Receh.in — Fenomena job hugging tampaknya makin kuat di kalangan pekerja Gen Z dan milenial. Survei IDN Times menunjukkan 84,5% responden terindikasi bertahan di pekerjaan meski motivasi melemah atau lingkungan kerja dirasa kurang mendukung.
Situasinya terlihat paradoks. Banyak pekerja sudah ingin pergi, bahkan aktif mencari peluang baru, tetapi belum mengambil langkah keluar. Sebanyak 27,6% responden mengaku masih bertahan sambil mencari kesempatan lain, 16,9% tetap bertahan meski merasa tidak nyaman, sementara hanya 10,8% yang bertahan karena benar-benar merasa aman, nyaman, dan menganggap tempat kerjanya ideal.
Faktor terbesar yang menahan mereka bukan loyalitas terhadap perusahaan, melainkan belum adanya peluang kerja baru dan ketakutan menghadapi ketidakpastian. Keduanya masing-masing disebut oleh 62,6% responden.
- Sebanyak 84,5% pekerja Gen Z dan milenial terindikasi melakukan job hugging, yakni bertahan meski motivasi menurun atau lingkungan kerja kurang mendukung.
- Alasan utama bertahan adalah belum ada peluang baru dan takut menghadapi ketidakpastian, masing-masing 62,6%.
- Keinginan pindah tetap tinggi: 43,6% aktif mencari peluang baru tetapi belum mengambil tindakan, sedangkan 30,7% sudah aktif melamar.
Job Hugging: Bertahan, tapi Sebenarnya Ingin Pergi
Dalam survei IDN Times terhadap 212 responden Gen Z dan milenial, hanya sebagian kecil pekerja yang merasa benar-benar puas dengan pekerjaannya saat ini.
| Sikap terhadap Pekerjaan Saat Ini | Persentase |
|---|---|
| Bertahan sambil mencari peluang lain | 27,6% |
| Tetap bertahan meski tidak nyaman | 16,9% |
| Bertahan karena merasa aman dan ideal | 10,8% |
| Resign ketika pekerjaan tidak lagi berdampak positif | 4,7% |
Survei tersebut mengindikasikan bahwa mayoritas pekerja tidak sepenuhnya terikat secara emosional dengan kantor saat ini. Banyak yang bertahan karena pertimbangan keamanan dan risiko, bukan karena keterikatan yang kuat terhadap pekerjaan.
Kenapa Gen Z dan Milenial Tetap Bertahan?
Dua alasan terbesar muncul dengan persentase yang sama. Sebanyak 62,6% responden mengaku bertahan karena belum memiliki peluang kerja baru, dan 62,6% lainnya takut menghadapi ketidakpastian atau harus memulai dari nol.
| Alasan Bertahan | Persentase |
|---|---|
| Belum ada peluang kerja baru | 62,6% |
| Takut ketidakpastian / mulai dari nol | 62,6% |
| Tekanan sosial | 36,3% |
| Lingkungan kerja nyaman | 21,8% |
| Gaji besar | 20,1% |
| Peluang berkembang | 16,2% |
| Pekerjaan dianggap ideal | 7,8% |
Data ini menunjukkan bahwa alasan defensif jauh lebih dominan dibandingkan alasan positif.
Hanya 7,8% yang menyebut pekerjaan saat ini ideal, sementara 20,1% bertahan karena gaji dan 16,2% karena peluang mengembangkan jabatan atau keterampilan.
Dengan kata lain, mayoritas responden lebih banyak didorong oleh ketakutan kehilangan keamanan daripada keyakinan bahwa tempat kerja saat ini benar-benar sesuai.
Banyak yang Cari Kerja Baru, Tapi Belum Berani Pindah
Fenomena job hugging semakin terlihat ketika melihat perilaku pencarian kerja.
Sebanyak 43,6% responden mengaku aktif mencari peluang baru tetapi belum mengambil langkah lebih jauh. Sementara 30,7% sudah aktif mencari sekaligus mengajukan lamaran.
Jika tiga kelompok pertama dijumlahkan, sekitar 96,1% responden masih membuka kemungkinan berpindah pekerjaan dalam berbagai bentuk.
Namun angka ini tidak berarti seluruhnya akan segera resign. Sebagian masih berada pada tahap pencarian informasi, sebagian baru mempertimbangkan tawaran, dan sebagian sudah benar-benar melamar.
Takut Benefit Turun dan Gagal di Tempat Baru
Bagi responden yang tidak aktif mencari pekerjaan baru, kekhawatiran terbesar adalah kehilangan benefit.
| Alasan Tidak Aktif Cari Kerja | Persentase |
|---|---|
| Takut benefit di tempat lain tidak sepadan | 48,6% |
| Takut gagal di pekerjaan baru | 40,8% |
| Kondisi hidup belum memungkinkan berubah | 38,0% |
| Sudah berada di zona nyaman | 21,2% |
| Tidak mencari pekerjaan baru sama sekali | 11,7% |
Angka tersebut menunjukkan bahwa pertimbangan pindah kerja bukan sekadar soal gaji.
Benefit, kestabilan, kondisi hidup pribadi, dan rasa takut gagal berperan besar dalam keputusan pekerja untuk tetap bertahan.
Hal ini juga menjelaskan mengapa pekerja yang sudah merasa tidak nyaman belum tentu langsung mengundurkan diri. Risiko pindah sering dipersepsikan lebih besar dibandingkan ketidaknyamanan yang sedang mereka alami.
FAQ Fenomena Job Hugging
Apa itu job hugging?
Berapa banyak Gen Z dan milenial yang mengalami job hugging?
Apa alasan terbesar pekerja tetap bertahan?
Berapa banyak pekerja yang aktif mencari pekerjaan baru?
Kenapa pekerja enggan pindah kerja?
Seberapa sering pekerja memikirkan resign?
Berapa jumlah responden dalam survei ini?
Perhitungan Receh.in: Penjumlahan 43,6% responden yang aktif mencari peluang tetapi belum bertindak, 30,7% yang aktif mencari dan melamar, serta 21,8% yang mempertimbangkan tawaran lain menghasilkan sekitar 96,1% responden yang masih membuka peluang untuk berpindah pekerjaan dalam berbagai bentuk.
Catatan: Survei didominasi responden perempuan sebesar 63,7% dan responden dari Pulau Jawa sebesar 83,5%. Karena itu, hasil survei tidak otomatis mewakili seluruh pekerja Gen Z dan milenial di Indonesia.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi karier individual. Keputusan untuk bertahan atau pindah pekerjaan bergantung pada kondisi finansial, kesehatan mental, peluang kerja, tanggungan, dan tujuan karier masing-masing.

0 Komentar