Konflik Timur Tengah kembali memasuki fase yang lebih berbahaya. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan meningkatkan operasi militer terhadap Iran sekaligus meminta Teheran bertanggung jawab atas setiap serangan lanjutan yang dilakukan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah.
- Trump mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Iran dan Houthi.
- Jalur pelayaran strategis Selat Hormuz dan Laut Merah menghadapi risiko gangguan yang lebih besar.
- Eskalasi konflik berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan inflasi global.
Pernyataan tersebut mempertegas bahwa konflik tidak lagi sekadar melibatkan perang langsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, tetapi mulai meluas ke jalur perdagangan energi dunia yang selama ini menjadi urat nadi ekonomi global.
Bagi pasar keuangan, perkembangan ini bukan sekadar isu geopolitik. Risiko terganggunya distribusi minyak dunia kini menjadi perhatian utama investor.
Trump: Iran Akan Membayar Semua Kerugian
Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengatakan pemerintahannya tengah mempertimbangkan "serangan besar-besaran" terhadap Iran dan mengaku semakin dekat untuk mengambil keputusan.
Tak lama setelah itu, Trump juga mengunggah pernyataan di Truth Social yang bernada lebih keras.
Ia menegaskan bahwa setiap kerusakan terhadap kapal, kargo, maupun aset lain akibat serangan Houthi akan menjadi tanggung jawab Iran.
Bahkan Trump menyatakan kompensasi tersebut akan dibayarkan menggunakan aset Iran yang saat ini berada di bawah kendali pemerintah Amerika Serikat.
Meski demikian, Trump tidak menjelaskan bagaimana mekanisme hukum maupun teknis pelaksanaan langkah tersebut.
Houthi Membuka Front Baru Konflik
Ancaman Trump muncul setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi.
Serangan tersebut memiliki arti strategis karena menyasar jalur distribusi energi internasional.
Selama ini perhatian pasar lebih banyak tertuju pada Selat Hormuz, namun kini risiko juga meluas ke Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Apabila dua jalur tersebut sama-sama terganggu, distribusi minyak dari Timur Tengah menuju Eropa maupun sebagian Asia akan menghadapi hambatan besar.
Inilah yang mendorong harga minyak Brent kembali menembus US$100 per barel, level yang terakhir terlihat beberapa bulan lalu.
Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb Jadi Titik Kritis
Secara geografis, konflik saat ini menyentuh dua jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Selat Hormuz
Sekitar 20% pasokan energi dunia melewati selat sempit ini setiap harinya.
Gangguan sekecil apa pun langsung memengaruhi harga minyak global.
Selat Bab el-Mandeb
Jalur ini menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia melalui Terusan Suez.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah kapal mulai menghindari kawasan tersebut karena meningkatnya ancaman serangan.
Akibatnya, biaya pengiriman energi dan barang mulai meningkat.
Bagi perusahaan pelayaran, risiko asuransi juga ikut melonjak.
Gencatan Senjata Praktis Berakhir
Konflik yang bermula setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari kini kembali memanas.
Kesepakatan gencatan senjata yang sempat dicapai bulan lalu praktis kehilangan efektivitas setelah kedua pihak kembali saling melancarkan serangan selama hampir dua pekan terakhir.
Iran memperingatkan akan membalas apabila Amerika Serikat menyerang infrastruktur strategisnya.
Target yang disebut meliputi fasilitas energi dan objek vital di kawasan Teluk.
Sementara itu, Iran juga dilaporkan meluncurkan serangan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Yordania.
Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan serangan udara Amerika Serikat menghantam terminal penumpang di perbatasan Shalamcheh yang menyebabkan korban jiwa.
Bukan Lagi Sekadar Konflik Regional
Analis Bloomberg Economics, Dina Esfandiary dan Becca Wasser, menilai konflik kini memasuki fase yang jauh lebih sulit dikendalikan.
Menurut mereka, baik Iran maupun Houthi masih memiliki ruang untuk meningkatkan eskalasi.
Masalahnya, semakin tinggi eskalasi berlangsung, semakin kecil peluang kedua pihak kembali ke meja perundingan.
Pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperlihatkan kondisi tersebut.
Ia menegaskan bahwa tidak ada peluang kemajuan diplomatik selama Amerika Serikat belum menghormati kepentingan nasional Iran.
Dengan posisi kedua pihak yang sama-sama keras, risiko konflik berkepanjangan menjadi semakin besar.
Harga Minyak dan Inflasi Jadi Taruhan
Konflik ini tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah.
Apabila gangguan distribusi minyak berlangsung lebih lama, konsekuensinya dapat meluas ke berbagai sektor ekonomi global.
Beberapa dampak yang mulai diantisipasi pasar antara lain:
- kenaikan harga minyak mentah;
- inflasi energi yang lebih tinggi;
- kenaikan biaya logistik global;
- tekanan terhadap harga pangan dan transportasi;
- tertundanya penurunan suku bunga oleh bank-bank sentral.
Inilah alasan mengapa pasar keuangan merespons konflik secara sangat sensitif.
Bahkan sebelum terjadi gangguan pasokan secara nyata, premi risiko sudah tercermin pada lonjakan harga minyak.
Trump Juga Menghadapi Tekanan Politik
Di dalam negeri, Trump tidak sepenuhnya berada dalam posisi nyaman.
Perang yang berkepanjangan mulai memunculkan tekanan politik menjelang pemilu sela Amerika Serikat.
Sejumlah survei menunjukkan konflik tersebut kurang mendapat dukungan publik, terutama setelah harga bensin kembali naik hingga menembus US$4 per galon di sejumlah wilayah.
Kenaikan biaya hidup berpotensi memengaruhi elektabilitas Partai Republik.
Bahkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat telah meloloskan resolusi simbolis yang menyerukan agar pemerintahan Trump menghentikan operasi militer.
Meski tidak mengikat secara hukum, langkah tersebut menunjukkan bahwa isu perang mulai menjadi perdebatan politik domestik.
Risiko Terbesar Ada pada Jalur Energi Dunia
Perkembangan terbaru memperlihatkan bahwa fokus pasar tidak lagi hanya pada siapa yang unggul di medan perang. Yang lebih dikhawatirkan adalah kemungkinan lumpuhnya dua jalur pelayaran paling vital bagi perdagangan energi dunia secara bersamaan.
Jika Selat Hormuz tetap mengalami gangguan dan Laut Merah melalui Bab el-Mandeb juga semakin tidak aman, pasokan minyak global akan menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sejak krisis energi beberapa tahun terakhir.
Bagi investor, situasi ini berarti volatilitas di pasar komoditas kemungkinan masih akan tinggi. Harga minyak berpotensi tetap bertahan di level tinggi selama belum ada tanda-tanda deeskalasi. Di saat yang sama, aset-aset lain seperti saham, obligasi, hingga nilai tukar negara berkembang juga berpotensi bergerak lebih fluktuatif karena investor terus menyesuaikan ekspektasi terhadap risiko geopolitik dan arah kebijakan moneter global.
.jpg)
0 Komentar