Daftar IsiTampilkan


Ada satu biaya yang hampir tidak pernah dirasakan investor reksa dana. Tidak ada notifikasi, tidak ada tagihan yang masuk ke email. Uang itu tidak ditarik dari rekening, melainkan perlahan menghilang dari nilai investasi setiap hari.

Bayangkan Anda menaruh Rp10 juta di sebuah reksa dana saham dengan expense ratio 4,95 persen. Dalam setahun, sekitar Rp500 ribu berpindah dari kantong Anda ke pengelola dana. Bukan hanya ketika investasi untung. Ketika pasar turun pun biaya itu tetap berjalan.

Sekilas jumlahnya tampak kecil. Namun waktu membuatnya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mahal. Dalam sepuluh tahun, melalui efek bunga berbunga yang bekerja secara terbalik, biaya tersebut dapat menggerus nilai investasi hingga setara sepertiga, bahkan mendekati separuh modal awal.

Tentu saja investor tidak keberatan membayar jika memang ada hasil yang diperoleh. Tidak ada yang mempersoalkan ongkos dokter yang menyembuhkan pasien atau pengacara yang memenangkan perkara.

Masalahnya selalu sama: apakah hasilnya sepadan dengan harga yang dibayar?

Pertanyaan sesederhana itu justru jarang dibahas secara terbuka di industri reksa dana Indonesia.

Kode Referral Bibit untuk Dapat Cashback Rp25.000 

 

Ketika Kata "Mahal" Perlu Diberi Ukuran

Menyebut suatu produk mahal sebenarnya tidak ada artinya kalau tidak ada pembanding.

Morningstar dalam Global Investor Experience 2022 mencatat biaya rata-rata reksa dana di Amerika Serikat—pasar reksa dana terbesar sekaligus paling efisien di dunia—berkisar 0,63 persen untuk reksa dana saham, 0,58 persen untuk campuran, dan 0,43 persen untuk obligasi.

Bandingkan dengan kondisi di Indonesia.

Sepanjang seri ini kami menemukan sepuluh reksa dana saham terbesar di Bibit mengenakan biaya antara 2,14 persen hingga 4,95 persen. Reksa dana campuran berada di kisaran 2,39–6,10 persen. Reksa dana obligasi aktif mematok 1,22–2,80 persen.

Artinya, investor Indonesia membayar sekitar tiga sampai delapan kali lebih mahal dibanding investor Amerika.

Perbedaan itu memang tidak sepenuhnya apel dibanding apel. Industri kita lebih kecil, sementara biaya distribusi kepada bank maupun aplikasi penjual umumnya sudah dibungkus ke dalam expense ratio. Tetapi semua penjelasan itu hanya relevan jika jasa yang dijual benar-benar memberikan nilai tambah.

Di sinilah rapornya mulai menarik.

 

Rapor Pertama: Industri yang Tumbuh, Investor yang Tidak

Sepanjang satu dekade terakhir, industri reksa dana memang membesar. Dana kelolaan meningkat hampir tiga kali lipat.

Namun ketika angka itu dibedah lebih jauh, gambarnya berubah.

Aset industri naik sekitar 2,7 kali, tetapi jumlah unit yang dibeli investor justru meningkat 3,4 kali. Dengan kata lain, pertumbuhan industri terutama datang dari setoran baru, bukan karena nilai investasi yang berkembang.

Ini bukan berarti seluruh manajer investasi gagal. Ada banyak faktor teknis yang memengaruhi angka tersebut dan telah kami bahas pada artikel sebelumnya. Tetapi sulit mengabaikan satu fakta sederhana: selama sepuluh tahun, industri pengelolaan dana belum mampu menunjukkan bahwa secara agregat mereka benar-benar menciptakan nilai bagi investornya.

 

Rapor Kedua: Ketika Produk Termahal Justru Memberikan Kekecewaan Terbesar

Ironisnya, masalah paling serius justru muncul pada kategori yang menjual janji paling mahal: reksa dana saham aktif.

Data historis Infovesta menunjukkan bahwa sepanjang awal 2014 hingga September 2019, rata-rata reksa dana saham hanya menghasilkan imbal hasil 15,2 persen. Pada periode yang sama, IHSG naik 42,6 persen.

Artinya, industri hanya menangkap sekitar sepertiga kenaikan pasar.

Sejumlah penelitian akademik pada periode yang sama memberikan diagnosis yang hampir seragam. Biaya tinggi, transaksi yang terlalu sering, serta portofolio yang pada akhirnya tidak jauh berbeda dengan indeks LQ45 membuat banyak produk gagal mengalahkan pasar, tetapi tetap mengenakan tarif layaknya pengelolaan aktif.

Temuan kami selama seri ini memperlihatkan contoh yang lebih konkret. Ada produk yang negatif dalam horizon tiga, lima, hingga sepuluh tahun. Bahkan ada yang setelah hampir dua dekade nilai aktiva bersihnya belum kembali ke harga saat pertama kali diluncurkan.

Yang menarik, hampir semuanya tetap mengenakan biaya pengelolaan sekitar tiga hingga lima persen setiap tahun.

Bukan berarti semua manajer investasi gagal.

Danamas Stabil, STAR Stable Income, Sucorinvest Maxi Fund, maupun Trimegah Dana Tetap Syariah menunjukkan bahwa keahlian memang ada. Mereka membuktikan biaya yang dipungut dapat menghasilkan nilai tambah bagi investor.

Masalahnya, pengecualian itu justru terasa sebagai pengecualian.

Keahlian ternyata bukan barang yang mustahil ditemukan. Ia hanya jauh lebih langka daripada yang dijanjikan industri.

Dan ketika hanya sedikit yang benar-benar mampu mengalahkan pasar, pertanyaan berikutnya menjadi sulit dihindari.

Mengapa hampir semua produk menagih harga seolah-olah mereka termasuk kelompok terbaik itu?

Pada akhirnya, biaya bukanlah musuh investor.

Biaya adalah investasi atas sebuah keahlian.

Kalau keahlian itu benar-benar menghasilkan nilai setelah semua biaya dipotong, investor justru seharusnya bersedia membayar lebih mahal.

Tetapi bila hasilnya tidak berbeda, atau bahkan lebih buruk daripada sekadar mengikuti pasar, maka setiap persen biaya berubah menjadi beban yang terus menggerus kekayaan.

Karena itu titik awal memilih reksa dana seharusnya sederhana: jangan bertanya siapa yang paling terkenal atau paling banyak dipasarkan.

Mulailah dari pertanyaan yang lebih mendasar.

Apa yang benar-benar saya dapatkan dari setiap persen biaya yang saya bayarkan?

Jika jawaban atas pertanyaan itu tidak terlihat jelas di angka-angka kinerjanya, mungkin yang mahal bukan biaya pengelolaannya.

Melainkan harga dari sebuah janji yang tidak pernah benar-benar ditepati.