Pada September 2000, Schroder meluncurkan sebuah reksa dana saham bernama Dana Prestasi Plus. Produk ini kelak menjadi legenda: dipegang ratusan ribu investor, dijajakan di banyak bank besar, dan pada Desember 2018 dana kelolaannya mencapai Rp18,35 triliun, menjadikannya reksa dana saham terbesar di Indonesia.
- Dana kelolaan reksa dana saham rupiah menyusut dari Rp131,5 triliun pada Januari 2023 menjadi Rp76,2 triliun per Juni 2026, anjlok 42 persen dalam 42 bulan. Sebanyak 72 produk saham lenyap dari catatan, dan kini tidak ada satu pun reksa dana saham yang dana kelolaannya menembus Rp2,5 triliun.
- Ironi terbesarnya terjadi pada 2025: saat IHSG menguat 22 persen dan mencetak rekor 24 kali, unit penyertaan reksa dana saham justru menyusut 10 persen. Investor pergi bukan karena pasarnya buruk, melainkan karena produknya tidak ikut menikmati kenaikan pasar.
- Kuartal kedua 2026 memberi kejutan sebaliknya: ketika Rp73 triliun kabur dari industri reksa dana, unit reksa dana saham justru naik tipis. Kejatuhan AUM saham kuartal lalu hampir seluruhnya ulah harga, bukan penarikan.
Yang terjadi pada Schroder Dana Prestasi Plus bukan anomali, melainkan miniatur dari nasib satu kelas aset. Kami menelusuri data AUM dan unit penyertaan bulanan hampir 500 reksa dana saham rupiah dari Januari 2023 sampai Juni 2026, dan menemukan sebuah kemunduran yang berjalan pelan, konsisten, dan nyaris tanpa jeda, bahkan pada tahun ketika bursa saham Indonesia mencetak rekor demi rekor.
Tiga Setengah Tahun yang Menggerus Sepertiga Lebih Aset
Angka-angka besarnya dulu. Dari kompilasi laporan bulanan produk rupiah, dana kelolaan seluruh reksa dana saham bergerak seperti ini:
| Periode | AUM Saham (Rp T) | Unit Penyertaan (miliar) |
|---|---|---|
| Jan 2023 | 131,5 | 111,9 |
| Jan 2024 | 115,2 | 105,8 |
| Jan 2025 | 94,4 | 102,1 |
| Jan 2026 | 96,8 | 93,1 |
| Jun 2026 | 76,2 | 94,4 |
Sumber: laporan AUM dan unit penyertaan bulanan OJK/Pasardana (produk rupiah), diolah Investor Receh.
Dalam 42 bulan, Rp55 triliun lebih menguap, atau 42 persen dari nilai awalnya. Sebagai pembanding, pada periode yang sama reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap sempat tumbuh pesat sebelum terkena gelombang penarikan besar pada kuartal kedua 2026.
Kerusakannya juga merata ke dalam. Sebanyak 72 produk saham yang masih tercatat pada awal 2023 kini hilang dari laporan, entah dibubarkan atau digabung. Dari 356 produk saham yang masih hidup per Juni 2026, sebanyak 230 di antaranya, atau hampir dua pertiga, mengelola dana di bawah Rp100 miliar, ukuran yang oleh banyak praktisi dianggap sulit menutup biaya operasionalnya sendiri. Hanya 22 produk yang masih memegang dana kelolaan di atas Rp1 triliun.
Dan inilah yang paling menggambarkan zaman: reksa dana saham terbesar di Indonesia hari ini, Ashmore Saham Sejahtera Nusantara, mengelola Rp2,42 triliun. Delapan tahun lalu, satu produk Schroder saja tujuh kali lebih besar dari itu.
Para pemain lamanya pun berdarah-darah. Berikut lima produk dengan kehilangan dana kelolaan terbesar sejak awal 2023:
| Produk | AUM Jan 2023 (Rp T) | AUM Jun 2026 (Rp T) | Perubahan Unit |
|---|---|---|---|
| Schroder Dana Prestasi Plus | 8,02 | 2,18 | -66% |
| Batavia Dana Saham | 5,06 | 0,98 | -74% |
| Manulife Dana Saham Kelas A | 5,09 | 1,61 | -55% |
| Ashmore Dana Ekuitas Nusantara | 3,73 | 1,71 | -38% |
| Sucorinvest Equity Fund Kelas A | 3,56 | 1,37 | -57% |
Sumber: panel AUM dan unit penyertaan bulanan OJK/Pasardana, diolah Investor Receh. Perubahan unit Jan 2023-Jun 2026.
