Daftar IsiTampilkan


Perak kembali menjadi salah satu komoditas yang mencuri perhatian pasar pada akhir Agustus 2026.
Harga silver bergerak di sekitar US$69 per troy ounce pada Senin, 24 Agustus 2026, mempertahankan posisi tertinggi dalam sekitar dua bulan setelah membukukan kenaikan lebih dari 5% dalam sepekan sebelumnya.

Reli kali ini menarik karena perak tidak hanya memperoleh dukungan dari statusnya sebagai logam mulia. Pasar juga bereaksi terhadap kekhawatiran mengenai pengelolaan utang dan keberlanjutan fiskal Amerika Serikat setelah US Treasury memperbesar program pembelian kembali obligasi pemerintah tenor panjang.

Kebijakan tersebut sempat menekan yield Treasury dan dolar AS serta kembali menghidupkan narasi debasement trade—kecenderungan investor mencari aset keras ketika muncul kekhawatiran terhadap daya beli mata uang dan besarnya utang pemerintah.

Namun ada paradoks dalam reli perak kali ini. Harga sedang naik tajam, tetapi permintaan industri global justru diperkirakan turun pada 2026. Silver Institute memperkirakan penggunaan perak industri menyusut sekitar 3% tahun ini, terutama karena produsen panel surya terus mengurangi jumlah perak yang digunakan per sel.

Dengan demikian, kenaikan harga ke sekitar US$69 tidak bisa dijelaskan hanya dengan narasi permintaan panel surya. Faktor finansial—dolar, yield obligasi, kebijakan fiskal, geopolitik, dan investasi fisik—justru memainkan peran semakin besar.

Ringkasan
  • Harga perak bergerak di sekitar US$69 per troy ounce pada 24 Agustus 2026, setelah Jumat sebelumnya sempat berada di US$69,62 dan membukukan kenaikan mingguan lebih dari 5%.
  • Reli terutama mendapat dorongan dari melemahnya dolar dan kekhawatiran fiskal AS setelah Treasury memperbesar buyback obligasi tenor panjang. PCE AS pada 26 Agustus dan pidato Ketua The Fed Kevin Warsh pada 28 Agustus menjadi katalis berikutnya.
  • Fundamental fisik tetap ketat, tetapi permintaan industri tidak semuanya bullish. Silver Institute memperkirakan pasar mengalami defisit sekitar 67 juta ons pada 2026 meski permintaan industri diproyeksikan turun sekitar 3%.
~US$69 Silver 24 Agustus 2026
+5%+ Kenaikan Pekan Lalu
67 Juta Oz Proyeksi Defisit 2026*
-3% Proyeksi Permintaan Industri*

*Proyeksi Silver Institute/Metals Focus dalam World Silver Survey 2026 dan publikasi Silver Institute.

Mengapa Harga Perak Bisa Melonjak ke US$69?

Harga perak bergerak di atas US$68 pada Jumat, 21 Agustus 2026 dan sempat mencapai sekitar US$69,62 per troy ounce. Pada perdagangan Senin, harga tetap berada di sekitar US$69, dekat level tertinggi dua bulan.

Pergerakannya terjadi bersamaan dengan reli logam mulia lainnya. Emas, misalnya, menutup perdagangan Jumat di US$4.623,94 per troy ounce setelah naik 2,4% sehari.

Faktor yang menggerakkan keduanya relatif serupa: penurunan dolar AS dan kegelisahan investor terhadap pasar obligasi Amerika.

US Treasury pada 19 Agustus mengumumkan akan menggandakan ukuran sejumlah operasi buyback obligasi tenor panjang dari sekitar US$2 miliar menjadi setidaknya US$4 miliar per transaksi untuk surat utang tenor 10 hingga 30 tahun.

Program tersebut ditujukan untuk membantu likuiditas pasar dan meredakan tekanan terhadap biaya pinjaman tenor panjang setelah yield obligasi 30 tahun AS sempat mencapai level tertinggi sejak 2007.

