Daftar IsiTampilkan


Hampir semua mesin bisnis yang terafiliasi dengan konglomerat Hermanto Tanoko berputar lebih kencang pada semester I/2026.
Produsen air minum PT Sariguna Primatirta Tbk. (CLEO) mencatat pertumbuhan laba dua digit. Produsen pakaian PT Mega Perintis Tbk. (ZONE) membukukan laba lebih dari dua kali lipat. PT Superior Prima Sukses Tbk. (BLES) bahkan mencatat lonjakan laba lebih dari 1.700%, sementara laba pengembang properti PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk. (RISE) melesat 273%.

Jika PT Avia Avian Tbk. (AVIA) ikut dimasukkan, gambaran ekosistem bisnis Tanoko semakin menarik. Produsen cat Avian Brands itu membukukan penjualan Rp4,59 triliun dan laba bersih Rp938,42 miliar, menjadikannya perusahaan dengan skala laba terbesar di antara lima emiten yang dibandingkan dalam tulisan ini.

Tetapi bagi investor, angka pertumbuhan tertinggi belum tentu menjadi kinerja terbaik. BLES yang labanya tumbuh lebih dari 17 kali lipat mempunyai karakter pertumbuhan berbeda dengan CLEO atau AVIA yang labanya hanya naik sekitar 20%-23% tetapi ditopang bisnis dengan pendapatan lebih berulang. RISE bahkan memiliki margin laba bersih hampir 43%, angka yang terlihat sangat menarik, tetapi karakter pengakuan pendapatan properti membuat laba satu semester tidak selalu dapat diekstrapolasi begitu saja ke periode berikutnya.

Dengan kata lain, pertanyaan yang lebih relevan bukan siapa yang mencatat pertumbuhan laba paling tinggi, melainkan siapa yang mampu mempertahankan pertumbuhan penjualan, margin, dan arus kas ketika efek basis rendah dan perubahan komposisi pendapatan mulai menghilang.

Ringkasan
  • AVIA dan CLEO memperlihatkan pertumbuhan yang paling seimbang: penjualan dan laba sama-sama naik dua digit dengan margin laba bersih masing-masing sekitar 20,4% dan 15,1%.
  • BLES mencatat lonjakan laba paling ekstrem, lebih dari 1.700%, tetapi bukan semata efek basis rendah karena margin bruto juga melonjak dari 21,36% menjadi 37,80% dan laba usaha meningkat tajam.
  • RISE dan ZONE menawarkan pertumbuhan laba lebih tinggi tetapi dengan karakter risiko berbeda. RISE sensitif terhadap waktu pengakuan pendapatan properti, sedangkan ZONE menghadapi siklus konsumsi fesyen dan masih memiliki margin bersih lebih tipis.
+1.716% Pertumbuhan Laba BLES
+273% Pertumbuhan Laba RISE
+138% Pertumbuhan Laba ZONE
Rp938 M Laba Bersih AVIA H1 2026

Laba Sama-sama Naik, Kualitas Pertumbuhannya Tidak Sama

Perbandingan lima emiten memperlihatkan spektrum yang lebar. AVIA berada pada skala terbesar dengan penjualan Rp4,59 triliun dan laba Rp938,42 miliar. CLEO mencatat penjualan sekitar Rp1,69 triliun dan laba Rp255,82 miliar. BLES menghasilkan laba Rp147,09 miliar dari penjualan Rp847,99 miliar, sedangkan RISE memperoleh laba Rp123,50 miliar dari pendapatan sekitar Rp287,5 miliar.

ZONE merupakan yang terkecil berdasarkan laba absolut, tetapi pertumbuhannya termasuk yang paling tinggi. Penjualan bersih mencapai sekitar Rp545,54 miliar dan laba Rp27,78 miliar.

