Daftar IsiTampilkan

 

Sukuk Ritel seri SR025 datang pada momentum yang nyaris ideal untuk menarik perhatian investor pendapatan tetap. Kuponnya menjadi salah satu yang tertinggi dalam sejarah penerbitan Sukuk Ritel beberapa tahun terakhir, minat terhadap SBN Ritel sedang tinggi setelah ORI030 terjual Rp40 triliun, dan investor masih mendapatkan selisih pajak yang menguntungkan dibandingkan deposito. 

Pemerintah menawarkan dua pilihan. SR025T3 memberikan imbalan tetap 6,80% per tahun dengan tenor tiga tahun, sedangkan SR025T5 menawarkan 6,90% dengan tenor lima tahun. Keduanya dapat dibeli mulai Rp1 juta, memberikan imbalan setiap bulan, dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder setelah melewati masa kepemilikan minimum.

Tetapi kupon tertinggi tidak otomatis membuat SR025 menjadi pilihan termurah atau paling menarik di pasar obligasi. Ketika penawaran dibuka, imbal hasil SBN pemerintah di pasar sekunder untuk tenor serupa juga berada di sekitar 7%. Itu berarti premi yang diberikan SR025 terhadap instrumen pemerintah yang sudah beredar tidak terlalu lebar.

Di sinilah keputusan investasinya menjadi lebih menarik. Investor bukan hanya perlu bertanya apakah kupon 6,80%-6,90% tinggi, tetapi juga apakah lebih baik mengunci pendapatan selama tiga atau lima tahun, seberapa besar keuntungan setelah pajak, dan apa yang terjadi jika suku bunga justru bergerak naik atau turun setelah SR025 diterbitkan.

Ringkasan
  • SR025T3 menawarkan imbalan tetap 6,80% dan SR025T5 sebesar 6,90% per tahun. Setelah pajak 10%, imbalan bersih masing-masing sekitar 6,12% dan 6,21% per tahun.
  • Perbedaan bersih T3 dan T5 hanya sekitar 0,09 poin persentase. Untuk investasi Rp100 juta, selisih imbalan reguler setelah pajak hanya sekitar Rp7.500 per bulan.
  • Kupon tinggi tidak berarti bebas risiko. Jika dijual sebelum jatuh tempo, harga SR025 dapat naik atau turun mengikuti kondisi pasar. Tenor lima tahun lebih sensitif terhadap perubahan yield dibandingkan tenor tiga tahun.
6,80% Kupon Tetap SR025T3
6,90% Kupon Tetap SR025T5
Rp20 T Target Indikatif Awal
16 Sep Akhir Masa Penawaran 2026

Kupon SR025 Memang Tinggi, tetapi Jangan Hanya Terpaku pada Angka 6,90%

 

Secara historis, SR025 hadir dengan imbalan yang cukup agresif. Dalam bahan yang tersedia, penerbitan Sukuk Ritel sejak 2020 umumnya menawarkan kupon sekitar 4,95%-6,55% per tahun. Dengan demikian, angka 6,80% dan 6,90% menjadi level yang tidak biasa untuk seri SR dalam beberapa tahun terakhir.

Penyebabnya bukan semata pemerintah ingin memberikan hadiah lebih besar kepada investor. Tingkat kupon SBN Ritel pada dasarnya mengikuti kondisi pasar ketika instrumen diterbitkan.

Bank Indonesia pada 19 Agustus 2026 mempertahankan BI-Rate di 5,75%. Dengan basis tersebut, kupon SR025T3 6,80% berada sekitar 105 basis poin di atas BI-Rate, sedangkan SR025T5 6,90% memiliki selisih sekitar 115 basis poin.

Spread tersebut relatif lebar dibandingkan beberapa penerbitan Sukuk Ritel dua tenor sebelumnya. Inilah salah satu alasan munculnya ekspektasi bahwa SR025 dapat memperoleh permintaan besar.

Karakteristik SR025T3 SR025T5
Tenor 3 tahun 5 tahun
Kupon tetap 6,80% p.a. 6,90% p.a.
Imbalan bersih setelah pajak 10%* 6,12% p.a. 6,21% p.a.
Minimum pembelian Rp1 juta Rp1 juta
Maksimum pembelian Rp5 miliar Rp10 miliar
Jatuh tempo 10 September 2029 10 September 2031
Mulai dapat diperdagangkan 11 Oktober 2026 11 Oktober 2026

*Perhitungan Receh.in: kupon dikurangi pajak penghasilan final 10%. Imbalan pertama pada 10 Oktober 2026 merupakan short coupon sehingga tidak sama dengan pembayaran reguler satu bulan penuh.

