PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) masih tumbuh pada Semester I/2026, tetapi sumber pertumbuhannya mulai bergeser. Ketika penjualan ke sejumlah pasar ekspor utama melemah, peningkatan penjualan domestik, logistik, serta kontribusi bisnis ketenagalistrikan membantu menjaga pendapatan tetap naik.
AADI membukukan pendapatan usaha sekitar US$2,55 miliar pada enam bulan pertama 2026, tumbuh sekitar 6% secara tahunan. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik lebih cepat, yakni 10,52% menjadi US$473,77 juta dari US$428,68 juta.
Bagi investor, kombinasi tersebut lebih menarik daripada pertumbuhan omzet semata. Margin kotor dan margin laba bersih sama-sama membaik, sementara kontribusi pasar domestik terhadap pendapatan meningkat cukup tajam. Artinya, pertumbuhan AADI pada periode ini tidak sepenuhnya bergantung pada ekspor batu bara.
- Pendapatan AADI naik sekitar 6% menjadi US$2,55 miliar, sedangkan laba bersih pemilik entitas induk tumbuh 10,52% menjadi US$473,77 juta.
- Penjualan domestik melonjak sekitar 34,2% menjadi US$721 juta dan porsinya naik menjadi sekitar 28% dari total pendapatan.
- Margin kotor meningkat dari sekitar 29,0% menjadi 30,7%, menunjukkan laba tumbuh lebih cepat daripada pendapatan.
Laba Tumbuh Lebih Cepat dari Pendapatan
Sepanjang Semester I/2026, AADI mencatat pendapatan sekitar US$2,55 miliar dibandingkan sekitar US$2,40 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Berdasarkan laporan keuangan interim yang menjadi sumber bahan, pertumbuhan pendapatan tercatat 6,13%.
Laba bruto meningkat dari US$695,52 juta menjadi US$782,70 juta atau sekitar 12,5%. Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 10,52% menjadi US$473,77 juta.
| Indikator | Semester I/2025 | Semester I/2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan | ±US$2,40 miliar | ±US$2,55 miliar | +6,13% |
| Laba bruto | US$695,52 juta | US$782,70 juta | +12,5% |
| Laba pemilik entitas induk | US$428,68 juta | US$473,77 juta | +10,52% |
| EPS dasar | US$0,05505 | US$0,06084 | +10,5% |
Perhitungan Receh.in menunjukkan margin laba bruto AADI meningkat dari sekitar 29,0% menjadi 30,7%. Margin laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga membaik dari sekitar 17,9% menjadi 18,6%.
Perbaikan tersebut berarti setiap US$100 pendapatan menghasilkan laba bruto sekitar US$30,7 pada Semester I/2026, dibandingkan sekitar US$29 setahun sebelumnya.
Dengan laba tumbuh lebih cepat daripada pendapatan, kualitas pertumbuhan AADI pada periode ini terlihat relatif lebih baik daripada sekadar ekspansi penjualan. Namun, investor tetap perlu melihat laporan arus kas dan rincian biaya untuk menilai apakah perbaikan margin tersebut dapat dipertahankan.
Domestik Naik 34%, Ketergantungan Ekspor Sedikit Berkurang
Perubahan paling mencolok muncul pada komposisi geografis penjualan. Pendapatan dari pasar domestik meningkat menjadi US$721 juta dari US$537,27 juta.
Perhitungan Receh.in menunjukkan kenaikannya mencapai sekitar 34,2% secara tahunan, jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan konsolidasi yang hanya sekitar 6%.
Kontribusi domestik terhadap pendapatan juga naik dari sekitar 22,4% menjadi 28,3%. Dalam satu tahun, porsi pasar domestik bertambah hampir 6 poin persentase.
Pertumbuhan tersebut datang dari beberapa jalur. Penjualan batu bara domestik kepada pihak ketiga meningkat dari US$343,75 juta menjadi US$400,43 juta atau sekitar 16,5%.
Pertumbuhan yang lebih agresif terjadi pada penjualan domestik kepada pihak berelasi. Nilainya naik dari US$87,53 juta menjadi US$154,12 juta, atau sekitar 76%.
Sementara itu, ekspor batu bara kepada pihak ketiga sedikit turun dari US$1,86 miliar menjadi US$1,82 miliar. Dengan demikian, kenaikan pasar domestik berfungsi sebagai penyeimbang ketika pasar ekspor tidak bertumbuh.
