Satu dokumen, dua klaim: bab penggunaan dana menyebut pembelian PT Rans Kosmetika Indonesia bukan transaksi afiliasi, sementara laporan keuangan auditan di prospektus yang sama mencatatnya sebagai pihak berelasi. Mana yang benar?
Jakarta — PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk, perusahaan media dan hiburan milik pasangan selebritas Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, resmi menggelar penawaran umum perdana (IPO) pada 2–8 Juli 2026 dengan target dana Rp429,25 miliar. Namun di balik gegap gempita pencatatan saham yang dijadwalkan 10 Juli 2026 di Bursa Efek Indonesia, prospektus setebal 549 halaman itu menyimpan satu kejanggalan yang layak menjadi perhatian calon investor dan otoritas: rencana penggunaan hampir seperlima dana publik — Rp85 miliar — untuk mengakuisisi perusahaan yang oleh dokumen itu sendiri disebut dua hal yang saling bertentangan.
Di bab Rencana Penggunaan Dana, akuisisi 51% saham PT Rans Kosmetika Indonesia — dalam prospektus dijuluki “Slavina” — dinyatakan sebagai transaksi dengan pihak yang “Tidak Terafiliasi”. Namun ratusan halaman kemudian, pada Catatan 34 laporan keuangan auditan di prospektus yang sama, PT Rans Kosmetika Indonesia justru tercatat sebagai pihak berelasi dengan sifat hubungan “memiliki kesamaan personil manajemen kunci”.
Rp85 Miliar Dana IPO untuk Perusahaan Kosmetik Bernama “Slavina”
Berdasarkan prospektus yang diterbitkan 2 Juli 2026, RANS Entertainment mengalokasikan sekitar Rp85 miliar atau 19,8% dari dana IPO untuk membeli 1.020 lembar saham — setara 51% — PT Rans Kosmetika Indonesia dari seorang penjual perorangan bernama Andy Lesmana, yang juga menjabat Direktur Utama di perusahaan kosmetik tersebut.
Prospektus menyatakan transaksi ini “bukan merupakan Transaksi Afiliasi dan tidak merupakan Transaksi Benturan Kepentingan sebagaimana dimaksud dalam POJK No. 42/POJK.04/2020”, dengan alasan “tidak terdapatnya hubungan kepengurusan dan/atau kepemilikan antara pihak-pihak terkait maupun hubungan kekeluargaan antara pihak penjual dengan para pengurus dan pemegang saham Perseroan.”
Klaim itu penting secara hukum. Jika sebuah transaksi dikategorikan sebagai transaksi afiliasi, POJK 42/2020 mewajibkan prosedur berlapis: penilaian kewajaran oleh penilai independen, keterbukaan informasi kepada publik, hingga — dalam kondisi tertentu — persetujuan pemegang saham independen. Dengan label “tidak terafiliasi”, sebagian kewajiban itu tidak berlaku.
Masalahnya, fakta-fakta di dalam prospektus yang sama sulit didamaikan dengan klaim tersebut.
Lima Fakta yang Menggugat Klaim “Tidak Terafiliasi”
1. Dirut RANS adalah komisaris di perusahaan target
Nagita Slavina Mariana Tengker adalah Direktur Utama PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk — emiten yang akan membeli. Pada saat yang sama, riwayat jabatan yang dimuat prospektus mencantumkan Nagita sebagai Komisaris PT Rans Kosmetika Indonesia sejak 2024 hingga saat ini, bahkan sebelumnya menjabat Direktur perusahaan itu pada 2022–2024. Susunan pengurus Slavina dalam prospektus mencatatnya dengan titel yang nyaris ironis: “Komisaris Independen”.
2. Direktur RANS juga direktur di perusahaan target
Bukan hanya Nagita. Grandy Prajayakti, Direktur RANS Entertainment sejak 2025, tercatat merangkap sebagai Direktur PT Rans Kosmetika Indonesia sejak 2023 hingga saat ini — sekaligus Direktur PT RFA Kharisma Internasional, entitas dengan inisial nama Raffi Farid Ahmad. Dua kursi pengurus Slavina diisi orang-orang yang duduk di kursi pengurus emiten.
3. Kendaraan usaha Raffi memegang 25% saham target
Sebanyak 25% saham Slavina dimiliki PT RFA Maju Internasional. Dalam catatan laporan keuangan RANS, entitas ini secara eksplisit disebut “entitas yang berada di bawah pengendalian yang sama” (entity under common control) dengan emiten. Setelah akuisisi rampung, RANS (51%) dan RFA Maju Internasional (25%) akan bersama-sama menguasai 76% Slavina.
