Daftar IsiTampilkan

 

Emas sedang mendapatkan tempat baru di industri perbankan. Produk yang selama bertahun-tahun lebih identik dengan toko emas, Pegadaian, atau investasi fisik kini perlahan masuk ke halaman utama aplikasi bank. Nasabah dapat memindahkan sebagian uang di rekening menjadi saldo emas tanpa perlu meninggalkan ekosistem digital tempat mereka sehari-hari membayar tagihan, membeli reksa dana, bertransaksi valuta asing, atau menempatkan deposito.

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi salah satu pemain terbaru. BCA meluncurkan Tabungan Emas melalui MyBCA bersama PT Pegadaian (Persero). Langkah itu memperpanjang daftar bank yang masuk ke bisnis emas melalui pola kolaborasi. Pegadaian menyebut sekitar 15 bank telah bekerja sama menghadirkan Tabungan Emas, sementara PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) juga disiapkan menyusul melalui wondr by BNI dan Bale by BTN pada Agustus 2026.

Belum berhenti di sana. Pegadaian mengatakan masih ada sekitar empat hingga lima bank yang sedang menjajaki kerja sama serupa. Gelombang ini memunculkan pertanyaan yang lebih menarik daripada sekadar siapa bank berikutnya: apa sebenarnya yang sedang dikejar bank dari bisnis emas?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana komisi transaksi. Pada tahap awal, nilai ekonomi produk emas justru dapat berada pada kemampuan bank membuat nasabah semakin sulit keluar dari ekosistemnya. Emas menjadi satu bagian dari perebutan yang lebih besar: siapa yang menguasai sebanyak mungkin aktivitas keuangan nasabah dalam satu aplikasi.

Ringkasan

  • Bank semakin agresif membawa emas ke aplikasi digital. Pegadaian menyebut sekitar 15 bank telah bekerja sama, sementara BNI dan BTN juga disiapkan meluncurkan layanan serupa.
  • Fee transaksi bukan satu-satunya tujuan. Bagi bank yang berperan sebagai kanal distribusi, emas dapat meningkatkan retensi nasabah, frekuensi transaksi, dan peluang penjualan produk keuangan lain.
  • Model yang lebih dalam seperti BSI menunjukkan potensi monetisasi lebih besar. Basis nasabah bullion BSI telah melampaui 1,3 juta, sementara fee based income bisnis emas tumbuh 712% secara tahunan.
~15 Bank Telah Bekerja Sama dengan Pegadaian
4–5 Bank Masih Menjajaki Kolaborasi
>1,3 Juta Nasabah Bullion BSI
+712% Pertumbuhan Fee Based Income Emas BSI

Emas Menjadi Senjata Baru untuk Menahan Nasabah

Masuknya emas ke aplikasi perbankan memperlihatkan perubahan cara bank memandang produk investasi. Persaingan digital tidak lagi berhenti pada siapa yang memiliki aplikasi paling cepat atau fitur transfer paling lengkap. Bank semakin berusaha menjadikan aplikasinya sebagai pusat seluruh kebutuhan keuangan nasabah.

Dalam satu aplikasi, nasabah kini dapat memiliki tabungan, deposito, obligasi, reksa dana, asuransi, valuta asing, kartu kredit, hingga emas. Semakin lengkap pilihan tersebut, semakin sedikit alasan bagi nasabah untuk memindahkan aktivitas ke aplikasi lembaga keuangan lain.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede melihat nilai strategis Tabungan Emas berada pada mekanisme ini. Ketika berbagai kebutuhan investasi tersedia dalam satu ekosistem, hubungan bank dengan nasabah dapat menjadi lebih dalam dan frekuensi transaksi berpotensi meningkat.

Dalam bisnis digital, pola semacam ini penting karena bank tidak hanya mengejar nilai satu transaksi. Yang dicari adalah share of wallet: seberapa besar bagian dari seluruh aktivitas finansial seorang nasabah yang dapat dipertahankan di dalam ekosistem bank.

Misalnya, seorang nasabah menerima gaji melalui rekening bank yang sama, membayar tagihan di aplikasinya, membeli obligasi pemerintah, mengisi investasi berkala ke reksa dana, lalu menambah emas ketika pasar bergejolak. Secara individual, tidak semua transaksi memberikan fee besar. Tetapi secara keseluruhan, hubungan ekonomi antara bank dan nasabah menjadi jauh lebih tebal.

