Receh.in, JAKARTA – Ambisi PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) untuk mencengkeram pasar energi terbarukan di Asia Tenggara kini dihadapkan pada ujian berat terkait kapasitas struktur modal internalnya.
Emiten milik orang terkaya di Indonesia, Prajogo Pangestu, dilaporkan tengah mengajukan penawaran raksasa untuk mencaplok perusahaan panas bumi (geothermal) terkemuka asal Filipina, Energy Development Corp (EDC).
Nilai ekuitas yang ditawarkan BREN untuk menguasai korporasi energi tersebut tidak main-main, yakni mencapai US$5 miliar atau setara dengan Rp89 triliun dengan asumsi kurs Rp17.800 per dolar AS.
Namun, di balik rencana mega ekspansi tersebut, sebagian analis pasar modal mulai menyuarakan alarm waspada terkait ruang gerak finansial perseroan yang dinilai sudah sangat sesak untuk menambah utang baru.
Seperti dikutip dari media, laporan keuangan teranyar per 31 Maret 2026 menunjukkan bahwa posisi neraca keuangan emiten berkode saham BREN ini memang dalam kondisi yang relatif berat.
Hingga akhir kuartal pertama tahun ini, total utang yang dipikul oleh raksasa energi hijau tersebut telah menembus angka US$2,08 miliar.
Tingginya timbunan utang tersebut membuat rasio utang terhadap ekuitas atau Debt to Equity Ratio (DER) BREN melejit hingga menyentuh level 2,23 kali.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan posisi likuiditas jangka pendek perusahaan, di mana sisa kas bebas BREN tercatat hanya berada di kisaran US$169 juta.
Anomali keuangan semakin terlihat mencolok lantaran nilai mahar akuisisi yang disodorkan oleh Grup Barito tersebut setara dengan lima kali lipat dari total ekuitas BREN per Maret 2026 yang hanya berada di level US$936 juta.
Kendati demikian, seperti dikutip dari media, manajemen menegaskan bahwa proposal penawaran ini sifatnya belum mengikat secara hukum karena masih bergantung penuh pada proses uji tuntas (due diligence), finalisasi dokumen transaksi, serta persetujuan otoritas.
Hingga saat ini pun belum ada kesepakatan final atau perjanjian formal yang ditandatangani antara pihak BREN dengan First Gen Corp selaku induk usaha dari EDC Filipina.
Kendati prospek bisnis dari EDC sangat menjanjikan untuk portofolio jangka panjang, pasar kini akan mencermati bagaimana taktik Prajogo Pangestu dalam merestrukturisasi pendanaan agar mega proyek ini tidak menjadi bom waktu yang menekan kinerja saham perusahaan di masa depan.

0 Komentar