Daftar IsiTampilkan


JAKARTA
— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Sesi I Senin (10/8/2026) di zona merah dengan pelemahan 31,25 poin atau 0,49% ke posisi 6.378. Tekanan indeks berjalan beriringan dengan aksi jual investor asing yang membukukan net sell sekitar Rp609,42 miliar.

Tekanan jual terbesar datang dari saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) dengan net sell asing Rp244,72 miliar. Saham emiten petrokimia dan infrastruktur energi Grup Barito tersebut turun 3,14% ke Rp2.160 per saham. Sebaliknya, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) menjadi tujuan utama pembelian asing dengan net buy Rp212,03 miliar dan menguat 2,05% ke Rp995.

3 Poin Penting

  • IHSG Turun 0,49%: Indeks menutup Sesi I di 6.378, turun 31,25 poin.
  • Asing Net Sell Rp609,42 Miliar: TPIA, BMRI, dan BBRI menjadi tiga saham dengan tekanan jual asing terbesar.
  • Rotasi ke DSSA dan Komoditas: DSSA mencatat net buy Rp212,03 miliar, disusul MDKA, TINS, dan PSAB.
-0,49% Perubahan IHSG Sesi I
6.378 Posisi IHSG
Rp609,42 M Net Sell Asing
Rp212,03 M Net Buy DSSA

1. IHSG Melemah, Asing Kembali Menekan Pasar

Perdagangan paruh pertama Senin menunjukkan bahwa tekanan pasar belum sepenuhnya mereda. IHSG turun 0,49% ke level 6.378, sementara investor asing mencatat jual bersih Rp609,42 miliar berdasarkan data Panin Sekuritas.

Foreign flow negatif sebesar itu cukup signifikan untuk perdagangan setengah hari karena tekanan tidak hanya terkonsentrasi pada satu saham. Arus keluar terlihat pada saham petrokimia, perbankan, telekomunikasi, komoditas, hingga konglomerasi besar.

Meski demikian, tidak semua dana asing keluar dari pasar. Pada saat yang sama, sejumlah saham justru mencatat pembelian cukup besar, menunjukkan adanya rotasi portofolio ketimbang aksi keluar secara merata dari seluruh pasar.

Catatan Receh.in:
Net sell asing tidak selalu identik dengan sentimen bearish terhadap seluruh pasar. Yang lebih penting adalah melihat ke mana dana berpindah. Pada Sesi I kali ini, tekanan besar terjadi di TPIA dan big banks, sementara pembelian justru muncul di DSSA serta sejumlah saham komoditas.

2. TPIA Jadi Saham Paling Banyak Dilepas Asing

Saham TPIA mencatat net sell asing terbesar dengan nilai Rp244,72 miliar. Tekanan jual tersebut beriringan dengan penurunan harga saham 3,14% ke posisi Rp2.160.

Besarnya foreign sell di TPIA membuat saham tersebut menjadi salah satu sumber tekanan utama di antara saham berkapitalisasi besar pada perdagangan Sesi I.

Di posisi berikutnya terdapat PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dengan net sell Rp212,51 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sebesar Rp97,10 miliar.

Masuknya dua bank besar ke jajaran teratas foreign sell penting diperhatikan karena saham perbankan memiliki bobot besar terhadap IHSG. Tekanan asing pada saham-saham berkapitalisasi jumbo dapat memberi pengaruh yang lebih besar terhadap indeks dibandingkan penurunan pada saham dengan kapitalisasi lebih kecil.

← Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom →

Peringkat Saham Net Sell Asing
1 TPIA Rp244,72 miliar
2 BMRI Rp212,51 miliar
3 BBRI Rp97,10 miliar
4 ASII Rp82,48 miliar
5 BRPT Rp58,44 miliar
6 TLKM Rp47,61 miliar
7 ANTM Rp42,32 miliar
8 ISAT Rp32,60 miliar
9 PTRO Rp30,79 miliar
10 BRMS Rp17,30 miliar

Sumber: Data Panin Sekuritas pada perdagangan Sesi I Senin, 10 Agustus 2026.

3. Tekanan Tidak Hanya Datang dari Big Banks

Selain TPIA dan bank besar, aksi jual asing juga mengenai sejumlah saham dengan bobot dan likuiditas tinggi seperti PT Astra International Tbk. (ASII), PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM).

ASII mencatat net sell Rp82,48 miliar, BRPT Rp58,44 miliar, dan TLKM Rp47,61 miliar. Komposisi ini memperlihatkan bahwa tekanan asing menyebar ke beberapa sektor utama, mulai dari otomotif, petrokimia, telekomunikasi, hingga pertambangan.

Emiten nikel anggota MIND ID PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) juga mencatat net sell Rp42,32 miliar. Saham telekomunikasi PT Indosat Tbk. (ISAT) dilepas Rp32,60 miliar, sementara saham kontraktor tambang PT Petrosea Tbk. (PTRO) mencatat net sell Rp30,79 miliar.

Pola ini menunjukkan bahwa foreign sell pada Sesi I bukan semata cerita satu sektor. Investor asing terlihat mengurangi eksposur pada sejumlah saham besar secara bersamaan.

4. DSSA Justru Diborong Rp212,03 Miliar

Di sisi lain, emiten Grup Sinar Mas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) menjadi saham dengan net buy asing terbesar mencapai Rp212,03 miliar.

Aliran dana tersebut beriringan dengan kenaikan harga saham DSSA sebesar 2,05% ke Rp995 per saham.

Selain DSSA, pembelian asing juga terlihat pada saham-saham komoditas dan pertambangan. PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) mencatat net buy Rp62,67 miliar, diikuti PT Timah Tbk. (TINS) Rp35,79 miliar dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk. (PSAB) Rp30,14 miliar.

