Receh.in — Pertumbuhan pariwisata Bali tidak otomatis berarti seluruh hotel di Pulau Dewata menikmati kondisi yang sama. Memasuki paruh kedua 2026, pasar perhotelan Bali justru memperlihatkan perpecahan tajam antara kawasan yang masih mampu menyerap tambahan kamar dan kawasan yang pertumbuhan pasokannya melampaui permintaan.
Laporan Bali Hotel Market Risk & Absorption Monitor 2026 dari PT Hotel Investment Advisory (HIA) menunjukkan Sanur mempunyai posisi paling kuat dengan absorption balance +2,7 poin persentase. Jimbaran-Pecatu-Ungasan juga masih positif +1,6 poin persentase. Sebaliknya, Ubud berada di -8,1 poin persentase dan kawasan Bali Regional—wilayah di luar enam koridor utama—tertekan hingga -31,4 poin persentase.
Persoalannya semakin kompleks karena sekitar 2.460 kamar baru sedang dalam tahap konstruksi per 22 Agustus 2026. Pasokan tersebut tidak tersebar merata. Jimbaran-Pecatu-Ungasan, Bali Regional, Canggu-Seminyak dan Ubud menanggung sebagian besar pipeline hingga 2028, sementara Sanur justru tidak memiliki proyek hotel aktif dalam data tersebut.
- Sanur mencatat absorption balance terbaik sebesar +2,7 poin persentase, sementara Bali Regional menjadi yang terlemah di -31,4 poin persentase.
- Sekitar 2.460 kamar baru sedang dibangun, dengan konsentrasi terbesar di Jimbaran-Pecatu-Ungasan, Bali Regional dan Canggu-Seminyak.
- HIA memproyeksikan okupansi 2027 Sanur mencapai 84,6% dalam skenario moderat, sedangkan Bali Regional hanya 35,6% dan Ubud 61,7%.
Bali Tidak Oversupply Secara Seragam
Angka yang paling penting dalam laporan HIA bukan sekadar pertumbuhan jumlah hotel, melainkan absorption balance. Indikator ini mengukur selisih antara pertumbuhan permintaan kamar yang benar-benar terisi dengan pertumbuhan suplai kamar selama 12 bulan terakhir.
Jika angkanya positif, permintaan kamar terisi tumbuh lebih cepat daripada penambahan kapasitas. Jika negatif, pasokan bertambah lebih cepat daripada permintaan yang berhasil diserap pasar.
| Kawasan | Absorption Balance | Bacaan Pasar |
|---|---|---|
| Sanur | +2,7 pp | Permintaan tumbuh lebih cepat dari suplai |
| Jimbaran-Pecatu-Ungasan | +1,6 pp | Masih positif, tetapi menghadapi pipeline baru besar |
| Nusa Dua-Tanjung Benoa | -2,7 pp | Pasokan mengungguli pertumbuhan permintaan |
| Canggu-Seminyak | -3,2 pp | Volume kamar terjual melemah meski harga membantu RevPAR |
| Kuta-Legian | -7,7 pp | Daya serap masih tertekan |
| Ubud | -8,1 pp | Permintaan fisik kamar melemah |
| Bali Regional | -31,4 pp | Tekanan penyerapan paling berat |
Rentang antara kawasan terkuat dan terlemah sangat lebar. Sanur di +2,7 poin persentase dibandingkan Bali Regional di -31,4 poin persentase menghasilkan spread sekitar 34,1 poin persentase.
Itulah alasan mengapa menyebut Bali secara keseluruhan sedang mengalami oversupply dapat menyesatkan. Founder & CEO HIA Ross Woods menilai persoalannya lebih tepat disebut sebagai siklus penyerapan yang terpolarisasi: sebagian lokasi melemah sekarang, sementara lokasi lain masih sehat tetapi menghadapi ancaman tambahan kamar pada tahun-tahun mendatang.
Perbedaan itu juga terjadi berdasarkan kelas hotel. Segmen luxury dan upper upscale disebut masih menunjukkan ketahanan permintaan dan perkembangan Average Daily Rate atau ADR yang positif.
Segmen upscale, upper midscale, midscale hingga economy justru mengalami pelemahan permintaan riil dan penurunan Revenue per Available Room atau RevPAR.
Di Ubud serta Canggu-Seminyak, misalnya, kenaikan harga kamar masih mampu menopang RevPAR. Namun jumlah malam kamar yang benar-benar terjual justru menurun. Ini menjadi pengingat bahwa ADR yang naik tidak selalu berarti permintaan fisik hotel membaik.