Reaksi awal pasar cukup kuat. Yield turun, dolar melemah, sementara emas, perak, dan Bitcoin menguat.

Di sinilah istilah debasement trade kembali muncul. Investor khawatir kebijakan yang digunakan untuk meredam biaya pendanaan pemerintah tidak menyelesaikan persoalan mendasar berupa defisit fiskal dan beban utang yang besar.

Perak kemudian memperoleh manfaat karena memiliki karakter ganda: logam industri sekaligus aset investasi.

Katalis Dampak Potensial ke Perak
Dolar AS melemah Positif karena perak menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain
Yield Treasury turun Mengurangi opportunity cost memegang logam tanpa bunga
Kekhawatiran fiskal AS Meningkatkan daya tarik aset keras dan diversifikasi mata uang
Risiko geopolitik Dapat meningkatkan permintaan aset defensif
Energi dan inflasi naik Dua arah: mendukung hard assets tetapi dapat menahan pemangkasan suku bunga

Ada faktor geopolitik tambahan dari Iran. Pemerintah AS tengah menyiapkan sanksi ekonomi baru yang meningkatkan risiko terhadap pasokan minyak Iran dan jalur perdagangan melalui Selat Hormuz.

Namun narasi ini juga tidak satu arah.

Pada Senin, 24 Agustus, harga minyak justru terkoreksi ketika pasar menunggu rincian sanksi tersebut. Brent turun sekitar 1,5% ke US$93 per barel dalam perdagangan Asia.

Artinya, risiko geopolitik masih tinggi, tetapi pasar belum memberikan premi risiko yang terus meningkat setiap hari.

Jika harga minyak kembali melonjak, efek terhadap perak juga ambigu. Inflasi yang lebih tinggi dapat meningkatkan ketertarikan terhadap logam mulia. Namun inflasi yang terlalu persisten dapat membuat The Fed lebih sulit menurunkan suku bunga—dan yield tinggi biasanya menjadi hambatan bagi logam mulia.

Perak bukan hanya “emas versi murah”.
Silver lebih volatil karena permintaannya berasal dari dua dunia sekaligus. Ketika ketidakpastian keuangan meningkat, ia dapat mengikuti emas. Namun ketika ekonomi dan industri melemah, permintaan dari elektronik, solar, otomotif, dan sektor manufaktur dapat ikut tertekan.

Ada pula cara sederhana untuk melihat harga US$69 dari perspektif investor Indonesia.

Satu troy ounce setara sekitar 31,1035 gram. Dengan kurs JISDOR terakhir sebelum Senin sebesar Rp17.705 per dolar AS pada 21 Agustus, harga US$69 secara matematis setara sekitar Rp39.300 per gram.

Angka tersebut hanyalah konversi harga spot internasional. Harga fisik perak di Indonesia dapat lebih tinggi karena terdapat premi produk, ongkos produksi, distribusi, pajak, dan spread jual-beli.

Kontrak futures standar COMEX sendiri umumnya mewakili 5.000 troy ounce. Pada harga US$69, nilai nosional satu kontrak secara sederhana mencapai sekitar US$345.000. Investor futures tidak harus menyediakan seluruh nilai tersebut karena menggunakan mekanisme margin, tetapi leverage juga membuat risiko perubahan harga jauh lebih besar.

Permintaan Solar Tinggi, tetapi Konsumsi Perak Industri Malah Bisa Turun

Salah satu argumen paling populer untuk membeli perak adalah ledakan permintaan industri, khususnya panel surya, kendaraan listrik, jaringan listrik, elektronik, dan pusat data.

Argumen tersebut mempunyai dasar. Perak merupakan konduktor listrik yang sangat baik dan digunakan dalam berbagai komponen elektronik serta photovoltaic.