Emiten Pendapatan H1 2026 Pertumbuhan Laba Bersih Pertumbuhan Laba NPM
AVIA Rp4,59 T +18,2% Rp938,42 M +20,7% 20,4%
CLEO ~Rp1,69 T +23,77% Rp255,82 M +23,26% 15,13%
BLES Rp847,99 M +33,30% Rp147,09 M +1.716% 17,35%
ZONE ~Rp545,54 M +35,32% Rp27,78 M +138,33% 5,09%
RISE ~Rp287,5 M +34,39% Rp123,50 M +273,20% ~42,96%

Angka tersebut langsung menunjukkan mengapa pertumbuhan laba tidak boleh berdiri sendiri. AVIA hanya tumbuh 20,7%, jauh di bawah BLES yang lebih dari 1.700%. Tetapi kenaikan laba AVIA bergerak relatif sejajar dengan pertumbuhan penjualannya sebesar 18,2%, sementara margin laba bersih tetap tinggi di sekitar 20,4%.

Perusahaan bahkan mencatat laba bruto sekitar Rp2,08 triliun pada semester pertama, naik sekitar 24,5%. Dari angka tersebut, margin bruto secara matematis berada di kisaran 45,3%, lebih tinggi dibandingkan sekitar 43% setahun sebelumnya.

AVIA juga mempunyai mesin distribusi yang luas. Dalam publikasi perusahaan pada Agustus 2026, perseroan menyebut memiliki 132 pusat distribusi, 16 mini distribution center, dan 36 pusat distribusi independen yang melayani lebih dari 60.000 toko ritel. Sepanjang 2026 hingga semester pertama, AVIA juga telah memperkenalkan sembilan produk baru.

Angka tersebut memberikan konteks terhadap pertumbuhan penjualan. Ekspansi AVIA bukan hanya hasil perubahan margin, tetapi juga berlangsung bersamaan dengan penguatan distribusi dan pertumbuhan volume. Segmen Solusi Arsitektur mencatat pertumbuhan penjualan 18,8%, sementara volumenya naik 8,6%.

Karakter serupa terlihat pada CLEO, meski ada satu catatan penting di balik angka konsolidasi.

Penjualan CLEO naik sekitar 23,77% menjadi Rp1,69 triliun dan laba bersih tumbuh 23,26% menjadi Rp255,82 miliar. Kedua angka tersebut bergerak hampir beriringan. Net profit margin pun praktis stabil, dari 15,19% menjadi 15,13%.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama, seperti dikutip dari media, menilai karakter pertumbuhan CLEO relatif mencerminkan perkembangan bisnis inti. Margin di sekitar 15% juga memperlihatkan kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas.

Tetapi komposisi di bawahnya tetap perlu diperhatikan. Penjualan segmen botol, yang menjadi kontributor terbesar, tumbuh 28,81% menjadi Rp963,77 miliar. Di sisi lain, margin kotor segmen tersebut turun dari 56,83% menjadi 50,82%.

Artinya, volume dan penjualan masih tumbuh kuat, tetapi perusahaan mengorbankan sebagian margin pada lini terbesarnya.

Perhitungan Receh.in:
Margin kotor segmen botol CLEO turun sekitar 6,01 poin persentase, dari 56,83% menjadi 50,82%. Namun NPM konsolidasi hanya turun 0,06 poin menjadi 15,13%. Ini mengindikasikan tekanan pada satu segmen sejauh ini masih dapat diredam oleh komposisi bisnis dan pengelolaan biaya pada level konsolidasi.

Inilah alasan CLEO terlihat relatif seimbang. Perusahaan tidak memiliki pertumbuhan laba spektakuler seperti BLES atau RISE, tetapi hubungan antara kenaikan penjualan dan laba terlihat lebih mudah dibaca.

Untuk bisnis barang konsumsi yang relatif berulang, konsistensi semacam itu sering kali lebih bernilai daripada pertumbuhan sangat tinggi dalam satu semester.

BLES, RISE, dan ZONE: Pertumbuhan Besar dengan Cerita yang Berbeda

BLES merupakan kasus paling menarik karena angka 1.716% dengan mudah menutupi cerita yang sebenarnya terjadi di laporan laba rugi.

