Saham PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) sempat mengecewakan pasar setelah merilis laporan keuangan semester I/2026. Meski laba bersih tumbuh 24,4% secara tahunan menjadi Rp30,4 triliun, harga saham justru terkoreksi dari sekitar Rp4.380 menjadi Rp4.060.
Reaksi tersebut tampak bertolak belakang dengan kinerja perusahaan. Namun justru di sinilah muncul pertanyaan yang lebih menarik: apakah koreksi harga saham mencerminkan memburuknya fundamental, atau justru membuka peluang investasi jangka panjang?
Mengapa saham bank turun sejak 2024?
Pelemahan BMRI sebenarnya bukan fenomena yang berdiri sendiri. Sejak 2024, hampir seluruh saham bank besar mengalami koreksi, mulai dari Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), hingga Bank Central Asia (BBCA). IHSG pun ikut mengalami tekanan pada periode tersebut.
Salah satu penyebab yang sering dikaitkan dengan koreksi itu adalah perlambatan pertumbuhan laba. Setelah mencatat lonjakan laba yang sangat kuat sepanjang 2020–2023, pertumbuhan mulai melambat pada 2024.
Sebagai contoh, laba Bank Mandiri naik dari Rp17,1 triliun pada 2020 menjadi Rp55,1 triliun pada 2023. Namun sepanjang 2024 laba hanya bertambah tipis menjadi sekitar Rp55,7 triliun.
Secara nominal dalam rupiah memang masih tumbuh. Namun jika memperhitungkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, pertumbuhan tersebut menjadi jauh kurang menarik bagi investor asing.
Karena saham perbankan selama ini merupakan salah satu tujuan utama investasi asing di Indonesia, perlambatan pertumbuhan laba memicu aksi jual yang cukup besar.
Fenomena serupa juga terjadi pada BBRI dan BBNI. Sementara BBCA masih mampu mencatat pertumbuhan laba yang lebih tinggi pada 2024 sehingga sempat bertahan lebih baik dibandingkan bank besar lainnya.
Apakah kondisi mulai berubah?
Semester pertama 2026 memberikan sinyal yang berbeda.
Bank Mandiri berhasil meningkatkan laba bersih 24,4% secara tahunan. Bank Tabungan Negara (BBTN) bahkan membukukan pertumbuhan laba lebih dari 40%.
Jika tren tersebut berlanjut hingga akhir tahun, berarti periode stagnasi yang berlangsung sepanjang 2024–2025 mulai berakhir.
Bagi investor jangka panjang, perubahan arah pertumbuhan laba biasanya jauh lebih penting dibandingkan fluktuasi harga saham dalam jangka pendek.
Valuasi kembali murah
Selain pertumbuhan laba yang kembali membaik, faktor lain yang mulai menarik perhatian adalah valuasi.
Pada kisaran harga sekitar Rp4.000, saham BMRI diperdagangkan dengan PER sekitar 6 kali, PBV sekitar 1,3 kali, serta dividend yield mendekati dua digit.
Valuasi tersebut jauh lebih rendah dibandingkan ketika saham ini berada di puncaknya pada 2024.
Dalam sejarahnya, BMRI terakhir kali diperdagangkan pada valuasi serendah itu terjadi pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020. Setelah fundamental kembali pulih, saham tersebut kemudian mencatat kenaikan hampir tiga kali lipat dalam empat tahun berikutnya, di luar dividen yang diterima investor.
Tentu kondisi saat ini tidak identik dengan periode tersebut, tetapi sejarah menunjukkan bahwa kombinasi pertumbuhan laba dan valuasi murah sering menjadi awal dari siklus kenaikan harga saham.
Apa yang perlu diperhatikan investor?
Meski prospeknya membaik, masih ada sejumlah faktor yang akan menentukan arah saham BMRI ke depan.
Di dalam negeri, perkembangan suku bunga Bank Indonesia, pertumbuhan kredit, dan kualitas aset tetap menjadi perhatian utama.
Dari sisi eksternal, arus dana asing, kondisi ekonomi global, serta evaluasi indeks MSCI juga dapat memengaruhi pergerakan harga saham dalam jangka pendek.
Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya melihat kenaikan laba semester pertama, tetapi juga memastikan bahwa pertumbuhan tersebut mampu berlanjut hingga beberapa kuartal berikutnya.
Koreksi saham Bank Mandiri selama dua tahun terakhir lebih banyak dipicu oleh melambatnya pertumbuhan laba dibandingkan memburuknya fundamental perusahaan.
Kini, ketika pertumbuhan laba kembali memasuki fase dua digit dan valuasi berada di level yang relatif murah, BMRI mulai kembali menarik untuk dicermati sebagai investasi jangka panjang.
Namun, seperti saham perbankan lainnya, prospek tersebut tetap bergantung pada kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan laba, menjaga kualitas kredit, serta menghadapi dinamika ekonomi domestik maupun global.

0 Komentar