Data yang dikutip Trading Economics menunjukkan impor bijih yang mengandung perak oleh China melonjak sekitar 62,5% YoY menjadi 219.000 ton pada Juni 2026, bersamaan dengan ekspansi produksi panel surya dan jaringan listrik.

Namun data Silver Institute menunjukkan gambaran global yang lebih rumit.

Dalam World Silver Survey 2026, permintaan industri perak pada 2025 justru turun 3% menjadi 657,4 juta ons. Untuk 2026, permintaan industri global kembali diperkirakan turun sekitar 3% menjadi sekitar 639,6 juta ons.

Penyebab utamanya bukan karena pemasangan panel surya berhenti tumbuh.

Masalahnya adalah industri photovoltaic semakin efisien menggunakan perak. Produsen terus melakukan thrifting—mengurangi kandungan perak per sel—serta melakukan substitusi sebagian material.

Akibatnya, kapasitas solar dapat terus meningkat tanpa membuat konsumsi perak naik dengan kecepatan yang sama.

Permintaan Industri Perak 2025 2026F Perubahan
Eropa 87,1 Moz 83,0 Moz -5%
Amerika Utara 132,4 Moz 136,4 Moz +3%
Asia Selatan 38,1 Moz 34,5 Moz -10%
Asia Timur 384,6 Moz 371,3 Moz -3%
Global 657,4 Moz 639,6 Moz -3%

Moz = million ounces atau juta troy ounce. Sumber: Silver Institute/Metals Focus.

Temuan tersebut penting karena mengubah sedikit tesis bullish perak.

AI, pembangunan pusat data, otomotif, jaringan listrik, dan elektrifikasi memang mendukung permintaan. Namun kontribusi tersebut pada 2026 diperkirakan belum mampu sepenuhnya mengimbangi penurunan kebutuhan perak pada industri photovoltaic.

Jadi, mengatakan “harga perak naik karena permintaan solar melonjak” terlalu sederhana.

Justru salah satu pilar fundamental yang lebih menarik berada di sisi keseimbangan keseluruhan pasar.

Silver Institute memperkirakan total suplai perak global meningkat sekitar 1,5% pada 2026. Produksi tambang diperkirakan naik sekitar 1% menjadi sekitar 820 juta ons.

Tetapi pasar masih diperkirakan mengalami kekurangan pasokan terhadap permintaan sekitar 67 juta ons. Jika terealisasi, 2026 menjadi tahun keenam berturut-turut pasar perak berada dalam kondisi defisit.

Fundamental Silver 2026 Proyeksi Makna
Total supply +1,5% Pasokan mulai bertambah
Mine production ~820 Moz Naik sekitar 1%
Industrial demand ~640 Moz Turun sekitar 3%
Physical investment ~227 Moz Diproyeksikan naik sekitar 20%
Market balance -67 Moz Defisit tahun keenam

Di sinilah sisi investasi mengambil alih sebagian peran industri.

Silver Institute memperkirakan investasi fisik pada perak naik sekitar 20% menjadi 227 juta ons pada 2026, tertinggi dalam tiga tahun. Minat investor Barat diperkirakan kembali meningkat setelah tiga tahun mengalami penurunan.

Dengan demikian, pasar silver 2026 menunjukkan pergeseran menarik: permintaan industri melemah, tetapi permintaan investasi menguat dan pasar secara keseluruhan tetap defisit.

Ini yang membuat reli US$69 berbeda:
Harga tidak sedang naik karena seluruh fundamental permintaan membaik bersamaan. Industri justru diperkirakan menggunakan sedikit lebih sedikit perak. Tetapi investasi fisik, ketatnya pasokan, kekhawatiran fiskal AS, dolar lemah, dan kebutuhan diversifikasi aset sedang bekerja ke arah yang berlawanan.

