Daftar IsiTampilkan


Program PLTS 100 gigawatt (GW) mulai bergerak dari ambisi menuju eksekusi, dan dampaknya berpotensi jauh melampaui sektor listrik.
Jika dirancang dengan tepat, proyek tersebut dapat menjadi mesin permintaan bagi industri panel surya, sel, inverter, baterai, kaca, aluminium, mounting system, EPC hingga pengolahan material hulu.

Namun besarnya pasar juga membawa risiko yang sama besar. Tanpa kepastian proyek, kebijakan pengadaan yang konsisten dan kemampuan industri domestik bersaing, Indonesia dapat membangun puluhan gigawatt pembangkit tetapi sebagian besar nilai tambah manufakturnya justru dinikmati produsen luar negeri.

Pemerintah menyiapkan tahap pertama sekitar 17 GW PLTS dengan dukungan battery energy storage system (BESS) sekitar 33 GW. Kementerian ESDM juga telah mengidentifikasi sekitar 24.000 hektare lahan di Pulau Jawa untuk mendukung program tersebut. Pemerintah menargetkan percepatan menuju 100 GW sebagai bagian dari strategi ketahanan energi dan transisi energi bersih.

Skalanya tidak main-main. Kapasitas produksi modul surya di Indonesia saat ini diperkirakan sudah mencapai sekitar 14 GW per tahun. Dengan kapasitas tersebut, tahap awal 17 GW saja secara matematis setara sekitar 121% kapasitas produksi modul domestik selama satu tahun—jika seluruh kapasitas pabrik beroperasi penuh dan seluruh produksinya diarahkan ke proyek tersebut.

Di sinilah pertanyaan utamanya: apakah 100 GW akan menjadi program pembangunan pembangkit, atau sekaligus program pembangunan industri?

Ringkasan

  • Pemerintah memulai PLTS 100 GW melalui tahap awal 17 GW dengan dukungan BESS sekitar 33 GW dan kebutuhan lahan yang telah diidentifikasi sekitar 24.000 hektare.
  • Kapasitas manufaktur modul domestik sudah sekitar 14 GW per tahun, sehingga tahap awal 17 GW secara teoritis setara lebih dari satu tahun kapasitas produksi saat ini.
  • Tantangan terbesar bukan hanya TKDN, tetapi daya saing. China menguasai sekitar 85% kapasitas produksi rantai pasok solar global dan sekitar 95% wafer, sehingga industri Indonesia menghadapi pesaing dengan skala dan biaya yang jauh lebih besar.
100 GW Target PLTS Nasional
17 GW Tahap Awal
14 GW/Tahun Kapasitas Modul Domestik*
85% Porsi Kapasitas Solar China**

*Berdasarkan estimasi kapasitas produksi modul domestik yang disampaikan IESR. **IEA Energy Technology Perspectives 2026.

17 GW Tahap Awal Sudah Cukup Besar untuk Mengubah Industri Panel Surya

Dalam konteks sistem kelistrikan Indonesia, 17 GW merupakan angka yang sangat besar. Namun dalam konteks manufaktur, angka tersebut bahkan lebih menarik.

CEO Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menyebut kapasitas produksi modul surya Indonesia saat ini mencapai sekitar 14 GW per tahun dan dapat meningkat menuju 20 GW per tahun.

Artinya, jika tahap pertama 17 GW seluruhnya menggunakan modul buatan dalam negeri, permintaan proyek tersebut secara teoritis sudah melebihi kapasitas produksi tahunan saat ini.

Perhitungan Receh.in:
Tahap awal 17 GW ÷ kapasitas produksi modul domestik 14 GW per tahun = sekitar 1,21 kali. Dengan kata lain, kebutuhan modul tahap pertama setara sekitar 121% kapasitas produksi satu tahun saat ini, dengan asumsi seluruh pabrik beroperasi penuh dan seluruh output digunakan untuk proyek tersebut.

Perhitungan itu sekaligus memperlihatkan mengapa kepastian pipeline menjadi penting.