Itulah yang membuat emas menarik. Produk tersebut dapat menutup satu celah yang sebelumnya membuat nasabah harus keluar dari aplikasi bank dan menuju aplikasi Pegadaian, platform investasi, atau kanal lainnya.

BCA menggunakan pola ini melalui kerja sama dengan Pegadaian. Dari MyBCA, nasabah dapat membuka rekening Tabungan Emas, melakukan pembelian dan penjualan emas secara real time, serta memantau transaksi.

Bank tidak perlu membangun sendiri seluruh rantai bisnis emas. BCA menyediakan akses digital dan basis nasabah, sedangkan Pegadaian menyediakan infrastruktur dan produk emas yang berada di belakang layanan tersebut.

Pemain Peran Utama Nilai Strategis
Bank Kanal digital dan basis nasabah Retensi, transaksi, cross-selling
Pegadaian Penyedia layanan dan infrastruktur emas Memperluas distribusi tanpa hanya mengandalkan kanal sendiri
Nasabah Pengguna layanan Akses investasi emas tanpa berpindah aplikasi

Bagi Pegadaian, kerja sama dengan bank juga menyelesaikan persoalan distribusi. Direktur Teknologi Informasi dan Digital Pegadaian Yos Iman Jaya Dappu mengakui perusahaan memiliki keterbatasan untuk menjangkau seluruh calon nasabah. Bank, sebaliknya, sudah memiliki jutaan nasabah sendiri.

Alih-alih setiap lembaga membangun kanal dan basis pelanggan dari nol, kolaborasi memungkinkan keduanya memanfaatkan kekuatan masing-masing. Pegadaian membawa produk dan kapabilitas emas; bank membawa distribusi.

Yang sedang diperebutkan sebenarnya bukan hanya transaksi emas.
Tabungan Emas dapat menjadi fitur tambahan yang membuat nasabah semakin banyak melakukan aktivitas finansial dalam satu aplikasi. Karena itu, nilai ekonominya bagi bank bisa lebih besar daripada fee langsung yang tercatat dari jual-beli emas.

Fee Masih Kecil, tetapi Nilai Nasabah Bisa Jauh Lebih Besar

Pertanyaan berikutnya adalah apakah bisnis tersebut sudah menghasilkan uang dalam jumlah besar bagi bank.

Setidaknya pada fase awal, jawabannya belum tentu.

Presiden Direktur dan CEO PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) Lani Darmawan mengatakan pertumbuhan Tabungan Emas di CIMB Niaga cukup signifikan, tetapi masih berasal dari basis yang kecil. Dampaknya terhadap fee income perseroan pun belum berarti.

Pernyataan itu penting karena memperlihatkan bahwa keputusan bank membawa emas ke aplikasinya tidak bisa dibaca hanya melalui perhitungan komisi jangka pendek.

Sebuah produk dengan kontribusi fee kecil masih dapat mempunyai nilai jika meningkatkan loyalitas nasabah, membuat saldo transaksi tetap berada dalam ekosistem, atau mendorong penggunaan produk lain.

Secara sederhana, terdapat dua lapisan monetisasi yang berbeda.

Lapisan Sumber Nilai Karakter
Monetisasi langsung Komisi, pembagian pendapatan, atau biaya layanan sesuai skema kerja sama Terlihat langsung sebagai pendapatan nonbunga
Monetisasi tidak langsung Retensi nasabah, frekuensi transaksi, cross-selling, penggunaan produk lain Nilainya tersebar di seluruh hubungan nasabah dengan bank

Lapisan kedua inilah yang sering lebih sulit dihitung. Bank mungkin memperoleh komisi yang kecil dari satu pembelian emas, tetapi nasabah yang bertahan di aplikasi tersebut juga dapat membeli obligasi, menggunakan kartu kredit, mengambil kredit konsumsi, atau menempatkan produk investasi lainnya.

Dalam perspektif ini, emas berfungsi sebagai produk pelengkap untuk meningkatkan nilai sepanjang siklus hubungan nasabah.

Tetapi strategi itu membawa paradoks yang tidak kecil. Uang yang dipakai untuk membeli emas sering kali berasal dari rekening yang sama.

