Lo Kheng Hong kembali mempertebal kepemilikannya di PT Intiland Development Tbk. (DILD). Investor yang dikenal dengan pendekatan investasi nilai tersebut membeli sekitar 1,35 juta saham pada 20 Agustus 2026 sehingga kepemilikannya meningkat menjadi sekitar 775,43 juta saham atau 7,48%.
Aksi terbaru itu melanjutkan pembelian bertahap sepanjang Juli dan Agustus. Berdasarkan data kepemilikan yang dikutip dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), posisi Lo Kheng Hong pada akhir Juli masih sekitar 770,63 juta saham. Artinya, sepanjang Agustus kepemilikannya bertambah sekitar 4,8 juta saham.
Yang membuat aksi tersebut menarik adalah konteksnya. Saham DILD masih berada di kisaran Rp100-an dan secara valuasi diperdagangkan jauh di bawah nilai buku. Pada harga sekitar Rp118 pada 24 Agustus 2026, kapitalisasi pasar Intiland hanya sekitar Rp1,22 triliun dibandingkan ekuitas Rp6,77 triliun per Juni 2026.
Tetapi harga murah terhadap nilai buku tidak datang tanpa alasan. Pendapatan dan laba DILD semester I/2026 turun, marketing sales menyusut 40,6%, dan laba bersih hanya Rp9,2 miliar. Jadi, cerita DILD saat ini merupakan pertarungan antara diskon valuasi dan aset besar di satu sisi, dengan profitabilitas serta penjualan properti yang masih lemah di sisi lain.
- Lo Kheng Hong memiliki sekitar 775,43 juta saham DILD atau 7,48% setelah kembali membeli sekitar 1,35 juta saham pada 20 Agustus 2026.
- DILD diperdagangkan hanya sekitar 0,18 kali nilai buku pada kisaran harga Rp118, tetapi laba bersih semester I/2026 turun 26,8% dan marketing sales merosot 40,6%.
- Intiland masih menjalankan deleveraging: total utang turun 5,5% menjadi Rp2,91 triliun. Namun target marketing sales Rp1,95 triliun berarti perseroan masih membutuhkan akselerasi besar pada semester II.
Lo Kheng Hong Terus Menambah DILD, Kini Menguasai 7,48%
Akumulasi Lo Kheng Hong terhadap DILD bukan peristiwa satu kali. Polanya terlihat bertahap.
Pada 27 Juli 2026, dia terpantau membeli sekitar 365.600 saham. Sehari kemudian, pembelian berlanjut sekitar 2,44 juta saham. Pada 29 Juli, sekitar 1,70 juta saham kembali masuk ke portofolionya.
Memasuki Agustus, pembelian tidak berhenti. Pada 6 Agustus, jumlah saham DILD yang dikoleksi bertambah sekitar 2,8 juta lembar sehingga kepemilikannya menjadi sekitar 774,08 juta saham atau 7,47%.
Transaksi terbaru pada 20 Agustus menambah sekitar 1,35 juta saham lagi dan membawa posisinya menjadi sekitar 775,43 juta lembar atau 7,48%.
| Periode/Transaksi | Tambahan Saham | Kepemilikan Setelah Transaksi |
|---|---|---|
| 27 Juli 2026 | ~365.600 | — |
| 28 Juli 2026 | ~2,44 juta | — |
| 29 Juli 2026 | ~1,70 juta | ~769,74 juta |
| Akhir Juli 2026 | — | ~770,63 juta |
| 6 Agustus 2026 | ~2,80 juta | ~774,08 juta |
| 20 Agustus 2026 | ~1,35 juta | ~775,43 juta / 7,48% |
Jika menggunakan posisi akhir Juli sekitar 770,63 juta saham sebagai basis, penambahan hingga 20 Agustus mencapai sekitar 4,80 juta saham.
775,43 juta − 770,63 juta = sekitar 4,80 juta saham.
Angka dapat sedikit berbeda dari penjumlahan transaksi individual karena data kepemilikan yang dipublikasikan menggunakan pembulatan dan tanggal pencatatan berbeda.