Produsen tidak akan menambah pabrik hanya karena pemerintah mengumumkan target 100 GW. Mereka membutuhkan jadwal tender, estimasi volume tahunan, standar teknologi, formula TKDN, skema pembiayaan dan kepastian bahwa aturan tidak berubah ketika fasilitas manufaktur sudah dibangun.

Direktur Green Transition Initiative Indef Imaduddin Abdullah, seperti dikutip dari Bisnis, menilai program harus dirancang untuk mendorong supplier development dan peningkatan kapabilitas, bukan sekadar mengejar angka TKDN secara administratif.

Pernyataan tersebut menyentuh persoalan mendasar industrialisasi energi bersih.

Sebuah modul dapat dirakit di Indonesia tetapi sebagian besar komponen bernilai tinggi—sel, wafer, polysilicon atau material tertentu—masih berasal dari luar negeri. Secara statistik produksi lokal bertambah, tetapi nilai tambah yang benar-benar tinggal di dalam negeri dapat jauh lebih kecil.

Karena itu, tingkat kedalaman industri menjadi lebih penting daripada sekadar jumlah pabrik.

Tahapan Rantai Nilai Nilai Strategis Tantangan Indonesia
Polysilicon Bahan baku utama silikon PV Energi intensif dan membutuhkan skala besar
Wafer Komponen hulu bernilai tinggi Teknologi dan skala global sangat terkonsentrasi
Solar cell Inti konversi energi modul Membutuhkan teknologi dan efisiensi tinggi
Modul Produk akhir panel Kapasitas domestik sudah tumbuh, tetapi persaingan harga ketat
Inverter Mengubah listrik DC menjadi AC Pasar global juga didominasi China
BESS Menstabilkan intermitensi PLTS Sel baterai, kontrol sistem dan integrasi

IEA dalam Energy Technology Perspectives 2026 mencatat China menguasai sekitar 85% kapasitas produksi rantai pasok solar PV global. Untuk wafer, pangsanya bahkan sekitar 95%.

China juga memiliki sekitar 80% kapasitas manufaktur inverter global pada 2025.

Dominasi tersebut bukan hanya soal jumlah pabrik. Produsen China mendapatkan keuntungan dari integrasi rantai pasok, skala produksi, ekosistem pemasok, pengalaman manufaktur, teknologi dan biaya yang rendah.

Inilah lawan yang harus dihadapi manufaktur Indonesia.

Karena itu, kebijakan proteksi atau TKDN dapat memberikan waktu bagi industri domestik untuk tumbuh, tetapi tidak dapat menggantikan produktivitas dalam jangka panjang. Jika biaya lokal tetap jauh lebih tinggi tanpa peningkatan teknologi, proyek listrik akhirnya menanggung biaya yang lebih mahal.

Pemerintah pernah memberikan relaksasi TKDN untuk sejumlah proyek PLTS melalui Permen ESDM No. 11/2024 untuk mengejar proyek yang harus beroperasi paling lambat Juni 2026. Pengalaman tersebut memperlihatkan adanya tarik-menarik antara dua tujuan: mempercepat pembangunan energi bersih dan membangun industri domestik.

Program 100 GW akan memperbesar dilema tersebut berkali-kali lipat.

US$145 Miliar Potensi Pasar? Angkanya Besar, tapi Perlu Dibaca Hati-hati

Ketua Dewan Pakar Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Herman Darnel, seperti dikutip dari Bisnis, memperkirakan nilai pasar yang dapat tercipta dari program 100 GW mencapai sekitar US$145 miliar, termasuk panel, mounting, inverter dan komponen lainnya.

Khusus panel surya, dia memperkirakan potensi pasar US$80 miliar-US$90 miliar.

Angka tersebut menggambarkan betapa besarnya peluang industri, tetapi investor dan pembuat kebijakan perlu membedakan antara estimasi nilai pasar dan harga perangkat di pasar global saat ini.

Secara matematis, US$145 miliar untuk 100 GW setara sekitar US$1,45 per watt untuk keseluruhan sistem yang dimaksud dalam estimasi tersebut.

Sementara estimasi panel US$80 miliar-US$90 miliar berarti sekitar US$0,80-US$0,90 per watt hanya untuk modul.