India dan China Turun, Malaysia hingga Hong Kong Naik
Ekspor masih menjadi sumber utama pendapatan AADI dan tersebar ke berbagai pasar Asia. Akan tetapi, kinerja antarnegara tidak seragam.
| Tujuan Penjualan | Semester I/2025 | Semester I/2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| India | US$464,70 juta | US$453,29 juta | -2,5% |
| Malaysia | US$433,28 juta | US$451,15 juta | +4,1% |
| Korea | US$204,26 juta | US$219,42 juta | +7,4% |
| China | US$218,52 juta | US$199,65 juta | -8,6% |
| Jepang | US$186,61 juta | US$176,80 juta | -5,3% |
| Hong Kong | US$77,26 juta | US$102,96 juta | +33,3% |
| Filipina | US$109,76 juta | US$95,43 juta | -13,1% |
| Negara lainnya | US$167,90 juta | US$126,89 juta | -24,4% |
| Domestik | US$537,27 juta | US$721,00 juta | +34,2% |
India masih menjadi salah satu pasar ekspor terbesar dengan nilai US$453,29 juta, tetapi turun sekitar 2,5%. Malaysia hampir menyamai India dengan penjualan US$451,15 juta setelah tumbuh sekitar 4,1%.
Korea juga meningkat sekitar 7,4%, sedangkan Hong Kong mencatat pertumbuhan tertinggi di antara pasar ekspor utama dalam data tersebut, sekitar 33,3%.
Sebaliknya, penjualan ke China turun sekitar 8,6%, Jepang 5,3%, Filipina 13,1%, dan kelompok negara lainnya sekitar 24,4%.
Data ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan AADI pada Semester I/2026 bukan berasal dari ekspansi serempak seluruh pasar ekspor. Justru kenaikan domestik menjadi faktor yang lebih dominan dalam menjaga pertumbuhan konsolidasi.
Logistik dan Listrik Mulai Menambah Lapisan Pendapatan
Meskipun batu bara masih menjadi inti bisnis AADI, sumber pendapatan perusahaan mulai lebih beragam.
Bisnis logistik menghasilkan pendapatan US$109,19 juta pada Semester I/2026. Selain itu, perseroan mencatat pendapatan sebesar US$44,21 juta dari penyewaan aset ketenagalistrikan dan jasa pendukungnya.
Pendapatan ketenagalistrikan tersebut terdiri dari sewa aset US$40,67 juta serta jasa operasi dan pemeliharaan sekitar US$3,55 juta.
Jika digabungkan, logistik dan ketenagalistrikan memberikan pendapatan sekitar US$153,4 juta, setara sekitar 6% dari pendapatan konsolidasi.
Kontribusi tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan penjualan batu bara pihak ketiga yang mencapai US$2,22 miliar. Karena itu, terlalu dini menyebut AADI telah berubah menjadi perusahaan dengan sumber pendapatan yang terdiversifikasi secara penuh.
Namun, bagi investor, perkembangan bisnis nonbatu bara tetap relevan karena dapat menjadi bantalan terhadap siklus harga dan permintaan batu bara apabila skalanya terus meningkat.
FAQ Kinerja AADI Semester I 2026
Berapa laba bersih AADI Semester I 2026?
Berapa pendapatan AADI Semester I 2026?
Apa sumber utama pertumbuhan AADI?
Apakah ekspor batu bara AADI meningkat?
Apa yang perlu diperhatikan investor AADI setelah laporan ini?
Perhitungan Receh.in: Pertumbuhan per negara, margin laba bruto, margin laba bersih, pertumbuhan pendapatan domestik, kontribusi domestik terhadap pendapatan, serta kontribusi gabungan bisnis logistik dan ketenagalistrikan dihitung dari angka yang tersedia dan dapat berbeda tipis karena pembulatan.
Catatan: AADI menyajikan laporan keuangan dalam dolar AS. Konversi ke rupiah bersifat indikatif dan bergantung pada asumsi kurs yang digunakan. Artikel ini menggunakan dolar AS sebagai basis utama analisis agar tidak mencampurkan perubahan kinerja operasional dengan perubahan kurs.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa mendatang dan keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

0 Komentar