Kolom terakhir tabel itu penting. Penurunan unit penyertaan hanya terjadi bila investor benar-benar mencairkan dananya. Ini bukan sekadar nilai portofolio yang turun; ini orang-orang yang pamit.
Paradoks 2025: Bursa Pesta, Reksa Dana Saham Tetap Ditinggal
Kalau kejatuhan ini semata soal pasar yang lesu, ceritanya sederhana. Tapi 2025 membantah penjelasan itu.
Sepanjang 2025, IHSG menguat 22,13 persen, mencetak rekor tertinggi sepanjang masa sebanyak 24 kali, dan ditutup di 8.646. Industri reksa dana secara keseluruhan ikut menikmati: NAB industri melonjak 35 persen menjadi Rp679 triliun menurut data OJK, tertinggi sepanjang sejarah.
Reksa dana saham? Unit penyertaannya justru menyusut dari 102 miliar menjadi 92 miliar sepanjang tahun itu. Minus 10 persen, di tahun terbaik bursa dalam satu dekade. Dana kelolaannya nyaris tak beranjak dari Rp94-95 triliun.
Bagaimana mungkin? Jawabannya ada pada anatomi reli 2025 itu sendiri. Kenaikan IHSG tahun lalu tidak digerakkan oleh saham-saham bank besar dan konsumer yang lazim menghuni portofolio manajer investasi, melainkan oleh segelintir saham konglomerasi seperti DCII, DSSA, BRPT, dan CDIA, saham-saham berkapitalisasi jumbo dengan porsi saham beredar yang tipis dan likuiditas terbatas. Sebagian analis bahkan menyebut IHSG "bergerak semu" karenanya, sampai muncul wacana memangkas bobot saham-saham tersebut dari indeks.
Manajer investasi, yang terikat aturan diversifikasi dan pertimbangan likuiditas, hampir mustahil menunggangi saham-saham itu dalam porsi berarti. Hasilnya klasik dan menyakitkan: indeks terbang, portofolio jalan di tempat. Investor yang membandingkan kinerja produknya dengan IHSG merasa ditipu dua kali, saat pasar turun ia ikut turun, saat pasar naik ia tidak ikut naik.
Data kinerja memperkuatnya. Dari layar Bibit per pertengahan Juli 2026, di antara sepuluh reksa dana saham dengan return satu tahun terbaik sekalipun, delapan masih mencatat return tiga tahun negatif. Dan untuk kinerja seperti itu, investor membayar mahal: expense ratio sepuluh produk tersebut rata-rata hampir 4 persen per tahun, dengan beberapa mendekati 5 persen. Sebagai pembanding, membeli saham langsung lewat sekuritas hanya memakan biaya transaksi sepersekian persen, dan reksa dana indeks seperti ABF membebankan 0,21 persen setahun.
Ke mana investornya pergi? Sebagian besar tidak meninggalkan pasar modal, mereka hanya memotong perantara. Data KSEI mencatat jumlah investor saham menembus 9,56 juta SID per April 2026, tumbuh 11 persen hanya dalam empat bulan, dengan hampir seribu akun baru dibuka setiap jam kerja. Generasi yang dulu mengenal saham lewat reksa dana kini membeli BBRI dan BBCA sendiri dari ponselnya.
Kuartal II 2026: Plot Twist di Tengah Kehancuran
Lalu datanglah paruh pertama 2026, saat segalanya seperti dirancang untuk mengubur kelas aset ini sekalian. IHSG rontok 34,74 persen dalam enam bulan ke level 5.643, ditekan keputusan MSCI mengeluarkan enam saham besar Indonesia dari indeks globalnya, aksi jual bersih asing Rp71,7 triliun, dan kekhawatiran profil kredit negara. Bursa dua kali mengalami trading halt. AUM reksa dana saham ikut terjun dari Rp90,4 triliun pada Maret menjadi Rp76,2 triliun pada Juni.
