Receh.in — BYD menargetkan kandungan lokal kendaraannya di Indonesia mencapai 60% mulai Januari 2027, sejalan dengan peta jalan tingkat komponen dalam negeri atau TKDN kendaraan listrik nasional. Target itu akan dikejar melalui penguatan rantai pasok lokal, peningkatan kapasitas produksi, serta pelibatan lebih banyak tenaga kerja dan pemasok domestik.
Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao menyatakan perusahaan optimistis target tersebut bisa tercapai dengan kesiapan pabrik perakitan di Subang, Jawa Barat. Saat ini, produk-produk BYD disebut telah memiliki TKDN di kisaran 40,8% hingga 47%.
Bagi Indonesia, tantangannya bukan lagi sekadar menarik investasi perakitan. Pemerintah ingin memastikan BYD benar-benar terhubung dengan industri baterai, komponen, tenaga kerja, dan pemasok lokal sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi juga bagian dari rantai nilai produksi global.
- BYD menargetkan TKDN 60% mulai Januari 2027, naik dari kisaran saat ini 40,8%-47%.
- Pabrik BYD di Subang berdiri di kawasan sekitar 126 hektar dan telah menciptakan lebih dari 5.000 lapangan kerja.
- Penjualan BYD sepanjang 2024 hingga semester I/2026 mencapai 93.869 unit, dengan pangsa pasar BEV roda empat sebesar 43,2%.
BYD Kejar TKDN 60% Mulai Januari 2027
Pemerintah telah menetapkan peta jalan TKDN kendaraan bermotor listrik berbasis baterai atau KBLBB secara bertahap.
Untuk periode hingga 2026, batas minimum TKDN berada di level 40%. Pada 2027-2029, batas tersebut meningkat menjadi minimal 60%, sebelum naik lagi menjadi minimal 80% mulai 2030.
| Periode | Minimum TKDN KBLBB |
|---|---|
| Sampai 2026 | 40% |
| 2027-2029 | 60% |
| Mulai 2030 | 80% |
BYD menyatakan akan memenuhi ambang 60% mulai Januari 2027. Dengan posisi TKDN produknya saat ini di kisaran 40,8%-47%, perseroan masih harus meningkatkan kandungan lokal secara material dalam beberapa bulan ke depan.
Jika menggunakan batas bawah 40,8%, gap menuju 60% mencapai sekitar 19,2 poin persentase. Dari batas atas 47%, selisihnya masih sekitar 13 poin persentase.
Pencapaian target 60% akan sangat bergantung pada seberapa cepat BYD memperluas penggunaan komponen lokal serta membawa aktivitas bernilai tambah lebih tinggi ke dalam negeri.
Karena itu, pembangunan pabrik saja belum cukup. Yang lebih menentukan adalah kedalaman lokalisasi, mulai dari komponen kendaraan, baterai, elektronik, material, hingga proses manufaktur pendukung.
BYD Siapkan Rantai Pasok Lokal dan 20.000 Teknisi
BYD menyatakan akan menggandeng lebih banyak perusahaan dalam negeri sebagai bagian dari rantai pasok.
Langkah tersebut sejalan dengan target perusahaan untuk memperbesar porsi komponen lokal sekaligus mengembangkan sumber daya manusia.
Saat ini, lebih dari 5.000 teknisi disebut telah bekerja sama dengan BYD. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi sekitar 20.000 teknisi.
| Indikator SDM | Saat Ini | Target |
|---|---|---|
| Teknisi yang bekerja sama dengan BYD | >5.000 | ~20.000 |
| Pelatihan teknisi lokal | Sebagian telah dikirim ke kantor pusat BYD | |
| Perekrutan | Sekolah dan perguruan tinggi | |
Secara nominal, kenaikan dari lebih dari 5.000 menjadi sekitar 20.000 teknisi berarti kapasitas tenaga kerja yang terkait dengan BYD ditargetkan tumbuh hampir empat kali lipat.
BYD juga telah mengirim ratusan teknisi dan insinyur lokal ke kantor pusat untuk memperoleh pelatihan mengenai teknologi kendaraan listrik.
Selain itu, perusahaan bekerja sama dengan sekolah di Jawa Barat dan melakukan rekrutmen dari perguruan tinggi.
