Indonesia ingin menjadi negara maju pada 2045, tetapi salah satu mesin ekonomi yang diharapkan membawa negara ini ke sana justru belum kembali ke kekuatan terbaiknya. Kontribusi industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II/2026 berada di sekitar 18,50%, sementara sasaran Indonesia Emas 2045 adalah 28%.
Selisih hampir 10 poin persentase tersebut terlihat seperti sekadar persoalan target statistik. Padahal konsekuensinya jauh lebih besar. Untuk meningkatkan porsi manufaktur, industri tidak cukup hanya tumbuh. Manufaktur harus secara konsisten berkembang lebih cepat daripada perekonomian secara keseluruhan selama bertahun-tahun, menciptakan produk bernilai tambah lebih tinggi, memperbesar ekspor, meningkatkan produktivitas, dan tetap menyediakan lapangan kerja dalam skala besar.
Data terbaru bahkan menunjukkan tantangan tersebut. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada kuartal II/2026, sedangkan industri pengolahan tumbuh 4,52%. Selama manufaktur tumbuh lebih lambat daripada ekonomi keseluruhan, kontribusinya terhadap PDB justru sulit meningkat.
Inilah alasan mengapa perdebatan mengenai reindustrialisasi seharusnya tidak berhenti pada berapa banyak smelter, pabrik, atau kawasan industri yang dibangun. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Indonesia dapat membangun ekosistem produksi yang semakin kompleks, produktif, terhubung dengan pemasok lokal, berorientasi ekspor, sekaligus mampu menyerap tenaga kerja berkualitas.
- Kontribusi manufaktur berada di sekitar 18,50% PDB pada kuartal II/2026, masih terpaut 9,5 poin persentase dari target Indonesia Emas 2045 sebesar 28%.
- Masalahnya bukan sekadar membangun pabrik baru. Indonesia perlu memperdalam rantai nilai, memperkuat industri pemasok, ekspor, teknologi, SDM, pembiayaan dan produktivitas agar manufaktur dapat tumbuh lebih cepat daripada ekonomi nasional.
- Waktu menjadi faktor penting. Indonesia sedang berada dalam periode bonus demografi sehingga penciptaan pekerjaan produktif perlu berlangsung sebelum struktur penduduk semakin menua pada dekade berikutnya.
Dari 18,5% ke 28%: Indonesia Harus Membalik Deindustrialisasi
Indonesia sebenarnya bukan negara yang belum pernah mempunyai sektor manufaktur besar.
Data historis pemerintah menunjukkan kontribusi industri pengolahan pernah mencapai sekitar 29% PDB pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Bank Dunia, dengan basis data yang sedikit berbeda, juga mencatat porsi manufaktur Indonesia pernah berada di sekitar 31% pada 2002.
Setelah itu trennya berubah. Porsi manufaktur terus menurun dan berada di sekitar 19% dalam beberapa tahun terakhir.
| Periode | Porsi Manufaktur terhadap PDB | Catatan |
|---|---|---|
| Akhir 1990-an–awal 2000-an | ~29%-31% | Periode puncak industrialisasi Indonesia |
| 2024 | ~19,07% | Jauh di bawah posisi puncak |
| 2025 | 19,07% | Di bawah target pemerintah 20,08% |
| Q2 2026 | 18,50% | Manufaktur tumbuh lebih lambat dari PDB |
| Target 2045 | 28,00% | Sasaran Indonesia Emas |
Dengan basis 18,50%, Indonesia perlu menambah sekitar 9,5 poin persentase kontribusi manufaktur menuju 2045.
Secara relatif, target 28% berarti porsi manufaktur harus sekitar 51% lebih besar daripada posisinya sekarang.
Target 28% dikurangi kontribusi Q2/2026 sebesar 18,50% menghasilkan kesenjangan 9,50 poin persentase. Jika dibandingkan dengan basis 18,50%, target tersebut sekitar 51,4% lebih tinggi. Ini bukan proyeksi pertumbuhan output, melainkan ilustrasi besarnya perubahan struktur ekonomi yang diperlukan.