Benar bahwa pertumbuhan tersebut memperoleh keuntungan dari basis laba yang rendah. Laba semester I/2025 hanya sekitar Rp8,09 miliar. Ketika laba meningkat menjadi Rp147,09 miliar tahun ini, persentase pertumbuhannya otomatis terlihat ekstrem.

Tetapi menyebut kinerja BLES hanya sebagai low-base effect juga terlalu sederhana.

Penjualan memang naik 33,30% menjadi Rp847,99 miliar, tetapi beban pokok hanya meningkat sekitar 5,4%. Laba bruto kemudian melonjak menjadi sekitar Rp320,55 miliar dari Rp135,86 miliar.

Hasilnya, gross profit margin naik dari 21,36% menjadi 37,80%, atau bertambah sekitar 16,44 poin persentase.

Laba usaha bahkan meningkat menjadi sekitar Rp203,84 miliar dari kisaran Rp19,4 miliar setahun sebelumnya. Dengan demikian, operating margin secara kasar melebar dari sekitar 3% menjadi sekitar 24%.

BLES H1 2025 H1 2026 Perubahan
Penjualan Rp636,15 M Rp847,99 M +33,30%
Laba bruto Rp135,86 M Rp320,55 M +135,9%
Gross margin 21,36% 37,80% +16,44 pp
Laba usaha ~Rp19,4 M Rp203,84 M ~+950%
Laba bersih ~Rp8,09 M Rp147,09 M ~+1.716%

Data operasional juga mendukung adanya perbaikan bisnis nyata. Volume produksi BLES naik sekitar 17% menjadi 1,83 juta meter kubik pada enam bulan pertama 2026 dari 1,56 juta meter kubik setahun sebelumnya.

Karena penjualan tumbuh 33,3%, lebih cepat daripada volume produksi 17%, terdapat indikasi bahwa pertumbuhan tidak semata berasal dari volume. Namun tanpa data harga jual rata-rata dan komposisi produk yang cukup, tidak tepat menyimpulkan sisanya seluruhnya berasal dari kenaikan harga.

Jadi, persoalan BLES pada semester II bukan membuktikan apakah terjadi perbaikan—perbaikannya sudah terlihat. Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa banyak kenaikan margin tersebut dapat dipertahankan ketika basis laba sudah jauh lebih tinggi.

RISE mempunyai persoalan berbeda.

Dengan laba Rp123,50 miliar dari pendapatan sekitar Rp287,5 miliar, NPM perusahaan berada dekat 43%. Margin tersebut sangat tinggi jika dibandingkan kebanyakan perusahaan operasional, tetapi bisnis properti memang mempunyai pola pengakuan pendapatan yang berbeda.

Data tambahan semester I/2026 menunjukkan gross margin RISE sekitar 62,4%, EBITDA margin 45,3%, dan NPM sekitar 43%. Pendapatan kawasan industri dan logistik mencapai sekitar Rp157,7 miliar dan melonjak sekitar 878% secara tahunan.

Dengan nilai tersebut, kawasan industri dan logistik secara matematis menyumbang sekitar 54,9% terhadap pendapatan semester pertama RISE.

Perhitungan Receh.in:
Rp157,7 miliar pendapatan kawasan industri dan logistik dibandingkan pendapatan konsolidasi sekitar Rp287,5 miliar setara sekitar 54,9%. Ini membantu menjelaskan mengapa perubahan komposisi bisnis dapat memberikan dampak yang sangat besar terhadap margin RISE pada semester pertama.

Elandry Pratama, seperti dikutip dari media, mengingatkan bahwa bisnis properti sangat dipengaruhi waktu pengakuan pendapatan dan siklus proyek. Karena itu, investor perlu memisahkan pendapatan yang berulang seperti hotel atau penyewaan dengan pendapatan yang lebih bergantung pada penjualan proyek.

Inilah sebabnya pertumbuhan laba 273% tidak dapat langsung diproyeksikan menjadi pertumbuhan serupa pada semester kedua. Jika kontribusi besar berasal dari penjualan kawasan industri yang pengakuannya tidak berulang setiap kuartal, profil laba berikutnya dapat berubah tajam meskipun bisnis perusahaan secara keseluruhan tetap sehat.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi, seperti dikutip dari media, juga menilai lonjakan margin RISE lebih mungkin mencerminkan efisiensi dan perubahan komposisi pendapatan daripada sekadar lonjakan volume.

