Daftar IsiTampilkan


Receh.in, JAKARTA
– Langkah restrukturisasi dan penataan portofolio bisnis di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kembali menuntut emiten produsen baja nasional untuk mengambil keputusan strategis.

PT Krakatau Steel Tbk. (KRAS) melalui anak usahanya, PT Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI), resmi melakukan pemisahan (spin-off) sekaligus menyerahkan aset The Royale Krakatau Hotel kepada PT Hotel Indonesia Natour (HIN) dan Holding Pariwisata InJourney.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, seperti dikutip dari media, transaksi pengalihan aset perhotelan tersebut disepakati dengan nilai mencapai Rp312 miliar, atau setara dengan 2,58% dari total ekuitas perseroan.

Melalui mekanisme korporasi ini, pengelolaan unit hotel legendaris tersebut akan diintegrasikan secara penuh ke dalam jaringan pariwisata nasional di bawah kendali manajemen yang memiliki keahlian inti di bidangnya.

Sebagai kompensasi atas penyerahan properti tersebut, PT KSI nantinya akan mengambil bagian atas penerbitan saham baru Seri C yang dirilis oleh PT HIN sesuai kesepakatan nilai antar-kedua belah pihak.

Manajemen KRAS menjelaskan bahwa langkah divestasi ini merupakan bagian integral dari agenda pemurnian bisnis (business purification) agar perseroan bisa bergerak lebih lincah ke depan.

Dengan melepaskan portofolio yang berada di luar bisnis utama, manajemen kini dapat memfokuskan seluruh sumber daya, modal, dan kapabilitasnya untuk menggenjot sektor kawasan industri terintegrasi dan layanan logistik.

Kebijakan penataan aset ini juga selaras dengan arahan dari PT Danantara Asset Management (Persero) yang tengah gencar melakukan konsolidasi lini bisnis perhotelan di bawah payung perusahaan pelat merah.

Menariknya, aksi bersih-bersih portofolio non-inti ini terjadi di saat performa finansial Krakatau Steel sedang menunjukkan tren pemulihan yang sangat signifikan di pasar modal.

Seperti dikutip dari media, laporan keuangan per akhir Maret 2026 mencatat KRAS berhasil membukukan laba bersih sebesar US$2,58 juta atau sekitar Rp43,60 miliar pada kuartal pertama tahun ini.

Capaian positif tersebut menjadi pembalik keadaan yang luar biasa mengingat pada kuartal I/2025 yang lalu perseroan masih terpukul oleh rugi bersih yang mendalam hingga mencapai US$46,90 juta.

Pemulihan kinerja bottom line ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan segmen baja yang mencapai US$256,64 juta, serta kemampuan manajemen dalam menekan laju kenaikan beban pokok pendapatan sehingga laba kotor melesat drastis sebesar 194,74% secara tahunan.