JAKARTA — Bursa Efek Indonesia memiliki 47 emiten yang diklasifikasikan dalam sektor teknologi hingga 12 Agustus 2026. Isinya jauh lebih beragam daripada sekadar perusahaan e-commerce dan platform digital: ada pusat data, penyedia teknologi informasi, solusi digital, hingga perusahaan infrastruktur teknologi.
Struktur sektornya juga menarik. PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) menjadi perusahaan teknologi dengan kapitalisasi pasar terbesar, sedangkan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) memiliki jumlah saham beredar paling banyak. Di sisi lain, mayoritas perusahaan teknologi justru masih berada di Papan Pengembangan, menunjukkan karakter sektor yang banyak dihuni perusahaan dalam fase ekspansi.
3 Poin Penting
- Ada 47 emiten teknologi: bisnisnya mencakup data center, teknologi informasi, solusi digital, e-commerce, hingga perusahaan berbasis platform.
- DCII terbesar secara kapitalisasi: nilainya mencapai Rp493,91 triliun, jauh di atas MLPT Rp70,58 triliun dan GOTO Rp57,03 triliun.
- Mayoritas di Papan Pengembangan: sebanyak 29 dari 47 emiten atau sekitar 61,7% tercatat pada papan tersebut.
1. Sektor Teknologi BEI Tidak Hanya GOTO dan BUKA
Ketika berbicara mengenai saham teknologi di Indonesia, perhatian investor sering langsung tertuju pada nama seperti GOTO atau PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA).
Padahal, klasifikasi sektor teknologi BEI mencakup model bisnis yang jauh lebih luas.
Di dalamnya terdapat perusahaan infrastruktur pusat data seperti DCII, penyedia solusi teknologi informasi, perusahaan perdagangan elektronik seperti PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI), hingga perusahaan yang membangun ekosistem digital berbasis platform.
Hal ini membuat saham teknologi di BEI tidak dapat dianalisis menggunakan satu pendekatan valuasi yang sama.
Perusahaan data center, distributor IT, software provider, dan platform digital memiliki karakter revenue, kebutuhan capex, margin, dan siklus profitabilitas yang berbeda. Label “teknologi” tidak otomatis berarti model bisnisnya sama.
2. Metrodata Jadi Emiten Teknologi Paling Senior
PT Metrodata Electronics Tbk. (MTDL) menjadi emiten sektor teknologi yang paling lama tercatat di Bursa Efek Indonesia.
MTDL melantai di Bursa pada 9 April 1990. Dengan demikian, hingga 2026 perusahaan telah memiliki sejarah pencatatan lebih dari 36 tahun.
Posisi ini menarik karena menunjukkan sektor teknologi di BEI tidak seluruhnya lahir dari gelombang digital dan startup dalam satu dekade terakhir.
Perusahaan teknologi informasi konvensional telah menjadi bagian dari pasar modal Indonesia jauh sebelum era e-commerce, aplikasi on-demand, dan cloud computing berkembang seperti sekarang.
3. GOTO Punya Saham Beredar Paling Banyak
Dari sisi jumlah saham, GOTO berada jauh di atas seluruh emiten teknologi lain.
Berdasarkan data BEI dalam bahan yang tersedia, jumlah saham GOTO mencapai sekitar 1,14 triliun lembar.
BELI berada di posisi berikutnya dengan sekitar 137,22 miliar lembar, disusul BUKA sebanyak 103,17 miliar lembar.
| Peringkat | Emiten | Jumlah Saham |
|---|---|---|
| 1 | GOTO | ~1,14 triliun |
| 2 | BELI | ~137,22 miliar |
| 3 | BUKA | ~103,17 miliar |
| 4 | EMTK | ~61,43 miliar |
| 5 | MLPT | ~46,88 miliar |
4. Banyak Saham Bukan Berarti Kapitalisasi Paling Besar
Jumlah saham beredar tidak menentukan ukuran nilai perusahaan secara langsung.
Market capitalization dihitung dengan mengalikan jumlah saham beredar dengan harga saham.
Itulah sebabnya GOTO memiliki saham beredar jauh lebih banyak dibandingkan DCII, tetapi kapitalisasi pasarnya justru jauh lebih kecil.
