Harga emas dunia kehilangan momentum pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Setelah mencatat reli selama dua hari berturut-turut, logam mulia itu akhirnya terkoreksi tajam seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga minyak dan potensi eskalasi konflik di Timur Tengah.
- Harga emas dunia turun 1,96% ke US$4.049,8 per troy ounce.
- Lonjakan harga minyak di atas US$100 per barel memicu kekhawatiran inflasi dan suku bunga tinggi.
- Secara teknikal, emas masih berada di zona bearish, tetapi peluang rebound jangka pendek masih terbuka.
Berdasarkan data pasar spot, harga emas ditutup di level US$4.049,8 per troy ounce, turun 1,96% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Penurunan tersebut menghapus sebagian kenaikan yang sebelumnya sempat mendorong harga emas naik lebih dari 3% dalam dua hari.
Minyak Naik Tajam, Emas Justru Kehilangan Daya Tarik
Sekilas, konflik geopolitik biasanya menjadi sentimen positif bagi emas karena investor mencari aset safe haven. Namun kali ini, pasar bereaksi berbeda.
Penyebab utamanya adalah lonjakan harga minyak mentah.
Harga minyak Brent melonjak hampir 7% hingga menembus US$100,48 per barel, kembali berada di level psikologis tiga digit.
Kenaikan tajam ini memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi global dapat kembali meningkat setelah sempat menunjukkan tanda-tanda mereda.
Jika inflasi kembali naik, bank-bank sentral diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Di sinilah posisi emas menjadi lebih rumit.
Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), emas cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Investor kemudian memiliki insentif lebih besar untuk memindahkan dana ke instrumen yang memberikan bunga seperti obligasi atau deposito.
Menurut Ewa Manthey, Commodities Strategist ING Bank N.V., lonjakan harga energi membuat prospek emas menjadi lebih kompleks.
"Harga minyak yang tinggi akibat konflik di Timur Tengah membuat prospek harga emas menjadi rumit. Dampak inflasi akibat kenaikan harga energi akan membuat bank sentral sangat hati-hati," ujarnya.
Dengan kata lain, konflik yang biasanya mengangkat harga emas kali ini justru memicu kekhawatiran inflasi, sehingga efek positif sebagai aset lindung nilai tertutup oleh ekspektasi suku bunga tinggi.
Timur Tengah Kembali Memanas
Sentimen pasar juga dipengaruhi meningkatnya tensi geopolitik.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menuding Iran bertanggung jawab atas serangkaian serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah yang dilakukan kelompok Houthi di Yaman.
Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengatakan pemerintahannya tengah mempertimbangkan "serangan besar" dan mengklaim keputusan tersebut sudah hampir diambil.
Pernyataan itu diperkuat melalui unggahan di media sosial yang menyebut Amerika Serikat akan memberikan "hukuman besar" kepada Iran dan kelompok Houthi.
Pernyataan tersebut memicu lonjakan harga minyak karena pasar khawatir konflik dapat mengganggu pasokan energi global, terutama di kawasan Timur Tengah yang menjadi salah satu pusat produksi minyak dunia.
Analisis Teknikal: Masih Bearish, tetapi Rebound Belum Tertutup
Dari sisi teknikal, pergerakan emas masih menunjukkan tekanan.
Indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di level 45, masih di bawah batas netral 50.
Hal tersebut menunjukkan bahwa momentum jangka pendek masih cenderung bearish.
Namun terdapat sinyal yang sedikit berbeda dari indikator Stochastic RSI, yang berada di level 57.
Posisi ini mengindikasikan tekanan jual mulai mereda dan membuka peluang terjadinya rebound teknikal apabila muncul katalis positif.
Level Penting yang Perlu Dicermati
Untuk perdagangan Jumat (24/7/2026), beberapa level teknikal menjadi perhatian pelaku pasar.
Area resistance
- US$4.057 per troy ounce(MA10)
- US$4.125 per troy ounce (pivot penting)
- US$4.142–US$4.196 per troy ounce
- Target optimistis: US$4.271 per troy ounce
Apabila harga mampu menembus area US$4.125, peluang penguatan lanjutan akan semakin terbuka.
Area support
Sebaliknya, apabila tekanan jual berlanjut, investor perlu mencermati beberapa level penopang berikut:
- US$4.033 per troy ounce
- US$3.995–US$3.991 per troy ounce
Jika support tersebut ditembus, tekanan jual berpotensi semakin besar dalam jangka pendek.
Pasar Kini Menghadapi Dilema
Pergerakan emas saat ini menunjukkan bahwa pasar sedang berada dalam fase yang tidak biasa. Di satu sisi, ketegangan geopolitik seharusnya meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven. Namun di sisi lain, lonjakan harga minyak memunculkan risiko inflasi baru yang justru memperbesar peluang suku bunga tetap tinggi lebih lama.
Bagi investor emas, kondisi ini berarti fokus pasar tidak lagi hanya tertuju pada konflik geopolitik, tetapi juga pada bagaimana bank-bank sentral, terutama Federal Reserve, merespons potensi kenaikan inflasi akibat mahalnya energi.
Selama ketidakpastian tersebut belum mereda, harga emas diperkirakan akan tetap bergerak volatil. Bagi trader jangka pendek, level resistance dan support menjadi acuan penting. Sementara bagi investor jangka panjang, arah kebijakan suku bunga global masih menjadi faktor utama yang akan menentukan apakah emas mampu kembali melanjutkan tren kenaikannya atau justru memasuki fase konsolidasi yang lebih panjang.

0 Komentar