2.460 Kamar Baru Masuk, Jimbaran Menanggung Pipeline Terbesar
Risiko berikutnya datang dari sisi pasokan. HIA mencatat sekitar 2.460 kamar sedang berada dalam tahap konstruksi per 22 Agustus 2026 dan dijadwalkan masuk pasar secara bertahap hingga 2028.
| Kawasan | Kamar dalam Konstruksi | Perkiraan Penyelesaian | Porsi Indikatif Pipeline* |
|---|---|---|---|
| Jimbaran-Pecatu-Ungasan | 688 | Nov 2026–Sep 2028 | ±27,9% |
| Bali Regional | 645 | Nov 2026–Jun 2028 | ±26,2% |
| Canggu-Seminyak | 558 | Sep 2026–Jan 2028 | ±22,7% |
| Ubud | 361 | Nov 2026–Mei 2027 | ±14,7% |
| Nusa Dua-Tanjung Benoa | 203 | Okt 2026–Jun 2028 | ±8,2% |
| Kuta-Legian | 8 | — | ±0,3% |
| Sanur | 0 | Tidak ada proyek aktif | 0% |
*Perhitungan Receh.in menggunakan jumlah proyek per kawasan yang jika dijumlahkan menghasilkan 2.463 kamar. Laporan menyebut total sekitar 2.460 kamar, sehingga perbedaannya dapat berasal dari pembulatan.
Komposisi ini menghasilkan situasi yang menarik. Jimbaran-Pecatu-Ungasan saat ini masih mempunyai absorption balance positif +1,6 poin persentase, tetapi sekaligus menghadapi pipeline terbesar sekitar 688 kamar. Dengan kata lain, kekuatan pasar saat ini belum tentu bertahan apabila pasokan baru masuk lebih cepat daripada pertumbuhan permintaan.
Canggu-Seminyak menghadapi kombinasi yang lebih menantang. Absorption balance sudah negatif -3,2 poin persentase, sementara sekitar 558 kamar baru masih dijadwalkan masuk pasar hingga awal 2028.
Ubud bahkan lebih sensitif. Kawasan ini mencatat absorption balance -8,1 poin persentase dan masih akan menerima sekitar 361 kamar baru, terutama properti skala atas atau berjaringan hingga Mei 2027.
Bali Regional menghadapi tekanan paling berat. Selain absorption balance -31,4 poin persentase, kawasan ini mempunyai pipeline sekitar 645 kamar—terbesar kedua setelah Jimbaran.
Okupansi 2027: Sanur Bisa 84,6%, Bali Regional 35,6%
Perbedaan risiko antarwilayah kembali terlihat dalam pemodelan okupansi tahun fiskal 2027. Dalam skenario moderat HIA, sebagian besar koridor utama masih dinilai mampu mempertahankan atau meningkatkan tingkat hunian meski pasokan baru masuk secara bertahap.
| Kawasan | Okupansi 2027 Skenario Moderat | Skenario Risiko Bawah* |
|---|---|---|
| Sanur | 84,6% | — |
| Kuta-Legian | 74,8% | — |
| Nusa Dua-Tanjung Benoa | 74,2% | — |
| Canggu-Seminyak | 70,6% | — |
| Jimbaran-Pecatu-Ungasan | 68,2% | 50,6% |
| Ubud | 61,7% | 47,7% |
| Bali Regional | 35,6% | 32,5% |
*Bahan yang diterima hanya mencantumkan angka skenario risiko bawah secara spesifik untuk Jimbaran-Pecatu-Ungasan, Ubud dan Bali Regional.
Sanur menjadi kawasan dengan estimasi okupansi tertinggi, yakni 84,6%. Kuta-Legian berada di posisi berikutnya dengan 74,8%, meskipun absorption balance 12 bulan terakhirnya masih negatif.
Hal ini menunjukkan bahwa kondisi terkini dan outlook tidak selalu bergerak searah. Kuta-Legian mempunyai daya serap historis yang sedang lemah, tetapi hanya menghadapi tambahan delapan kamar dari proyek yang tercatat. Tekanan supply baru karenanya jauh lebih ringan dibandingkan Jimbaran, Canggu ataupun Ubud.
Sebaliknya, Jimbaran-Pecatu-Ungasan memiliki absorption balance positif sekarang tetapi mempunyai pipeline terbesar. Dalam skenario moderat, okupansi 2027 diperkirakan 68,2%. Apabila skenario risiko bawah terjadi, okupansi dapat turun menjadi 50,6%, atau sekitar 17,6 poin persentase di bawah skenario moderat.
Untuk Ubud, skenario moderat 61,7% dapat turun menjadi 47,7%, selisih sekitar 14 poin persentase. Bali Regional sejak awal sudah berada pada level rendah, yakni 35,6%, dan turun menjadi 32,5% dalam skenario bawah.
Untuk investor maupun bank yang membiayai hotel, spread antara skenario moderat dan skenario bawah menjadi penting. Investasi hotel biasanya mempunyai biaya tetap yang besar. Ketika okupansi turun, operator tidak dapat serta-merta memangkas biaya dengan proporsi yang sama.
Karena itu, proyeksi kelayakan yang hanya menggunakan asumsi okupansi optimistis berisiko memberikan gambaran yang terlalu baik mengenai kemampuan sebuah proyek menghasilkan arus kas.