PCE dan Jackson Hole Bisa Menentukan Apakah Reli US$69 Bertahan

Setelah kenaikan lebih dari 5% dalam sepekan, risiko terbesar bagi perak adalah perubahan mendadak pada ekspektasi suku bunga AS.

Dua agenda pekan ini akan menjadi perhatian utama.

Pertama, Bureau of Economic Analysis dijadwalkan menerbitkan data Personal Income and Outlays Juli 2026 pada Rabu, 26 Agustus. Publikasi tersebut memuat indeks harga Personal Consumption Expenditures atau PCE, ukuran inflasi yang sangat diperhatikan Federal Reserve.

Kedua, Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan memberikan pidato utama di Jackson Hole Economic Policy Symposium pada Jumat, 28 Agustus 2026. Agenda resmi Federal Reserve menempatkan pidatonya pada pukul 10.00 waktu AS.

Jackson Hole tahun ini berlangsung pada 27-29 Agustus dengan tema Financial Innovation: Implications for Payments and Policy.

Hubungan kedua agenda tersebut dengan silver relatif langsung.

Jika PCE menunjukkan inflasi lebih jinak dan Warsh membuka ruang kebijakan lebih longgar, yield dapat menurun dan dolar berpotensi melemah. Kondisi tersebut cenderung mendukung emas dan perak.

Sebaliknya, data inflasi yang tinggi atau pesan hawkish dapat meningkatkan yield dan memicu aksi ambil untung pada logam mulia.

Skenario Dolar/Yield Potensi Dampak ke Silver
PCE lebih rendah + Fed dovish Berpotensi turun Positif, US$70 berpotensi diuji
PCE sesuai ekspektasi Relatif stabil Konsolidasi setelah reli
PCE tinggi + Warsh hawkish Berpotensi naik Risiko profit taking membesar
Risiko fiskal/geopolitik meningkat Dapat menekan dolar atau mengangkat inflasi Dampak bisa dua arah

Level US$70 juga memiliki arti psikologis. Dari sekitar US$69, hanya dibutuhkan kenaikan sekitar 1,45% untuk mencapai US$70.

Tetapi investor sebaiknya tidak melihat angka bulat sebagai jaminan breakout. Setelah kenaikan lebih dari 5% dalam sepekan, pasar sudah membawa sebagian ekspektasi positif ke dalam harga.

Volatilitas silver juga secara historis lebih tinggi daripada emas. Ukuran pasar yang lebih kecil dan kombinasi permintaan investasi-industri membuat perubahan sentimen dapat menghasilkan pergerakan yang lebih tajam ke dua arah.

Salah satu indikator yang dapat diperhatikan adalah rasio emas terhadap perak atau gold-silver ratio.

Menggunakan harga penutupan Jumat emas US$4.623,94 dan silver US$69,62, rasio tersebut sekitar 66 kali. Artinya, diperlukan sekitar 66 ons perak untuk membeli satu ons emas pada harga pasar tersebut.

Rasio yang turun biasanya berarti silver berkinerja lebih baik dibandingkan emas, sedangkan rasio naik menunjukkan emas lebih unggul. Namun tidak ada tingkat rasio tertentu yang menjamin silver murah atau mahal karena hubungan keduanya berubah mengikuti siklus ekonomi.

Bagi investor Indonesia, perak juga memiliki karakter yang sedikit berbeda dari emas Antam.

Pasar emas fisik domestik mempunyai harga harian, jaringan buyback, dan likuiditas yang jauh lebih dikenal masyarakat. Produk fisik perak cenderung memiliki spread yang lebih lebar dan pasar sekunder yang tidak seuniform emas. Karena itu, kenaikan harga spot internasional belum tentu dapat direplikasi sepenuhnya oleh return investor perak fisik lokal.

Investor yang menggunakan futures atau CFD menghadapi risiko berbeda lagi. Produk tersebut menggunakan leverage sehingga pergerakan harga yang relatif kecil dapat menghasilkan keuntungan maupun kerugian yang jauh lebih besar daripada modal margin.