Kapitalisasi pasar = harga saham × jumlah saham beredar. Karena itu, membandingkan perusahaan hanya dari jumlah lembar saham tidak memberikan informasi apakah perusahaan tersebut “lebih besar” atau “lebih mahal”.
5. DCII Mendominasi Kapitalisasi Sektor Teknologi
PT DCI Indonesia Tbk. menjadi emiten teknologi terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar.
Data yang digunakan sumber per 12 Agustus 2026 pukul 20.38 WIB menunjukkan market cap DCII sebesar Rp493,91 triliun.
Posisi kedua ditempati PT Multipolar Technology Tbk. (MLPT) dengan kapitalisasi Rp70,58 triliun.
GOTO berada di posisi ketiga dengan Rp57,03 triliun, kemudian BELI Rp35,68 triliun dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) Rp31,45 triliun.
| Peringkat | Emiten | Kapitalisasi Pasar |
|---|---|---|
| 1 | DCII | Rp493,91 triliun |
| 2 | MLPT | Rp70,58 triliun |
| 3 | GOTO | Rp57,03 triliun |
| 4 | BELI | Rp35,68 triliun |
| 5 | EMTK | Rp31,45 triliun |
6. Seberapa Dominan Kapitalisasi DCII?
Perbedaan ukuran DCII dibandingkan empat perusahaan berikutnya sangat besar.
Berdasarkan perhitungan Receh.in, kapitalisasi pasar DCII sekitar 7 kali MLPT yang berada di posisi kedua.
Jika dibandingkan dengan GOTO, kapitalisasi DCII sekitar 8,7 kali lebih besar.
Bahkan jika kapitalisasi MLPT, GOTO, BELI, dan EMTK dijumlahkan, nilainya sekitar Rp194,74 triliun, masih jauh di bawah kapitalisasi DCII Rp493,91 triliun.
7. Tetapi Market Cap Besar Belum Tentu Sahamnya Paling Likuid
Ada perbedaan penting antara kapitalisasi pasar dan likuiditas saham.
Market cap menunjukkan nilai perusahaan berdasarkan harga pasar dan jumlah saham beredar.
Sementara likuiditas menunjukkan seberapa mudah saham dapat dibeli dan dijual dalam volume tertentu tanpa mengubah harga secara drastis.
Karena itu, investor sebaiknya tidak menyimpulkan sebuah saham otomatis lebih mudah diperdagangkan hanya karena memiliki kapitalisasi ratusan triliun rupiah.
Free float, distribusi kepemilikan, volume transaksi, nilai transaksi harian, serta bid-ask spread juga penting.
8. Infrastruktur Data Center Mengubah Wajah Sektor Teknologi
Posisi DCII sebagai emiten teknologi terbesar menunjukkan perubahan karakter sektor teknologi.
Nilai perusahaan teknologi tidak hanya berasal dari aplikasi, platform, atau jumlah pengguna.
Infrastruktur fisik seperti data center juga menjadi bagian penting dari ekosistem digital karena pertumbuhan cloud computing, penyimpanan data, layanan digital, dan kebutuhan komputasi meningkatkan permintaan terhadap kapasitas pusat data.
Bisnis tersebut memiliki karakter berbeda dari perusahaan internet konsumer karena membutuhkan investasi aset yang besar dan memiliki model monetisasi berbasis kapasitas serta utilisasi.
9. Platform Digital Punya Model Bisnis Berbeda
GOTO, BUKA, dan BELI berada dalam sektor yang sama, tetapi fundamental masing-masing tidak identik.
Perusahaan platform dapat lebih sensitif terhadap gross transaction value, take rate, jumlah pengguna, biaya promosi, monetisasi layanan, dan kemampuan mengubah skala transaksi menjadi laba serta arus kas.
Karena itu, rasio valuasi yang digunakan untuk perusahaan data center tidak selalu cocok diterapkan langsung kepada perusahaan platform digital.
| Subsektor/Model | Contoh dari Bahan | Indikator yang Relevan |
|---|---|---|
| Data Center | DCII | Kapasitas, utilisasi, capex, recurring revenue |
| Platform Digital | GOTO | Revenue, EBITDA, cash flow, monetisasi |
| E-Commerce | BELI, BUKA | GMV, revenue, margin, cash burn/profitability |
| IT Solution | MTDL, MLPT | Revenue, backlog, margin, recurring services |
10. Mayoritas Emiten Teknologi Ada di Papan Pengembangan
Komposisi papan pencatatan memberikan gambaran lain mengenai karakter sektor teknologi Indonesia.