SR025 sendiri ditawarkan mulai 21 Agustus hingga 16 September 2026. Penetapan hasil penjualan dijadwalkan pada 21 September dan setelmen pada 23 September. Setelah pembayaran imbalan pertama, instrumen mulai dapat diperdagangkan di pasar sekunder pada 11 Oktober 2026.

Status tradable ini membedakan Sukuk Ritel dengan Sukuk Tabungan. Investor SR025 tidak harus menunggu sampai jatuh tempo jika membutuhkan likuiditas. Namun fleksibilitas tersebut datang bersama risiko harga.

Jika yield pasar turun setelah pembelian, harga SR025 di pasar sekunder berpotensi naik sehingga investor dapat memperoleh capital gain. Sebaliknya, jika yield naik, harga pasar dapat turun di bawah nilai nominal.

Ini bagian yang sering disalahpahami:
pembayaran pokok dan imbalan SR025 dijamin pemerintah apabila instrumen dipegang sesuai ketentuannya hingga jatuh tempo. Tetapi harga jual di pasar sekunder tidak dijamin selalu Rp100 untuk setiap Rp100 nilai nominal. Investor yang menjual lebih awal tetap dapat mengalami capital loss.

Karena itu, kupon 6,90% tidak otomatis membuat tenor lima tahun lebih baik daripada tiga tahun.

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede, seperti dikutip dari media, menunjukkan bahwa pada saat SR025 ditawarkan, yield SBN pemerintah tenor tiga tahun berada di sekitar 7,10% dan tenor lima tahun sekitar 6,94%.

Dengan perbandingan tersebut, SR025 bukan instrumen yang memberikan premi luar biasa besar terhadap pasar sekunder. Justru keunggulan utamanya berada pada kemudahan pembelian, nominal masuk yang rendah, kepastian kupon tetap, aspek syariah, dan orientasi investor ritel.

Investor yang hanya mencari yield tertinggi perlu membandingkan SR025 dengan SBN pemerintah yang sudah diperdagangkan. Namun perbandingan tersebut tidak cukup hanya melihat angka kupon karena obligasi di pasar sekunder dapat diperdagangkan di atas atau di bawah harga pari sehingga ukuran yang lebih tepat adalah yield to maturity dan harga pembeliannya.

 

Rp100 Juta di SR025 Dapat Berapa per Bulan? Selisih T3 dan T5 Ternyata Tipis

Perbedaan kupon SR025T3 dan SR025T5 terlihat sebesar 0,10 poin persentase sebelum pajak. Setelah pajak 10%, perbedaannya secara matematis mengecil menjadi 0,09 poin persentase: 6,12% berbanding 6,21%.

Efeknya pada pendapatan bulanan ternyata tidak terlalu besar.

Nilai Investasi SR025T3 Bersih/Tahun* T3 Bersih/Bulan* SR025T5 Bersih/Tahun* T5 Bersih/Bulan*
Rp1 juta Rp61.200 Rp5.100 Rp62.100 Rp5.175
Rp100 juta Rp6.120.000 Rp510.000 Rp6.210.000 Rp517.500
Rp500 juta Rp30.600.000 Rp2.550.000 Rp31.050.000 Rp2.587.500
Rp1 miliar Rp61.200.000 Rp5.100.000 Rp62.100.000 Rp5.175.000

*Perhitungan Receh.in menggunakan kupon normal tahunan, pajak 10%, kemudian dibagi 12 bulan. Pembayaran pertama merupakan short coupon dan dapat berbeda. Belum memperhitungkan biaya yang mungkin dikenakan masing-masing mitra distribusi dalam transaksi pasar sekunder.

Untuk investasi Rp100 juta, SR025T3 menghasilkan imbalan bersih reguler sekitar Rp510.000 per bulan. SR025T5 sekitar Rp517.500 per bulan.

Jadi, investor mengunci dana dengan tenor dua tahun lebih panjang untuk memperoleh tambahan pendapatan reguler hanya sekitar Rp7.500 per bulan untuk setiap Rp100 juta investasi.

Untuk Rp1 miliar, selisihnya sekitar Rp75.000 per bulan.

Ini membuat pemilihan tenor tidak seharusnya ditentukan oleh kupon semata.

Investor yang membutuhkan dana dalam tiga hingga empat tahun mungkin lebih nyaman menggunakan T3. Sebaliknya, investor yang tidak membutuhkan pokok investasi dalam jangka panjang dan memperkirakan suku bunga akan turun dapat memilih T5 untuk mengunci kupon 6,90% selama lima tahun.

Di sinilah durasi menjadi penting.