Jika seorang nasabah memindahkan Rp10 juta dari tabungannya untuk membeli emas, aplikasi bank memang tetap digunakan dan bank mungkin memperoleh bagian pendapatan dari transaksi. Namun pada saat yang sama, saldo simpanan yang sebelumnya menjadi sumber dana murah bank dapat berkurang.

Ini membuat bisnis emas berbeda dari sekadar menambahkan fitur baru.

Bagi bank, dana pihak ketiga adalah bahan baku utama intermediasi. Tabungan dan giro yang berbiaya relatif rendah membantu bank membiayai kredit dengan biaya dana yang lebih efisien. Ketika dana berpindah ke produk investasi di luar neraca bank, terdapat potensi trade-off antara pendapatan berbasis komisi dengan kehilangan sumber dana.

Isu tersebut menjadi lebih relevan ketika pertumbuhan dana perorangan tidak terlalu kuat. Dalam bahan, dana pihak ketiga perorangan pada Juni 2026 disebut hanya tumbuh sekitar 2,8% secara tahunan, sementara simpanan berjangka perorangan justru berkontraksi sekitar 3,4%.

Dengan kondisi itu, setiap produk investasi yang berpotensi mengalihkan saldo dari rekening perlu dihitung lebih hati-hati.

Paradoks bisnis emas bagi bank:
Nasabah yang membeli emas melalui aplikasi tetap berada dalam ekosistem digital bank. Tetapi dana yang dipakai untuk membeli emas dapat keluar dari simpanan yang selama ini menjadi sumber pendanaan bank. Karena itu, keberhasilan produk tidak cukup diukur dari nilai transaksi atau jumlah pengguna.

Josua Pardede menilai bank harus melihat pendapatan bersih setelah memperhitungkan potensi penurunan simpanan, biaya teknologi, promosi, dan layanan nasabah.

Dengan kata lain, satu transaksi emas dapat terlihat menarik dari sisi fee tetapi belum tentu memberikan nilai ekonomi yang sama jika sumber dananya berasal dari tabungan berbiaya murah yang hilang dari neraca.

Perhitungan menjadi jauh lebih kompleks daripada sekadar “semakin besar transaksi emas, semakin baik bagi bank”.

Dua Model Bisnis Mulai Terlihat: Kanal Distribusi dan Ekosistem Bullion

Perkembangan bisnis emas di industri perbankan mulai memperlihatkan setidaknya dua model yang berbeda.

Model pertama adalah bank sebagai kanal distribusi. Bank menyediakan pintu masuk kepada nasabah melalui aplikasi, sementara sebagian besar infrastruktur dan produk emas berasal dari mitra seperti Pegadaian.

Model ini relatif ringan dari sisi pembangunan kapabilitas. Bank dapat menambah pilihan produk tanpa harus membangun sendiri seluruh rantai bisnis emas.

Keuntungan utamanya berada pada kelengkapan ekosistem digital, retensi nasabah, dan kemungkinan pendapatan berbasis fee.

Model kedua jauh lebih dalam: bank membangun ekosistem emas yang terdiri dari berbagai produk dan layanan. PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) memberikan gambaran mengenai arah tersebut.

BSI tidak hanya memiliki satu produk Tabungan Emas. Ekosistemnya mencakup Cicil Emas, Gadai Emas, hingga BSI Emas melalui layanan bullion bank.

Ketika produk yang dimiliki semakin lengkap, peluang monetisasi juga menjadi lebih luas. Bank dapat berinteraksi dengan nasabah pada berbagai kebutuhan: membeli emas, mengakumulasi secara bertahap, menggunakan emas sebagai bagian dari perencanaan keuangan, hingga mengakses pembiayaan berbasis emas.

Angka pertumbuhan BSI menunjukkan perbedaannya.

Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar menyebut basis nasabah bullion perseroan telah mencapai lebih dari 1,3 juta orang dengan volume emas yang diperdagangkan lebih dari 8,06 ton.

Dalam satu tahun, jumlah nasabah bullion tumbuh 700% secara tahunan, sementara fee based income dari bisnis emas meningkat 712%.