Nama Lo Kheng Hong sendiri telah muncul sebagai pemegang lebih dari 5% saham DILD sejak Agustus 2022. Pada periode awal tersebut, seperti dikutip dari Bisnis, dia pernah membeli sekitar 453,1 juta saham dengan harga rata-rata sekitar Rp147.
Namun angka Rp147 tidak tepat diperlakukan sebagai harga rata-rata seluruh 775 juta saham yang dimilikinya saat ini. Setelah 2022 terdapat banyak transaksi tambahan sehingga biaya perolehan aktual seluruh posisi tidak dapat dihitung hanya dari pembelian awal tersebut.
Lo Kheng Hong, seperti dikutip dari Bisnis, sebelumnya menjelaskan bahwa dirinya terus membeli ketika harga turun karena melihat kesempatan memperoleh saham pada harga yang lebih murah.
Pernyataan itu memberikan gambaran pendekatan investasinya, tetapi bukan jaminan bahwa harga DILD sudah mencapai titik terendah atau akan segera naik.
Kenapa DILD Bisa Menarik? Nilai Bukunya Jauh di Atas Harga Saham
Salah satu angka yang langsung mencolok pada DILD adalah valuasi berbasis nilai buku.
Per Juni 2026, Intiland memiliki total aset sekitar Rp12,84 triliun dan ekuitas sekitar Rp6,77 triliun. Dengan sekitar 10,37 miliar saham beredar, nilai buku per saham berada di kisaran Rp653.
Sementara itu, DILD berada di sekitar Rp118 pada 24 Agustus 2026. Harga tersebut berarti saham hanya dihargai sekitar 18% dari nilai bukunya.
Rp118 ÷ sekitar Rp653,6 nilai buku per saham = 0,18 kali PBV.
Dengan saham beredar sekitar 10,37 miliar lembar, kapitalisasi pasar pada Rp118 sekitar Rp1,22 triliun.
Secara permukaan, diskon sekitar 82% terhadap nilai buku terlihat sangat besar. Tetapi pada perusahaan properti, membaca PBV membutuhkan konteks.
Nilai buku sebagian besar berada dalam tanah, bangunan, persediaan properti, investasi properti, atau aset lain yang tidak selalu dapat dikonversi menjadi kas dengan cepat pada nilai tercatatnya.
Itu sebabnya PBV rendah tidak otomatis berarti saham murah secara ekonomi.
Diskon dapat mencerminkan sejumlah hal: rendahnya return terhadap aset, lambatnya monetisasi landbank, leverage, siklus properti, atau ketidakpastian mengenai kapan nilai aset dapat diwujudkan menjadi laba dan arus kas.
DILD menunjukkan persoalan tersebut dengan cukup jelas. Ekuitasnya Rp6,77 triliun, tetapi laba bersih semester I hanya Rp9,2 miliar. Return on equity dalam enam bulan dengan demikian masih sangat kecil.
| Valuasi DILD* | Nilai |
|---|---|
| Harga saham | ~Rp118 |
| Saham beredar | ~10,37 miliar |
| Market cap | ~Rp1,22 triliun |
| Ekuitas H1 2026 | Rp6,77 triliun |
| PBV | ~0,18x |
| Laba H1 2026 | Rp9,2 miliar |
*Perhitungan Receh.in menggunakan harga sekitar Rp118 dan laporan keuangan per Juni 2026.
PER juga kurang berguna jika dibaca tanpa konteks. Menggunakan laba semester I secara langsung akan menghasilkan PER yang sangat tinggi karena laba bersih DILD saat ini tipis dibandingkan nilai asetnya.
Karena itu, tesis investasi DILD lebih banyak bertumpu pada potensi monetisasi aset, normalisasi laba, perbaikan penjualan properti, serta deleveraging daripada pertumbuhan EPS yang saat ini sudah terlihat kuat.
Laba Turun dan Marketing Sales Baru Rp399,9 Miliar, Target 2026 Masih Jauh
Di sinilah sisi yang lebih menantang dari cerita Intiland terlihat.
Laporan resmi perusahaan menunjukkan pendapatan semester I/2026 mencapai Rp1,08 triliun, turun 11,2% dari Rp1,22 triliun pada semester I/2025.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik induk turun 26,8% dari Rp12,6 miliar menjadi Rp9,2 miliar.