4. Laporan keuangan auditan menyebutnya pihak berelasi
Inilah kontradiksi paling telak. Catatan 34 laporan keuangan konsolidasian auditan per 31 Desember 2025 — bagian tak terpisahkan dari prospektus — mendaftarkan PT Rans Kosmetika Indonesia dalam tabel pihak-pihak berelasi dengan keterangan: “Memiliki kesamaan personil manajemen kunci” (has a common key management personnel), lengkap dengan transaksi pendapatan Rp244 juta pada 2025.
5. Di balik RFA Maju Internasional: Raffi 89,5% — dan seorang pejabat publik
Investigasi Project Multatuli (Oktober 2024) membuka lapisan yang tidak dirinci prospektus: berdasarkan akta yang diakses media itu pada Juli 2024, PT RFA Maju Internasional — pemegang 25% Slavina — dikendalikan Raffi Ahmad (89,5%) bersama Dony Oskaria (8%), dengan Grandy Prajayakti sebagai direktur dan Nagita Slavina sebagai komisaris. Liputan yang sama mengidentifikasi Andy Lesmana, penjual 51% Slavina, sebagai pemilik PT Jenny Cosmetics, importir alat tes kesehatan terbesar nasional semasa pandemi COVID-19.
Pembelaan yang mungkin diajukan emiten: lawan transaksinya adalah pribadi Andy Lesmana selaku penjual, bukan Slavina sebagai perusahaan. Namun pertanyaan substansinya tak hilang — dana publik dipakai membeli saham perusahaan yang pengurusnya, pemegang sahamnya, dan catatan akuntansinya terjalin erat dengan keluarga pengendali emiten. Penilaian akhir soal kepatuhan terhadap POJK 42/2020 tentu menjadi ranah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan ahli hukum pasar modal.
Dijual Rp1 Miliar pada 2023, Dibeli Kembali Rp85 Miliar pada 2026
Kejanggalan makin terasa jika menengok sejarah kepemilikan. Slavina bukan perusahaan asing bagi RANS — ia didirikan pada 13 Juli 2022 justru sebagai anak usaha RANS dengan kepemilikan 51%.
Pada 7 November 2023, RANS melepas seluruh kepemilikannya. Catatan laporan keuangan merinci: 500 saham dijual ke PT RFA Maju Internasional senilai Rp500 juta, dan sisanya ke “pihak ketiga” — Andy Lesmana — senilai Rp520 juta. Total nilai pelepasan: sekitar Rp1,02 miliar, nyaris setara nilai aset bersihnya kala itu.
Dua setengah tahun kemudian, perusahaan yang sama akan dibeli kembali 51%-nya dengan harga Rp85 miliar — sekitar 83 kali lipat nilai pelepasan — menggunakan uang investor publik.
| Peristiwa | Waktu | Nilai |
|---|---|---|
| RANS mendirikan Slavina (51%) | Juli 2022 | Setoran Rp1,02 miliar |
| RANS melepas 51% Slavina ke RFA Maju Internasional & Andy Lesmana | November 2023 | ±Rp1,02 miliar |
| RANS berencana membeli kembali 51% dari Andy Lesmana | Semester II 2026 | Rp85 miliar (dana IPO) |
Manajemen punya justifikasi: kinerja Slavina meroket setelah dilepas. Pendapatannya melonjak dari Rp77,4 miliar (2024) menjadi Rp182,6 miliar (2025) dengan laba bersih Rp18,3 miliar. Harga Rp85 miliar untuk 51% setara sekitar 9 kali laba 2025 — tidak ekstrem sebagai kelipatan laba — dan didukung laporan penilai independen KJPP Tobing Panuturi dan Rekan. Namun harga itu juga berarti sekitar 5,8 kali nilai buku, sebab ekuitas Slavina per akhir 2025 hanya Rp28,7 miliar.
Pertanyaan yang menggantung justru di hulu: mengapa aset yang kemudian tumbuh sedemikian pesat dilepas dengan harga nilai buku ke kendaraan keluarga pengendali dan seorang mitra, persis sebelum periode emasnya — lalu ditebus kembali dengan harga premium begitu kas publik tersedia? Siapa yang menikmati selisihnya? Yang pasti, PT RFA Maju Internasional tetap menggenggam 25% Slavina dan ikut menikmati kenaikan valuasi tanpa menjual selembar saham pun.
Pertanyaan Lanjutan: Siapa Pemilik Merek “Slavina”?