Angkanya bahkan lebih menantang jika dilihat dari kecepatan pertumbuhan.
Pada kuartal II/2026, industri pengolahan hanya tumbuh 4,52%, sementara ekonomi nasional tumbuh 5,29%. Artinya, dalam periode tersebut manufaktur justru tidak sedang memperbesar porsinya.
Di sisi lain, indikator aktivitas manufaktur tidak menunjukkan sektor ini sedang mengalami kontraksi besar. Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur BPS berada di 52,31 pada kuartal II/2026, menunjukkan ekspansi. Pesanan, produksi, dan stok pembelian meningkat, meski komponen tenaga kerja masih berada di zona kontraksi.
Ini memperlihatkan perbedaan penting: industri dapat tumbuh dan aktivitas pabrik dapat berekspansi, tetapi proses reindustrialisasi belum terjadi jika pertumbuhannya tidak cukup cepat untuk meningkatkan bobot manufaktur dalam ekonomi.
Target 28% sendiri memang tercantum dalam kerangka Indonesia Emas 2045. Ringkasan RPJMN 2025-2029 menempatkan kontribusi manufaktur 28% sebagai salah satu indikator menuju pendapatan per kapita setara negara maju.
Bappenas bahkan mempunyai tahapan industrialisasi yang lebih agresif: sekitar 21,9% pada 2025-2029, 26,6% pada 2030-2034, mencapai 30% pada 2035-2039, kemudian sekitar 28% pada tahap 2040-2045 ketika struktur ekonomi sudah semakin matang.
Karena itu, target 28% bukan sekadar mempertahankan kondisi yang ada. Indonesia harus membalik tren struktural yang berlangsung lebih dari dua dekade.
Namun ada satu narasi yang juga perlu diluruskan. Tidak semua negara maju saat ini mempunyai manufaktur 25%-30% terhadap PDB.
Data Bank Dunia 2024 menunjukkan porsi manufaktur Korea Selatan sekitar 27%, China sekitar 25%, Vietnam 24%, Jepang sekitar 21% berdasarkan data terakhir 2023, sedangkan Jerman sekitar 18%. Banyak negara maju telah mengalami pergeseran menuju jasa setelah mencapai tingkat produktivitas dan pendapatan tinggi.
Jadi 28% bukan ambang universal yang harus dilewati sebuah negara agar menjadi maju. Relevansinya bagi Indonesia terletak pada kebutuhan memperbesar produktivitas, ekspor, teknologi dan pekerjaan bernilai tambah sebelum struktur ekonomi terlalu cepat bergeser menuju jasa berproduktivitas rendah.
Hilirisasi Saja Tidak Cukup jika Indonesia Hanya Berhenti di Produk Setengah Jadi
Pemerintah sebenarnya sudah memilih industrialisasi sebagai salah satu strategi utama. Instrumen yang paling terlihat adalah hilirisasi sumber daya alam.
Pada nikel, ekspor bijih dihentikan untuk mendorong pembangunan smelter dan industri pengolahan. Pada bauksit, pemerintah mendorong rantai dari bijih menuju alumina dan aluminium. Pada sawit, jumlah produk turunan juga meningkat, sementara biodiesel dikembangkan dari B40 menuju rencana B50.
Semua itu menambah nilai dibandingkan model lama yang hanya menjual bahan mentah.
Namun reindustrialisasi mempunyai standar yang lebih tinggi daripada hilirisasi tahap pertama.
Jika Indonesia mengekspor nickel matte, alumina atau bahan antara lainnya tetapi mesin, bahan kimia, peralatan, teknologi, pembiayaan, dan sebagian besar komponen masih harus diimpor, nilai tambah yang tertinggal di dalam negeri tetap terbatas.