Estimasi dalam Bahan Nilai Nilai per Watt*
Seluruh ekosistem 100 GW US$145 miliar ~US$1,45/W
Panel surya US$80 miliar ~US$0,80/W
Panel surya US$90 miliar ~US$0,90/W

*Perhitungan Receh.in. Estimasi tersebut berasal dari narasumber dalam bahan dan bukan valuasi independen Receh.in.

Sebagai pembanding, OPIS pada akhir Juni 2026 menilai modul TOPCon ekspor China sekitar US$0,113 per watt FOB, dengan indikasi harga spot sekitar US$0,110-US$0,117 per watt.

Perbandingan tersebut tidak bisa dilakukan satu banding satu karena harga FOB China belum mencakup logistik, bea, pajak, EPC, margin distributor, kebutuhan lokal, spesifikasi proyek dan biaya lain. Namun selisihnya menunjukkan bahwa estimasi US$80 miliar-US$90 miliar untuk panel saja sebaiknya diperlakukan sebagai perkiraan potensi industri, bukan harga pembelian modul yang pasti akan terjadi.

Ini penting karena global solar saat ini justru menghadapi kelebihan kapasitas manufaktur.

IEA memperkirakan kapasitas produksi panel global masih akan jauh melebihi kebutuhan instalasi hingga akhir dekade. Kelebihan suplai tersebut telah menekan harga dan mempersulit produsen baru bersaing hanya dengan mengandalkan proteksi domestik.

Pelajaran bagi Indonesia:
Pasar 100 GW memang besar, tetapi besar pasar tidak sama dengan besar keuntungan. Jika pemerintah ingin industri domestik tumbuh, targetnya harus lebih dalam daripada “membangun pabrik modul”. Industri harus mampu mencapai efisiensi, kualitas, teknologi dan biaya yang cukup kompetitif agar tidak terus bergantung pada proteksi.

Model India memberikan salah satu contoh kebijakan alternatif.

Pemerintah India menjalankan Production Linked Incentive untuk modul surya berefisiensi tinggi dengan total anggaran sekitar Rs24.000 crore. Insentif diberikan kepada produsen terpilih selama lima tahun setelah fasilitas mulai beroperasi.

Program tersebut mendorong pembangunan 8,74 GW kapasitas terintegrasi pada tranche pertama dan 39,6 GW pada tranche kedua.

Tujuannya tidak hanya meningkatkan kapasitas modul, tetapi juga mendorong pabrik yang lebih terintegrasi, teknologi efisiensi tinggi dan penggunaan bahan lokal.

China menjalankan pendekatan yang lebih luas lagi. Kebijakan industri, pembiayaan, permintaan domestik, pembangunan rantai pasok dan investasi teknologi berjalan bersamaan selama bertahun-tahun hingga perusahaan memperoleh skala ekonomi.

IEA mencatat investasi China di rantai pasok PV telah membuat pangsa manufakturnya melebihi 80% pada hampir seluruh tahapan utama.

Artinya, Indonesia tidak cukup hanya meniru satu instrumen. TKDN tanpa pasar tidak efektif. Pasar tanpa teknologi menciptakan perakitan. Insentif tanpa disiplin produktivitas dapat menghasilkan pabrik yang tidak kompetitif.

100 GW Juga Akan Menguji Jaringan PLN, Baterai dan Keseimbangan Pasokan

Ada sisi lain dari program ini yang sering tenggelam di balik diskusi manufaktur: 100 GW PLTS harus bisa diserap sistem listrik.

Solar menghasilkan listrik secara tidak terus-menerus. Produksi mencapai puncak pada siang hari dan turun drastis ketika matahari terbenam.

Semakin besar kapasitas PLTS dalam sistem, semakin besar kebutuhan fleksibilitas jaringan melalui baterai, pembangkit fleksibel, transmisi, interkoneksi, pengaturan beban dan pengelolaan permintaan.

Pemerintah karena itu memasukkan sekitar 33 GW BESS pada tahap awal 17 GW PLTS.