ZONE berada di antara dua ekstrem tersebut.

Laba ZONE tumbuh 138,33% menjadi Rp27,78 miliar, tetapi kenaikan tersebut ditopang penjualan bersih yang juga kuat sekitar 35,32% menjadi Rp545,54 miliar. Artinya, pertumbuhan laba memang jauh lebih cepat daripada penjualan, tetapi perusahaan tidak sedang mencatat lonjakan laba di tengah pendapatan yang stagnan.

NPM meningkat dari 2,89% menjadi 5,09%. Walaupun hampir berlipat, margin absolutnya masih menjadi yang paling tipis di antara lima perusahaan yang dibandingkan.

Segmen pakaian menjadi mesin utamanya dengan penjualan Rp521,59 miliar, tumbuh 38,29%. Laba kotor segmen tersebut naik lebih cepat lagi sebesar 50,59% menjadi Rp274,01 miliar.

Perhitungan sederhana menempatkan gross margin segmen pakaian pada kisaran 52,5%, dibandingkan sekitar 48,2% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan demikian, ZONE memperoleh kombinasi pertumbuhan penjualan sekaligus ekspansi margin.

Namun karakter bisnis fesyen membuat visibilitasnya berbeda dengan air minum. Penjualan pakaian lebih sensitif terhadap daya beli, momentum Lebaran, tren fesyen, inventori, dan tingkat diskon.

ZONE karena itu menawarkan cerita pemulihan laba yang menarik, tetapi investor masih membutuhkan lebih banyak periode untuk memastikan NPM sekitar 5% dapat dipertahankan.

Kalau Harus Memilih, Mana yang Pertumbuhannya Paling Berkualitas?

Menyusun peringkat lima saham ini hanya berdasarkan pertumbuhan laba akan menghasilkan urutan BLES, RISE, ZONE, CLEO, lalu AVIA. Tetapi urutan tersebut berubah drastis jika ukurannya adalah kualitas dan keterulangan laba.

AVIA menjadi salah satu kandidat paling seimbang. Penjualan tumbuh 18,2%, laba naik 20,7%, gross margin menguat, NPM tetap sekitar 20,4%, volume bertumbuh, dan jaringan distribusi bertambah luas. Tidak ada satu angka luar biasa, tetapi hampir seluruh komponen bergerak ke arah yang sama.

CLEO mempunyai karakter hampir serupa. Penjualan tumbuh 23,77% dan laba naik 23,26%, dengan NPM bertahan sekitar 15%. Tantangannya adalah penurunan margin kotor pada lini botol. Selama perusahaan dapat mempertahankan pertumbuhan volume tanpa terus mengorbankan margin, visibilitas bisnisnya relatif tinggi.

Elandry Pratama, seperti dikutip dari media, juga menempatkan CLEO sebagai salah satu saham yang paling seimbang dari sisi visibilitas bisnis, margin, dan pertumbuhan.

BLES bisa menjadi kandidat dengan potensi peningkatan laba paling besar jika margin barunya terbukti bertahan. Data semester pertama memperlihatkan perbaikannya lebih substansial daripada sekadar efek basis rendah: penjualan naik, volume produksi meningkat, gross margin melonjak, dan laba usaha membesar hampir sepuluh kali lipat.

Tetapi justru karena perubahan tersebut sangat besar, basis pembanding semester berikutnya akan menjadi lebih berat. Pertumbuhan 1.700% hampir pasti bukan angka yang layak dijadikan ekspektasi normal.

RISE mempunyai margin paling spektakuler tetapi juga visibilitas laba paling sulit dibandingkan emiten konsumsi. Pendapatan kawasan industri dan logistik dapat menghasilkan margin tinggi, tetapi waktu penjualan dan serah terima aset sangat menentukan. Investor membutuhkan bukti mengenai arus kas dan komposisi pendapatan yang berulang sebelum menyimpulkan margin 43% sebagai tingkat keuntungan normal baru.