Target berikutnya adalah memperpanjang rantai industri.
| Tahap | Contoh | Nilai Ekonomi yang Dicari |
|---|---|---|
| Bahan mentah | Bijih mineral, CPO | Nilai tambah rendah |
| Pengolahan dasar | Smelter, alumina, produk refinery | Nilai tambah mulai meningkat |
| Manufaktur intermediate | Material baterai, komponen otomotif, kimia khusus | Produktivitas dan keterkaitan pemasok meningkat |
| Produk akhir | EV, mesin, perangkat elektronik | Margin, merek dan pekerjaan teknis lebih tinggi |
| Teknologi & desain | Chip design, R&D, engineering | Nilai tambah dan intellectual property tertinggi |
Itulah mengapa pemerintah mulai berbicara mengenai semikonduktor, desain cip, pusat data, baterai, kendaraan listrik, hingga industri berbasis teknologi.
Tetapi industri masa depan tidak bisa berdiri tanpa industri “lama”. Pabrik semikonduktor membutuhkan bahan kimia, gas industri, mesin presisi, listrik yang andal, logistik, air dengan spesifikasi tertentu, teknisi, pemasok lokal dan ekosistem riset.
Hal yang sama terjadi pada otomotif.
Sebuah pabrik perakitan mobil mempunyai dampak ekonomi jauh lebih besar jika bumper, kabel, kursi, komponen mesin, elektronik, cetakan, perangkat lunak dan layanan engineering juga diproduksi oleh ratusan pemasok domestik.
Di sinilah konsep multiplier effect industri menjadi penting.
Satu investasi manufaktur besar dapat menciptakan permintaan bagi pemasok tingkat pertama, kedua dan ketiga. Industri tersebut selanjutnya membeli jasa logistik, perbankan, konstruksi, perangkat lunak, maintenance dan berbagai layanan lainnya.
Artinya, pilihan antara manufaktur dan jasa sebenarnya bukan permainan menang-kalah. Manufaktur yang kuat justru menciptakan permintaan terhadap jasa produktif.
Karena itu, kritik Ekonom Senior CORE Indonesia Hendri Saparini, seperti dikutip dari Bisnis, mengenai perlunya strategi sektoral menjadi relevan. Kebutuhan industri petrokimia tidak sama dengan tekstil. Semen berbeda dari semikonduktor. Industri makanan memiliki struktur bahan baku dan logistik berbeda dari elektronik.
Kebijakan industri yang terlalu seragam berisiko gagal menyelesaikan hambatan spesifik masing-masing sektor.
Tujuannya lebih rasional: memilih rantai nilai di mana Indonesia mempunyai pasar, sumber daya, tenaga kerja atau posisi geografis yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan kompetitif, lalu memastikan semakin banyak aktivitas bernilai tinggi—engineering, komponen, teknologi, desain dan ekspor—berlangsung di dalam negeri.
Bonus Demografi Membuat Reindustrialisasi Menjadi Perlombaan dengan Waktu
Argumen industri bukan hanya mengenai PDB. Ada persoalan pekerjaan.
Indonesia memiliki populasi usia kerja yang besar. Kondisi tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan apabila penduduk masuk ke pekerjaan produktif, memperoleh keterampilan, pendapatan naik dan akhirnya memperbesar konsumsi kelas menengah.
Namun bonus demografi mempunyai batas waktu.
Bappenas dalam proyeksi sebelumnya menempatkan puncak bonus demografi sekitar 2034. Setelah 2030, rasio ketergantungan diperkirakan mulai meningkat seiring bertambahnya penduduk lanjut usia.
Dokumen kebijakan kependudukan terbaru Bappenas juga menekankan bahwa manfaat bonus demografi bergantung pada penciptaan pekerjaan berkualitas, termasuk melalui investasi industri padat karya, peningkatan keterampilan, dan dukungan terhadap kewirausahaan.
Karena itu, pernyataan bahwa Indonesia mempunyai waktu hingga “sekitar 2035” lebih tepat dibaca sebagai peringatan bahwa jendela demografi terbaik tidak berlangsung selamanya, bukan tanggal ketika seluruh bonus demografi tiba-tiba berakhir.
Ini menjadi semakin penting karena teknologi juga mengubah cara pabrik menyerap tenaga kerja.