Intinya:
Silver berada dalam momentum kuat setelah bergerak ke sekitar US$69 per troy ounce, dekat level tertinggi dua bulan. Reli tersebut lebih banyak mendapat dorongan dari kombinasi dolar yang melemah, kekhawatiran fiskal AS, penurunan yield, dan bangkitnya minat terhadap aset keras daripada cerita sederhana bahwa permintaan industri sedang meledak. Justru Silver Institute memperkirakan permintaan industri turun 3% pada 2026 karena produsen solar semakin hemat menggunakan perak. Yang membuat fundamental tetap menarik adalah pasar diproyeksikan defisit sekitar 67 juta ons untuk tahun keenam berturut-turut, sementara investasi fisik diperkirakan meningkat 20%. Pekan ini menjadi ujian penting: PCE AS pada 26 Agustus dan pidato Kevin Warsh di Jackson Hole pada 28 Agustus dapat menentukan apakah silver mampu menembus US$70 atau justru mengalami koreksi setelah reli lebih dari 5% dalam sepekan.

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Berapa harga perak hari ini 24 Agustus 2026?
Silver diperdagangkan di sekitar US$69 per troy ounce pada Senin, 24 Agustus 2026, dekat level tertinggi dalam sekitar dua bulan.
Mengapa harga perak naik?
Kenaikan ditopang pelemahan dolar, kekhawatiran terhadap fiskal dan utang AS, perubahan yield Treasury, permintaan aset keras, serta kondisi pasar fisik perak yang masih diperkirakan defisit.
Apakah permintaan industri perak sedang meningkat?
Tidak secara keseluruhan. Silver Institute memperkirakan permintaan industri global turun sekitar 3% pada 2026 karena berkurangnya penggunaan perak per unit dalam industri photovoltaic, meskipun permintaan dari AI, jaringan listrik dan otomotif tetap kuat.
Apakah pasar perak masih mengalami defisit?
Ya. Silver Institute memperkirakan defisit sekitar 67 juta ons pada 2026, yang akan menjadi tahun keenam berturut-turut pasar mengalami kekurangan pasokan terhadap permintaan.
Kapan data PCE AS dirilis?
Bureau of Economic Analysis menjadwalkan Personal Income and Outlays Juli 2026, termasuk indeks harga PCE, pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Kapan Ketua The Fed Kevin Warsh berpidato di Jackson Hole?
Agenda resmi Federal Reserve menjadwalkan pidato utama Kevin Warsh pada Jumat, 28 Agustus 2026 dalam Jackson Hole Economic Policy Symposium.
Sumber: Trading Economics untuk referensi harga silver 24 Agustus 2026; Reuters; U.S. Department of the Treasury; Federal Reserve; U.S. Bureau of Economic Analysis; Federal Reserve Bank of Kansas City; Silver Institute/Metals Focus; serta Bank Indonesia.

Perhitungan Receh.in: Harga US$69 per troy ounce setara sekitar Rp39.300 per gram menggunakan JISDOR Rp17.705/US$ pada 21 Agustus 2026. Nilai nosional kontrak standar 5.000 troy ounce pada harga US$69 sekitar US$345.000. Berdasarkan emas US$4.623,94 dan silver US$69,62 pada Jumat, gold-silver ratio berada sekitar 66 kali.

Catatan: Harga yang ditampilkan Trading Economics merupakan referensi OTC/CFD dan bukan harga benchmark resmi. Konversi ke rupiah juga bukan harga jual perak fisik di Indonesia karena belum memasukkan premi, pajak, ongkos produksi, distribusi, dan spread. Data impor bijih perak China tidak sama dengan konsumsi perak murni.

Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual silver, futures, CFD, atau produk investasi lainnya. Harga perak sangat volatil dan dipengaruhi dolar, suku bunga, industri, geopolitik, serta kondisi suplai-demand.