Namun komposisi pendapatannya tidak seluruhnya melemah. Pendapatan pengembangan properti turun 22,2% menjadi Rp600,5 miliar, sedangkan pendapatan berulang justru naik 7,9% menjadi Rp479 miliar.
| Kinerja DILD | H1 2025 | H1 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan | Rp1,216 T | Rp1,080 T | -11,2% |
| Pendapatan pengembangan | Rp772,0 M | Rp600,5 M | -22,2% |
| Pendapatan berulang | Rp444,0 M | Rp479,0 M | +7,9% |
| Laba bersih induk | Rp12,6 M | Rp9,2 M | -26,8% |
Perbaikan juga terlihat pada margin kotor. Gross margin naik dari 34,9% menjadi 36,7%, meski laba akhirnya tetap turun.
Masalah yang lebih besar ada pada penjualan pemasaran atau marketing sales.
DILD baru mencatat Rp399,9 miliar marketing sales pada semester I/2026, turun 40,6% dari Rp673,4 miliar setahun sebelumnya.
Pelemahan terutama berasal dari kawasan industri dan proyek mixed-use/high-rise. Penjualan kawasan industri turun 70,2% menjadi Rp133,5 miliar, sedangkan high-rise turun 63,9% menjadi Rp33,3 miliar.
Sebaliknya, segmen perumahan tapak tumbuh kuat 74,2% menjadi Rp233,1 miliar.
| Marketing Sales | H1 2025 | H1 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Mixed-use & high-rise | Rp92,2 M | Rp33,3 M | -63,9% |
| Perumahan | Rp133,8 M | Rp233,1 M | +74,2% |
| Kawasan industri | Rp447,4 M | Rp133,5 M | -70,2% |
| Total | Rp673,4 M | Rp399,9 M | -40,6% |
Angka tersebut menjadi penting karena Intiland menargetkan marketing sales Rp1,95 triliun pada 2026, naik sekitar 21% dari realisasi 2025 sebesar Rp1,61 triliun.
Artinya, hingga pertengahan tahun perseroan baru mencapai sekitar 20,5% target tahunannya.
Rp399,9 miliar ÷ Rp1,95 triliun = sekitar 20,5% dari target 2026.
Agar target tercapai, DILD masih membutuhkan marketing sales sekitar Rp1,55 triliun pada semester II atau hampir 3,9 kali capaian semester pertama.
Ini membuat target tersebut terlihat menantang jika hanya menggunakan kecepatan penjualan enam bulan pertama sebagai acuan. Tetapi sektor properti memang dapat mencatat transaksi besar yang tidak merata antarkuartal, terutama pada penjualan lahan industri.
Direktur Utama Intiland Archied Noto Pradono, seperti dikutip dari keterangan resmi perusahaan, mengatakan strategi 2026 masih cenderung konservatif dengan mengandalkan proyek yang telah berjalan dan meluncurkan proyek baru secara selektif.
Intiland menyiapkan antara lain pengembangan kawasan industri baru di Jawa Timur dan Tower E SQ Res untuk menopang semester kedua.
Deleveraging Bisa Menjadi Kunci, tetapi Akumulasi LKH Bukan Buy Signal
Salah satu perkembangan fundamental yang lebih konstruktif adalah penurunan utang.
Per Juni 2026, total utang DILD tercatat Rp2,91 triliun, turun 5,5% dari Rp3,08 triliun pada akhir 2025. Rasio utang bersih terhadap ekuitas juga sedikit membaik menjadi 31,3% dari 31,5%.
Ini sejalan dengan strategi perusahaan yang menjadikan deleveraging sebagai salah satu prioritas utama.
Kas dan setara kas memang ikut turun 16,1% menjadi Rp792,4 miliar, tetapi penurunan utang memberikan ruang untuk menekan beban keuangan apabila tren tersebut dapat dilanjutkan.
| Neraca DILD | FY 2025 | H1 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Total aset | Rp13,12 T | Rp12,84 T | -2,1% |
| Ekuitas | Rp6,79 T | Rp6,77 T | -0,2% |
| Total utang | Rp3,08 T | Rp2,91 T | -5,5% |
| Kas | Rp944,4 M | Rp792,4 M | -16,1% |
| Net debt/equity | 31,5% | 31,3% | Membaik tipis |
Bagi tesis investasi nilai, skenario positif DILD cukup mudah dirumuskan: perusahaan memiliki basis aset dan landbank besar, saham dihargai jauh di bawah nilai buku, utang berangsur turun, lalu pemulihan penjualan properti pada akhirnya membuat laba dan arus kas meningkat.