Manufaktur modern semakin menggunakan otomatisasi, robotika dan kecerdasan buatan. Pabrik bernilai investasi miliaran dolar tidak selalu menciptakan jumlah pekerjaan langsung sebesar pabrik padat karya pada masa lalu.
Karena itu, strategi industrialisasi Indonesia perlu menjalankan dua jalur sekaligus.
| Jalur Industrialisasi | Contoh | Tujuan Utama |
|---|---|---|
| Padat karya produktif | Tekstil, alas kaki, furnitur, makanan, komponen tertentu | Penyerapan tenaga kerja besar dan ekspor |
| Padat teknologi | Elektronik, semikonduktor, EV, baterai, alat kesehatan | Produktivitas, teknologi dan nilai tambah tinggi |
| Hilirisasi SDA | Mineral, sawit, petrokimia | Memperpanjang rantai nilai domestik |
| Industri hijau | Solar, baterai, material rendah karbon | Menangkap transisi energi global |
Indonesia tidak dapat hanya memilih industri berteknologi tinggi dan mengabaikan padat karya. Sebaliknya, mempertahankan industri murah tanpa meningkatkan teknologi juga akan membuat upah dan produktivitas sulit naik.
Persoalan lainnya adalah keterampilan.
Pemerintah ingin memperbanyak lulusan STEM untuk menopang industri teknologi. Tetapi reindustrialisasi juga membutuhkan teknisi mesin, operator produksi, ahli las, quality control, programmer industrial, ahli maintenance, supervisor pabrik, hingga tenaga vokasi.
Karena itu, kebutuhan tenaga kerja industri tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah jumlah sarjana teknik. Kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan perusahaan menjadi sama pentingnya dengan jumlah lulusan.
Data manufaktur terbaru bahkan memberikan peringatan kecil. IKBM BPS kuartal II/2026 menunjukkan pesanan dan produksi berada dalam ekspansi, tetapi komponen ketenagakerjaan masih terkontraksi.
Artinya, produksi yang meningkat belum otomatis diterjemahkan menjadi ekspansi pekerjaan pada kecepatan yang sama.
Target 28% Membutuhkan Eksekusi yang Lebih Sulit daripada Membuat Peta Jalan
Pemerintah sebenarnya tidak kekurangan agenda.
Ada hilirisasi mineral, biodiesel, substitusi impor, kendaraan listrik, industri baterai, semikonduktor, pusat data, energi terbarukan, kawasan industri, vokasi, insentif fiskal, hingga percepatan investasi.
Tantangan berikutnya adalah membuat semua kebijakan tersebut bekerja sebagai satu sistem.
Warih Andang Tjahjono dari Komunitas Teknik Industri ITB, seperti dikutip dari Bisnis, menekankan perlunya koordinasi dan arah yang kuat. Pengalaman negara-negara industrialisasi Asia memang menunjukkan bahwa transformasi manufaktur biasanya melibatkan koordinasi erat antara perdagangan, investasi, pendidikan, infrastruktur, pembiayaan, teknologi dan kebijakan industri.
Tanpa koordinasi, kebijakan dapat saling bertabrakan.
Pemerintah dapat memberi insentif pabrik tetapi listrik atau gas industrinya terlalu mahal. Kementerian lain dapat mendorong produksi lokal tetapi impor produk jadi tetap lebih mudah. Pendidikan menghasilkan lulusan, tetapi keterampilannya tidak dibutuhkan pabrik. Hilirisasi menghasilkan material, tetapi industri pengguna di tahap berikutnya tidak dibangun.
Karena itu, ukuran keberhasilan sebaiknya tidak berhenti pada nilai investasi yang diumumkan.
Ada beberapa indikator yang lebih penting untuk mengukur apakah Indonesia benar-benar sedang melakukan reindustrialisasi:
- kontribusi manufaktur terhadap PDB harus kembali meningkat secara konsisten;
- pertumbuhan manufaktur perlu lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang;
- ekspor manufaktur bernilai tambah tinggi harus meningkat;
- ketergantungan terhadap input impor strategis perlu berkurang pada rantai yang memang ekonomis dibangun domestik;
- produktivitas tenaga kerja dan upah riil industri perlu meningkat;
- jumlah pemasok domestik yang masuk ke rantai pasok perusahaan besar perlu bertambah; dan
- investasi dalam R&D, engineering dan teknologi perlu naik, bukan hanya investasi gedung dan mesin.