Obligasi tenor panjang umumnya lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga. Jika yield pasar turun signifikan, harga T5 berpotensi naik lebih besar daripada T3. Hal yang sama berlaku sebaliknya: bila yield meningkat, penurunan harga tenor lima tahun dapat lebih besar.

Jadi T3 atau T5?
T3 lebih masuk akal bagi investor yang mengutamakan kepastian pendapatan tetapi masih ingin pokok kembali lebih cepat. T5 lebih cocok bagi investor berhorison panjang yang ingin mengunci kupon sekarang dan meyakini suku bunga serta yield obligasi akan cenderung lebih rendah beberapa tahun mendatang.

Dibandingkan deposito, aspek pajak juga menjadi keunggulan. Imbalan SBN dikenai PPh final 10%, sementara bunga deposito pada umumnya dikenakan pajak 20% untuk kondisi yang memenuhi ketentuan perpajakan.

Namun membandingkan SR025 dengan deposito hanya berdasarkan kupon setelah pajak juga belum sepenuhnya adil. Deposito memiliki karakter likuiditas, tenor, penalti pencairan, serta batas penjaminan yang berbeda. SR025 juga memiliki risiko harga jika dijual di pasar sekunder.

Target Rp20 Triliun Terlihat Realistis, tetapi Rekor ORI030 Jangan Dijadikan Patokan Otomatis

Dari sisi pemerintah, SR025 datang setelah keberhasilan besar ORI030.

ORI030 yang ditawarkan pada Juli 2026 mencatat penjualan Rp40 triliun, terdiri atas Rp34 triliun pada tenor tiga tahun dan Rp6 triliun pada tenor enam tahun. Penerbitan tersebut menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah SBN Ritel.

Keberhasilan itu menciptakan ekspektasi tinggi terhadap SR025. Pemerintah memasang target indikatif awal sekitar Rp20 triliun, sedangkan sejumlah pelaku pasar memperkirakan permintaan dapat mencapai Rp25 triliun hingga Rp30 triliun.

Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Deni Ridwan, seperti dikutip dari media, menilai kupon SR025 sudah menarik dan optimistis target indikatif Rp20 triliun dapat dicapai.

COO Bareksa Ni Putu Kurniasari, seperti dikutip dari media, bahkan memperkirakan penjualan dapat mencapai Rp30 triliun. Menurutnya, kupon yang relatif tinggi ditambah basis investor syariah dapat menopang permintaan.

Respons awal setidaknya mendukung optimisme tersebut. Data yang dipublikasikan Bareksa menunjukkan pemesanan nasional SR025 sudah mencapai sekitar Rp354,5 miliar hanya dalam sekitar dua jam pertama masa penawaran pada 21 Agustus. Nilainya setara sekitar 1,77% dari target awal Rp20 triliun.

Tentu terlalu dini mengekstrapolasi dua jam pertama menjadi penjualan akhir. Pola pemesanan SBN Ritel tidak selalu linier dan kuota dapat bertambah sesuai keputusan pemerintah.

Referensi Permintaan Nilai Catatan
SR024 Rp17,48 T Penjualan seri sebelumnya dalam bahan
Target indikatif SR025 Rp20 T Target awal pemerintah
Estimasi David Sumual Rp18–25 T Proyeksi yang dikutip media
Estimasi Bareksa ~Rp30 T Proyeksi yang dikutip media
ORI030 Rp40 T Realisasi, bukan target SR025

Kepala Ekonom BCA David Sumual, seperti dikutip dari media, lebih konservatif dengan perkiraan penjualan SR025 sekitar Rp18 triliun hingga Rp25 triliun.

Ada alasan mengapa rekor ORI030 tidak harus terulang.

Pertama, basis investor Sukuk Ritel lebih spesifik meskipun instrumen ini sebenarnya dapat dibeli oleh WNI tanpa harus beragama Islam. Sebagian permintaan tambahan memang datang dari investor yang secara khusus mencari instrumen sesuai prinsip syariah.

Kedua, ORI030 mempunyai kupon 6,90% untuk tenor tiga tahun dan 7,00% untuk tenor enam tahun, sedikit di atas kupon SR025. Pemerintah sendiri menjelaskan perbedaan tersebut terjadi karena kondisi pasar ketika kedua produk diterbitkan juga berbeda.

Ketiga, terdapat potensi reinvestment dari SR019T3 yang jatuh tempo pada September 2026. Seri tersebut sebelumnya diterbitkan dengan nilai pemesanan sekitar Rp17,54 triliun. Namun tidak tepat mengasumsikan seluruh dana jatuh tempo akan otomatis masuk ke SR025 karena setiap investor dapat memilih instrumen lain atau menggunakan dananya untuk kebutuhan berbeda.

