Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Delapan startup asal Indonesia masuk dalam daftar Forbes Asia 100 to Watch 2026, menempatkan Indonesia sejajar dengan Australia dalam jumlah perusahaan terpilih tahun ini. Daftar tersebut menyoroti perusahaan kecil dan startup privat di Asia-Pasifik yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan, inovasi dan daya tarik pendanaan.

Delapan perusahaan Indonesia yang masuk daftar bergerak di bidang yang cukup beragam: kecerdasan buatan, pembayaran digital, makanan anak, perawatan bayi, layanan kesehatan gigi, healthtech, teknologi parkir dan pengelolaan sampah. Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa ekosistem startup Indonesia tidak lagi hanya bertumpu pada e-commerce dan fintech.

Secara keseluruhan, 100 perusahaan yang masuk daftar Forbes Asia tahun ini telah menghimpun pendanaan sekitar US$2,4 miliar. Hampir US$1 miliar di antaranya diperoleh sepanjang 2026 hingga daftar disusun. Dengan asumsi kurs Rp17.745 per dolar AS sebagaimana digunakan dalam bahan sumber, total pendanaan tersebut setara sekitar Rp42,59 triliun.

Ringkasan
  • Indonesia menyumbang 8 perusahaan dalam Forbes Asia 100 to Watch 2026, sama banyak dengan Australia.
  • Delapan nama tersebut adalah Cekat.AI, Durianpay, Grouu, Loluna, Satu Dental, Sirka, Soul Parking dan Waste4Change.
  • AI menjadi tema dominan dalam daftar regional, tetapi wakil Indonesia justru menunjukkan keragaman sektor dari fintech hingga kesehatan dan lingkungan.

8 Startup Indonesia di Forbes Asia 100 to Watch 2026

No. Perusahaan Sektor Highlight Bisnis Pendanaan yang Disebut
1 Cekat.AI AI / customer service automation Lebih dari 3.000 pelanggan di 15 industri Seed April 2026, nilai tidak diungkapkan
2 Durianpay Fintech / pembayaran Total transaksi lebih dari US$5,5 miliar sepanjang 2025 US$8,1 juta
3 Grouu Food & beverage Lebih dari 3.000 titik penjualan dan 190 mompreneur di 50 kota Lebih dari US$1 juta
4 Loluna Baby skincare Produk tersedia di sekitar 10.000 toko di Indonesia Seed Februari 2025, nilai tidak diungkapkan
5 Satu Dental Dental healthcare 56 klinik per Juni 2026 dan jaringan sekitar 500 dokter Lebih dari US$20 juta
6 Sirka Healthtech Dua klinik di Jabodetabek dan rencana tiga tambahan pada 2026 US$2,6 juta seed pada 2022
7 Soul Parking Urban mobility / parking tech Mengelola sekitar 150 lokasi di Indonesia Seri A lanjutan Januari 2025, nilai tidak disebutkan
8 Waste4Change Waste management / sustainability Lebih dari 90.000 ton sampah dikelola sejak berdiri US$5 juta seri A pada 2022

1. Cekat.AI

Cekat.AI merupakan perusahaan teknologi berbasis di Jakarta yang mengembangkan otomatisasi layanan pelanggan berbasis kecerdasan buatan. Startup ini didirikan pada 2023 oleh Matthew Sebastian.

Produknya mencakup bot AI yang dapat merespons pertanyaan pelanggan melalui situs web, WhatsApp maupun Instagram. Teknologi tersebut juga dapat membentuk profil pelanggan yang kemudian digunakan tim penjualan untuk menindaklanjuti prospek.

Berdasarkan bahan sumber, Cekat.AI telah digunakan lebih dari 3.000 pelanggan di 15 industri. Siloam Hospitals dan Indomaret termasuk nama yang disebut sebagai pengguna. Pada April 2026, perusahaan memperoleh pendanaan seed dari Insignia Ventures Partners dengan nilai yang tidak diungkapkan.

2. Durianpay

Durianpay bergerak di bidang teknologi finansial dengan menyediakan infrastruktur pembayaran untuk bisnis. Startup yang didirikan pada 2020 oleh Natasha Ardiani tersebut melayani lebih dari 400 klien di Indonesia.