Dari 47 emiten, sebanyak 29 perusahaan berada di Papan Pengembangan.
Tujuh emiten berada di Papan Pemantauan Khusus, lima di Papan Utama, lima di Papan Akselerasi, dan satu emiten di Papan Ekonomi Baru.
| Papan Pencatatan | Jumlah Emiten | Porsi* |
|---|---|---|
| Papan Pengembangan | 29 | ~61,7% |
| Pemantauan Khusus | 7 | ~14,9% |
| Papan Utama | 5 | ~10,6% |
| Papan Akselerasi | 5 | ~10,6% |
| Papan Ekonomi Baru | 1 | ~2,1% |
*Perhitungan Receh.in berdasarkan total 47 emiten. Persentase dapat tidak tepat 100% karena pembulatan.
11. Sekitar 62% Masih di Papan Pengembangan
Dengan 29 dari 47 emiten berada di Papan Pengembangan, sekitar 61,7% perusahaan teknologi BEI tercatat pada papan tersebut.
Komposisi ini menunjukkan bahwa sektor teknologi Indonesia banyak dihuni perusahaan yang belum berada di Papan Utama.
Namun status papan pencatatan tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan kualitas sebuah saham.
Investor tetap perlu melihat skala bisnis, laba, arus kas, struktur permodalan, tata kelola, free float, dan valuasi masing-masing perusahaan.
12. Ada Tujuh Emiten di Papan Pemantauan Khusus
Data juga menunjukkan tujuh emiten teknologi berada di Papan Pemantauan Khusus.
Jumlah tersebut setara sekitar 14,9% dari total emiten teknologi berdasarkan perhitungan Receh.in.
Keberadaan saham di papan ini menjadi alasan investor perlu melakukan pemeriksaan tambahan terhadap status dan kriteria yang menyebabkan masing-masing emiten berada dalam pemantauan.
Bahan yang tersedia tidak mencantumkan nama ketujuh perusahaan tersebut maupun alasan masing-masing masuk Papan Pemantauan Khusus sehingga artikel ini tidak mengasumsikan penyebabnya.
13. Hanya Lima Emiten Teknologi Berada di Papan Utama
Dari total 47 perusahaan, hanya lima yang tercatat di Papan Utama berdasarkan data yang tersedia.
Angkanya setara sekitar 10,6% dari seluruh emiten teknologi.
Di sisi lain, lima perusahaan juga tercatat pada Papan Akselerasi dan satu perusahaan berada di Papan Ekonomi Baru.
Komposisi ini membuat sektor teknologi memiliki spektrum perusahaan yang sangat lebar, dari emiten berusia puluhan tahun hingga perusahaan dengan model ekonomi baru.
14. Mengapa Investor Tidak Bisa Membeli “Sektor Teknologi” Secara Buta?
Salah satu risiko menggunakan klasifikasi sektoral adalah menganggap semua perusahaan di dalamnya mendapatkan manfaat yang sama dari pertumbuhan ekonomi digital.
Padahal, pertumbuhan cloud dapat berdampak lebih langsung terhadap data center. Belanja digital perusahaan mungkin lebih relevan bagi IT solution provider. Perubahan konsumsi online berdampak berbeda terhadap platform e-commerce.
Akibatnya, catalyst dan risikonya juga berbeda.
“Teknologi” adalah klasifikasi sektor, bukan tesis investasi. Setelah menemukan saham teknologi, langkah berikutnya adalah memahami sebenarnya perusahaan tersebut menjual apa, siapa pelanggannya, dari mana pendapatannya, dan bagaimana bisnis tersebut menghasilkan kas.
15. Saham Banyak Tidak Berarti Murah
Data GOTO yang memiliki 1,14 triliun saham juga menjadi contoh bagus untuk memahami konsep harga saham.
Jumlah saham beredar yang besar dapat membuat harga per lembar terlihat rendah dibandingkan perusahaan yang saham beredarnya jauh lebih sedikit.
Namun harga per lembar tidak menentukan murah atau mahalnya valuasi perusahaan.
Investor harus melihat kapitalisasi pasar, enterprise value, laba, EBITDA, arus kas, aset, dan prospek pertumbuhan.