Keempat, kondisi pasar saham dapat memengaruhi alokasi aset. Jika saham menguat tajam, sebagian investor mungkin mengalihkan dana ke aset yang dianggap menawarkan potensi return lebih tinggi. Sebaliknya, volatilitas pasar dapat membuat pendapatan tetap semakin menarik.

Jadi, SR025 berkompetisi bukan hanya dengan deposito atau obligasi pemerintah lain, tetapi juga dengan reksa dana, saham, emas, dan kebutuhan likuiditas investor sendiri.

SR025 Aman dari Gagal Bayar Pemerintah, tetapi Tetap Punya Tiga Risiko untuk Investor

Kata “aman” pada SBN Ritel sering kali menciptakan kesan bahwa investasi ini tidak mempunyai risiko sama sekali. Pemahaman itu perlu diluruskan.

Dari sisi kredit, SR025 memang berada pada kategori sangat kuat karena pembayaran pokok dan imbalannya menjadi kewajiban pemerintah sesuai kerangka hukum SBSN. Namun investor tetap menghadapi risiko pasar dan keputusan investasi.

Risiko pertama adalah risiko harga. SR025 dapat diperdagangkan setelah minimum holding period. Ketika yield pasar naik, harga Sukuk Ritel yang sudah beredar dapat turun. Investor yang harus menjual sebelum jatuh tempo berpotensi menerima harga lebih rendah daripada nilai nominal.

Risiko kedua adalah opportunity cost. Jika setelah membeli SR025 suku bunga kembali naik dan pemerintah menerbitkan SBN baru dengan kupon misalnya 7,5%, pemilik SR025 tetap memperoleh 6,8%-6,9%. Investor memang masih menerima pendapatan tetap, tetapi melewatkan kesempatan mendapatkan imbal hasil lebih tinggi dari produk baru.

Risiko ketiga adalah risiko reinvestasi dan kebutuhan likuiditas. Investor T5 mengunci horizon hingga 2031. Jika ternyata dana diperlukan lebih awal, pilihannya adalah menjual di pasar sekunder dengan harga yang berlaku saat itu.

Di sisi lain, skenario penurunan suku bunga justru dapat menguntungkan pemegang SR025.

Misalnya dalam beberapa tahun ke depan BI-Rate turun dan SBN baru hanya menawarkan yield 5%-6%. Kupon SR025 sebesar 6,8%-6,9% menjadi relatif lebih menarik. Harga instrumen di pasar sekunder kemudian berpotensi naik.

Karena tenor T5 lebih panjang, sensitivitas harganya terhadap penurunan yield secara umum lebih besar. Inilah dasar argumen Josua Pardede, seperti dikutip dari media, bahwa T5 dapat lebih menarik secara strategis bagi investor yang yakin suku bunga akan turun.

Namun ekspektasi penurunan suku bunga sendiri belum pasti. BI pada Agustus 2026 mempertahankan BI-Rate 5,75% dengan perhatian besar terhadap stabilitas rupiah dan gejolak global. Itu menunjukkan jalur suku bunga tidak hanya ditentukan inflasi domestik, tetapi juga nilai tukar dan arus modal.

Kondisi ke Depan SR025T3 SR025T5
Yield turun tajam Harga berpotensi naik Potensi kenaikan harga relatif lebih sensitif
Yield naik Harga bisa turun Potensi tekanan harga relatif lebih besar
Hold sampai jatuh tempo Pokok kembali lebih cepat Kupon terkunci dua tahun lebih lama
Butuh dana lebih cepat Lebih sesuai secara horizon Risiko mismatch lebih tinggi
Investor yakin bunga turun Menarik Secara strategis lebih menarik

Karena itu, tidak ada jawaban universal mengenai tenor terbaik.

Investor yang mencari pendapatan rutin dan berniat menyimpan hingga jatuh tempo bisa memilih berdasarkan kebutuhan waktu. Jika dana kemungkinan diperlukan sekitar 2029, tambahan 0,10% kupon T5 mungkin tidak cukup untuk membenarkan tambahan durasi dua tahun.

Sebaliknya, bagi investor yang memang mempunyai horizon lima tahun atau lebih, T5 memberi keuntungan mengunci tingkat imbalan relatif tinggi hingga 2031.

Perbedaan tersebut menjadi semakin jelas jika melihat hasil bersih. Pada Rp100 juta, T5 hanya memberikan tambahan sekitar Rp90.000 per tahun setelah pajak dibandingkan T3. Karena itu, keputusan memilih T5 lebih banyak merupakan keputusan durasi dan pandangan terhadap suku bunga daripada keputusan mengejar tambahan kupon.