Sepanjang 2025, total transaksi yang diproses disebut telah melampaui US$5,5 miliar. Tahun yang sama juga disebut menjadi tahun pertama perusahaan membukukan keuntungan.

Durianpay telah menghimpun total pendanaan US$8,1 juta. Rencana ekspansinya mencakup pasar di luar Indonesia dan pengembangan layanan pembayaran lintas negara yang didukung stablecoin.

3. Grouu

Grouu memulai bisnis dengan menyediakan makanan bergizi dan segar untuk bayi. Perusahaan yang didirikan Jessica Marthin pada 2020 tersebut kemudian memperluas lini produk ke makanan siap santap, makanan ringan untuk anak dan bahan masakan.

Jaringan distribusinya telah mencapai lebih dari 3.000 titik penjualan, termasuk supermarket. Grouu juga membangun jaringan lebih dari 190 mompreneur di 50 kota yang berfungsi sebagai titik pengambilan produk di lingkungan tempat tinggal pelanggan.

Pendanaan yang telah dihimpun disebut lebih dari US$1 juta, dengan investor antara lain Teja Ventures dan Selera Kapital.

4. Loluna

Loluna merupakan merek perawatan kulit bayi yang didirikan pada 2022 oleh Bianca Belnadia Lie. Produknya mencakup sabun mandi, krim dan losion tabir surya untuk bayi dan anak.

Produk Loluna mulai dipasarkan pada September 2023 dan kini disebut tersedia di sekitar 10.000 toko di Indonesia, termasuk jaringan ritel seperti Alfamidi dan Watsons. Penjualan daring juga dilakukan melalui platform seperti Shopee dan TikTok Shop.

Pada Februari 2025, Loluna mendapatkan pendanaan seed dengan nilai yang tidak diungkapkan dari investor termasuk Alpha JWC Ventures dan Creative Gorilla Capital.

5. Satu Dental

Satu Dental bergerak di bidang layanan kesehatan gigi dengan pendekatan jaringan klinik. Perusahaan yang didirikan Satria Situmorang pada 2021 itu telah memiliki 56 klinik hingga Juni 2026 di Jabodetabek dan dua kota besar lainnya di Pulau Jawa.

Selain jaringan klinik, perusahaan bekerja sama dengan sekitar 500 dokter gigi dan dokter umum. Total pendanaan yang telah dihimpun disebut lebih dari US$20 juta.

Satu Dental menargetkan memiliki lebih dari 60 klinik pada akhir 2026 sekaligus memperluas layanan ke lebih banyak kota. Dari sisi model bisnis, skalabilitas jaringan klinik dan kemampuan menjaga tingkat utilisasi fasilitas akan menjadi faktor penting dalam pertumbuhan berikutnya.

6. Sirka

Sirka awalnya hadir sebagai aplikasi kesehatan yang menyediakan pendampingan pola makan dan konsultasi dengan tenaga profesional. Startup yang didirikan Rifanditto Adhikara pada 2021 tersebut kemudian bergerak ke model layanan kesehatan fisik melalui kerja sama dengan klinik.

Pada 2024, Sirka membuka kliniknya sendiri yang berfokus pada pengelolaan berat badan, kesehatan pencernaan, diabetes dan penyakit kronis. Saat ini terdapat dua klinik di Jabodetabek, dengan rencana menambah tiga klinik sepanjang 2026.

Pendanaan seed US$2,6 juta diperoleh pada 2022 dalam putaran yang dipimpin bersama ACV Capital dan Wavemaker Partners.

7. Soul Parking

Soul Parking menawarkan teknologi untuk pengelolaan parkir di kawasan perkotaan. Perusahaan berbasis Jakarta ini didirikan pada 2020 oleh Kenneth Darmansjah.

Salah satu inovasinya adalah rak baja mekanis vertikal untuk sepeda motor yang diklaim dapat meningkatkan kapasitas parkir hingga delapan kali dibandingkan ruang parkir konvensional. Perusahaan juga menyediakan sistem operasi untuk mengendalikan gerbang dan merekam kendaraan secara real time.