Tetapi pasar juga memiliki alasan memberi diskon besar. Laba terhadap ekuitas masih rendah, marketing sales semester pertama lemah, dan monetisasi aset properti dapat membutuhkan waktu panjang.
Dengan harga DILD sekitar Rp118 pada 24 Agustus, nilai pasar 775,43 juta saham yang dipegang Lo Kheng Hong secara ilustratif mencapai sekitar Rp91,5 miliar.
775,43 juta saham × Rp118 = sekitar Rp91,50 miliar.
Ini adalah nilai pasar ilustratif pada harga Rp118, bukan nilai modal yang telah dikeluarkan Lo Kheng Hong dan bukan keuntungan atau kerugian investasinya.
Aksi investor besar seperti Lo Kheng Hong dapat menjadi informasi tambahan mengenai keyakinan seorang investor terhadap valuasi perusahaan. Tetapi transaksi tersebut tidak dapat menggantikan analisis fundamental investor sendiri.
Investor juga tidak mengetahui secara penuh horizon investasinya, biaya perolehan keseluruhan, toleransi terhadap penurunan harga, serta porsi DILD terhadap total portofolionya.
Dengan demikian, fakta bahwa Lo Kheng Hong terus membeli bukan alasan yang cukup untuk menyimpulkan saham akan segera naik.
Yang jauh lebih penting untuk dipantau pada semester II adalah apakah DILD mampu mempercepat marketing sales, mempertahankan pertumbuhan pendapatan berulang, melanjutkan penurunan utang, serta mengubah basis aset besar menjadi laba dan arus kas yang lebih produktif.
Lo Kheng Hong terus memperbesar kepemilikan DILD hingga sekitar 775,43 juta saham atau 7,48%. Daya tarik valuasinya memang mudah terlihat: pada harga sekitar Rp118, DILD hanya diperdagangkan sekitar 0,18 kali nilai buku dengan market cap sekitar Rp1,22 triliun dibandingkan ekuitas Rp6,77 triliun. Namun diskon besar tersebut datang bersama tantangan fundamental. Pendapatan H1 turun 11,2%, laba bersih turun 26,8%, dan marketing sales baru Rp399,9 miliar atau sekitar 20,5% dari target Rp1,95 triliun. Sisi positifnya, pendapatan berulang tumbuh 7,9%, margin kotor membaik, dan total utang turun 5,5%. Jadi tesis DILD bukan semata “Lo Kheng Hong membeli”, melainkan apakah Intiland mampu mempercepat monetisasi aset dan penjualan sambil terus memperbaiki neraca.
Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
Berapa saham DILD yang dimiliki Lo Kheng Hong?
Mengapa Lo Kheng Hong terus membeli DILD?
Apakah saham DILD murah?
Berapa laba Intiland semester I 2026?
Berapa target marketing sales DILD pada 2026?
Apakah DILD sedang menurunkan utang?
Perhitungan Receh.in: Penambahan kepemilikan dari akhir Juli hingga 20 Agustus sekitar 4,80 juta saham. Pada harga Rp118, market cap DILD sekitar Rp1,22 triliun, PBV ilustratif sekitar 0,18 kali, dan nilai pasar 775,43 juta saham sekitar Rp91,5 miliar. Marketing sales H1 setara sekitar 20,5% dari target 2026.
Catatan: Harga rata-rata Rp147 yang disebut dalam transaksi awal 2022 tidak digunakan sebagai biaya perolehan seluruh kepemilikan Lo Kheng Hong karena terdapat pembelian tambahan setelah periode tersebut. Nilai pasar kepemilikan juga bukan nilai modal atau keuntungan investasi.
Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham DILD. Aksi beli pemegang saham besar tidak menjamin kinerja saham. Investor perlu menilai valuasi, laba, arus kas, utang, marketing sales dan prospek bisnis secara independen.
0 Komentar