Target antara Bappenas menunjukkan besarnya tuntutan tersebut. Peranan industri pengolahan diarahkan menuju sekitar 21,9% pada fase 2025-2029 dan 26,6% pada 2030-2034.
Jika angka tersebut menjadi rujukan, posisi Q2/2026 sebesar 18,50% menunjukkan masih ada pekerjaan besar bahkan sebelum membicarakan target 2045.
Namun situasinya tidak sepenuhnya negatif.
Indonesia mempunyai pasar domestik besar, sumber daya mineral dan pertanian, posisi strategis di Asia, basis industri otomotif dan makanan yang sudah terbentuk, serta peluang menangkap relokasi rantai pasok global.
Ekonomi semester I/2026 juga masih tumbuh 5,45%. Jadi persoalannya bukan bagaimana menyelamatkan ekonomi yang sedang runtuh, melainkan bagaimana mengubah struktur pertumbuhan 5%-an menjadi pertumbuhan dengan produktivitas dan kompleksitas yang lebih tinggi.
Reindustrialisasi Indonesia bukan proyek mengembalikan ekonomi ke masa lalu ketika semua negara harus mempunyai pabrik sebanyak mungkin. Tantangannya adalah membangun manufaktur yang lebih produktif, berteknologi, terhubung dengan pemasok domestik dan mampu menembus pasar ekspor. Posisi saat ini masih jauh dari sasaran: kontribusi industri pengolahan sekitar 18,50% pada Q2/2026 dibandingkan target 28% pada 2045, sementara pertumbuhan manufaktur 4,52% masih di bawah pertumbuhan ekonomi 5,29%. Hilirisasi memberi fondasi, tetapi Indonesia perlu bergerak lebih jauh menuju produk akhir, komponen, engineering, teknologi dan industri pemasok. Waktunya juga tidak tak terbatas karena jendela bonus demografi akan berubah seiring penuaan penduduk. Dengan demikian, ukuran keberhasilan industrialisasi bukan berapa banyak kebijakan yang diumumkan atau smelter yang diresmikan, melainkan apakah dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan manufaktur benar-benar kembali memperbesar porsinya dalam ekonomi, menaikkan produktivitas dan menciptakan pekerjaan yang membuat kelas menengah tumbuh.
Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
Berapa kontribusi manufaktur Indonesia terhadap PDB saat ini?
Berapa target kontribusi manufaktur Indonesia pada 2045?
Apakah manufaktur Indonesia sedang tumbuh?
Apakah semua negara maju mempunyai manufaktur 25%-30% PDB?
Mengapa hilirisasi belum cukup?
Apa hubungan bonus demografi dengan industrialisasi?
Perhitungan Receh.in: Kontribusi manufaktur Q2/2026 sebesar 18,50% masih terpaut 9,50 poin persentase dari target 28%. Secara relatif, target tersebut sekitar 51,4% lebih tinggi dibandingkan porsi manufaktur saat ini.
Catatan: Porsi manufaktur antarnegara tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya ukuran kemajuan ekonomi. Negara maju memiliki struktur ekonomi yang berbeda-beda. Angka historis Indonesia juga dapat sedikit berbeda antara BPS, pemerintah, dan Bank Dunia karena metodologi serta seri data. Pernyataan mengenai bonus demografi hingga sekitar 2035 sebaiknya dibaca sebagai periode transisi struktur penduduk, bukan batas waktu tunggal yang berlaku secara tiba-tiba.
Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan analisis ekonomi. Target kontribusi manufaktur, kebijakan hilirisasi, insentif industri dan strategi pemerintah dapat berubah seiring perkembangan RPJMN, RPJPN dan kondisi ekonomi.

0 Komentar