Peringkat Saham Net Buy Asing
1 DSSA Rp212,03 miliar
2 MDKA Rp62,67 miliar
3 TINS Rp35,79 miliar
4 PSAB Rp30,14 miliar
5 BBCA Rp28,38 miliar
6 ESSA Rp24,89 miliar
7 MDIA Rp19,58 miliar
8 BREN Rp14,88 miliar
9 BBNI Rp11,25 miliar
10 EMAS Rp8,54 miliar

Sumber: Data Panin Sekuritas pada perdagangan Sesi I Senin, 10 Agustus 2026.

5. Ada Rotasi Dana ke Komoditas dan Saham Tertentu

Daftar net buy memberikan gambaran bahwa asing tidak sepenuhnya meninggalkan pasar. Sebaliknya, terjadi seleksi yang cukup jelas terhadap saham tertentu.

Empat dari sepuluh saham dengan net buy terbesar memiliki eksposur langsung atau kuat terhadap komoditas dan pertambangan, yakni MDKA, TINS, PSAB, dan EMAS. ESSA juga masuk daftar melalui eksposur bisnis energi dan industri.

Pada sektor perbankan, arus asing terlihat terpecah. BMRI dan BBRI mencatat net sell besar, sementara PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) justru mencatat net buy Rp28,38 miliar dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) sebesar Rp11,25 miliar.

Yang Menarik:
Foreign flow di sektor bank tidak bergerak satu arah. BMRI dan BBRI dilepas, sementara BBCA dan BBNI dibeli. Ini mengindikasikan adanya rotasi antar-saham dalam satu sektor, bukan sekadar pengurangan eksposur terhadap perbankan secara menyeluruh.

6. TPIA dan DSSA Menunjukkan Dua Sisi Foreign Flow

Pergerakan TPIA dan DSSA menjadi contoh paling jelas bagaimana arus asing dapat berhubungan dengan pergerakan harga dalam jangka sangat pendek.

TPIA mendapat tekanan jual asing Rp244,72 miliar dan melemah 3,14%. Sebaliknya, DSSA menerima aliran beli Rp212,03 miliar dan menguat 2,05%.

Namun korelasi tersebut tidak selalu berarti foreign flow menjadi satu-satunya penyebab perubahan harga. Harga saham juga dipengaruhi oleh transaksi investor domestik, sentimen sektoral, kondisi pasar global, valuasi, dan likuiditas.

Karena itu, data foreign flow sebaiknya digunakan sebagai indikator tambahan untuk membaca tekanan permintaan dan penawaran, bukan sebagai sinyal transaksi yang berdiri sendiri.

7. Apa yang Perlu Dipantau pada Sesi II?

Karena data ini baru mencakup perdagangan Sesi I, posisi akhir IHSG maupun foreign flow masih dapat berubah pada paruh kedua perdagangan.

Hal pertama yang perlu dipantau adalah apakah tekanan jual asing pada TPIA, BMRI, dan BBRI berlanjut. Jika aksi jual semakin besar pada saham-saham berkapitalisasi besar, tekanan terhadap IHSG berpotensi tetap bertahan.

Sebaliknya, pemulihan pada big banks atau masuknya pembelian ke saham-saham indeks utama dapat membantu mempersempit pelemahan.

Investor juga perlu melihat apakah pembelian asing di DSSA dan saham komoditas bertahan sampai penutupan. Net buy pada setengah hari pertama belum tentu menghasilkan posisi yang sama pada akhir perdagangan.

Bottom Line:
Pelemahan IHSG 0,49% pada Sesi I berjalan bersama net sell asing Rp609,42 miliar, dengan tekanan terbesar pada TPIA, BMRI, dan BBRI. Namun dana asing tidak keluar secara merata: DSSA, MDKA, TINS, hingga BBCA justru mencatat pembelian. Karena itu, perdagangan hari ini lebih tepat dibaca sebagai kombinasi tekanan indeks dan rotasi portofolio asing daripada aksi keluar total dari pasar saham Indonesia.

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Berapa posisi IHSG pada Sesi I 10 Agustus 2026?
IHSG menutup perdagangan Sesi I Senin, 10 Agustus 2026, di posisi 6.378 atau turun 31,25 poin setara 0,49%.
Berapa net sell asing pada Sesi I hari ini?
Investor asing mencatat jual bersih atau net sell sekitar Rp609,42 miliar pada perdagangan Sesi I.
Saham apa yang paling banyak dijual investor asing?
TPIA menjadi saham dengan net sell asing terbesar sebesar Rp244,72 miliar, disusul BMRI Rp212,51 miliar dan BBRI Rp97,10 miliar.
Saham apa yang paling banyak dibeli investor asing?
DSSA mencatat net buy asing terbesar sebesar Rp212,03 miliar, diikuti MDKA Rp62,67 miliar dan TINS Rp35,79 miliar.
Apakah foreign net sell berarti IHSG pasti turun sampai penutupan?
Tidak. Data ini baru mencakup Sesi I dan arus transaksi masih dapat berubah pada Sesi II. Pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh investor domestik serta pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar.
Sumber Data: Data perdagangan Sesi I Senin, 10 Agustus 2026 dan data top net foreign buy/sell berdasarkan Panin Sekuritas.

Catatan: Data dalam artikel ini merupakan posisi perdagangan Sesi I dan dapat berubah pada akhir perdagangan. Angka net buy dan net sell mencerminkan transaksi hingga jeda perdagangan siang.

Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi pasar modal. Data foreign flow bukan merupakan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.