Pertumbuhan Pariwisata Bali Tak Lagi Cukup Jadi Dasar Investasi Hotel
Fragmentasi pasar hotel muncul ketika perekonomian Bali secara agregat masih bertumbuh. Bank Indonesia, menurut bahan sumber, pada Mei 2026 merevisi rentang pertumbuhan ekonomi Bali menjadi 5,4%–5,9%, dari sebelumnya 5,4%–6,2% pada Februari.
Yang berubah adalah batas atas proyeksi. Penurunan dari 6,2% menjadi 5,9% atau sekitar 0,3 poin persentase menunjukkan ekspektasi pertumbuhan masih positif tetapi sedikit lebih moderat.
Faktor yang disebut memengaruhi antara lain dinamika geopolitik global, pergerakan harga avtur, efisiensi rute penerbangan serta pemulihan wisatawan dari Asia Timur yang lebih lambat. Pada saat yang sama, pembangunan hotel dan vila tetap berlangsung.
Kontras tersebut menjelaskan mengapa tren makro tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi prospek sebuah hotel. Pertumbuhan ekonomi atau kedatangan wisatawan di Bali belum menjawab pertanyaan tentang di mana wisatawan menginap, berapa yang mereka bayar dan seberapa cepat kamar baru masuk ke kawasan tersebut.
| Variabel yang Perlu Diuji | Mengapa Penting |
|---|---|
| Absorption balance kawasan | Menunjukkan apakah permintaan kamar tumbuh lebih cepat atau lebih lambat daripada suplai. |
| Pipeline kamar baru | Menentukan tekanan kompetisi dalam dua hingga tiga tahun berikutnya. |
| Kelas properti | Luxury dan upper upscale saat ini menunjukkan dinamika berbeda dari midscale dan economy. |
| ADR | Mengukur kemampuan mempertahankan atau menaikkan tarif kamar. |
| Room-night demand | Membedakan kenaikan pendapatan akibat harga dari pertumbuhan volume tamu. |
| RevPAR | Menggabungkan efek tarif dan okupansi dalam kinerja pendapatan kamar. |
| Skenario downside okupansi | Menguji daya tahan arus kas ketika permintaan melemah atau pasokan masuk lebih cepat. |
Karena itu, investor properti, pengembang maupun lembaga pembiayaan membutuhkan pendekatan underwriting yang lebih granular. Membeli atau membangun hotel hanya karena “pariwisata Bali tumbuh” menjadi tesis yang terlalu sederhana.
Misalnya, Sanur saat ini memiliki kombinasi absorption balance positif, tidak ada pipeline aktif dalam data HIA dan proyeksi okupansi moderat 84,6%. Jimbaran juga mempunyai absorption positif, tetapi harus menyerap hampir 700 kamar baru. Ubud menghadapi tekanan yang berbeda lagi: absorption sudah negatif, pipeline masih bertambah dan okupansi moderatnya relatif rendah.
Dengan kata lain, risiko investasi hotel Bali kini makin bersifat mikro-lokasi.
FAQ Pasar Hotel Bali 2026
Apakah Bali sedang mengalami oversupply hotel?
Kawasan hotel Bali mana yang mempunyai daya serap terbaik?
Kawasan hotel Bali mana yang paling tertekan?
Berapa kamar hotel baru yang sedang dibangun di Bali?
Di mana pembangunan kamar hotel baru paling banyak?
Berapa proyeksi okupansi hotel Bali pada 2027?
Mengapa ADR hotel bisa naik ketika permintaan turun?
Apa yang perlu diperhatikan sebelum berinvestasi hotel di Bali?
Perhitungan Receh.in: Spread absorption balance Sanur (+2,7 pp) dan Bali Regional (-31,4 pp) sekitar 34,1 poin persentase. Penjumlahan pipeline per kawasan menghasilkan 2.463 kamar dibandingkan angka laporan sekitar 2.460 kamar. Berdasarkan 2.463 kamar, Jimbaran-Pecatu-Ungasan menyumbang sekitar 27,9%, Bali Regional 26,2%, Canggu-Seminyak 22,7%, Ubud 14,7%, Nusa Dua-Tanjung Benoa 8,2% dan Kuta-Legian sekitar 0,3%. Dalam skenario risiko bawah, okupansi Jimbaran sekitar 17,6 poin persentase di bawah skenario moderat dan Ubud sekitar 14 poin persentase lebih rendah.
Catatan: Absorption balance merupakan selisih pertumbuhan permintaan kamar terisi dan pertumbuhan suplai kamar selama 12 bulan terakhir sebagaimana didefinisikan dalam bahan sumber. Proyeksi okupansi merupakan hasil pemodelan dan bukan tingkat hunian yang pasti akan terjadi. Angka skenario risiko bawah yang tersedia dalam bahan hanya disebut secara khusus untuk Ubud, Jimbaran-Pecatu-Ungasan dan Bali Regional.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi investasi properti, hotel maupun instrumen keuangan. Keputusan investasi hotel perlu mempertimbangkan lokasi mikro, struktur pembiayaan, biaya pembangunan dan operasi, kompetisi, pipeline baru, skenario permintaan serta kemampuan proyek menghasilkan arus kas.

0 Komentar