Bottom Line:
SR025 layak diperhatikan karena hadir dengan kupon tetap 6,80%-6,90%, termasuk tinggi dibandingkan seri Sukuk Ritel beberapa tahun terakhir. Tetapi investor sebaiknya tidak berhenti pada angka 6,90%. Setelah pajak, yield bersih T3 sekitar 6,12% dan T5 6,21%, hanya berbeda 0,09 poin persentase. Pada investasi Rp100 juta, selisih pendapatan regulernya hanya Rp7.500 per bulan. Itu membuat T3 lebih menarik bagi investor yang membutuhkan fleksibilitas dan ingin pokok kembali lebih cepat. T5 lebih logis bagi investor dengan horizon panjang yang ingin mengunci kupon hingga 2031 dan percaya suku bunga akan turun. Target penjualan Rp20 triliun terlihat realistis setelah ORI030 mencetak Rp40 triliun dan pemesanan awal SR025 sudah cukup cepat. Namun SR025 tetap bukan instrumen tanpa risiko: jika dijual sebelum jatuh tempo, harga dapat turun. Jadi, pertanyaan terbaik bukan “mana kupon paling tinggi?”, melainkan “berapa lama dana ini benar-benar bisa saya tinggalkan?”

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Berapa kupon SR025?
SR025T3 menawarkan kupon tetap 6,80% per tahun untuk tenor tiga tahun, sedangkan SR025T5 memberikan 6,90% per tahun untuk tenor lima tahun.
Berapa imbalan bersih SR025 setelah pajak?
Dengan pajak 10%, imbalan bersih reguler SR025T3 sekitar 6,12% per tahun dan SR025T5 sekitar 6,21% per tahun.
Jika investasi Rp100 juta, berapa kupon bersih SR025 per bulan?
Secara reguler, SR025T3 sekitar Rp510.000 per bulan setelah pajak dan SR025T5 sekitar Rp517.500. Pembayaran pertama merupakan short coupon sehingga nominalnya berbeda.
Lebih baik SR025 tenor 3 tahun atau 5 tahun?
T3 lebih cocok bagi investor yang mengutamakan fleksibilitas dan pengembalian pokok lebih cepat. T5 lebih sesuai bagi investor berhorison panjang yang ingin mengunci kupon lebih lama dan memperkirakan suku bunga akan turun.
Apakah SR025 bisa dijual sebelum jatuh tempo?
Bisa. SR025 dapat diperdagangkan di pasar sekunder mulai 11 Oktober 2026 setelah minimum holding period berakhir. Harga jualnya dapat lebih tinggi atau lebih rendah daripada nilai nominal.
Apakah SR025 dijamin pemerintah?
Pembayaran pokok dan imbalan SBSN menjadi kewajiban pemerintah sesuai ketentuan perundang-undangan. Namun jaminan tersebut tidak berarti investor dijamin memperoleh harga jual tertentu jika menjual SR025 lebih awal di pasar sekunder.
Kapan masa penawaran SR025?
Masa penawaran berlangsung mulai 21 Agustus 2026 hingga 16 September 2026 pukul 12.00 WIB selama kuota masih tersedia.
Sumber: Kementerian Keuangan/DJPPR; Bank Indonesia; informasi produk SR025 dari Mitra Distribusi; serta pandangan Deni Ridwan, Ni Putu Kurniasari, David Sumual, dan Josua Pardede sebagaimana dikutip dari media.

Perhitungan Receh.in: Setelah pajak 10%, imbalan bersih SR025T3 sekitar 6,12% dan SR025T5 sekitar 6,21%. Untuk investasi Rp100 juta, estimasi imbalan reguler bersih masing-masing sekitar Rp510.000 dan Rp517.500 per bulan. Selisih bersih kedua tenor sekitar 0,09 poin persentase atau Rp7.500 per bulan per Rp100 juta.

Catatan: Dalam bahan terdapat penyebutan bahwa Josua memperkirakan “penjualan ORI030” Rp30-Rp40 triliun pada bagian pembahasan SR025. Karena ORI030 telah selesai diterbitkan dengan hasil Rp40 triliun, konteks kalimat tersebut lebih mungkin merujuk pada estimasi SR025. Artikel tidak menggunakan angka tersebut sebagai proyeksi Josua tanpa kepastian lebih lanjut.

Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi investasi. Investor perlu menyesuaikan pilihan tenor dengan kebutuhan likuiditas, horizon investasi, toleransi terhadap risiko harga, dan komposisi portofolio.