Indikator BSI Bullion Realisasi dalam Bahan
Nasabah bullion >1,3 juta
Emas diperdagangkan >8,06 ton
Pertumbuhan nasabah +700% YoY
Pertumbuhan fee based income +712% YoY

Persentase yang sangat tinggi tersebut perlu dibaca dengan konteks bahwa bisnis bullion masih berada pada fase pertumbuhan awal. Pertumbuhan ratusan persen dapat terjadi ketika basis pembanding sebelumnya masih relatif kecil. Bahan juga tidak memberikan nominal fee based income sehingga kontribusinya terhadap keseluruhan pendapatan BSI belum dapat dihitung.

Namun arah bisnisnya sudah terlihat.

Semakin dalam bank terlibat pada rantai nilai emas, semakin besar kemungkinan emas berubah dari sekadar fitur aplikasi menjadi lini pendapatan tersendiri.

Aspek Bank sebagai Kanal Distribusi Ekosistem Bullion Lebih Lengkap
Produk Tabungan atau jual-beli emas Tabungan, perdagangan, cicil, gadai, dan layanan bullion
Investasi kapabilitas Relatif lebih ringan Lebih besar dan kompleks
Sumber nilai Retensi dan fee distribusi Lebih banyak titik monetisasi
Tujuan strategis Memperlengkap ekosistem digital Membangun bisnis emas sebagai salah satu pilar

Perbedaan ini juga menjelaskan mengapa pengalaman satu bank tidak dapat langsung diterapkan kepada bank lain. CIMB Niaga dapat melihat fee yang belum material, sementara BSI mencatat pertumbuhan fee based income sangat tinggi. Keduanya berada pada skala, model, dan kedalaman produk yang berbeda.

Emas Bisa Mengubah Pertarungan Aplikasi Perbankan

Perkembangan Tabungan Emas pada akhirnya merupakan bagian dari perubahan yang lebih besar dalam industri keuangan.

Bank-bank semakin sulit hanya mengandalkan fungsi tradisional aplikasi sebagai tempat mengecek saldo dan melakukan transfer. Nasabah kini terbiasa mendapatkan investasi, pembayaran, pinjaman, asuransi, dan berbagai layanan finansial dalam beberapa sentuhan layar.

Dalam lingkungan seperti itu, kehilangan satu kategori produk dapat berarti kehilangan sebagian aktivitas nasabah kepada aplikasi lain.

Emas menjadi penting karena memiliki karakter yang berbeda dari produk pasar modal. Produk ini dikenal luas oleh masyarakat, mudah dipahami secara intuitif, dan tidak membutuhkan pemahaman mengenai laporan keuangan emiten atau pergerakan harga obligasi untuk mulai digunakan.

Itu membuka peluang bagi bank untuk memperluas penetrasi investasi ke kelompok nasabah yang mungkin belum pernah membeli reksa dana atau saham.

Di sisi lain, popularitas emas tidak membuat produk tersebut bebas risiko. Harga emas dapat naik maupun turun, terdapat selisih harga beli dan jual, dan tujuan investasi nasabah dapat berbeda. Karena itu, ekspansi produk emas juga membutuhkan edukasi yang memadai agar kemudahan akses tidak berubah menjadi kesan bahwa emas selalu memberikan keuntungan.

Dari sisi bank, ukuran keberhasilannya juga perlu diperluas.

Jumlah nasabah emas dan nilai transaksi memang penting, tetapi belum cukup. Bank perlu mengetahui apakah produk tersebut meningkatkan pengguna aktif aplikasi, memperbesar transaksi produk lain, memperkuat retensi, menghasilkan fee yang ekonomis, dan tetap menjaga kualitas sumber dana.

Dengan kata lain, bank harus menilai nilai nasabah secara keseluruhan, bukan hanya pendapatan dari emas.

Indikator yang Layak Dipantau Mengapa Penting?
Jumlah pengguna Tabungan Emas Mengukur adopsi awal
Nilai dan frekuensi transaksi Melihat intensitas penggunaan
Fee based income Mengukur monetisasi langsung
Dampak terhadap DPK Menilai apakah terjadi perpindahan dana dari simpanan
Cross-selling Melihat apakah pengguna emas membeli produk bank lainnya
Retensi dan pengguna aktif Mengukur nilai strategis bagi ekosistem digital

Persaingan juga berpotensi membuat kerja sama bank-Pegadaian berkembang semakin luas. Pegadaian sendiri terbuka terhadap bank baru karena kolaborasi memperluas distribusi produk emas tanpa harus merebut nasabah satu per satu melalui kanal miliknya sendiri.