ZONE menawarkan kombinasi pertumbuhan penjualan dan ekspansi margin yang kuat, tetapi margin laba bersihnya masih 5,09%. Ruang perbaikannya besar, tetapi bantalan ketika daya beli melemah juga lebih tipis dibandingkan perusahaan dengan margin 15%-20%.

Emiten Kekuatan Utama Risiko Utama Pembacaan Receh.in
AVIA Pendapatan dan laba seimbang, margin tinggi, distribusi luas Bahan baku dan rupiah Fundamental paling konsisten
CLEO Bisnis berulang, pertumbuhan dua digit, NPM stabil Margin botol turun dan daya beli Visibilitas relatif tinggi
BLES Margin dan laba usaha melonjak nyata Basis pembanding tinggi dan siklus konstruksi Turnaround paling kuat, perlu pembuktian
ZONE Penjualan naik 35%, margin membaik Konsumsi diskresioner dan NPM masih tipis Pemulihan kuat, tetapi lebih siklikal
RISE NPM sangat tinggi dan kawasan industri tumbuh pesat Timing pengakuan pendapatan dan siklus properti Momentum laba kuat, visibilitas lebih rendah

Namun kualitas fundamental belum menjawab apakah suatu saham menarik pada harga pasar. Perusahaan bagus dapat menjadi investasi buruk jika dibeli dengan valuasi terlalu tinggi, sementara perusahaan yang sedang dalam fase pemulihan dapat menarik jika pasar sudah mendiskon risikonya secara berlebihan.

Per 21 Agustus 2026, data pasar menunjukkan AVIA ditutup di Rp350 dengan P/E yang ditampilkan penyedia data sekitar 12 kali. CLEO berada di kisaran Rp408 dengan P/E sekitar 25 kali, sedangkan ZONE sekitar Rp720 dengan P/E sekitar 31 kali. Metodologi EPS masing-masing penyedia dapat berbeda, sehingga rasio tersebut lebih tepat dijadikan konteks awal dan bukan dasar tunggal membandingkan valuasi.

Perbedaan tersebut cukup penting. Saham dengan pertumbuhan yang stabil belum tentu mendapat valuasi yang sama dengan saham yang sedang mengalami pemulihan. Investor harus mempertimbangkan apakah pertumbuhan yang diharapkan sudah tercermin dalam harga.

Pada semester II/2026, ujian untuk kelima emiten ini juga berbeda. CLEO dan ZONE akan menghadapi daya beli konsumen. AVIA serta BLES sensitif terhadap harga bahan baku, logistik, dan rupiah. RISE menghadapi kombinasi suku bunga, kemampuan membeli properti, penjualan proyek, dan kondisi likuiditas.

Penurunan suku bunga dapat menjadi katalis untuk properti dan konsumsi, sementara stabilisasi rupiah membantu perusahaan yang memiliki paparan bahan baku impor. Tetapi katalis makro hanya akan berarti jika masing-masing perusahaan tetap mampu menjaga margin dan mengubah laba akuntansi menjadi kas.

Karena itu, laporan semester II sebaiknya tidak dinilai hanya dari pertanyaan “berapa persen laba tumbuh?”. Investor perlu melihat setidaknya empat lapisan secara bersamaan: pertumbuhan pendapatan, margin operasi, arus kas operasi, serta utang.

