Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan sempat mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS sebelum memangkas pelemahannya menjelang penutupan pasar.
- Kurs rupiah hari ini ditutup melemah ke Rp17.935 per dolar AS dan sempat mendekati Rp18.000.
- Pelemahan rupiah terjadi ketika indeks dolar Amerika Serikat (US Dollar Index/DXY) justru bergerak turun.
- Normalnya, pelemahan indeks dolar memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menguat.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.935 per dolar AS, atau melemah sekitar 0,25% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Posisi tersebut sama dengan kurs pembukaan pada perdagangan pagi.
Selama sesi perdagangan, rupiah bahkan sempat menyentuh Rp17.980 per dolar AS, menjadi level terlemah sepanjang hari sebelum akhirnya pulih sekitar 50 poin hingga penutupan.
Pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif rupiah menjadi dua hari perdagangan berturut-turut. Dalam sepekan terakhir, mata uang Indonesia juga terkoreksi sekitar 0,25% dibandingkan posisi penutupan Jumat pekan sebelumnya di Rp17.885 per dolar AS.
Dolar AS Melemah, Tetapi Rupiah Tetap Tertekan
Menariknya, pelemahan rupiah terjadi ketika indeks dolar Amerika Serikat (US Dollar Index/DXY) justru bergerak turun.
Pada pukul 15.00 WIB, indeks DXY tercatat berada di level 101,275, turun sekitar 0,17% setelah sehari sebelumnya menguat 0,32%.
Normalnya, pelemahan indeks dolar memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menguat. Namun kali ini rupiah belum mampu memanfaatkan momentum tersebut karena tekanan berasal dari sejumlah faktor lain yang lebih dominan.
Hal ini menunjukkan bahwa sentimen terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor risiko global dibandingkan semata-mata pergerakan indeks dolar.
Harga Minyak Dunia Jadi Sumber Tekanan Baru
Salah satu faktor yang membebani rupiah adalah lonjakan harga minyak mentah dunia.
Harga minyak Brent pada perdagangan Jumat sempat menembus US$102 per barel. Dalam sebulan terakhir, harga minyak bahkan telah melonjak hampir 40% akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Kenaikan harga dipicu oleh serangan kelompok Houthi terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Di saat yang sama, gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz juga masih berlangsung sehingga memperbesar kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.
Bagi Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak, kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor, sehingga dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
Yield US Treasury Naik ke Level Tertinggi
Selain harga minyak, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat juga menjadi faktor penting yang menekan rupiah.
Yield obligasi Treasury AS tenor 10 tahun naik menembus 4,7%, level tertinggi dalam lebih dari 18 bulan.
Kenaikan yield membuat aset keuangan berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor global. Akibatnya, sebagian dana asing cenderung mengalir ke Amerika Serikat untuk mengejar imbal hasil yang lebih tinggi.
Fenomena tersebut biasanya berdampak pada meningkatnya permintaan dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Konflik Timur Tengah Perburuk Sentimen Pasar
Kondisi pasar juga dibayangi meningkatnya konflik geopolitik.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan serangan militer terhadap Iran setelah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Pemerintah AS juga kembali mengancam akan memberikan hukuman yang lebih berat kepada Iran dan kelompok Houthi.
Konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan terhadap jalur distribusi energi internasional akan berlangsung lebih lama.
Ketidakpastian geopolitik seperti ini umumnya mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat, sehingga mata uang negara berkembang kehilangan daya tarik dalam jangka pendek.
Tarif Baru AS Tambah Tekanan
Sentimen negatif lainnya datang dari kebijakan perdagangan Amerika Serikat.
Mulai Jumat, pemerintahan Trump resmi memberlakukan tarif impor sebesar 10% hingga 12,5% terhadap barang dari sekitar 60 negara mitra dagang yang dinilai belum optimal dalam menerapkan larangan terhadap produk hasil kerja paksa.
Indonesia termasuk dalam kelompok negara yang dikenai tarif 10%.
Pemberlakuan tarif baru tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa perdagangan global kembali memasuki fase ketidakpastian, yang dapat memengaruhi arus perdagangan, investasi, dan prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
Pasar Menanti Keputusan The Fed
Fokus investor kini beralih pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.
Kombinasi kenaikan harga minyak dan kebijakan tarif baru meningkatkan risiko inflasi di Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar kembali mempertimbangkan kemungkinan Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, atau bahkan mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat apabila tekanan inflasi terus meningkat.
Keputusan The Fed akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah pergerakan dolar AS, pasar obligasi, dan mata uang negara berkembang dalam beberapa pekan mendatang.
Mengapa Rupiah Sensitif terhadap Kondisi Global?
Pergerakan rupiah tidak hanya dipengaruhi kondisi ekonomi domestik, tetapi juga berbagai perkembangan di pasar global.
Ketika harga minyak naik, Indonesia membutuhkan lebih banyak dolar AS untuk membiayai impor energi. Pada saat yang sama, kenaikan yield obligasi Amerika Serikat mendorong investor global memindahkan dana ke aset dolar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Jika kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan perang dagang, tekanan terhadap mata uang negara berkembang biasanya akan semakin besar.
Karena itu, arah rupiah dalam jangka pendek akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah, kebijakan perdagangan Amerika Serikat, pergerakan harga minyak, dan hasil rapat Federal Reserve.

0 Komentar