Satu pertanyaan lagi menggantung: Project Multatuli mencatat merek kosmetik “Slavina” terdaftar di bawah PT Rans Bisnis Indonesia — perusahaan yang 90% sahamnya dimiliki Nagita Slavina pribadi dan kini bernama PT GTC Luxora Global. Jika kepemilikan merek itu tidak berpindah, publik membayar Rp85 miliar untuk perusahaan yang jenamanya sendiri milik keluarga Direktur Utama emiten — hal yang layak dijawab manajemen sebelum penjatahan saham.
Status terkini kepemilikan merek perlu diverifikasi ke Pangkalan Data Kekayaan Intelektual (PDKI) DJKI Kemenkumham.
Mengapa Ini Penting bagi Investor Ritel
Skema semacam ini menyentuh jantung perlindungan investor di pasar modal: transaksi afiliasi dan benturan kepentingan. Regulasi memaksa keterbukaan bukan untuk melarang transaksi dengan pihak terkait, melainkan memastikan harga dan strukturnya wajar — bukan kanal pemindahan kekayaan dari pemegang saham publik ke pengendali.
Konteksnya menambah bobot. Prospektus yang sama mengungkap bahwa sepanjang 2025 — beberapa bulan sebelum IPO — RANS membagikan dividen Rp167,5 miliar, hampir tiga kali laba tahun berjalannya, yang sekitar Rp131 miliar di antaranya mengalir ke Raffi Ahmad selaku pemegang 78,68% saham. Kini publik diminta menyetor Rp429 miliar, dengan Rp85 miliar di antaranya berpotensi mengalir ke lingkaran yang sama melalui akuisisi Slavina.
Bagi calon investor, setidaknya tiga hal patut ditimbang sebelum ikut memesan saham ini: pertama, kejelasan status afiliasi transaksi Slavina dan apakah OJK akan meminta prosedur POJK 42/2020 dijalankan; kedua, kewajaran harga Rp85 miliar dibanding riwayat pelepasan Rp1 miliar; ketiga, rekam jejak arus dana antara emiten dan keluarga pengendali sebelum IPO.
Hingga artikel ini disusun, telaah bersandar pada dokumen resmi prospektus serta investigasi Project Multatuli. Tanggapan RANS Entertainment, penjamin emisi Trimegah Sekuritas, Andy Lesmana, serta OJK dibutuhkan untuk melengkapi gambaran — dan halaman ini terbuka untuk hak jawab.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa itu akuisisi Slavina dalam IPO RANS?
Rencana RANS Entertainment menggunakan sekitar Rp85 miliar (19,8%) dana IPO untuk membeli 51% saham PT Rans Kosmetika Indonesia (“Slavina”), perusahaan kosmetik yang dijual RANS sendiri pada 2023 seharga total sekitar Rp1 miliar.
Mengapa klaim “tidak terafiliasi” dipertanyakan?
Karena Dirut RANS Nagita Slavina menjabat komisaris Slavina, Direktur RANS Grandy Prajayakti menjabat direktur Slavina, 25% saham Slavina dimiliki kendaraan usaha keluarga Raffi (PT RFA Maju Internasional), dan laporan keuangan auditan RANS sendiri mengklasifikasikan Slavina sebagai pihak berelasi.
Apa konsekuensi jika transaksi ini tergolong transaksi afiliasi?
Berdasarkan POJK 42/2020, emiten wajib menjalankan prosedur tambahan seperti penilaian kewajaran, keterbukaan informasi, dan dalam kondisi benturan kepentingan tertentu memerlukan persetujuan pemegang saham independen.
Berapa valuasi Slavina dalam akuisisi ini?
Rp85 miliar untuk 51% saham, setara sekitar 9x laba bersih Slavina 2025 (Rp18,3 miliar) dan sekitar 5,8x nilai bukunya (ekuitas Rp28,7 miliar per 31 Desember 2025).
Kapan saham RANS Entertainment tercatat di BEI?
Masa penawaran umum berlangsung 2–8 Juli 2026 dengan harga Rp170 per saham; pencatatan di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan 10 Juli 2026.
Sumber: Prospektus IPO PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (2 Juli 2026); Alfian Putra Abdi, “Gurita Bisnis Raffi Ahmad: Ditopang Keluarga Presiden, Bos Nikel, hingga Petinggi Partai Golkar”, projectmultatuli.org (Oktober 2024).
Catatan redaksi: Artikel disusun dari dokumen prospektus resmi dan sumber sekunder yang disebutkan. Bukan rekomendasi investasi.
0 Komentar