Jika empat hingga lima bank yang sedang menjajaki kerja sama akhirnya masuk, emas dapat menjadi fitur yang semakin lazim pada aplikasi perbankan—mirip dengan reksa dana atau obligasi yang sebelumnya juga bergerak dari produk khusus menjadi bagian umum dari layanan digital bank.

Pada titik tersebut, keberadaan Tabungan Emas mungkin tidak lagi menjadi pembeda. Justru kualitas integrasi, pengalaman pengguna, harga, kelengkapan produk, dan kemampuan bank menghubungkannya dengan kebutuhan finansial lain yang akan menentukan siapa yang benar-benar mendapatkan nilai ekonomi.

Bottom Line:
Ramainya bank masuk ke bisnis emas memperlihatkan bahwa persaingan perbankan digital telah memasuki tahap baru. Bagi bank seperti BCA yang bekerja sama dengan Pegadaian, Tabungan Emas dapat berfungsi sebagai alat mempertahankan aktivitas keuangan nasabah di dalam MyBCA meski fee langsungnya belum tentu besar. Di sisi lain, pengalaman BSI menunjukkan bahwa ketika emas dikembangkan menjadi ekosistem yang mencakup cicilan, gadai, perdagangan, dan bullion bank, monetisasinya dapat berkembang jauh lebih besar. Tantangannya adalah paradoks pendanaan: semakin mudah nasabah memindahkan tabungan menjadi emas, semakin besar pula potensi dana murah keluar dari neraca. Karena itu, pemenang dalam bisnis ini kemungkinan bukan bank yang mencatat transaksi emas terbesar semata, melainkan yang mampu mengubah emas menjadi alat untuk meningkatkan nilai nasabah tanpa mengorbankan ekonomi bisnis utamanya.

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Mengapa bank mulai menawarkan Tabungan Emas?
Selain berpotensi menghasilkan fee, Tabungan Emas dapat membuat layanan aplikasi semakin lengkap, mempertahankan nasabah di dalam ekosistem bank, meningkatkan transaksi, dan membuka peluang penjualan produk keuangan lain.
Apakah bisnis emas sudah menghasilkan fee besar bagi bank?
Tidak selalu. CIMB Niaga menyatakan kontribusi Tabungan Emas terhadap fee income masih belum berarti karena bisnisnya masih berada pada tahap awal. Namun BSI mencatat pertumbuhan fee based income bisnis emas sebesar 712% secara tahunan.
Apa risiko Tabungan Emas bagi bank?
Salah satu risikonya adalah potensi perpindahan dana dari rekening simpanan ke emas. Hal ini dapat mengurangi dana pihak ketiga meskipun bank memperoleh peluang pendapatan berbasis komisi.
Apa perbedaan model BCA dan BSI dalam bisnis emas?
Dalam bahan, BCA menyediakan Tabungan Emas melalui kolaborasi dengan Pegadaian di MyBCA. BSI memiliki ekosistem lebih luas yang mencakup Cicil Emas, Gadai Emas, serta layanan BSI Emas melalui bullion bank.
Berapa nasabah bullion BSI?
BSI menyebut memiliki lebih dari 1,3 juta nasabah bullion dengan volume emas yang diperdagangkan lebih dari 8,06 ton.
Berapa bank yang bekerja sama dengan Pegadaian?
Pegadaian menyebut sekitar 15 bank telah menjalin kerja sama untuk menghadirkan Tabungan Emas. Selain itu, sekitar empat hingga lima bank lainnya masih dalam tahap penjajakan.
Sumber: Keterangan BCA, Pegadaian, CIMB Niaga, Bank Syariah Indonesia, dan pandangan Kepala Ekonom Bank Permata sebagaimana terdapat dalam bahan.

Catatan: Bahan tidak memberikan nominal fee based income BSI maupun kontribusi Tabungan Emas terhadap pendapatan masing-masing bank. Karena itu, pertumbuhan persentase tidak dapat digunakan untuk membandingkan secara langsung besarnya profitabilitas bisnis emas antarbank.

Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi. Produk emas memiliki risiko perubahan harga dan karakteristik yang berbeda dari simpanan bank.