Karena itu, saham dengan harga Rp50 belum tentu lebih murah secara valuasi dibandingkan saham dengan harga puluhan ribu rupiah per lembar.
16. Kapitalisasi Pasar Juga Tidak Sama dengan Nilai Fundamental
Market cap menunjukkan bagaimana pasar menilai ekuitas perusahaan pada harga saat ini.
Angka itu bukan otomatis nilai wajar perusahaan.
Kapitalisasi dapat meningkat karena laba berkembang, prospek pertumbuhan membaik, atau karena investor bersedia membayar multiple valuasi lebih tinggi.
Sebaliknya, market cap bisa turun meskipun perusahaan masih menghasilkan laba apabila investor menurunkan valuasi yang bersedia mereka bayarkan.
17. Apa yang Perlu Dibandingkan Sebelum Membeli Saham Teknologi?
| Indikator | Fungsi dalam Analisis |
|---|---|
| Pertumbuhan Revenue | Mengukur ekspansi bisnis |
| EBITDA / Margin | Mengukur profitabilitas operasi |
| Operating Cash Flow | Menguji apakah pertumbuhan menghasilkan kas |
| Capex | Penting untuk data center dan infrastruktur |
| Free Float & Likuiditas | Mengukur investability saham |
| Market Cap | Mengukur ukuran valuasi ekuitas |
| Valuation Multiple | Membandingkan harga dengan fundamental |
18. Lima Emiten Terbesar Belum Mewakili Semua 47 Perusahaan
DCII, MLPT, GOTO, BELI, dan EMTK menunjukkan bagian atas sektor berdasarkan kapitalisasi pasar.
Namun daftar sumber yang tersedia dalam bahan ini tidak merinci identitas seluruh 47 emiten secara tekstual.
Karena itu, artikel ini tidak menambahkan nama perusahaan yang tidak tercantum dalam bahan hanya untuk membentuk daftar lengkap 47 saham.
Investor yang ingin menggunakan daftar tersebut sebagai screening awal tetap perlu mengecek klasifikasi sektoral terbaru BEI karena komposisi dapat berubah ketika terdapat IPO, delisting, atau perubahan klasifikasi perusahaan.
Sektor teknologi di BEI kini terdiri atas 47 emiten dengan karakter bisnis yang sangat beragam. DCII mendominasi kapitalisasi pasar sebesar Rp493,91 triliun, sedangkan GOTO memiliki jumlah saham beredar terbesar sekitar 1,14 triliun lembar. Yang juga menarik, 29 perusahaan atau sekitar 61,7% dari sektor tersebut masih tercatat di Papan Pengembangan. Data ini menunjukkan investor sebaiknya tidak memperlakukan “saham teknologi” sebagai satu kelompok homogen. Data center, platform digital, e-commerce, dan IT solution memiliki sumber pertumbuhan, risiko, kebutuhan modal, serta parameter valuasi yang berbeda.
Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
Berapa jumlah emiten teknologi di BEI pada 2026?
Apa saham teknologi dengan kapitalisasi pasar terbesar?
Berapa kapitalisasi pasar GOTO?
Emiten teknologi apa yang punya saham beredar paling banyak?
Apa emiten teknologi tertua di BEI?
Berapa emiten teknologi yang berada di Papan Pengembangan?
Apakah saham dengan market cap terbesar selalu paling bagus?
Perhitungan Receh.in: Porsi Papan Pengembangan sekitar 61,7%, Papan Pemantauan Khusus sekitar 14,9%, Papan Utama dan Papan Akselerasi masing-masing sekitar 10,6%, serta perbandingan kapitalisasi DCII dengan MLPT dan GOTO dihitung Receh.in berdasarkan angka dalam bahan.
Catatan: Bahan yang tersedia menyebut terdapat 47 emiten sektor teknologi, tetapi tidak merinci nama seluruh 47 perusahaan dalam teks. Karena itu, artikel ini tidak mengarang atau melengkapi sendiri daftar yang tidak tersedia pada sumber. Kapitalisasi pasar juga dapat berubah mengikuti pergerakan harga saham.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi pasar modal. Penyebutan DCII, MLPT, GOTO, BELI, EMTK, BUKA, MTDL maupun emiten teknologi lainnya bukan merupakan rekomendasi membeli atau menjual saham.

0 Komentar