Bottom Line:
Semester I/2026 merupakan periode yang kuat bagi sejumlah emiten terafiliasi Hermanto Tanoko, tetapi sumber pertumbuhannya sangat berbeda. AVIA dan CLEO tampil paling seimbang karena kenaikan laba berjalan seiring dengan pertumbuhan pendapatan dan margin yang relatif kuat. ZONE menunjukkan pemulihan operasional yang nyata, tetapi NPM masih sekitar 5% dan bisnis fesyen sensitif terhadap daya beli. BLES merupakan kejutan terbesar: lonjakan laba memang dibantu basis yang rendah, tetapi ekspansi gross margin dari 21,36% menjadi 37,80%, pertumbuhan volume 17%, dan laba usaha yang melonjak menunjukkan terdapat perbaikan fundamental di balik angka 1.700%. RISE mencatat margin serta pertumbuhan laba paling mencolok, tetapi investor perlu memberi diskon terhadap sifat bisnis properti yang bergantung pada waktu pengakuan pendapatan. Jadi, jika ukurannya adalah kestabilan dan visibilitas, AVIA dan CLEO berada di depan; jika yang dicari adalah momentum pemulihan, BLES dan ZONE lebih menarik untuk dipantau; sedangkan RISE menawarkan potensi besar dengan tingkat prediktabilitas laba yang lebih rendah.

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Emiten Hermanto Tanoko mana yang labanya tumbuh paling tinggi?
Dalam lima emiten yang dibandingkan, BLES mencatat pertumbuhan laba tertinggi sekitar 1.716% menjadi Rp147,09 miliar pada semester I/2026. Namun tingginya persentase tersebut juga dipengaruhi laba semester I/2025 yang sangat rendah.
Apakah lonjakan laba BLES hanya karena low-base effect?
Tidak sepenuhnya. Basis rendah memang memperbesar persentase pertumbuhan, tetapi BLES juga mencatat penjualan naik 33,3%, volume produksi naik 17%, margin bruto meningkat dari 21,36% menjadi 37,80%, dan laba usaha melonjak tajam.
Mengapa CLEO dinilai memiliki kinerja yang relatif stabil?
Penjualan CLEO tumbuh sekitar 23,77% dan laba bersih meningkat 23,26%, sementara NPM relatif stabil di sekitar 15,13%. Namun investor tetap perlu memperhatikan penurunan margin kotor pada segmen botol.
Bagaimana kinerja AVIA semester I/2026?
AVIA membukukan penjualan Rp4,59 triliun, naik 18,2%, dan laba bersih Rp938,42 miliar, tumbuh sekitar 20,7%. NPM berada sekitar 20,4% dan perusahaan terus memperluas jaringan distribusinya.
Mengapa laba RISE perlu dibaca lebih konservatif?
Bisnis properti sangat dipengaruhi waktu pengakuan penjualan proyek. Pada semester pertama, kawasan industri dan logistik menjadi kontributor besar sehingga investor perlu melihat apakah margin dan laba tinggi tersebut dapat berulang serta didukung arus kas.
Mana saham Hermanto Tanoko yang paling menarik?
Tidak ada jawaban tunggal. AVIA dan CLEO menawarkan visibilitas laba yang relatif lebih baik, BLES dan ZONE memiliki momentum pemulihan yang lebih tinggi, sedangkan RISE menawarkan pertumbuhan laba kuat dengan risiko siklus dan pengakuan pendapatan yang lebih besar. Valuasi tetap perlu dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan investasi.
Sumber: Laporan dan publikasi kinerja ZONE, CLEO, BLES, RISE, dan AVIA; Avian Brands; data pasar IDNFinancials; serta pandangan Elandry Pratama dan Muhammad Wafi sebagaimana dikutip dari media.

Perhitungan Receh.in: Gross margin segmen pakaian ZONE diperkirakan naik dari sekitar 48,2% menjadi 52,5%. Gross margin BLES naik 16,44 poin persentase menjadi 37,80%, sedangkan operating margin secara matematis meningkat dari sekitar 3% menjadi sekitar 24%. Pendapatan kawasan industri dan logistik RISE sekitar Rp157,7 miliar setara 54,9% dari pendapatan semester I/2026.

Catatan: Pertumbuhan laba yang tinggi tidak otomatis menunjukkan kualitas laba yang lebih baik. Perbandingan antar-emiten juga perlu mempertimbangkan perbedaan model bisnis, siklus pendapatan, metode pengakuan pendapatan, arus kas, serta valuasi. Rasio P/E yang disebut berasal dari penyedia data pasar dan dapat berbeda menurut metode perhitungan EPS.

Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham AVIA, CLEO, BLES, ZONE, maupun RISE.