Namun angka tersebut perlu dibaca hati-hati. Kapasitas BESS dalam GW menunjukkan kemampuan daya, sedangkan berapa lama baterai dapat menyimpan dan memasok listrik ditentukan oleh kapasitas energi dalam GWh.

Tanpa informasi durasi baterai, angka 33 GW belum cukup untuk menghitung berapa banyak energi yang bisa disimpan.

Contoh sederhana:
BESS 1 GW dengan durasi 1 jam menyimpan sekitar 1 GWh energi. Jika durasinya 4 jam, kapasitas energinya menjadi 4 GWh. Karena pemerintah menyebut 33 GW tetapi belum menjelaskan durasi pada sumber yang digunakan, kebutuhan energi baterai total belum dapat dihitung secara akurat.

Persoalan lainnya adalah lokasi.

ESDM tengah mengkaji pemasangan PLTS dekat jaringan tegangan tinggi, tegangan rendah maupun distribusi, termasuk potensi di sepanjang jalan tol.

Pendekatan tersebut dapat mengurangi kebutuhan membangun jaringan baru dari nol, tetapi tidak berarti semua lokasi yang dekat transmisi otomatis dapat menerima tambahan kapasitas besar.

Setiap titik jaringan mempunyai batas teknis. Tambahan listrik harus mempertimbangkan kapasitas transformator, kestabilan frekuensi, kualitas tegangan, pola konsumsi setempat dan kemampuan sistem menyalurkan surplus ke wilayah lain.

Herman Darnel mengingatkan pembangunan PLTS tidak boleh lebih cepat daripada pertumbuhan kebutuhan listrik hingga menciptakan oversupply.

Peringatan tersebut relevan karena kontrak pembangkit dapat menciptakan kewajiban pembayaran bagi PLN meskipun seluruh energi tidak selalu dibutuhkan pada saat tertentu, bergantung pada struktur kontraknya.

Karena itu, keberhasilan 100 GW seharusnya tidak diukur hanya dari berapa banyak panel yang dipasang.

Target yang Perlu Seimbang Jika Terlalu Lambat Jika Terlalu Cepat
Kapasitas PLTS Transisi energi tertunda Risiko curtailment/oversupply
Transmisi & distribusi PLTS tidak dapat tersambung Investasi jaringan berlebih
BESS Intermitensi lebih sulit dikelola Biaya sistem dapat membesar
Manufaktur domestik Pasar diserap impor Overcapacity pabrik jika pipeline berhenti
Pertumbuhan demand listrik Energi bersih kurang tersedia Surplus pasokan meningkat

Di sisi lahan, pemerintah telah mengidentifikasi sekitar 24.000 hektare di Jawa untuk tahap awal.

Jika seluruh 17 GW menggunakan 24.000 hektare tersebut, secara matematis kebutuhan lahannya sekitar 1,41 hektare per MW.

Namun angka ini hanya rasio sederhana. Desain akhir proyek, topografi, jarak antarbaris panel, akses jalan, gardu, baterai dan fasilitas pendukung dapat mengubah kebutuhan lahan aktual.

Karena itu, pendekatan distributif—atap industri, gedung pemerintah, pusat perbelanjaan, jalan tol dan lokasi dekat beban—dapat menjadi pelengkap utility-scale.

Keuntungannya bukan hanya mengurangi kebutuhan lahan baru, tetapi juga menempatkan pembangkit lebih dekat dengan konsumsi sehingga sebagian kebutuhan investasi jaringan dapat berkurang.

Namun utility-scale tetap kemungkinan menjadi mesin volume terbesar karena proyek besar memberi kepastian permintaan yang dibutuhkan produsen modul dan komponen.