Soul Parking kini disebut mengelola sekitar 150 lokasi di Indonesia. Pada Januari 2025, perusahaan menyelesaikan putaran pendanaan lanjutan seri A yang dipimpin ACV Capital dan AppWorks untuk mendukung ekspansi ke kota lapis kedua dan ketiga.

8. Waste4Change

Waste4Change bergerak di bidang pengelolaan sampah dengan layanan yang mencakup daur ulang material dan pengomposan sampah organik. Perusahaan ini didirikan pada 2014 oleh Mohamad Bijaksana Junerosano.

Sejak berdiri, Waste4Change mengklaim telah menangani lebih dari 90.000 ton sampah. Sekitar 38.000 ton di antaranya dikelola sepanjang 2025. Basis pelanggannya mencakup sekitar 400 perusahaan dan 21.000 pelanggan rumah tangga.

Pada 2022, perusahaan memperoleh pendanaan seri A sebesar US$5 juta yang dipimpin bersama ACV Capital dan Barito Mitra Investama.

AI Dominan di Asia, tetapi Wakil Indonesia Lebih Beragam

Forbes Asia menempatkan kecerdasan buatan sebagai salah satu tema utama dalam daftar 100 to Watch tahun ini. Hampir seperempat perusahaan yang masuk daftar merupakan perusahaan teknologi untuk kebutuhan bisnis yang menawarkan layanan berbasis AI.

Selain AI, robotika dan teknologi hijau juga memperoleh porsi besar. Masing-masing sektor tersebut disebut menyumbang 10 perusahaan dalam daftar.

Namun delapan wakil Indonesia menunjukkan pola yang lebih beragam. Hanya Cekat.AI yang secara eksplisit berada di pusat gelombang AI. Durianpay membawa cerita fintech, sementara Satu Dental dan Sirka mewakili pertumbuhan layanan kesehatan. Grouu dan Loluna bermain di consumer market, Soul Parking di urban mobility, sedangkan Waste4Change di ekonomi sirkular dan pengelolaan lingkungan.

Yang menarik: daftar Indonesia tidak terkonsentrasi pada satu tema teknologi. Ini memberi gambaran bahwa peluang pertumbuhan startup domestik mulai menyebar ke sektor yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan sehari-hari: pembayaran, kesehatan, makanan anak, parkir dan pengelolaan sampah.

Indonesia Punya 8 Wakil, India Paling Banyak

Dari sisi negara, India menjadi penyumbang terbanyak dengan 19 perusahaan. Singapura berada di posisi berikutnya dengan 15 perusahaan, lalu China 10 perusahaan. Jepang dan Korea Selatan masing-masing menyumbang sembilan perusahaan.

Indonesia dan Australia sama-sama memiliki delapan wakil. Dengan demikian, Indonesia berada di kelompok negara dengan representasi cukup besar dalam daftar tahun ini.

Negara Jumlah Perusahaan
India 19
Singapura 15
China 10
Jepang 9
Korea Selatan 9
Indonesia 8
Australia 8

Perlu dicatat bahwa Forbes Asia 100 to Watch bukan daftar perusahaan terbesar. Justru kriterianya membatasi kandidat pada perusahaan privat yang masih berada pada skala tertentu.

Perusahaan yang memenuhi syarat harus berkantor pusat di kawasan Asia-Pasifik, berorientasi laba dan dimiliki secara privat. Pendapatan tahunannya tidak boleh melebihi US$50 juta, sedangkan total pendanaan tidak boleh lebih dari US$100 juta hingga 15 Agustus 2026.

Forbes kemudian menilai sejumlah aspek seperti dampak terhadap industri dan kawasan, kesesuaian produk dengan pasar, prospek model bisnis, inovasi, pertumbuhan pendapatan dan kemampuan menarik modal.

Dari 8 Startup Ini, Apa yang Paling Menarik?

Jika dibaca dari indikator yang tersedia dalam bahan sumber, masing-masing perusahaan memiliki bentuk validasi pasar yang berbeda.