Tapi di sinilah data memberi kejutan yang tidak kami duga.
Pada kuartal yang sama, ketika Rp73 triliun meninggalkan industri reksa dana, dengan penarikan terbesar justru di produk "aman" seperti pasar uang dan pendapatan tetap, unit penyertaan reksa dana saham naik tipis, dari 94,3 miliar menjadi 94,4 miliar unit. Kejatuhan Rp14 triliun AUM saham pada kuartal kedua hampir seluruhnya disebabkan harga, bukan pencairan.
Dengan kata lain: pada momen pasar terburuk dalam beberapa tahun, investor yang masih bertahan di reksa dana saham tidak lari. Sebagian bahkan menambah, merata-ratakan harga belinya di bawah. Eksodus panik kuartal lalu adalah cerita deposito raksasa dan dana institusi di produk pasar uang; investor reksa dana saham yang tersisa justru kelompok yang paling tenang.
Ini melengkapi temuan kami sebelumnya tentang produk-produk yang investornya paling setia: dua di antaranya adalah reksa dana saham. Mereka yang bertahan hari ini, tampaknya, adalah saringan terakhir, orang-orang yang sudah melewati tiga tahun kekecewaan dan memutuskan tinggal.
Kematian, atau Seleksi Alam?
Menyebutnya "matinya reksa dana saham" memang menggoda, tapi kurang presisi. Yang sedang terjadi lebih mirip seleksi alam yang kejam.
Yang sekarat adalah model lamanya: produk saham konvensional berbiaya 3-5 persen setahun yang menjual janji "dikelola profesional" namun selama bertahun-tahun gagal mengalahkan indeks acuannya sendiri. Model itu kehilangan alasan keberadaannya di hadapan generasi investor yang bisa membandingkan kinerja lewat aplikasi gratis, membeli saham langsung tanpa biaya berarti, atau memilih produk indeks yang jauh lebih murah.
Yang lolos saringan adalah produk yang punya cerita jelas: kinerja yang benar-benar berbeda dari indeks (Sucorinvest Maxi Fund membukukan return 51 persen setahun terakhir, tertinggi di kategorinya, meski dengan expense ratio 4,95 persen dan gejolak yang tidak semua orang tahan), basis investor yang lengket seperti Ashmore Saham Sejahtera Nusantara dan Syailendra Dana Ekuitas Sejahtera, atau biaya yang nyaris tidak terasa seperti produk-produk indeks.
Buat kamu yang memegang atau menimbang reksa dana saham, tiga hal praktis dari data ini. Pertama, periksa expense ratio sebelum tergiur return: di kategori yang rata-rata kinerjanya kalah dari indeks, biaya 4-5 persen setahun adalah beban yang nyaris mustahil dikejar. Kedua, bandingkan kinerja produkmu dengan IHSG dan dengan reksa dana indeks sekelasnya dalam periode tiga sampai lima tahun, bukan satu tahun; kalau tertinggal terus, kamu membayar mahal untuk sesuatu yang bisa didapat lebih murah. Ketiga, jangan membaca AUM yang turun sebagai tanda produk pasti buruk, sebagaimana AUM naik bukan bukti investor berdatangan; yang lebih jujur adalah arah unit penyertaannya, dan itu bisa kamu periksa sendiri dari laporan bulanan.
Reksa dana saham tidak akan hilang. Tapi masa ketika ia menjadi pintu masuk utama orang Indonesia ke pasar saham, masa Schroder Dana Prestasi Plus dengan Rp18 triliun di dalamnya, sudah lewat dan hampir pasti tidak kembali. Pintunya kini terbuka langsung, dan investor memilih masuk sendiri.
Disclaimer: Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual produk tertentu. Analisis berbasis panel AUM dan unit penyertaan bulanan Januari 2023-Juni 2026 dari laporan OJK yang dikompilasi Pasardana (hanya produk berdenominasi rupiah; angka NAB industri mengutip data OJK yang mencakup seluruh denominasi), data return dan expense ratio dari layar Bibit per 19-22 Juli 2026, serta pemberitaan publik mengenai IHSG, MSCI, dan data investor KSEI. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan. Lakukan riset mandiri dan sesuaikan dengan profil risiko sebelum berinvestasi.

0 Komentar