Intinya:
PLTS 100 GW berpotensi menjadi salah satu program industrialisasi energi terbesar Indonesia, tetapi manfaat ekonominya tidak otomatis muncul hanya karena kapasitas pembangkit dibangun. Tahap awal 17 GW saja sudah setara sekitar 121% kapasitas produksi modul domestik satu tahun saat ini. Itu cukup besar untuk memberi pasar bagi industri lokal. Tantangannya adalah memastikan permintaan tersebut mendorong rantai nilai yang semakin dalam—dari modul menuju sel, wafer, inverter, baterai dan material hulu—tanpa membuat biaya listrik kehilangan daya saing. Indonesia juga berhadapan dengan China yang menguasai sekitar 85% kapasitas rantai pasok solar dunia dan sekitar 95% wafer. Pada saat yang sama, grid PLN harus mampu menyerap listrik baru dan BESS harus disiapkan dengan kapasitas energi yang memadai. Karena itu, keberhasilan program 100 GW bukan sekadar soal panel sebanyak apa yang dipasang, melainkan seberapa besar nilai tambah yang tinggal di Indonesia, seberapa kompetitif industrinya, dan seberapa baik sistem listrik dapat memanfaatkan seluruh energi yang dihasilkan.

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Berapa target PLTS yang akan dibangun pemerintah?
Pemerintah mendorong pengembangan PLTS hingga 100 GW. Tahap awal yang diumumkan Kementerian ESDM sekitar 17 GW dengan dukungan BESS sekitar 33 GW.
Berapa kapasitas produksi panel surya Indonesia?
IESR menyebut kapasitas produksi modul surya domestik sekitar 14 GW per tahun dan berpotensi meningkat menuju sekitar 20 GW per tahun.
Apakah Indonesia bisa memenuhi kebutuhan 17 GW dari produksi lokal?
Secara kapasitas modul, 17 GW setara sekitar 1,21 kali kapasitas produksi domestik saat ini sebesar 14 GW per tahun. Namun kemampuan memenuhi proyek juga bergantung pada utilisasi pabrik, jenis teknologi, sertifikasi, sel dan komponen yang tersedia, serta jadwal pengadaan.
Mengapa produk impor menjadi tantangan?
China memiliki skala produksi sangat besar dan menguasai sekitar 85% kapasitas rantai pasok solar global serta sekitar 95% wafer. Hal ini membuat biaya produsen China sangat kompetitif.
Apakah nilai pasar PLTS 100 GW benar US$145 miliar?
Angka US$145 miliar merupakan estimasi yang disampaikan narasumber dalam bahan untuk panel, inverter, mounting dan komponen lainnya. Nilai aktual proyek akan bergantung pada harga perangkat, desain sistem, BESS, EPC, jaringan dan perkembangan biaya teknologi.
Apa arti BESS 33 GW?
Angka 33 GW menunjukkan kapasitas daya baterai. Untuk mengetahui berapa energi yang dapat disimpan diperlukan informasi durasi atau kapasitas dalam GWh, yang belum dijelaskan dalam sumber yang digunakan.
Sumber: Kementerian ESDM; Institute for Essential Services Reform (IESR); International Energy Agency (IEA); Ministry of New and Renewable Energy India; OPIS/pv magazine; serta pandangan Imaduddin Abdullah, Herman Darnel, Fabby Tumiwa dan Erwin Aksa sebagaimana dikutip dari Bisnis.

Perhitungan Receh.in: Tahap awal 17 GW setara sekitar 121% kapasitas produksi modul domestik 14 GW per tahun. Rasio lahan 24.000 hektare terhadap 17 GW sekitar 1,41 hektare per MW. Estimasi US$145 miliar untuk 100 GW setara US$1,45/W, sedangkan US$80 miliar-US$90 miliar untuk panel setara sekitar US$0,80-US$0,90/W.

Catatan: Estimasi nilai pasar US$145 miliar dan US$80 miliar-US$90 miliar berasal dari narasumber dalam bahan dan bukan valuasi independen Receh.in. Harga modul TOPCon FOB China sekitar US$0,113/W pada akhir Juni 2026 digunakan hanya sebagai konteks pembanding dan tidak bisa dibandingkan langsung dengan biaya proyek domestik. Angka BESS 33 GW juga belum dapat dikonversi menjadi kapasitas energi tanpa informasi durasi penyimpanan.

Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan analisis kebijakan. Target, jadwal pembangunan, struktur pengadaan, TKDN, kapasitas manufaktur, harga teknologi dan desain PLTS 100 GW masih dapat berubah seiring finalisasi kebijakan dan proyek.