Cekat.AI menunjukkan adopsi lewat lebih dari 3.000 pelanggan. Durianpay menunjukkan skala transaksi melalui volume lebih dari US$5,5 miliar pada 2025 sekaligus mengklaim telah mencapai profitabilitas. Grouu dan Loluna mengandalkan perluasan distribusi fisik, sedangkan Satu Dental dan Sirka menempuh strategi ekspansi jaringan klinik.

Soul Parking menunjukkan skalabilitas lewat 150 lokasi, sementara Waste4Change membawa ukuran operasional berupa tonase sampah yang dikelola dan jumlah pelanggan korporasi maupun rumah tangga.

Angka-angka tersebut belum dapat diperlakukan sebagai ukuran valuasi atau kualitas investasi. Startup privat tidak memiliki tingkat keterbukaan yang sama dengan perusahaan publik, sehingga informasi mengenai pendapatan, arus kas, valuasi, burn rate dan profitabilitas tidak selalu tersedia secara lengkap.

Intinya: delapan wakil Indonesia dalam Forbes Asia 100 to Watch 2026 menunjukkan bahwa cerita startup domestik semakin beragam. AI memang menjadi tema besar kawasan, tetapi perusahaan Indonesia yang masuk daftar justru datang dari berbagai kebutuhan riil, mulai pembayaran dan kesehatan sampai mobilitas perkotaan dan pengelolaan sampah. Bagi investor, daftar ini lebih tepat dibaca sebagai radar perusahaan bertumbuh daripada peringkat kelayakan investasi.

FAQ Forbes Asia 100 to Watch 2026

Berapa startup Indonesia yang masuk Forbes Asia 100 to Watch 2026?
Ada delapan perusahaan asal Indonesia yang masuk dalam Forbes Asia 100 to Watch 2026.
Apa saja startup Indonesia yang masuk Forbes Asia 100 to Watch 2026?
Delapan perusahaan tersebut adalah Cekat.AI, Durianpay, Grouu, Loluna, Satu Dental, Sirka, Soul Parking dan Waste4Change.
Negara mana yang paling banyak masuk Forbes Asia 100 to Watch 2026?
India memiliki jumlah perusahaan terbanyak dengan 19 perusahaan, disusul Singapura 15 perusahaan dan China 10 perusahaan.
Berapa total pendanaan perusahaan dalam Forbes Asia 100 to Watch 2026?
Secara keseluruhan, perusahaan dalam daftar disebut telah menghimpun sekitar US$2,4 miliar pendanaan, dengan hampir US$1 miliar diperoleh sepanjang 2026 hingga daftar disusun.
Apa kriteria masuk Forbes Asia 100 to Watch?
Perusahaan harus berkantor pusat di Asia-Pasifik, merupakan bisnis privat berorientasi laba, memiliki pendapatan tahunan tidak lebih dari US$50 juta, dan total pendanaan tidak lebih dari US$100 juta hingga 15 Agustus 2026.
Apakah Forbes Asia 100 to Watch merupakan daftar startup terbaik untuk investasi?
Tidak. Daftar tersebut menyoroti perusahaan yang dinilai memiliki prospek, inovasi dan pertumbuhan, tetapi bukan rekomendasi investasi. Startup privat juga memiliki tingkat keterbukaan informasi yang berbeda dari perusahaan publik.
Sumber: Forbes Asia 100 to Watch 2026 sebagaimana dikutip dalam bahan yang diterima Receh.in, termasuk profil Cekat.AI, Durianpay, Grouu, Loluna, Satu Dental, Sirka, Soul Parking dan Waste4Change.

Perhitungan Receh.in: Konversi US$2,4 miliar menggunakan asumsi kurs Rp17.745 per dolar AS menghasilkan sekitar Rp42,59 triliun. Hampir US$1 miliar dengan kurs yang sama setara sekitar Rp17,75 triliun.

Catatan: Sebagian angka operasional, jumlah pelanggan, total transaksi dan pendanaan berasal dari klaim perusahaan sebagaimana dicantumkan dalam bahan sumber. Beberapa putaran pendanaan tidak mengungkap nilai investasi.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi investasi pada perusahaan privat, saham, aset digital atau instrumen lainnya. Informasi mengenai startup privat dapat lebih terbatas dibandingkan perusahaan terbuka.