tahun reksa dana pasar uang di Bibit dengan return 4,86%, tetapi jika efisiensi biaya masuk hitungan, Avrist Ada Kas Mutiara (return 4,80%, expense ratio hanya 0,55%) bisa dibilang pilihan paling rasional untuk jangka panjang.
Untuk yang memprioritaskan skala dan rekam jejak, Sucorinvest Money Market Fund dan TRIM Kas 2 Kelas A dengan AUM di atas Rp10 triliun tetap sulit diabaikan — apalagi TRIM Kas 2 menawarkan rekam jejak sejak 2008 dengan biaya hanya 0,72%. Sementara investor syariah punya dua kandidat kuat sekaligus murah: Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia dan Trimegah Kas Syariah.
Dengan BI-Rate di 5,75% dan berpeluang naik lagi, reksa dana pasar uang sedang berada di salah satu fase paling menarik dalam beberapa tahun terakhir — bukan untuk mengejar cuan besar, melainkan sebagai dana darurat dan tempat parkir kas yang bekerja lebih keras daripada tabungan.
Disclaimer: Artikel ini bukan ajakan membeli produk tertentu. Data kinerja dan biaya diambil dari Bibit per 19 Juli 2026 dan dapat berubah. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan. Lakukan riset mandiri dan sesuaikan dengan profil risiko sebelum berinvestasi.
0 Komentar