Langkah tersebut penting karena lokalisasi industri tidak hanya ditentukan oleh asal komponen, tetapi juga transfer pengetahuan dan peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal.
Penjualan BYD 93.869 Unit, Pangsa Pasar BEV 43,2%
BYD juga datang dengan posisi pasar yang cukup kuat di Indonesia.
Selama periode 2024 hingga semester I/2026, penjualan BYD disebut mencapai 93.869 unit. Angka tersebut menempatkan BYD sebagai pemimpin pasar kendaraan listrik berbasis baterai roda empat dengan pangsa pasar sekitar 43,2%.
Sementara itu, pasar kendaraan listrik nasional sendiri terus berkembang.
| Segmen | Penjualan 1H2026 | Pangsa Pasar |
|---|---|---|
| BEV | 70.095 unit | 16,06% |
| HEV | 40.405 unit | 9,26% |
Secara gabungan, BEV dan HEV mencatat penjualan sekitar 110.500 unit pada semester I/2026. Pangsa keduanya mencapai sekitar 25,32% jika dijumlahkan secara sederhana.
Namun angka tersebut tidak berarti seluruh penjualan kendaraan elektrifikasi berada dalam kategori yang sama. BEV dan HEV memiliki struktur teknologi serta kebijakan insentif yang berbeda.
Bagi BYD, pangsa pasar BEV yang sudah besar memberi satu keuntungan penting: basis permintaan lokal cukup kuat untuk menopang peningkatan produksi domestik.
Dari Perakitan ke Ekosistem Baterai dan Industri Lokal
Pemerintah melihat investasi BYD sebagai bagian dari strategi yang lebih besar untuk membangun ekosistem kendaraan listrik terintegrasi.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menekankan bahwa pembangunan industri EV harus terhubung mulai dari hilirisasi nikel, prekursor, katoda, baterai, komponen, hingga kendaraan jadi.
Pemerintah juga membuka peluang kerja sama melalui skema joint venture antara BYD dan perusahaan Indonesia.
Potensi pengembangan tidak terbatas pada kendaraan penumpang. Pemerintah juga mendorong produksi kendaraan komersial seperti bus dan truk listrik.
| Lapisan Ekosistem EV | Arah Pengembangan |
|---|---|
| Mineral | Nikel dan bahan baku baterai |
| Material baterai | Prekursor dan katoda |
| Baterai | Produksi dan integrasi sistem |
| Komponen kendaraan | Lokalisasi pemasok domestik |
| Perakitan | Pabrik BYD Subang |
| Daur ulang | Pemanfaatan kembali material baterai |
Daur ulang baterai juga mulai masuk dalam agenda. Pemerintah menilai kemampuan mengambil kembali material seperti nikel dan litium dari baterai bekas akan menjadi bagian penting dari rantai nilai kendaraan listrik.
Jika ekosistem tersebut terbentuk, nilai ekonomi yang dihasilkan tidak hanya berasal dari penjualan mobil, tetapi juga manufaktur komponen, material baterai, tenaga kerja terampil, layanan pendukung, hingga daur ulang.
FAQ BYD dan Target TKDN 60%
Berapa target TKDN BYD di Indonesia?
Berapa TKDN produk BYD saat ini?
Di mana pabrik BYD di Indonesia?
Berapa tenaga kerja yang terkait dengan BYD?
Berapa penjualan BYD di Indonesia?
Berapa pangsa pasar BYD di segmen mobil listrik?
Apa target TKDN kendaraan listrik nasional setelah 2027?
Perhitungan Receh.in: Gap TKDN dari 40,8% menuju 60% sekitar 19,2 poin persentase, sedangkan dari 47% menuju 60% sekitar 13 poin persentase. Gabungan penjualan BEV dan HEV semester I/2026 sekitar 110.500 unit dengan pangsa pasar gabungan sekitar 25,32% berdasarkan penjumlahan sederhana.
Catatan: Target TKDN 60% merupakan komitmen BYD untuk Januari 2027. Realisasi akhirnya bergantung pada lokalisasi pemasok, komponen, proses produksi, serta pemenuhan ketentuan pemerintah.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham perusahaan otomotif, baterai, pertambangan, maupun pemasok komponen terkait kendaraan listrik.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/photo/ori/2026/06/09/2bd2b0f2-9689-4683-b662-0fcaf3b34dd0.jpg)
0 Komentar